
" Kalian berdua adalah orang yang terpilih dalam menyelesaikan takdir yang cukup memporak-porandakan kehidupan ini."
...... " Pelangi Hanani 🌹" .......
Setelah menyelesaikan semuanya, akhirnya Dokter Nashrun mengantarkan Hana dan Arga pulang ke Istana.
Hana sangat merasa tidak enakan dengan Dokter Nashrun telah direpotkan banyak olehnya.
Di sepanjang jalan hanya ada bunyi deruh mesin mobil berjalan, tak ada percakapan sedikitpun diantara mereka.
Arga yang mengalami luka cukup berat, mengakibatkan dirinya lelah sampai tertidur pulas di mobil. Sementara Hana hanya melihat pemandangan keluar jendela.
Ia menikmati setiap rintikan hujan yang mulai menghampiri. Tidak deras namun cukup mengasyikkan bila kita terjun menikmatinya.
Sudah lama rasanya Hana tidak merasakan guyuran hujan yang merindukan itu.
Jikalau saja ia berada di Indonesia, maka sudah pasti Hana akan bermain dengan Rahmet adiknya dibawah rintikan hujan.
Hembusan angin ditengah hujan seakan-akan membisikkan rindu mendalam Keluarga Hana kepada dirinya.
" Aku merindukan kalian." Ucap Hana menatap rintikan hujan.
Dokter Nashrun mendengar perkataan Hana, spontan saja bertanya padanya.
" Rindu siapa Han ? Tanyanya.
Arga ya, bukannya dia dibelakang kamu.
Hana melirik tajam kearah Dokter Nashrun menyebikkan bibirnya." Hm, what ever." Hana malas berdebat dengan Dokter tampan itu.
Dokter Nashrun terkekeh kecil, ia tau betul Hana sedang kesal padanya.
Entah kenapa ada kesenangan tersendiri bagi Dokter Nashrun saat menjahili Hana.
" Ngambek ni." Ucapnya. " Iya iya deh Saya minta maaf." Sembari mengangkat jari kelingkingnya.
" Saya gak ngambek Dokter, please deh." Ucap Hana dengan melas.
" Baguslah kalau gitu." Kata dokter Nash melihat Hana dari kaca mobilnya.
Tak butuh waktu lama merekapun sampai di Istana. Dengan hati yang begitu besar. Dokter Nash tak segan-segan turun tangan memapah Arga keluar mobil menuju ke dalam Istana.
Hana merasa kagum melihat dokter yang satu ini, selain tampan,pintar, kaya ia juga memiliki hati yang mulia, suka menolong sesama walaupun sedikit menyebalkan terkadang.
" Suster Aishka memang tidak salah melabuhkan hatinya pada Dokter Nashrun.
Ya Allah besar harapan, Engkau akan menyatukan mereka berdua." Ucap Hana dalam batinnya.
Hana mengikuti langkah mereka memasuki Istana. Beberapa penjaga Istana ikut membantu Dokter Nashrun memapah Arga.
Tiba-tiba saja, ada sosok perempuan yang datang dengan wajah juteknya.
" Hanaaaaaa." Teriak Ranti, ya perempuan itu adalah Ranti.
" Eh kamu kok teriak-teriak sih, kek tukang seblak aja." Celutuk Hana.
Bukh.. Ranti menimpuk kepala Hana.
" Aduh apaan sih, sakit tau." Protes Hana pada Ranti.
Ranti hanya meledek Hana dengan lidahnya.
" Pantesan gak ngangkat telpon aku, ternyata lagi ngedate sama abang tampan." Ledek Ranti.
Hana melotot kaget dengan ucapan Ranti, pasalnya apapun yang ia katakan tidak ada benarnya. Melainkan Hana dan Arga sedang tertimpa musibah.
" Enak aja kamu ngatain kita ngedate.
Kita itu." Hana menghentikan ucapannya ketika mengingat kalau Arga tidak ingin siapapun tau masalah ini.
" Kita apa ? Tanya Ranti.
Hana masih terdiam mencari-cari jawaban yang tepat.
" Eee-eee, kita tadi kenak Rampok." Hana terpaksa berbohong pada Ranti.
Ranti dan semua orang yang mendengar jawaban Hana terkejut bukan main, sekaligus khawatir ia kenapa-kenapa.
" Astaghfirullah, kamu serius Han ?
Kamu ada luka gak ?
Pantesan Arga parah gitu Han." Ranti melihat luka Arga yang cukup mengkhawatirkan.
" Astaghfirullah." Ucap mereka serentak.
Wardah yang melihat kondisi Arga lemah tak berdaya seperti itu serta luka berat di tubuh putranya. Seketika tertunduk lemah di hadapan putranya.
" Arga kamu terluka nak ? Dimana yang sakit nak ?
Kemudian Wardah melangkah menghampiri Hana.
Siape yang berani melukai putra saye ha ? Tanya Wardah yang sudah mencengkram bahu Hana.
Hana tersentak keget dengan perilaku Wardah. Dan semua orang di sekitarnya tak menyangka Wardah akan bertindak kasar seperti ini.
" Wardah, Hana tadi dah cakap mereka kena rampok, betulkan Hana ? Tanya Nazhanul dengan menekan suaranya diakhir kata.
" Ii-yya Uncle, betul kite orang ade insiden kena rampok.
Dan Hana merasa sedikit gugup dengan kebohongannya, merasa bersalah sudah berkata demikian. Namun Ia tak punya pilihan lagi, selain jawaban itu.
__ADS_1
" Maafkan aku Ran, aku terpaksa bohong sama kamu dan kalian semua. Aku takut Arga kecewa kalau aku berkata jujur. Insya Allah jika sudah tepat waktunya, kalian pasti tau kok." Batin Hana.
" Hm, iya Ran kami sudah berusaha melawan.
Tapi jumlah mereka lebih dari empat orang, jadi kami kelewahan melawannya." Ucap Hana.
" Bahkan mereka bawa senjate, kami tak tau nak buat ape. Mereka semua terus hadangkan senjata kat kite." Hana lagi-lagi terpaksa mengarang cerita dengan rasa bersalahnya.
Arga paham betul, bahwa Hana terpaksa berbohong seperti itu karena dirinya.
Ia juga merasa bersalah harus membuat Hana berada diposisi ini.
" Maafkan Aku Han, karena aku kamu harus berbohong seperti ini, kita belum punya bukti yang cukup untuk mengalahkan si ******** itu Han. Aku akan terus berusaha untuk memperlihatkan kebiadaban si ******** itu." Ucap Arga dalam hatinya.
Wardah melepaskan cengkramannya, kemudian memeluk Hana.
Yang membuat kepala Wardah menyentuh leher Hana.
" Aww." Hana merasa kesakitan.
Wardah langsung melepaskan pelukannya.
" Hana kenape nak ?
Ape awak juge terluka ? Tanya Wardah.
" Eh tak Aunty, Hana oke je." Jawab Hana seraya menutup jilbabnya dengan tangannya.
Nazhanul yang melihat Hana sedikit gugup seperti itu pun mulai curiga.
Ia menatap intens Hana dan Arga secara bergantian, seolah-olah ingin mencari kebenaran.
" Hana awak tak sedang tipu sayekan ? Tanya Nazhanul curiga.
Hana semakin gugup dengan pertanyaan Nazhanul. Ia memang bukanlah orang yang ahli dalam berbohong.
Dengan mulut yang bergetar, tubuh yang mulai kaku. Hana mencoba merilekskan dirinya.
" Ya Allah maafkan hamba sudah terus berbohong seperti ini." Ucap Hana pada harinya.
" Iya Ayah ape yang Hana cakap memang betul." Jawab Arga yang tau Hana semakin gugup. Dan ia tak ingin dengan kegugupan Hana itu mala justru membuat Hana berkata jujur, sebab ini belumlah waktu yang tepat.
Arga mulai bercerita dihadapan mereka semua, ia bercerita sama dengan kejadian yang sebenarnya mereka alami. Hanya saja ada beberapa bagian yang ia ganti dan menambah cerita baru, agar seolah-olah terkesan mereka di Rampok sebab orang kaya bukannya disekap pengkhianat itu.
Arga juga menceritakan bahwa yang menolong mereka adalah mamanya dokter Nashrun.
Hana sedikit lega, sebab Arga membantunya menjawab semua pertanyaan yang mereka hujani padanya.
Seketika darah Nazhanul mendidih, rahangnya mengeras mendengar bahwa putranya di rampok sekaligus dianiaya seperti ini. Namun di balik itu Nazhanul juga merasa bersalah, apa mungkin ia adalah orang yang pelit dalam sedekah, sehingga Allah tegur dengan perampokan yang terjadi pada Putranya.
" Baiklah, Vikri tolong awak sedia semua pangan serta duit untuk kite sumbangkan Kat mereka yang membutuhkan." Perintah Nazhanul kepada Vikri.
Arga mengendipkan matanya sebelah pada Hana seraya memberikan ulasan senyuman mautnya, ia paham betul bahwa Nazhanul akan melakukan ini.
Hana tersentak kaget dengan kedipan itu.
Seketika hatinya berdegub tak karuan, tubuhnya mulai bergetar. Merasa salah tingkah ditatap Arga seperti itu.
" Astaghfirullah Hana, kamu berdosa banget. Ingat Hana dosa-dosa. Netralkan detak jantungmu Han." Ucap Hana pada dirinya memegang erat dadanya.
Dokter Nashrun yang masih berada disitu tanpa sengaja, memperhatikan dua bocah yang tengah dilanda kasmaran itu.
Ia terkekeh kecil melihat tingkah mereka. Yang tidak ada bedanya dengan dirinya dan Suster Aishka.
Hana yang mendengar tawa kecil Dokter Nashrun, segera mengubah posisinya membelakangi mereka agar tak kelihatan ia sedikit gugup.
" Hana, Hana awak ni comel sangat." Ucap Dokter Nash dengan pelan.
Wardah menghampiri Dokter Nashrun ingin menanyakan kondisi putranya.
" Bagaimana Dok ?
Ape lukanya sangat parah ke ? Tanya Wardah.
Nashrun tersenyum." Alhamdulillah tidak terlalu parah, insya Allah jika rutin dioleskan ini lukanya akan segera berakhir." Jawab Dokter Nash seraya memberikan salep luka lembam yang sesuai dengan luka Arga pada Wardah.
" Dan ini obat Arga luka yang ade kat Arga tidak infeksi, tolong ye diminum." Titah Dokter Nashrun pada Arga.
Arga mengangguk iya." Terima kasih Dokter." Ucap Arga.
" Terima kasih banyak Dokter dan maafkan kami Dokter dah banyak sangat susahkan Dokter." Ucap Wardah.
" Eh tak, saye senang je bantu Arga dan Hana. Mereka ni dah saye anggap macam adik saye sendiri. Jadi tak dehlah buat saye susah." Jujur Nashrun pada mereka.
Nazhanul tersenyum merasa bangga melihat keikhlasan hati Nashrun dalam menjalankan tugasnya.
" Terima kasih Dokter, saye salut kat awak yang begitu bijaksananye dalam menjalankan tugas." Ujar Nazhanul bangga pada Nashrun.
Detik selanjutnya Nazhanul memberikan uang Cash pada Nashrun." Ohiya ini bayaran tagihan perawatan anak saye Dokter sekaligus sebagai rase terima kasih saye kat bunda Dokter yang telah menolong putra dan ponakan saye." Ucap Nazhanul.
Nashrun tersenyum dan menolak semua uang cash yang Nazhanul berikan.
Bukan karena ingin cari muka. Melainkan Nashrun memang benar-benar ikhlas menolong Arga bahkan siapapun yang terluka meski tidak digaji sepersenpun.
Ia sudah merasa cukup dengan hartanya, ia ingin mengabdikan dirinya dengan sepenuh hati membantu mereka yang membutuhkan pertolongan medisnya.
" Takpe Tuan saye ikhlas hati tolong Arga, baik uang ni Tuan kasihkan kat mereka yang membutuhkan." Ucap Nashrun dengan jujur.
" Bukan saye nak sombongkan diri, saye dah merasa kecukupan harta dalam hidup saye. Ilmu medis saye ni memang nak saye jadikan amalan disepanjang hidup saye Tuan." Ujar Nashrun.
Hana, bahkan semua orang disana terpengarah mendengar perkataan Nashrun.
__ADS_1
Dokter muda yang begitu mulia hatinya.
Bahkan diantara seratus dokter hanya ada dua Dokterlah yang berjiwa seperti dokter Nashrun ini.
" Masya Allah jarang sekali ada Dokter seperti Dokter Nashrun ini. Ya Allah balaslah setiap kebaikan dan kemuliaan hati Dokter Nashrun. Berkahilah setiap langkahnya ya Allah." Doa Hana dalam hati.
Nazhanul tersenyum menatap bangga pada Nashrun." Masya Allah awak ni luar biase sangat beruntunglah Bunda awak punya putra macam awak ni." Ujar Nazhanul padanya.
Nahsrun membalas senyuman Nazhanul.
" Hm alhamdulillah, Tuanpun tak kalah beruntung dari Mama saye. Tuan juga punya putra yang luar biasa bijaksana seperti Arga ni, masih usia muda tapi die dah banyak berjuang untuk negara ni." Ucapan Nashrun membuat Hana dan Arga tenganga.
Apa maksudnya Dokter Nashrun mengatakan hal itu. Apa mungkin Dokter Nashrun tau apa yang terjadi dengan mereka berdua.
Arga menatap tajam kearah Hana, menyangka bahwa Hana sepertinya bercerita kejadian sebenarnya pada Nashrun.
Hana menggelengkan kepalanya, seakan-akan paham bahwa Arga sedang menanyakan hal itu lewat sorot mata tajamnya.
" Baiklah Tuan, Aunty semua dah selesai saye pamit nak balik dulu, assalamu'alaikum." Nashrun pamit pada mereka semua.
" Waalaikumussalam." Jawab mereka serentak.
" Terima kasih banyak nak, senantiasa Allah selalu melindungi awak, bagi awak bakal istri Sholehah." Ucap Wardah dengan ketulusannya.
Nashrun mengangguk." Allahumma aamiin senantiasa doa aunty Allah Jabah." Ujar Nashrun.
Selanjutnya Nashrun melangkah keluar, Hana yang masih diselimuti penasaran. Ia menyusul Nashrun keluar.
" Dokter Nash." Panggil Hana namun tak ada jawaban darinya.
" Dokter Nash tunggu !! Belum ada jawaban sama sekali.
" Dokter Nashrun calon suami Suster Aishka tunggu." Teriak Hana yang berhasil membuat Nashrun menghentikan langkahnya.
Ya, tentu saja Ia menoleh. Sebab Dokter tampan itu sangat sensitive ketika mendengar nama Aiskha.
" Hana, ada apa ? Tanyanya menghampiri Hana.
" Gilaran dengar nama Suster Aishka aja baru ngerespon." Ketus Hana.
Nashrun terkekeh kecil mendengar perkataan Hana. Ya, ia juga merasa bahwa dirinya sangat sensitive dengan nama Aishka.
" Ada apa Hana ? Apa lukamu masih sakit ? Tanya Nashrun.
Hana menggeleng cepat." Saya mau tanya sama Dokter, apa maksud Dokter ngomong seperti tadi ? Tanya Hana balik dengan tatapan curiganya.
Nashrun mulai mencerna omongannya yang mana yang dimaksud Hana.
" Omongan saya yang mana Hana ? Tanyanya bingung.
" Tuan tak kalah beruntung dari Mama saye, Tuan mempunyai putra luar biasa bijaksana seperti Arga." Ucap Hana mengulangi perkataan Nashrun.
" Oh itu." Jawab Nashrun singkat.
" Iya, jawablah apa maksudnya ? Tanya Hana.
Nashrun melangkah menjauh dari Hana, tak menjawab pertanyaannya.
Hana yang di kacangin seperti itu merasa kesal. " Dokter jawab dulu baru boleh pergi." Teriak Hana.
" Dokter Nashrun." Teriak Hana lagi.
Dokter Nashrun berbalik menghadap Hana.
" Mama saya sudah cerita ke saya, mengenai kejadian yang menimpa kalian tadi pagi." Jujur Nashrun pada Hana.
" Astaghfirullah." Hana baru teringat bahwa ia tanpa sadar telah menceritakan kejadian itu pada Vayra.
" Saya harap kamu dan Arga tidak akan lama menyimpan sendiri masalah sebesar ini." Ucap Nashrun.
" Saya tau kamu berdua adalah orang yang hebat, namun bukan berarti kalian akan terus kuat setiap detiknya memikul beban berat ini." Perkataan Dokter Nashrun terdengar sangat serius.
Hana sependapat dengan apa yang dikatakan Dokter Nashrun, hanya saja Arga melarangnya untuk memberitau yang lain sebelum Arga memiliki bukti yang kuat untuk mengalahkan Pengkhianat itu.
" Ada masanya kalian berada di fase lemah dan tak sanggup lagi melawan penjahat itu, seperti saat ini. Kalau orang lain tidak tau masalah yang kalian hadapi, dari celah mana orang lain ingin membantu kalian ? Sambung Nashrun.
Hana menundukkan pandangannya." Apapun yang Dokter Nash bilang saye sependapat dengan Dokter, tapi setiap kali saya ingin memberitahu orang lain masalah besar ini, setiap kali itu pula Arga melarang saya dengan habis-habisan. Dan hal itulah membuat saya mundur untuk mengatakan kejujuran." Ungkap Hana pada Nash yang tak terasa sebulir air mata menetes di pipinya.
Dokter Nashrun tersenyum." Saye paham betul dengan kamu dan Arga, kalian masih mencari bukti yang kuat untuk membuktikan dan sekaligus mengalahkan Pengkhianat itu bukan ?
Saran saye berbagilah dengan yang lain, sebab orang lain juga ingin menjadi " Kuntum Khoiroh umat." Ya, ummat terbaik dengan melaksanakan melarang pada keburukan dan mengajak kepada kebaikan."
" Saya yakin dengan izin Allah, kalian berdua adalah orang-orang terpilih dalam menyelesaikan takdir yang cukup memporak-porandakan kehidupan ini." Ucap Dokter Nashrun.
" Saya siap membantu kalian kapanpun itu, saya pamit ya Han, assalamu'alaikum." Tutup Dokter Nashrun melangkah menuju mobilnya.
Hana masih terdiam mencerna setiap bait demi bait perkataan Nashrun, yang sangat bijaksana itu.
" Tin-tin..."Ketika Dokter Nashrun mengklecson dirinya barulah Hana tersadar.
" Waalaikumussalam, terima kasih Dokter." Teriaknya yang masih dapat didengar Nashrun.
"Maafkan aku Ga, mulai hari ini dan seterusnya apapun yang dilakukan pengkhianat itu aku harus berkata jujur pada orang lain." Ucap Hana pada dirinya.
Bersambung...
Sevimli 1 Desember 2020
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa Likenya
__ADS_1