
......" Pelangi Hanani 🌹"......
" Masih ada banyak manusia baik yang tersembunyi , dan akan memperlihatkan dirinya, ketika kita sedang membutuhkan pertolongannya."
Keheningan kini menemani dua remaja yang beranjak dewasa itu.
Keduanya saling enggan untuk berbicara.
Namun, jujur sebenarnya mereka saling mengkhawatirkan satu sama lain.
Arga menoleh ke arah Hana, tanpa sengaja Hana juga menoleh ke arah Arga.
Kedua bola mata mereka kini bertabrakan, Hana langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.
" Astaghfirullah Hana, kamu gak boleh gini. Ingat dosa Hana." Gumam Hana.
Sementara Arga hanya tersenyum samar melihat Hana.
Hana baru tersadar bahwa handphonenya berada di sakunya.
Iapun segera merogoh sakunya untuk meraih handphone sekaligus berniat menghubungi Ranti, memberi tau Ranti bahwa mereka sedang terjebak di tempat yang bisa dikatakan menyeramkan.
" Nah ini handphone aku, kenapa gak mikir dari tadi sih Han? " Menepuk kepalanya.
Arga yang kebetulan menoleh ke arah Hana yang sedang sibuk mengutak-atik handphonenya, mulai berpikir bahwa Hana pasti menghubungi Ranti ataupun Izaz.
" Kamu mau hubungi Ranti ? Tanyanya dengan nada tinggi.
Membuat Hana terkejut, hampir saja Hana menjatuhkan handphonenya.
" Is, boleh gak sih ? Gak usah buat kaget !" Kesal Hana.
" Gak ! Aku tanya kamu hubungi Rantikan ?
" Iya." Jawab Hana singkat kembali mencari kontak Ranti untuk segera ia hubungi.
" Han, aku minta sama kamu jangan hubungi Ranti atau siapapun yang tinggal di Istana dan beritau masalah ini." Ujar Arga pada Hana dengan serius.
Hana menatap Arga bingung, merasa ada keanehan dalam diri pria yang sedang bersamanya ini.
Entah kenapa setiap kali ada insiden yang berkaitan dengan pertikaian ini, Arga selalu saja membungkusnya rapi tanpa celah sedikitpun, karena tak ingin siapapun mengetahuinya.
" Kamu kenapa sih, Ga ?
Setiap kali ada masalah yang menimpa kamu ataupun kita, kamu selalu saja menutupinya tanpa celah sedikitpun.
Gak mau ceritakan semuanya ke yang lain ? Tanya Hana padanya.
" Karena itu lebih baik." Jawab Arga singkat.
" Baik kamu bilang ? Baik darimana ha ? Teriak Hana.
" Mau sampai kapan kamu bungkam gak mau ngasih tau yang lain mengenai Iblis itu ?
Mau sampai rencananya berhasil sepenuhnya ia jalankan iya ? Hana berteriak lagi pada Arga.
" Sampai aku sendiri menemukan bukti yang kuat mengenai Kelicikan ******** itu." Ucap Arga dengan penuh penekanan.
" Dan satu hal lagi Han, aku bisa melakukan semuanya tanpa bantuan siapapun." Sambungnya.
Hana tertawa renyah mendengar keangkuhan Arga, yang tak membutuhkan bantuan siapapun.
Ha-ha-ha.
" Hebat sekali !! Ucap Hana sembari bertepuk tangan.
" Kau tak butuh bantuan siapapun ?
Biar aku beritau sedikit hal mengenai manusia itu makhluk sosial.
Makhluk yang membutuhkan orang lain, manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
Dan saat ini kau tak bisa sendiri untuk menyelesaikan masalah sebesar ini, Ga kau butuh orang lain ! Jelas Hana.
" Aku tidak butuh Han." Arga mengulangi pendiriannya lagi.
" Oke mari kita lihat, bagaimana caramu sampai ke Istana tanpa bantuan orang lain.
Dasar Batu ! " Tantang Hana padanya.
Arga hanya terdiam tanpa kata.
Tak mengerti dengan dirinya yang memang tak ingin memberitau siapapun masalah ini.
Hampir satu jam mereka menunggu seseorang yang bersedia membantu mereka, namun tak satupun kendaraan yang melintas menggrubis teriakannya.
" Ya Allah, tititpkan satu malaikat saja yang bersudi hati membantu kami." Ucap Hana pasrah.
" Mana belum sholat dzuhur lagi." Hana tak tau harus bagaimana ia melaksanakan shalat di kondisi mereka saat ini.
Dan pada akhirnya tiba-tiba saja, ada mobil yang melintas.
Hana yang melihatnya dari kejauhan, dengan sigap berdiri ditepi jalan.
" Alhamdulillah akhirnya ada juga mobil yang lewat." Ucap Hana melihat mobil dari kejauhan.
Mobil itu semakin mendekat, Hanapun berteriak memanggilnya.
" Pakci !! Makci siapapun kat dalam tu tolong bantu kami." Teriak Hana.
" Pakci, Makci." Hana terus berteriak.
" Uncle, Aunty.
Sampai Akhirnya sang pemilik mobilpun merasa risih dengan teriakan Hana, dan memutuskan untuk menghampirinya.
" Ape hal budak ni teriak-teriak macam tu." Ucap empunya mobil.
" Pak berhenti kejap, kite tengok budak tu." Titahnya pada supirnya.
" Baik nyonya." Supirnya memberhentikan mobilnya tepat dihadapan Hana.
Hana yang melihat mobil itu sepertinya meresponnya, merasa lega.
" Akhirnya ada yang menghampiri kami ya Allah." Ucap Hana menatap mobil Pajero sport berwarna putih di depannya.
Keluarlah sosok wanita yang cukup berumur namun, sangat berpenampilan modis.
Ia membuka kaca matanya, untuk melihat Hana lebih jelas.
Hana tersenyum padanya.
Kemudian mendekatinya.
" Assalamu'alaikum Aunty." Ucap Hana ramah.
Ia menatap heran sekaligus curiga pada Hana.
" Waalaikumussalam." Jawabnya ketus.
" Aunty maaf sebelumnya saya mengganggu kenyamanan aunty, dengan teriakan saya." Hana menundukkan kepalanya.
__ADS_1
" Hm, yang awak teriak macam tu ape hal ? Tanyanya pada Hana.
Ia masih tak melihat keberadaan Arga yang terbaring lemah di belakang Hana.
" Hm gii-ni Makci, bo--leeh." Hana gugup untuk meminta bantuannya.
" Cepatlah cakap." Ujarnya pada Hana.
" Huhh." Hana menghela nafas sejenak, agar ia lebih rileks untuk mengucapkan permohonannya pada perempuan yang berada depannya.
Perempuan itu mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan Hana.
" Hm, makci boleh tak kalau kite orang numpang kat mobil makci, teman saye terluka parah makci." Ucap Hana sela menunjukkan Arga.
Perempuan itupun melihat kemana arah tangan Hana menunjuk.
Ya, benar saja ia melihat Arga terduduk lemah disana serta ada banyak darah yang melumurinya.
" Astaghfirullah nak, macam mana boleh macam ni ? Ia tersentak kaget seraya bertanya pada Hana.
Belum sempat Hana menjawab pertanyaannya, pandangannya beralih pada leher Hana, yang jilbabnya ada noda darah disana.
" Ya Allah, awak macam mana leher awak boleh macam ni nak ? Tanyanya pada Hana.
" Ceritanya panjang makci, nanti Hana cerita kat makci. Boleh ya makci bantu bawa kawan saya kat Hospital dekat sini ? Mohon Hana padanya.
" Of course nak, jom kite bawak.
Nak Rafka tolong bawak budak tampan tu kat dalam kereta." Titahnya pada supirnya.
Supirnya pun bergegas memenuhi perintah majikannya. " Baik nyonya." Jawabnya sembari memapah Arga.
" Ya Allah terima kasih, Engkau telah datang kemudahan setelah kesusahan." Ucap Hana dalam hati.
Ia tersenyum hangat pada perempuan yang kelihatannya seusia ibunya itu.
Wanita yang cantik dengan Khimar instannya, bahkan sangat baik hati terhadap sesama.
Seketika Hana terkagum padanya.
Sentak saja senyuman Hana dibalas oleh perempuan itu.
" Terima kasih banyak makci dah bersedia tolong kite orang." Tutur Hana.
" Same-same nak, siape namanye ? Tanyanya pada Hana.
" Hanani Syaufa makci, biasa dipanggil Hana.
Makci ? Kata Hana.
" Masya Allah cantik nama awak. Nama makci
Vayra." Jawabnya lembut pada Hana.
" Oh makci Vayra."
" Iye, jomlah kite masuk tak baik lama-lama kat sini." Ujarnya pada Hana.
" Eh, iya makci boleh gune kereta tak ? Tanya Hana sedikit ragu.
" Boleh, kenapa ? Penasaran dengan pertanyaan Hana.
" Macam ni makci boleh tak Drive makci bawa motor kawan saye, dan makci Drive kereta makci ? Ungkap Hana dengan sedikit gugup.
" Oh macam tu, bolehlah.
Nak Rafka come here ! Panggilnya.
" Iye nyonya, ada yang bisa saye kerjakan lagi ? Tanyanya.
" Iye, kamu Bawak motor sport tu, biar saye yang Drive kereta." Jelasnya pada Supirnya.
" Oh baik nyonya, ini kuncinya." Rafka memberikan kuncinya pada Vayra, sang majikan.
" Pakci, kuncinya ade kat motornya ye." Jelas Hana.
Rafkapun tertawa mendengar Hana memanggilnya pakci, padahal usia Rafka masih terbilang muda.
Hana mengerutkan keningnya merasa heran, kenapa makhluk di depannya ini tertawa.
Emang ada yang lucu." Pikir Hana.
" Ape saya setua itu ? Tanyanya pada Hana.
Hana menaikkan kedua bahunya sebagai tanda ia tidak tau.
" Panggil saya Abang je, usia kite tak terpaut jauh sangat." Ujarnya pada Hana.
Hana semakin tidak mengerti dengan makhluk yang bernama Rafka ini, kenapa Sok kenal sok dekat gini.
" Die siape sih ? Sok akrab banget ." Hana berdelik kesal.
" Hana jom masuk, kite nak bawa Arga dengan cepat." Teriak Vayra pada Hana.
" Ah iya makci." Hanapun bergegas menuju mobil.
Di dalam mobil Hana duduk di sebelah Vayra, sementara Arga berada di belakang sendiri.
Keheningan menyelimuti mereka, tak ada perbincangan sama sekali.
Detik selanjutnya, Vayra memecah keheningan.
" Kite bawak kawan awak kat Hospital anak saye dinas je ye, sebab saye rase lokasinya dekat dari sini." Ujarnya pada Hana.
" Wah lebih baguslah kalau macam tu makci." Jawab Hana.
" Nak, luka awak kat leher tu tak sakit ke ? Tanya Vayra pada Hana yang tampaknya sama sekali tidak merasa kesakitan dengan luka dilehernya.
Jujur saja, sakit bahkan sangat perih itulah yang dirasakan Hana dengan luka dilehernya.
Akan tetapi, ia tetap mencoba berpura-pura kuat, tidak menunjukkan rasa kesakitannya sedikitpun.
Ia tersenyum." Hehe tak makci sakit dikit je, kejap lagi dah hilang sakitnye." Jawabnya seolah-olah tidak merasakan sakit sedikitpun.
Arga yang samar-samar mendengar perkataan Hana, menyunggingkan senyumnya.
" Han, kau tak perlu berpura-pura tegar seperti itu Han ! " Batin Arga.
" Hm, nanti sampai kat hospital kamu juga kena dirawat lukanya, paham !
Hana mengangguk paham pada perkataan Vayra.
" Awak asal Mane ye ? Tanya Vayra.
" Saye asal Indonesia makci, saye kat sini sambung Study dan tinggal kat sini di Rumah Uncle saye." Jawab Hana.
" Oh kamu orang Indonesia rupanya." Ucap Vayra.
Loh Hana terheran." Lah makci kok jadi aksen Indonesia gitu ? Tanya Hana.
Vayra tertawa kecil." Tentu nak, ibu ini orang Indonesia, tinggal disini bersama anak ibu sebab dia dokter dan ditugaskan disini." Jawab Vayra yang membuat Hana manggut-manggut.
__ADS_1
" Oh, pantesan hehe, di Indonesia dimananya buk ? Tanya Hana lagi.
" Pekan baru nak, kamu ?
" Hana bagian Sumut buk." Jawab Hana.
" Ohiyaiya, kita ngomong pakai aksen Indonesia aja ya biar gak ribet." Titahnya pada Hana.
" Siap buk." Jawab Hana Semangat.
" Ohiyaiya gimana ceritanya kalian bisa seperti ini ha ? Tanya Vayra.
Hana menghela nafas sejenak, untuk mengatur nafasnya. Kemudian bercerita mengenai kejadian yang menimpa mereka dengan amat lengkap tanpa harus adanya tambahan.
Setelah mendengar cerita Hana, betapa kejam dan liciknya pejabat berengsek itu, membuat Vayra mengeram rahangnya keras.
" Ya Allah !! Mereka tak pantas hidup." Upatnya.
" Hm, terkadang sebuah kesalah pahaman membuat semuanya kacau, berantakan bahkan hancur."
" Tapi akan lebih sempurna kehancurannya ketika kita tak mau mencari kebenaran dari Sebuah kesalah pahaman itu." Ujar Hana dengan bijak.
Vayra tersenyum kagum mendengar perkataan Hana yang memang benar adanya.
" Kamu cerdas sekali nak." Ucapnya pada Hana.
Hana hanya tersenyum simpul.
Selama perjalanan ada banyak hal yang mereka bincangkan, sampai-sampai tak terasa mereka telah tiba di Island Hospital, Penang.
Ya, tempat dimana Hana dirawat seminggu yang lalu.
Ada banyak suka duka yang terwarna di tempat ini.
Dimana ia dapat melihat ketulusan kasih dari orang-orang terdekatnya untuknya.
" Alhamdulillah dah sampai dah." Ucap Vayra.
" Alhamdulillah,tante terima kasih atas bantuannya. Tante baik sekali." Tutur Hana padanya.
Vayra tersenyum hangat." Sama-sama nak, gak usah sungkan." Jawabnya sembari membuka pintu mobil.
" Rafka tolong papah Arga ya nak." Titah Vayra pada Rafka.
Rafka yang diperintahkan pun bergegas membuka pintu mobil, meraih tubuh Arga.
Hana masih saja memandang senduh ke arah Arga yang tak berdaya.
Tanpa sadar manik mata Arga mengarah pada Hana.
Ia tersenyum." Hey gadis aneh jaangaan pedulikan aku, lihatlah dirimu juga terluka." Ledek Arga.
Hana mengerucutkan bibirnya." Ck berdecak kesal." Hm ini hanya luka kecil, bukanlah hal yang serius." Ketus Hana.
Arga tertawa kecil." Jangan ngambek deh, entar jeleknya ningkat." Arga meledek Hana kembali.
" Arga patung ! Nyebelin." Ketus Hana berlalu meninggalkan Arga menuju Masjid untuk melaksanakan Sholat dzuhur.
Arga kembali tertawa, Rafka juga ikut tertawa bersamanya.
" Dia manis sekali ya." Ungkap Rafka yang berhasil membuat Arga melototkan kedua biji matanya.
" Kenapa tatapannya seperti itu kepada Hana ? " Batin Arga yang merasa aneh dengan Rafka.
" Ya benar, dia memang berbeda dengan yang lain." Ketus Arga.
Rafkapun tersenyum." Ya, aku semakin terkagum pada Hana." Ucap Rafka menatap Hana yang telah menjauh dari mereka.
Arga semakin kesal mendengar semua perkataan Rafka, spontan memijak kakinya.
Bukh..
" Aduh." Keluh Rafka
" Eh maaf aku tak sengaje tadi." Bohong Arga.
" Rasakan, itu akibat kau berani bersaing denganku." Batin Arga.
Rafka hanya tersenyum." Its oke." Ucapnya.
Detik selanjutnya Rafka kembali memapah Arga memasuki koridor Rumah sakit.
Ya, Arga menatap lekat Rumah sakit, teringat seminggu yang lalu Ia menemani Hana dirawat di Rumah Sakit ini.
Dan sekarang ia yang harus melakukan perawatan di Rumah Sakit ini.
" Seminggu yang lalu Hana yang di rawat disini, dan sekarang aku yang akan dirawat." Ucap Arga dalam hatinya.
Arga juga teringat pada sosok perempuan baik hati yang merawat Hana dengan tulus, dan juga yang pernah ia lukai dengan Cengkramannya.
Sekaligus menjadi temannya,
ya perempuan itu adalah Suster Aishka.
"Suster Aishka, apa kabar dengannya ? " Batin Arga.
Argapun tersadar bahwa dirinya belum melaksanakan kewajiban dzuhurnya.
" Pak boleh tolong papah saya terlebih dahulu ke Masjid, saya mau sholat dzuhur dulu." Pinta Arga pada Rafka.
Rafka tertawa, tidak hanya Hana yang memanggilnya pakci melainkan Arga juga memanggilnya dengan sebutan itu.
" Ha-ha-ha, Apa aku setua itu ya ? Tanyanya pada Arga.
Arga mengangguk iya.
" Okeoke, panggil aku Abang saja. Aku ini masih muda usia kita paling hanya berbeda 4 tahun, atau 5 tahun." Ujarnya pada Arga.
Membuat Arga mengerutkan keningnya." Ya elah ni orang kagak mau dipanggil Bapak, karena takut tua kali ya.". Batin Arga.
" Oh gitu ya, baiklah pakci eh maksudnya bang." Jawab Arga.
" Nah gitukan enak dengarnya." Ucap Rafka.
Rafkapun memapah Arga menuju Masjid agar Arga bisa segera melaksanakan Sholat dzuhur.
Di Sekolah Hana.
" Hana kok gak sampai ya dari tadi pagi loh ? "
Menatap jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 01.45 Pm.
" Apa sakit perutnya belum reda ? Ucapnya yang sedari tadi mondar-mandir di depan kelas.
Rantipun menghubungi nomor Hana, tapi tak satupun panggilannya terjawab.
" Hana angkat dong aku khawatir sama kamu." Ranti masih terus menghubungi nomor Hana.
Ya, siapa yang tidak cemas ketika orang yang sadari tadi ia nantikan, tak kunjung tiba juga.
Sevimli 22 November 2020
__ADS_1
Salam hangat dari Author 🌹