Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 89 Trixie House


__ADS_3

" Jangan pernah menganggap wanita lemah.


Bahkan jikalau mau wanita jauh lebih kuat dari pada pria."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Masih terduduk lemah.


Tangisan Hana semakin pecah..


Ia merasa begitu patah, saat mengetahui satu-satunya orang yang bisa menjadi bukti ternyata telah meninggal dunia.


" Ya Rabb...


Kenapa lagi-lagi jalan kebenaran Engkau persempit seperti ini ?? Teriak Hana dengan lirih.


Air matanya tertumpah begitu ruah.


Ia tak menghiraukan siapapun di sekitarnya.


Yang hanya ada dalam benaknya, adalah keselamatan Arga yang paling utama.


Haiko merasa simpati melihat Hana semakin terisak, iapun mencoba memahami semua perkataan Hana.


Mulai dari pembahasan kekalahan, dan sekarang mengenai kebenaran.


Dan point pentingnya adalah Hana ingin bertemu ayahnya. Ketika Hana mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal, Hana begitu histeris sekali.


Haiko menghubungkan semuanya.


Dan ya, satu yang terlintas dalam benaknya.


Apa Hana ingin bertemu ayahnya untuk mencari sebuah kebenaran sekaligus buktinya ?


Haikopun mendekati Hana dan membuka mulutnya.


" Apa kau ingin bertemu ayahku untuk mencari bukti kebenaran ? Tanyanya.


Hana mendongakkan kepalanya dan menatap Haiko dengan anggukan kepala.


Haiko ikut terduduk bersama Hana, dan memasang ekspresi datarnya." Ayahku meninggal dunia setahun yang lalu." Haiko menjeda ucapannya.


Ia mengelus lembut nisan ayahnya.


Hana menatap Haiko dan menunggunya melanjutkan ucapannya.


Haiko tersenyum masam menatap nisan ayahnya.


" Ayahku meninggal dibunuh oleh anak dari pria yang ia bunuh." Mengingat kejadian itu Haiko mengeram keras rahang.


Amarah mulai berkobar dalam hatinya.


Tatapannya bahkan kini lebih tajam dari mata elang.


Ia menggenggam erat nisan Rakses.


Hana yang melihat Haiko tengah dirundung amarah sedikit takut dan gugup.


" Aaaa....apa kamuuu ingin balas dendam ? Tanya Hana hati-hati.


Haiko menatap perempuan berhijab yang tak jauh disebelahnya.


Tatapan tajam itu membuat nyali Hana sedikit ciut.


" Mati aku !! Kenapa pertanyaan bodoh itu yang keluar." Hana menggurutui kebodohannya.


" Aku bisa saja dalam sekejap mata membunuh pembunuh ayahku." Ucapnya seraya berdiri dari makam Rakses.


" Akan tetapi, perkataan ayahku menjadi penolakan untuk hal itu." Lanjutnya yang masih belum sepenuhnya mengungkapkannya.


Haiko meraih daun bunga Kamboja yang berada didekatnya." Ayahku mengatakan cukup anakku yang terlahir dari seorang ayah pembunuh. Jangan sampai cucuku juga memiliki seorang ayah pembunuh." Haiko tersenyum masam mengatakan hal ini.


Lucu sekali bukan ?


Rakses seorang pembunuh, namun ia tak menginginkan anaknya menjadi seorang pembunuh.


Hana tertegun mendengar perkataan Haiko.


Merasa bahwa melalui perkataan itu menunjukkan bahwa masih ada setitik kebaikan di hatinya Rakses.


Senyum manis terbit di wajah Hana, disaat bersamaan pula Haiko menatap Hana.


Entah kenapa ada ketenangan yang ia rasakan, saat melihat senyuman itu.


Namun ia tetap berusaha menjadi mengembalikan kodratnya, sebagai pemuda yang bengis.


" Kamu gak usah senyum !!


Kamu sudah bertemu dengan ayahku.


Sekarang kamu bisa pergi dari sini !! Usirnya dengan ketus pada Hana.


Hana menoleh dengan wajah kesalnya.


Bisa-bisanya pria gila ini bersikap kasar seperti ini.


Akan tetapi, Hana mencoba untuk merilekskan dirinya.


" Sabar Hana !! Sabar." Ujarnya menyentuh dadanya.


" Hey perempuan bodoh !!


Apa telingamu sudah tidak berfungsi ? Ketusnya lagi pada Hana.


Hana menatapnya dengan tatapan kesal.


" Bisa gak sih, gak usah kasar kalau bicara sama perempuan !! Hana tak ingin kalah ketus.


Haiko hanya menatap melas Hana.


" Pergilah !!


Kalau kau masih sayang dengan nyawamu !! Ujarnya.


Menyebalkan !!


Benar-benar menyebalkan.


Pria psychopat ini memang tidak punya hati.


Issh... Hana berdengus kesal.


Detik selanjutnya ia berdiri dan menghampiri Haiko.


" Apa ayahmu sebelumnya tidak pernah bercerita kepadamu tentang semua pembunuhan yang dia lakukan ? Tanya Hana penuh harap Haiko menjawabnya.


Haiko membuang asal pandangannya." Pergilah !! Sebelum kesabaranku habis !! Haiko kembali mengusir Hana.


Namun, Hana tak merasa takut sedikitpun.


" Aku akan pergi setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaanku." Hana menjawabnya dengan berani.


Haiko merasa geram melihat tingkah keras kepala gadis dihadapannya ini.


" Baiklah, habisi perempuan ini." Haiko menyuruh dua pengawalnya untuk menyakiti Hana.


Hana hanya menanggapinya dengan senyuman.


" Hanya dua pengawal ?


Tidak masalah bagiku." Ucapnya dengan enteng.


Dua pengawal itupun mulai melayangkan pukulannya.


Namun dengan sigap Hana menghindar dari serangan itu. Dan langsung saja melayangkan tendangannya secara bergantian.


Membuat keduanya terpukul mundur.


Hana tersenyum angkuh." Hanya segini saja kemampuan kalian ?

__ADS_1


Haiko terkejut melihat Hana.


Mengira bahwa Hana gadis yang polos ternyata memiliki ilmu bela diri yang cukup baik.


Hana pun melayang kembali tendangannya..


Bukhh..


Bukhhh...


" Jangan pernah mengira wanita itu selalu lemah !!


Bahkan kalau mau wanita jauh lebih kuat seribu kali dibanding pria !! Tekan Hana pada ketiga pria yang berada dihadapannya.


Haiko tersenyum simpul melihat gadis dihadapannya ini, hatinya semakin tertarik untuk mengenal Hana.


" Kalian pergilah !!


Tinggalkan kami berdua." Titahnya pada pengawalnya.


Kedua pengawalnyapun menurut begitu saja.


Sedetik kemudian Haiko mendekati Hana.


Dan ya, seperti biasa Hanapun menjauh darinya.


" Apakah kau ingin bertarung dengan Haiko Rakses ?


Ujarnya memperkenalkan dirinya pada Hana.


Kening Hana berkerut, merasa heran dengan pria gila dihadapannya ini.


Kenapa tiba-tiba mengajaknya bertarung ?


Kenapa tidak langsung menyerang Hana saja ?


" Kamu pasti kerasukankan ? Kata Hana cengengesan.


Haiko tersenyum dan tanpa aba-aba menerbangkan pukulannya pada Hana.


" Astaghfirullah.. " Ujar Hana yang terkejut mendapati serangan dari Haiko.


Untung saja Hana bisa menghindar.


Lagi-lagi senyuman manis semakin mengembang di wajah Haiko." Ayah sudah menceritakan semuanya."


Ungkapnya setelah memberi pukulannya.


Ucapan Haiko menerbitkan harapan dalam benak Hana. Ia tersenyum seraya meminta Haiko untuk melanjutkan ceritanya." Boleh kamu ceritakan ? Pinta Hana dengan tangkupan tangan memohon.


Haiko menatap Hana dengan penuh iba, ia merasa bahwa Hana memang benar-benar sedang mencari kebenaran. Ia pun mengangguk menuruti permintaan Hana.


" Siapa nama target pembunuhan yang ingin kau cari tau informasinya ? Tanya Haiko.


" Hammer dan keluarganya.


Inseden tiga tahun yang lalu." Jawab Hana.


Haikopun mengerti orang yang Hana sebutkan.


" Tiga tahun yang lalu, ada kecelakaan mobil yang sedang menimpa mantan gubernur Istana Royal Pahang. Yang menyebabkan satu keluarga yang berada di dalam mobil itu tewas.


Dan yang melakukan tindakan itu adalah ayahku." Ungkap Haiko tanpa sungkan.


Hana mengangguk.


Pria itu memasukkan tangannya kedalam kantong celananya.


" Dan itu atas perintah Vachry.


Sosok yang menduduki jabatan gubernur Istana sekarang." Lanjut Haiko.


Hana sedikit terkejut bahwa Haiko mengetahui semuanya. Tanpa harus ia bercerita panjang lebar.


" Kau inginkan bukti-bukti yang akan menyatakan bahwa Vachry dalang di balik kasus ini ? Tanyanya.


" Sangat mustahil untukmu bisa mendapatkan bukti-buktinya." Haiko meremehkan Hana.


Hana menaikkan sebelah bibirnya, tidak terima dengan ucapan Haiko." Aku tidak selemah yang kau bayangkan !! Protesnya.


Haiko tersenyum melihat keberanian Hana.


" Dasar keras kepala !! Ledeknya.


" Bodoh !! Balas Hana.


" Baiklah, pergilah ke sebelah selatan rumahku ini disana ada sebuah Trixie House. Tempat ayahku menyimpan semua data-data bukti tindakan pembunuhannya." Haiko berbaik hati memberitahukannya pada Hana.


" Trixie House." Ucap Hana.


" Ya, biar ku beri tau lebih rinci.


Untuk menuju kesana bukanlah hal yang mudah.


Kau harus melewati berbagai uji nyali, perjalanan menuju kesana dipenuhi dengan semak belukar, dan juga jalanan dipenuhi dengan ribuan pecahan kaca." Ujar Haiko pada Hana.


Hana sedikit terkejut mendengar penjelasan Haiko mengenai jalan menuju Trixie House.


Bagaimana bisa berjalan diatas ribuan pecahan kaca di tambah lagi semak belukar ?


Hana menelan salivanya, merasa deg-degan. Mendengarkan tempat yang cukup menguji nyali itu.


" Apa hanya itu saja ? Tanyanya penasaran.


Haiko menggeleng." Setelah kau melewati dua uji nyali itu kau akan disuguhkan dengan curamnya tebing tinggi yang penuh dengan bebatuan runcing. Bahkan tak jarang sejenis ular berada disana. Dan ya,kau harus menaiki tebing itu, karena di sanalah letak Trixie House yang ayahku bangun." Jelas Haiko pada Hana.


Rasa takut pun mulai menghampiri Hana.


Ia merasa tidak yakin bisa sampai di tempat Trixie House itu. Hana memandang senduh tanah yang ia pijak. Nyalinya sedikit mundur dari jabatan keberaniannya.


" Ya Rabb bagaimana mungkin aku bisa selamat sampai di tempat menyeramkan itu ? Hana mulai ragu melangkah.


Haiko menatap mata Hana yang tersimpan rasa kegelisahan disana." Saranku kepadamu.


Kembalilah, tidak ada yang pernah selamat untuk sampai disana." Ujarnya membuat Hana tersadar.


Benar saja sudah beberapa orang mencoba pergi ke Trixie House, tak ada satupun yang berhasil.


Kalau tidak dipatuk ular, ya kakinya serta tubuhnya akan di selimuti dengan goresan-goresan luka dari pecahan kaca dan juga tajamnya semak belukar yang mencabik-cabik habis-habisan tubuhnya.


Meski merasa ragu, Hana tidak mau mundur begitu saja. Ia memantapkan nyalinya, meluruskan niatnya dan membuncahkan tekadnya.


" Tidak ada yang mustahil bagi Allah.


Semuanya bisa terjadi dengan kata Kunfayakun atas izin Allah." Ucap Hana dengan senyumannya.


Haiko menatap perempuan berhijab dihadapannya dengan lengkungan senyuman..


Ikut bangga melihat kegigihan Hana yang berani mengambil aktivitas ekstrim ini.


" Kau memang gadis gila !! Ledek Haiko sembari tersenyum.


" Kau tau kenapa ayahku menyimpan semua bukti-buktinya ditempat mengerikan seperti itu ?


Hana mencoba berpikir sejenak." Mungkin ayahmu tidak ingin sembarangan orang menemukan bukti-buktinya, sebab ia tak ingin semuanya disalah gunakan." Jawab Hana.


Haiko mengangguk.


Sedikit banyaknya jawaban Hana benar.


" Ya benar, karena ayahku yakin suatu saat nanti akan ada orang yang akan meminta bukti untuk mengungkapkan kebenaran."


Haiko merasa Hana gadis yang cukup bijaksana. Dan tepat untuknya mengungkapkan segalanya.


Ia pun menceritakan semuanya pada Hana.


Mengenai sebelum ayahnya meninggal.


Ayahnya sudah menyesali perbuatannya dan step by step mulai bertaubat dengan taubatan nasuha.

__ADS_1


" Kau tau ? Ayahku awalnya seorang abdi negara dengan prestasinya yang semakin hari semakin membaik, ia meraih kenaikan pangkat.


Ya, namun namanya juga manusia pasti ada saja yang tidak suka padanya.. Sebulan dari kenaikan pangkat ayahku, ada seseorang yang memitnahnya melakukan pemberontakan. Permainannya sangat cantik sehingga membuat ayah memang benar-benar bersalah. Ayahku pun di pecat dari abdi negara, ia pengangguran, berbulan-bulan ia mencari kerja sama sekali tidak ada yang menerimanya dengan alasan penolakan pemberontak negara.


Awalnya ayahku pasrah dan mencoba untuk sabar.


Akan tetapi keadaan yang menghimpit, ibuku dan aku kelaparan bahkan juga ayahku menjual rumah kami untuk memenuhi kebutuhan kami, hidup kami terlantar kesana kemari, keadaan sulit ini membuat ayahku berubah, ia tak peduli lagi apapun pekerjaan itu akan ia lakukan untuk mendapatkan uang.


Dan saat itulah om Vachry menawarkan pekerjaan untuk menabrak mobil yang dikemudikan oleh Uncle Hammer dengan upah yang cukup besar.


Karena sulitnya keadaan ayahku pun menyetujui perintahnya. Itulah titik awal mula ayahku sebagai pembunuh bayaran.


Ya, dia melakukannya untuk mencari nafkah.


Awalnya hanya satu keluarga lama kelamaan berlipat ganda nyawa yang telah dibunuh oleh ayahku, aku tidak tau apa Tuhan akan mengampuninya atau tidak." Seiring Haiko bercerita sejalan itu jugalah air matanya ikut mengalir.


Air mata Hana ikut menetes mendengarkan cerita Haiko. Ia tak menyangka bahwa Rakses mengalami hal sepedih itu ?


Benar saja, terkadang orang melakukan tindak kejahatan karena keterpaksaan.


Dan ya, yang kerap kali menjadi faktor utamanya adalah ekonomi.


" Haiko tenang ya.


Insya Allah jika taubatan tuan Rakses benar-benar taubatan nasuha, Allah akan beri kemudahan untuknya di Yaumil kelak. Jangan pernah berputus asa ya dari rahmat Allah, kamu sebagai anak tunggalnya tuan Rakses harus selalu mendoakannya, karena amalan manusia yang tidak terputus dalam ajaran agama kita salah satunya adalah doa dari anak yang Soleh.


Tuan Rakses membutuhkan itu dari kamu Haiko." Hana mencoba menenangkan Haiko.


Haiko tersenyum dengan mata yang berderai air mata, ia terpukau dengan gadis yang ucapan seperti obat


di saat sembiluh perih menghantam dada.


Ia menatap Hana lekat tanpa berkedip.


" Teman ? Ujar Hana padanya.


Haiko semakin tertegun dengan perkataan Hana yang menyodorkan pertemanan padanya.


Baru kali ini ada perempuan Sholihah yang mau berteman dengan pria psychopat sepertinya.


" Yakin ? Tanyanya pada Hana.


Hana mengangguk." Yakin." Ucapnya menyakinkan Haiko.


" Teman." Jawabnya menyetujui Hana dengan senyuman penuh keharuan.


Hana membalas senyumannya, detik selanjutnya Haiko menyuruh pengawalnya untuk mengambilkan sepasang Safety shoes.


Setelah pengawal itu mengambilkannya, mereka menyerahkannya pada Haiko.


Haikopun meraihnya." Pakailah untuk perjalananmu.


Lihatlah sampai dititik mana sepatu ini berkenan membantumu." Haiko menyerahkan sepasang Safety shoes itu pada Hana.


Hana tersenyum dan meraihnya." Terima kasih Haiko." Ucapan terima kasih Hana.


" Semoga Tuhan melindungimu." Ujar Haiko.


Hana mengangguk dan berniat menitipkan ranselnya pada Haiko." Ko !! Panggilnya.


Haiko menoleh." Namaku Haiko bukan Kiko !! Ketusnya.


Ya, pria ini kembali dengan nada ketusnya.


" Haiko, aku boleh nitip tas gak ? Tanya Hana dengan hati-hati.


Haiko hanya diam dan melayangkan tatapan mata elangnya pada Hana.


Membuat Hana mengerti bahwa dia mendapatkan penolakan.


" Oke-oke !! Gak apa-apa biar aku bawak bersamaku berjuang." Ucapnya Hana dan melangkah pergi.


" Kemarikan !! Teriak Haiko pada Hana.


Aishh... Hana berdengus kesal melihat pria psychopat yang berada dibelakangnya.


" Sewaktu aku berbalik baru pria psychopat ini menjawab !! Upat Hana membatin.


Hanapun berbalik dan memasang senyum palsunya.


" Titip ya Haiko, tuan muda yang paling gagah dan tak terkalahkan." Sebenarnya Hana merasa jijik memuji pria psychopat ini.


Haiko hanya memasang wajah datarnya.


Dan meraih tas Hana yang lumayan berat untuk


di pikul.


" Apakah kau memasukkan ribuan batu padas di dalam tasmu ? Sehingga beratnya seperti ini." Cibir Haiko pada Hana.


Merasa kesal Hanapun mengangkat suara.


" Bilang saja kau tidak mampu mengangkatnya tuan." Cibir Hana tak mau kalah.


Haikopun merasa geram mendengar cibiran Hana.


Mengangkat jari telunjuk pada Hana.


" Sekali lagi kau bicara.


Akan kupatahkan rahangmu !! Haiko memang tak pernah main-main dengan perkataannya.


Dengan suka rela akhirnya Hana memilih mengalah dan tak melanjutkan perdebatan.


Bukan karena dirinya tak berani pada Haiko, melainkan ia tak mau lagi mengundur waktu untuk mencari bukti-bukti mengangkat kedzaliman Vachry.


" Bye !!


Assalamu'alaikum.." Pamit Hana padanya.


Hanapun melangkah ke depan menuju jalur selatan mengikuti jalur yang sudah Haiko jelas tadi.


Pandangan Haiko masih terfokus pada punggung Hana yang mulai menjauh darinya.


Seuntai senyuman yang sangat langka ia perlihatkan pun terbit diwajah tampannya.


" Dasar gadis aneh !!


Waalaikumussalam." Haiko menggeleng seraya tertawa kecil memandang Hana.


Haiko sebenarnya tidak tau akankah Hana selamat atau tidak. Namun, ia tetap menyuruh beberapa pengawalnya untuk memantau Hana dari kejauhan.


" Baru kali ini aku melihat gadis seberani ini." Haiko sedikit terkagum pada Hana.


.


.


.


Hana terus berjalan ke arah selatan.


Sampai pada akhirnya ia menemukan jalan yang dipenuhi dengan semak belukar dan ribuan pecahan kaca.


" Ya Rabb..


Engkau yang maha segalanya.


Engkau adalah sebaik-baiknya pelindung." Hana menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.


Bersambung..


Sevimli 13 April 2021


Salam hangat dari Author 🌹


Jangan lupa untuk like and Votenya :)


Semangat puasanya guys ✨

__ADS_1


__ADS_2