
Maaf ya aku lama banget uploadnya 🙏🏻
Soalnya lagi banyak kesibukan 🤧
" Manusia hanya bisa berusaha mendengarkan isi hatimu. Dan belum tentu dapat memahaminya. Namun tidak dengan Tuhan, yang tau jeritan hatimu, sekaligus dapat memahaminya dengan baik."
....." Pelangi Hanani 🌹".....
Dua hari berlalu.
Arga dan Rayhan telah tiba di Bandara IATA
dengan selamat.
Kedua pemuda dengan kharisma masing-masing itu menjadi sorotan perhatian lainnya.
" Ga !
Gua berasa jadi orang paling ganteng ogeb !"
dengan pedenya Rayhan mengembangkan senyumnya.
" Dih !
Najis gua temenan sama orang kayak lo !"
Arga pergi meninggalkan Rayhan, yang merasa kesal dengannya.
" Ye !
Bilang aja lo iri sama ketampanan gua !"
cibir Rayhan sedikit berteriak.
Arga meraih ponselnya dan menghubungi nomor Raisa.
Tutt....
Tutt... panggilan terhubung.
Raisa yang baru selesai salat duha pun menoleh pada lemari dimana tempat ponselnya terletak.
Raisa bangkit dan meraih ponselnya.
Ia menatap layar ponselnya ada nomor baru disana.
" Astaghfirullah, ini kayaknya nomor temen Hana kemarin. Lupa nyimpannya."
Raisa pun menggulir tombol hijau menerima panggilannya.
" Assalamu'alaikum." ucap Raisa.
" Waalaikumussalam.
Gua udah di Mesir ni." kata Arga, memberitau.
" Ohiya.
Lo masih di Bandara ?
" Iya gua di Bandara, ni."
" Oke.
Biar gua sama temen gua jemput lo, disana." ujar Raisa lekas menutup ponselnya.
" Iy--
Tutt...
Tutt..
" Dih !
Udah dimatiin aja." kesal Arga.
Tak mau ambil pusing, Arga terus melangkah keluar dari area Bandara. Untuk menunggu kedatangan Raisa dan temannya.
" Wey !
Lo gak punya rasa kasihan banget sih !
Main tinggalin aja lo !" keluh Rayhan.
Arga menatap melas sahabatnya itu, merasa malas menanggapinya.
" Baru jam segini udah terang banget ni hari."
Arga menatap langit pagi yang tampak begitu cerah.
Ada sebuah bangku di Taman Bandara.
Arga pun memilih duduk disana.
" Ga !
Siapa yang jemput kita ?" ujar Rayhan yang ikut duduk di sebelah Arga.
" Raisa."
" Siapa tu ?"
" Temen Hana.
Udah gak usah bacot !
Diem ! Jangan nanya mulu lo !" sentak Arga kesal.
Rayhan hanya menyebikkan bibirnya menanggapi Arga. Merasa jenuh ia pun mengambil ponselnya dan membuka fitur kamera di ponselnya.
Cekrek..
" Widih !
Keren juga bidikan gua." pujinya.
Cekrek..
Rayhan kembali membidik bangunan megah kebanggaan Mesir itu.
" Gila sih.
Emang ya, kalau udah jiwa seni mah apapun bakalan cakep dah."
Mendengarkan Rayhan memuji dirinya sendiri,
membuat Arga bergedik ilfiel.
" Dih !
Ada ya manusia pede kayak lo."
Tuttt....
Ponsel Arga berbunyi.
" Ye--
" Diam lo ! ujar Arga, seraya mengangkat panggilan.
" Assalamu'alaikum."
" Waalaikumussalam, kami udah sampai ni." jawab Raisa.
" Ohiya
Kami udah di halaman luar Bandara ni, tepatnya di bangku besi putih." jelas Arga.
" Oh oke.
Kita bakalan ke sana."
" Iya, gua sama temen gua tunggu."
Selesai menghubungi nomor Arga.
Raisa mengajak Nima untuk pergi ke lokasi yang Arga katakan tadi.
" Nim !
Ke halaman bangku besi putih.
Temannya Hana di sana." ujar Raisa, mengajak Nima.
" Lest go ! sahut Nima.
Keduanya pun melangkah ke halaman Bandara.
Dengan penuh semangat dalam misi pencarian Hana ini.
Setelah melirik kesana kemari, dan sempat tanpa sengaja salah orang. Akhirnya Raisa dan Nima bertemu dengan Arga.
" Assalamu'alaikum."
" Kalian temannya Hana, kan ?" tanya Raisa pada dua pria yang sedang duduk santai di bangku besi putih.
Arga mendongakkan kepalanya untuk melihat sosok yang bertanya.
" Lo Raisa ?" tanya Arga, balik.
Raisa mengangguk seraya tersenyum.
" Masya Allah ternyata temannya Hana ganteng banget." puji Raisa dalam hati.
Nima yang melihat Raisa tak berkedip menatap Arga pun langsung terheran.
" Astaghfirullah.
Woy Raisa sadar diri !" teriak Nima, tepat di telinga Raisa.
" Nima !
Rusak gendang telinga gua !
Lo mau tanggung jawab ha ?" protes Raisa tak terima.
" Makanya punya mata itu dijaga !" celetuk Nima pada Raisa.
Raisa pun terdiam saat menyadari bahwa dirinya tengah ketahuan menatap lekat Arga.
__ADS_1
Segeranya Raisa menundukkan kepalanya.
" Yaudah
Kalau gitu kita ke Caffe aja buat berunding sementara." ujar Nima.
" Kalian kesini naik apa ?" tanya Arga.
" Naik taxi."
" Kalau berempat emang bisa naik taxi ?" tanya Rayhan, sedikit ragu.
" Ya nggak bisa lah !
Kita pakai dua taxi aja." jawab Raisa.
Setelah menyelesaikan perbincangan, mereka pun bergegas memesan taxi online yang akan menghantarkan mereka ke tempat tujuan.
" Insya Allah, kalau gak ada hambatan.
Gua entar sore bakal ke Trixtal Bar itu." ucap Arga, sambil menyesap jus jeruknya.
" Lo mau naik apa kesana ?" tanya Raisa.
Rayhan pun mengembangkan senyumnya.
" Dia ini anak Sultan.
Jadi jangan heran, paling entar dia beli mobil disini." sahut Rayhan.
" Dih !
Apaan sih !" ketus Arga, tidak terlalu suka statusnya diumbar.
" Sultan ?"
" Orang kaya ?"
Rayhan mengangguk membenarkan.
" Ya, dia anak Sultan Royal Pahang, Malaysia." jelas Rayhan.
" Widih.
Gila bah ! Ketemu anak Sultan beneran aku disini bah." Nima menepuk tangannya pelan.
" Pantesan gayanya casual banget." batin Raisa.
Raisa menatap kagum Arga, yang hanya sibuk menatap tajam Rayhan yang telah membuka identitasnya di hadapan orang asing.
Bugh...
Arga menginjak kaki Rayhan.
" Aduh !
Gila lo ya !" protes Rayhan merasakan sakit saat kakinya di injak oleh sahabat arogannya itu.
" Mulut lo itu bisa nggak ?
Nggak usah bocor sekali-kali !" ketus Arga.
Rayhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tertawa melihat wajah kesal Arga.
" Rilex aja kali !"
Malas menanggapi Rayhan, Arge kembali sibuk dengan ponselnya.
" Aku ikut ya ke Trixtal Bar !" tiba-tiba permintaan itu terlontar dari bibir Raisa.
Arga mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Menatap Raisa seolah tak setuju dengan permintaannya.
" Nggak usah !
Biar gua sama Rayhan aja yang kesana." tolak Arga secara halus.
Raisa pun langsung mengerutkan keningnya.
Merasa sedikit bingung kenapa Arga tidak mengizinkannya.
" Tapi, gua juga mau nyari Hana."
Arga menggeleng." Trixtal Bar itu berbahaya buat cewek, kecuali cewek yang bisa bela diri.
Lo berdua emang bisa bela diri ? tanya Arga.
Raisa menunduk dan menggelengkan kepalanya.
" Entar kalau ada info tentang Hana disana.
Gua bakal cepet ngabarin lo." ujar Rayhan menyakinkan.
Nima pun menepuk pundak Raisa.
" Kita berdoa saja.
Semoga Hana ketemu." Raisa langsung memeluk Nima.
Nima tak tinggal diam, ia pun membalas pelukan Raisa. Keduanya saling menguatkan satu sama lain.
Arga dan Rayhan menatap keduanya.
Memahami bahwa ada rasa khawatir yang begitu besar dari raut wajah mereka.
" Udah mau dzuhur ni.
Kita salat dulu, ya." ajak Arga, melihat jam yang melingkar di tangannya.
Raisa, Nima mengangguk seraya melepaskan pelukannya. Raisa pun memanggil Waites untuk meminta bil pembayaran.
Setelah mendapatkan bil pembayaran.
Raisa meraih dompetnya untuk mengambil sejumlah uang.
" Udah gua aja yang bayar." ucap Arga, seraya berdiri melangkah menuju kasir.
" Nggak usah !
Kita masih punya uang kok." tolak Raisa.
Arga mengangkat tangannya.
Dan terus melangkah.
Raisa berniat mengejarnya.
Namun, Rayhan menghentikannya.
" Udah biar dia aja yang bayar.
Kapan lagi coba ? Dibayarin sama anak Sultan ?"
" Bener tu." sahut Nima.
" Bukan gitu.
Kita aja baru kenal, tapi udah ngerepotin gini."
Rayhan tertawa kecil mendengarnya.
" Eh uang segitu entu.
Ga kerasa sama dia, percaya dah."
" Tap---
" Ayo balik !" ajak Arga, yang sudah menyelesaikan pembayaran.
" Eh ini uang makanan kita." Raisa menyodorkan uangnya.
" Udah simpan aja.
Buat kebutuhan loh yang lainnya."
Arga melangkah mendahului mereka.
Rayhan pun berdiri, berjalan menyusul Arga.
Sementara Raisa masih terdiam menatap kedua pria yang sudah keluar dari Caffe.
" Udah.
Buruan kita susul." ujar Nima.
" Tapi, Nim.
Kalau kayak gini kesannya gak enak tau." jujur Raisa, merasa tidak enakan.
" Udah deh.
Lain kali kita teraktir mereka."
Raisa pun mengangguk pasrah, mengikuti langkah Nima di depannya.
" Hotel terdekat di daerah sini yang bagus yang mana ya ?" tanya Arga, sibuk mengutak-atik ponselnya mencari informasi mengenai hotel di sekitaran.
" Gak mau nyewa Apartement aja ?" Raisa menyarankan.
" Boleh juga." jawab Rayhan.
" Apartement deket kampus Al Azhar aja.
Bagus kok, aman juga." ucap Raisa.
Arga menghentikan jari jemarinya, dan menatap Raisa.
" Lo yakin bagus, plus aman ?" Raisa mengangguk tanpa ragu.
" Oke.
Boleh deh." Arga setuju dengan saran Raisa.
Setelah selesai berbincang mereka melangkah ke tempat tujuan masing-masing.
Raisa dan Nima pulang ke Asrama, sementara Arga dan Rayhan pergi ke lokasi Apartement yang Raisa sarankan tadi.
Setengah jam waktu berlalu.
Taxi yang membawa dua penumpang yang merupakan anak muda itu telah berhenti tepat di lokasi Apartement Ibnu Hafdim.
__ADS_1
" Ini tempatnya ?" tanya Rayhan, sembari mengedarkan pandangannya pada bangunan yang cukup luas dan menjulang tinggi itu.
" Keren juga." sahut Arga.
Dengan cepat Arga menarik kopernya, ikut melangkah bersamanya memasuki lokasi Apartement.
" Buruan masuk !" ujar Arga.
Rayhan pun menyusul Arga, yang pergi ke bagian administrasi.
Setelah menyelesaikan administrasi, Arga pun mendapatkan kunci apartemennya.
" Berapa apartment yang lo sewa ?" tanya Rayhan.
" Satu." jawab Arga.
" Tumben banget." Rayhan terheran.
" Buat gua doang."
Ha ? Rayhan sedikit terkejut.
" Terus gua ?"
" Di kolong jembatan."'
Sembari berdebat mereka tetap berjalan menuju kamar apartemennya, hingga tak terasa sampailah mereka di sebuah kamar bernomor kan sesuai dengan kunci yang Arga pegang.
" Ini dia." Arga mendekati kamar itu.
Dengan cepat Arga pun membukanya.
Ceklek...
Terlihatlah ruangan yang cukup rapi dan juga diisi dengan beberapa perabotan. Seperti tempat tidur, lemari dan sofa.
Ya, hampir mirip dengan kamar hotel.
" Kayak hotel ya, Ga." ucap Rayhan.
" Dih !
Ngapain lo masuk ?
Sana-sana cari kamar lo sendiri !" usir Arga.
" Astaghfirullah.
Tega bener lo Ga, sama temen sendiri." cibir Rayhan.
" Sejak kapan lo jadi temen gua ?"
Rayhan tak menanggapi perkataan Arga, ia memilih meletakkan kopernya ke lemarinya.
" Gila lo ya !
Lo gak dengerin gua ?" Arga bangkit menghampiri Rayhan.
" Bacot !
Udah deh gua mau istirahat, pada pegel ni badan gua." Rayhan menghamburkan badannya di atas kasur empuk itu.
Ha ? Beraninya ni orang.
Ketika hendak menarik badannya, tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.
Ting..
" Apaan ni ?" Arga segera meraih ponselnya.
Setelah memeriksa ponselnya.
Mata Arga melotot sempurna.
Sebuah berita singkat mengenai
" Tunku Wardah Erinah sosok istri Sultan Royal Pahang tengah alami Gratitis pada lambungnya." Wardah Erina, alias bunda tercintanya.
" Bunda !" sentak Arga berteriak.
Rayhan yang mendengarkan teriakan Arga, segera bangkit dari tempat tidur.
" Bunda kenapa, Ga ?" tanya Rayhan, melihat raut wajah Arga berubah sendu.
" Asam lambung bunda kambuh, bahkan bunda juga mengalami gastritis Ray." jawab Arga.
Meski rasanya sangat sakit mendapatkan kabar bahwa bundanya jatuh sakit, Arga tetap berusaha untuk tidak menitihkan air mata setetes pun.
" Inna lillahi wa innailaihi Raji'un.
Coba lo hubungin bokap lo, tanyain gimana kondisi bunda sekarang !" ujar Rayhan.
Saking sedihnya, ia tak kepikiran lagi dengan hal itu. Dengan cepat Arga pun langsung menghubungi kami ayahnya.
Tutt... tutt..
" Assalamu'alaikum." ucap Nazhanul.
" Waalaikumussalam, Yah.
Gimana keadaan bunda ?" tanya Arga.
" Penyakit lama bunda kambuh.
Bunda masih periksa kat dokter tu.
insya Allah, bunda baik je, doakan ye."
" Bunda sampai pingsan ke ?" khawatir Arga.
" Tak.
Bunda sadarkan diri, dah dah tak payah risaulah Arga ni !
Insya Allah bunda oke ke, ya."
Nazhanul tak ingin putranya terlalu khawatir sekaligus takut, oleh sebab itu ia berusaha menyakinkan putranya bahwa Wardah akan baik-baik saja.
" Arga doakan bunda ye." ucap Nazhanul.
" Iya yah."
" Ayah tutup dulu ye.
Lepas dokter periksa nanti, ayah bagi tau Arga." ucap Nazhanul.
" Oke.
Assalamu'alaikum, yah." tutup Arga.
" Waalaikumussalam.
Arga jaga diri baik-baik tau !"
" Iya yah."
Nazhanul menutup panggilan.
Arga pun meletakkan ponselnya di atas nakas.
Hahh... Arga menghela nafasnya berat.
Rasa khawatir di hatinya kini semakin memuncak, ada dua wanita yang saat ini tengah membuatnya takut.
" Gimana keadaan bunda ?" tanya Rayhan.
" Bunda masih dalam pemeriksaan dokter.
Bokap gua ngenyakinin gua, kalau bunda bakalan baik-baik aja. Tapi Ray--
Arggghhhh....
Teriak Arga sembari mengacak-acak rambutnya frustasi. Baginya bundanya adalah segalanya, dunianya bahkan juga sosok yang paling berharga dibandingkan dirinya.
Arga menjatuhkan lututnya di lantai, menatap lekat Rayhan dengan mata yang mulai meneteskan buliran hangat.
" Ga !
Lo punya Tuhan buat bersandar.
Lo juga punya sejadah buat sujud.
Lo juga masih punya tubuh buat salat kan ?" ujar Rayhan pada Arga.
Rayhan ikut duduk di hadapan Arga.
Meraih pundak Arga, seraya menepuknya pelan.
" Ga !
Gua cuma manusia yang Allah kasih kesempatan buat jadi temen lo.
Gua cuma bisa berusaha selalu ada buat lo.
Tapi, gua gak bisa ngelakuin lebih dari itu."
" Cuma Allah yang paling bisa menjadi kunci buat semua masalah kita biar kelar." ucap Rayhan.
Rayhan berdiri, melangkah meraih kopernya.
Dan mengambil sesuatu di sana.
Setelah mendapatkan benda yang ia cari, Rayhan melemparkannya pada Arga.
" Buruan !
Curhat ke Tuhan."
Arga memungut sejadah yang Rayhan lemparkan di hadapannya.
" Apa ?
Lo mau bilang sok islami lo, iya ?" tebak Rayhan, dengan senyumannya.
Arga ikut tersenyum mendengar tebakan Rayhan yang selalu tepat.
Tanpa berpikir lama, Arga pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus berwudhu dan melaksanakan salat sunnah, agar segera diberi ketenangan pada hatinya.
Bersambung...
__ADS_1
Sevimli 22 Oktober 2021
Salam hangat dari Author 🌹