Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 116 Mesir


__ADS_3

Jangan lupa like and Votenya ya guys 💙


" Banyak orang diluar Islam yang mengetahui dan mengerti Islam. Namun, kembali lagi hidayah itu punya Allah. Dia akan memberikan hidayahNya pada orang-orang yang Ia kehendaki."


..... " Pelangi Hanani 🌹".....


Setiap hari, selepas Hana pulang kuliah ia menyempatkan diri untuk singgah di Qasr El Nil.


Berharap ketemu kembali dengan gadis yang ia tolong seminggu yang lalu.


Seperti saat ini.


Cukup lama ia berdiam diri, menatap ke sekelilingnya.


Tengah mencari-cari sang gadis misterius itu.


Apa benar yang dikatakan Raisa ?


Bahwa gadis itu seorang Pelacur di Trixtal Bar ?


Pertanyaan itulah yang tengah Hana cari-cari jawabannya.


Hari mulai menggelap.


Awan hitam tengah beredar diseluruh permukaan langit. Memberikan pertanda hujan akan turun sebentar lagi.


" Udah mau hujan.


Aku balik aja deh, besok kesini lagi." ucap Hana.


Ia pun bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju halte menunggu bisnya.


Selang beberapa menit, bis pun tiba dihadapannya.


Tak mau ketinggalan bis, Hana pun melangkah memasuki bis tersebut.


Tuttt..


Panggilan masuk di ponselnya.


" Siapa yang telpon ya ?


Hana pun meraih ponselnya dan melihat tertera nama adiknya dilayar ponselnya.


" Rahmet." ucap Hana, seraya menggulir tombol hijau.


" Assalamu'alaikum, ada apa dek ? tanya Hana.


" Waalaikumussalam, Ini kak.


Ibu sama bapak katanya mau bicara sama kakak." kata sang adik disebrang telpon.


Ya, namanya orang tua sudah pasti sangat-sangat merindukan anaknya. Meski, baru kemarin menghubunginya via telpon.


" Hana, kamu baik-baik sajakan disana nak ? tanya ibunya, terdengar nada khawatir disana.


" Ibu ! Hana baik-baik aja kok.


Gak usah cemas ya, Hana bentar lagi kelar kok study nya dan bakalan pulang kumpul lagi sama bapak, ibu, Rahmet juga." Hana mencoba untuk menenangkan ibunya.


" Hana putri ibu satu-satunya.


Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Hana ya, ibu minta sama Hana jangan mengorbankan diri hanya untuk menyelamatkan orang lain ya.


Membantu orang lain memang suatu hal yang mulia.


Akan tetapi, kalau sampai membahayakan diri, itu tidak baik namanya nak." kata ibunya dengan lembut pada Hana.


Hana terkejut mendengar perkataan ibunya.


Yang seolah-olah tau, apa yang sedang Hana lakukan di Mesir. Ya, seperti saat ini, Hana berniat untuk membantu gadis yang bernasib malang itu.


Ya, begitu insting seorang ibu.


Lebih kuat dari apapun.


Disaat sang anak sedang tidak baik-baik saja, maka ia orang pertama yang akan merasakan kontak batin tersebut.


Hahh.. Hana menghembuskan nafasnya sejenak.


Cukup panjang lebar, nasihat yang ibunya sampaikan padanya, membuat Hana mencerna satu persatu nasihat itu.


" Insya Allah, buk.


Hana bakalan ingat pesan ibu sama bapak." jawabnya.


" Nah ini baru anak ibu, mau dengerin apa kata ibu.


Ohiya, Hana lagi dimana ? tanya ibunya.


" Hana lagi di bus, buk.


Mau pulang ke Asrama."


" Ohyaudah kalau gitu, ibu tutup ya.


Kamu hati-hati ya, assalamu'alaikum." tutup sang ibu.


" Iya buk, waalaikumussalam." jawab Hana.


Hana pun mengembalikan ponselnya ke dalam tasnya.


Kini, ia mengedarkan pandangannya pada pemandangan di luar jendela bis. Untuk menikmati panorama kota Cairo.


Tak lama kemudian, Hana pun sampai di tempat tujuan. Bis berhenti, Hana pun turun setelah membayar ongkosnya.


Dengan wajahnya yang lesuh, ia pun menaiki anak tangga dengan sangat lambat.


Perkataan ibu yang terus terngiang di kepalanya.


Membuatnya merasa bingung, haruskah ia menuruti kata ibunya, sementara orang lain membutuhkan pertolongannya ?


Atau haruskah ia menolong seseorang yang bahkan sama sekali tidak ia kenal, dan harus menepikan pesan-pesan ibunya.


Sesampai di kamar Hana langsung merebahkan tubuhnya, dan memenjamkan matanya.


Berharap agar segera tertidur untuk merilekskan sejenak pikirannya.


.


.

__ADS_1


.


.


Sosok lelaki bermata sipit.


Tengah duduk diantara jama'ah kajian rutin Syeikh Ahmad Syafi'i. Bahkan ia duduk digarda terdepan.


Dengan baju kurta dan celana sarungnya. Serta tak lupa peci hitam dikepalanya, pelengkap penampilannya.


Duduk tenang, mendengar dengan hikmat ceramah dari Syeikh yang merupakan guru terbesar di Al Azhar, Mesir. Bahkan lelaki itu kerap kali membawa notes, mencatat secara singkat inti sari dari ceramah Syeikh tersebut.


Sampai jarum jam menunjukkan angka sebelas.


Maka genaplah sudah para jama'ah mendengarkan ceramah selama dua jam. Dan dengan begitu, berakhirlah kajian untuk hari ini.


Ditutup dengan doa kafratul majlis.


Agar senantiasa, pengajian ini diridhoi Allah SWT.


" Grah ! panggil Fian.


Ya, pemuda itu bernama Anugrah.


Sudah dua tahun ia tinggal di Mesir, bersama dengan sepupunya Alkan yang bernama Fianzah.


Fian merupakan salah satu Mahasiswa di Al-Azhar, Mesir. Sementara Anugrah menimba ilmu di Mesir tanpa berstatus sebagai mahasiswa.


" Hm, ada apa ? sahut Anugrah.


" Mau langsung ke Caffe ? tanya Fian.


Anugrah mengangguk.


" Iya, entar telat dipotong lagi gajiku." jawabnya.


" Hm, yaudah.


Gua anterin deh naik motor." tawar Fian.


" Dih !


Tumben banget, yakin kamu mau ke Caffe ? ulang Anugrah, Fian mengangguk.


" Entar kamu ketemu Hummy gimana ha ?


" Gua kan cuma nganterin lo ampe depan doang.


Kagak turun kali, gimana mau ketemu sama tu bocah."


Anugrah pun mengangguk mengerti.


Dan menerima tawaran tumpangan dari Fian.


Hummy merupakan adik dari teman Fian, yang punya Caffe. Hummy gadis berusia empat belas tahun itu menyukai Fian. Oleh sebab itu, kalau Fian datang ke Caffe maka dengan cepat Hummy mengambil kesempatan untuk mendekati Fian.


Inilah salah satu alasan Fian, malas datang ke Caffe Brian temannya itu.


Bukan tidak suka dengan Hummy, namun Fian merasa risih dengan tingkah lakunya Hummy yang terkadang berlebihan padanya. Plus Hummy juga masih dibawah umur, belum pantas untuk bersikap seperti itu.


Keduanya pun berjalan menuju Parkiran, untuk mengambil motor Fian.


Anugrah kerja ?


Bukannya Anugrah anak dari salah satu Arsitek terkenal di Nias.


Benar saja.


Namun sayang, apa yang dikhawatirkan oleh sang mama tercintanya kini telah terjadi.


William mengetahui kepergian Anugrah ke Mesir.


Bahkan anak buahnya sempat menghajar Anugrah di Bandara. Akan tetapi, beruntung Anugrah meminta pertolongan pada pihak petugas keamanan Bandara, yang membuatnya di lindungi sampai masuk ke dalam pesawat.


William marah besar saat itu.


Bahkan sempat menghapus nama Anugrah dari kartu keluarga. Namun, Jasmine berhasil membujuk ayahnya untuk mengembalikan identitas Anugrah di kartu keluarga.


Akan tetapi, tak sampai di situ.


Seperti firasat Kanaya, bahwa benar William sang mantan suaminya. Mengutus semua akses keuangannya pada Anugrah.


Mulai dari ATM Card, kartu kredit dan seluruh kartu keuangan lainnya. Hal itulah yang membuat Anugrah hidup tanpa uang di Mesir.


Beruntung Kanaya sempat memberikan gelang emasnya pada Anugrah. Awalnya Anugrah berat untuk menjualnya namun keadaan memaksanya harus melakukannya.


Dengan hasil penjualan gelang tersebut.


Anugrah pun mencari Fian sepupunya Alkan.


Dan lebih baiknya, Alkan mempunyai teman keturunan Mesir yang mempunyai usaha Caffe di daerah Kairo.


Fian pun mengajukan permohonan pada temannya itu untuk mempekerjakan Anugrah di Caffenya.


Agar Anugrah memiliki mata pencaharian di Mesir untuk bertahan hidup.


Dan ahamdulillah, teman Fian berbaik hati untuk memperkerjakan Anugrah.


Sampailah sekarang ini, sudah hampir dua tahun Anugrah bekerja di Caffe milik teman Fian.


Tepp..


Mereka sampai di Caffe.


" Thanks ya Yan." ucap Anugrah, turun dari motor.


" Yoi, gua cabut dulu.


Sebelum tu bocah ngeliat gua." kata Fian, seraya menyalakan motornya dan melajukannya.


" Mas Fian !! teriak perempuan berhijab mustrad itu tiba-tiba.


Anugrah tau siapa pemilik suara itu.


Baru aja diomongin, udah muncul aja. Batin Anugrah.


" Itu mas Fian kan, mas ? tanyanya pada Anugrah.


Anugrah mengangguk." Iya, My."


" Ihhh.." Hummy bergedik kesal.

__ADS_1


" Mas kok gak bilang sih ke Hummy,, kalau hari ini diantar mas Fian." adunya kesal pada Anugrah.


Anugrah menggelengkan kepalanya.


" Buset, dikira aku satpam kali pakai laporan segala." batin Anugrah.


" Mendadak My, tiba-tiba aja Fian mau nganterin mas."


" Lain kali, bilang ke Hummy ya, mas." ucapnya dengan entengnya.


Anugrah hanya tersenyum, dan mengangguk.


" Insya Allah, yaudah mas kerja dulu ya." pamit Anugrah.


Hummy pun mempersilahkannya, dengan cepat Anugrah berjalan menuju kamar ganti untuk mengganti sarungnya dengan celana keper.


Setelah selesai, ia pun bergegas menghampiri pengunjung dan membawa daftar menunya.


Ya, Anugrah bekerja sebagai Waiter disini.


Anugrah melihat gadis yang duduk di sebelah ujung kiri sendirian, tidak dengan sesiapapun.


Anugrah pun menghampirinya, dan menyodorkan daftar menu padanya.


" Tafaddhol." ucap Anugrah.


Tanpa sengaja, gadis yang sibuk dengan ponselnya itupun membuat daftar menu terjatuh.


" Oh Iam sorry." ucapnya pada Anugrah.


" Eh gak apa-apa kok." refleks Anugrah.


" Ah, Its no problem." ulang Anugrah, seraya mengutip daftar menu yang terjatuh.


Gadis itupun tersenyum melihat Anugrah.


" From Indonesia ? tanyanya.


Anugrah mengangguk." Iya mbak." jawab Anugrah.


" Saya dari Jakarta mas." ucapnya seraya menyodorkan tangannya berniat berjabat tangan pada Anugrah.


" Saya dari Pulau Nias, mbak." kata Anugrah, menyatukan kedua tangannya di depan dada.


Gadis itupun tersenyum simpul, kembali menarik tangannya.


" Maaf saya lupa, masnya muslim." imbuhnya.


" Saya bukan muslim, mbak." ralat Anugrah, dengan senyumannya.


Ha ? Gadis itu tercengang mengetahui bahwa Anugrah mengakui bahwa dirinya bukan seorang muslim.


Benar saja, meski Anugrah sudah dua tahun tinggal di Mesir, rutin ikut kajian dimana-mana. Anugrah belum kunjung memeluk Islam.


Bukan karena lidahnya keluh untuk berucap, atau bukan karena hatinya ragu akan cahaya Islam.


Ada sesuatu hal yang membuatnya menunda untuk mengucapkan kalimat syahadat.


" Saya kira masnya muslim.


Islamable banget soalnya." ucap gadis itu.


" Saya Protestan, mbak bukan Islam.


Insya Allah, segera nyusul menuju Islam." ujar Anugrah.


" Saya Khatolik mas.


Ngobrol bentar boleh kan mas ? izinnya pada Anugrah.


Anugrah pun mengangguk, seraya duduk di sebelah gadis itu.


Keduanya duduk bersebelahan, tidak saling memandang. Anugrah memandang lantai yang bersih, sementara gadis itu memandang lurus kedepan.


" Mas udah berapa tahun di Mesir ? tanya gadis itu.


" 2 tahun, mbak." jawab Anugrah.


" Ibadah di Gereja mana, mas?" tanya lagi.


" Saya udah lama nggak ikut ibadah minggu, mbak." jujur Anugrah.


Sudut bibir gadis itu terangkat sebelah.


Membentuk senyum simpul.


"Berarti rajin ikut kajian Islam?" tebaknya.


Anugrah hanya tersenyum, seraya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


Gadis itu menoleh pada Anugrah, menatap Anugrah yang sedang menunduk menatap lantai.


"Banyak orang diluar Islam yang mengerti Islam, yang mengetahui Islam. Yang awalnya hanya penasaran kemudian mencari taunya. Tidak sedikit di antara yang terpukau dan terbuka hatinya untuk memeluknya.


Namun, ada juga yang hanya sekadar penasaran tanpa melibatkan perasaan." ungkap gadis itu.


Ia mengalihkan pandangannya dari Anugrah.


"Saya adalah bagian dari orang-orang yang penasaran tanpa melibatkan perasaan. Saya belajar banyak tentang Islam, but hanya sekedar belajar tidak lebih. Bagaimana dengan mas? Kenapa belum kunjung memeluk Islam? Apakah mas masih ragu?" tanyanya.


Anugrah mengangkat kepalanya, sejenak menatap gadis di sebelahnya, kemudian beralih memandang langit yang biru.


"Benar mbak, ada banyak orang diluar Islam yang mengerti dan mengetahui tentang Islam. Ada yang memutuskan untuk memeluknya dan ada pula yang tidak. Itulah yang dikatakan bahwa hidayah itu punya Allah. Sekeras apapun kita mendalami Islam, sebesar apapun pengetahuan kita tentang Islam. Seberapa banyak kebenaran itu terbukti ada pada Islam. Kembali lagi bahwa hidayah itu punya Allah, jika Dia tidak menghendaki-Nya pada kita, sampai kapanpun kita tidak akan memeluk Islam." ucap Anugrah panjang lebar.


Gadis itu mengangguk setuju, membenarkan perkataan Anugrah.


"Saya bukan orang yang sama dengan, mbak.


Saya terlahir dari rahim wanita muslim namun, besar di lingkungan protestan. Saya sudah belajar banyak hal tentang Islam oleh mama saya sejak kecil. Bahkan saya sudah jatuh cinta dengan salat ketika pertama kali saya melihat mama saya salat." ungkap Anugrah dengan jujur.


"Tidak ada keraguan dihati saya mengenai Islam. Saya bukan tidak ingin memeluknya, hanya saja. Saya ingin melafazkan 2 kalimat syahadat untuk pertama kalinya di tempat di mana kiblat pertama umat Islam berada." tegas Anugrah padanya.


Gadis itu tercengang dengan penjelasan Anugrah. Tak menyangka, bahwa pemuda disebelahnya itu memiliki niat sebesar itu.


" Excuse me, mbak." ucap Anugrah pamit padanya. Tak menunggu jawaban dari gadis itu, Anugrahpun melangkah meninggalkannya.


Bersambung..


Sevimli 13 Agustus 2021


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


__ADS_2