
Hai Readers Pelangi Hanani tercinta
maaf ya, aku sering telat up
Jgn lupa like and Votenya ya :)
Eh komennya juga ya hehe
" Tugas kita hanya melangitkan doa yang sama.
Membumikan ikhtiar yang sama.
Dan melabuhkan harapan pada tempat yang sama.
Selebihnya, biar semesta yang bekerja."
..... " Pelangi Hanani 🌹".....
Ting...
Tepat pukul sepuluh pagi.
Semua sudah berkumpul di Bandara KUL.
Ya, hari ini adalah jadwal keberangkatan Hana ke Mesir. Dan Arga bersama Rayhan ke Turkey.
Rayhan ? Kok bisa.
Bisa dong.
Rayhan memutuskan untuk melanjutkan study nya ke Universitas Surakaya di Turkey, ya di tempat yang sama dengan Arga.
" Uhhh..
Kok gua jadi deg-degan gini ya." ucap Rayhan.
Arga hanya menatap malas pria yang duduk disebelahnya itu.
" Lebay !! cetusnya.
" Seriusan ogeb !!
Gua bakal pergi sejauh Turkey, ninggalin orang-orang tersayang gua." pandangan Rayhan tertuju pada kedua orang tuanya dan bergantian pada Ranti.
Arga tersenyum simpul." Ranti ?
Rayhan langsung memalingkan pandangannya ke arah lain, merasa gugup ketahuan oleh Arga.
" Gak." bantahnya.
" Haha, udahlah.
Gak usah sok gengsi lo, kecambah gosong !!
" Dihh..
Diam lo tabung gas bocor !!
" Gua remukin tulang-tulang lo baru tau lo." ucap Arga dengan sorot mata tajamnya.
" Lo pikir gua takut ?
Pohon pisang kayak lo, tinggal tebang aja.
Udah beres kali !! cibir Rayhan sembari memperagakan gaya ala memotong pohon.
" Diam lo !
Tukang ngekor.
Tau gini, bagusan gua pindah Univ aja."
" Yaudah pindah lo sono ! sahut Rayhan.
Petak... Arga menampol kepala Rayhan.
Rayhan yang tak terima pun gantian menampolnya.
Petak...
Kedua sahabatan itu terus saja saling meledek. Sesekali melayangkan pukulan masing-masing.
Ya, tak pernah terlihat akur sebentar saja.
Melihat keduanya, membuat Hana tertawa kecil.
" Dasar kekanakan !! gumam Hana.
" Hana ! panggil Wardah.
" Iya aunty." sahut Hana sembari menghampiri Wardah.
Wardah pun menangkup wajah cantik gadis berjilbab mustrad itu." Nak ! jaga diri awak baik-baik kat sane, ye." ucap Wardah begitu lembut.
Senyuman Hana pun kian melebar.
" Iye aunty.
Makasih always menjaga Hana selama kat Malay." Hana memeluk tubuh Wardah.
Wardah tak tinggal diam, ia pun membalas pelukan Hana. Dan mengelus lembut kepalanya.
Entah kenapa, rasanya berat sekali Wardah melepaskan kepergian Hana.
Ia terus mendekapnya dalam pelukannya, tanpa terasa air mata keluar dari sudut matanya.
" Terima kasih telah membuat putraku kembali seperti semula, nak. Terima kasih atas semua kebaikan yang telah awak lakukan untuk negara ini."
Aishka mengangguk.
" Sama-sama aunty."
Keduanya hanyut dalam kehangatan, bahkan keluarga mereka pun ikut merasakan kehangatan diantara keduanya.
Arga dan Rayhan yang tadinya bertengkar, kini saling tersenyum memandang penampakan kedua perempuan itu.
Ranti pun ikut menghamburkan dirinya pada pelukan itu." Kami akan merindukanmu, Han." ucapnya.
Ekhemmm....
Deheman Arga membangun kesadaran diantara mereka.
" Hm, kayaknya bukan Hana je yang nak berangkat." cibir Arga.
Mengundang tawa kecil, semuanya.
Hana pun melepaskan diri dari pelukan itu.
Begitu juga Wardah ia, segera menghampiri putra bungsunya itu.
Ia mencubit lembut pipinya, dan kemudian memeluknya." Jaga diri baik-baik, disana." ucapnya pada putranya.
Arga pun menunduk dan membalas pelukan bundanya." Bunda jangan khawatir, Arga ini kuat, pintar dan--
" Mandiri." potong Wardah.
" Ehehe itu tau." cengirnya.
Seusainya Keduanya saling menumpahkan segalanya merekapun kembali duduk tertib di bangku terminal keberangkatan. Sembari menunggu penerbangan semuanya sibuk dengan kesibukannya masing-masing.
Hana pun menghubungi kedua orang tuanya, untuk memberitahu bahwa ia akan berangkat dua puluh menit lagi.
trrrtt... panggilan terhubung.
" Assalamu'alaikum, pak buk." ucap Hana.
" Waalaikumussalam, nak.
Hana udah berangkat ? tanya bapaknya.
" Belum, pak.
Sekitar dua puluh menit lagi, pak."
" Ohyaudah.
Hati-hati ya nak, jaga kesehatan selalu, apapun yang terjadi, ingatlah bahwa barada dalam kebaikan adalah cara paling terbaik untuk menjadi hambaNya."
" Iya pak.
Insya Allah, Hana akan selalu ingat pesan bapak."
" Nak.
Sering-sering hubungi kesini ya, nak." ucap ibu Hana terdengar sedikit purau.
Hana pun tersenyum.
" Iya buk, jangan khawatirkan hal itu hehe."
Antara kedua orang tua dan anak itu terus melanjutkan perbincangannya. Sampai pada akhirnya, terdengarlah jadwal penerbangan rute Malaysia-Dubai tergema ke seluruh ruangan.
" Han ! ujar Ranti.
Ia mengangguk mengerti, maksud Ranti memanggilnya. Hana pun dengan berat hati mengakhiri panggilannya.
" Ibu.
Bapak, udah dulu ya.
Pesawat Hana udah mau berangkat, nanti kita sambung lagi ya, assalamu'alaikum."
" Iya nak.
Hati-hati ya, doa ibu dan bapak menyertaimu, nak.
Waalaikumussalam."
" Hana pergi ya, buk, pak." tutup Hana dengan air mata harunya.
__ADS_1
Sejenak ia terdiam, membiarkan air matanya mengalir membasahi pipinya.
Benar, saja.
Sesederhana apapun perpisahan akan tetap menyayat hati, sekali pun berkonsep harmonis.
Setelah sedikit tenang.
Hana pun menyerka air matanya.
Perlahan menarik nafasnya, kemudian membuangnya perlahan.
"Udah lega, Han?" tanya seseorang di hadapan Hana.
Bukan.
Bukan Ranti melainkan si pohon pisang.
Hana mengangguk, kemudian melangkah mendahului Arga.
"Kita akan berpisah?" Hana menoleh, menghentikan langkahnya dan menganggukkan kepalanya.
"Mesir."
"Turkey." ucap keduanya bersamaan.
Keduanya tertawa kecil, saling menundukkan pandangan pada lantai bandara.
"Berikan aku alamat asrama mu di Mesir.
Entar kalau liburan semester, aku bisa mengunjungimu disana bersama Rayhan." kata Arga.
Hana menggeleng." Gak perlu, Ga." menjeda beberapa detik ucapannya, kemudian tersenyum pada Arga, hal itu membuat kening Arga mengerut.
"Biar Allah yang mengatur pertemuan kita.
Antara aku dan kamu, gak ada yang perlu mengunjungi atau dikunjungi, menunggu ataupun di tunggu."
"Kau memang aneh, Han."ucapnya sedikit tertawa.
"Aku hanya terbiasa melibatkan Allah dalam segala urusan kehidupanku. Apa kamu meragukan takdir-Nya ?" melirik Arga dengan senyumannya.
Arga menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bahkan sedetik pun aku tak pernah meragukan-Nya.
Ada hal yang perlu kau catat baik-baik Han.
Aku mungkin mampu bersaing dengan puluhan pria penduduk bumi yang mencintaimu.
Namun, tidak dengan pria yang berada di Lauhul Mahfudzmu. Sekeras apapun aku berusaha untuk menjadi Abu Dardamu, jika takdirku menempatkanku sebagai Salman Alfarisi, aku bisa apa?"
Arga tersenyum simpul menatap intens wajah Hana.
Membuat Hana mendadak gugup, mendengarkannya.
" Biarkan cinta itu terikrar di akad, jangan biarkan ia terumbar sebelum kamu menjabat tangan ayahku dan menyebut namaku dengan lengkap memakai binti dibelakangnya.
Untuk saat ini biarlah perasaan itu tertawan di hati yang paling dalam. Aku tak ingin perasaan diantara kita membuat celah untuk setan mengambil ahli melakukan tugasnya, dan membuat kita terjerumus dalam jurang dosa. Tugas kita hanya melangitkan doa yang sama, membumikan ikhtiar yang sama, dan melabuhkan harapan pada tempat yang sama.
Selebihnya, biar semesta yang bekerja."
Ini untuk kali pertamanya, Hana berani mengungkapkan isi hatinya seberani ini, meski tidak menyatakannya secara langsung.
Kata demi kata yang terlontar dari bibir ranum Hana membuat dentuman keras di dada Arga tak terkendali.
Ia bahkan diam tak bergeming sama sekali, menatap intens gadis yang berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Senang ? jangan tanyakan.
Bahagia ? apalagi.
Deg-degan ? widih bangetlah.
" Hana menyukaiku ? batin Arga.
" Lantas, bagaimana dengan Anugrah ?
" Ciee !!
" Cieee... !! terdengar sorakan dari yang lain.
Sorakan demi sorakan itu, membuat Hana sedikit gugup bahkan juga malu.
" Cie Hana." Ranti menyenggol lengan Hana, berusaha untuk menggodanya.
" Apaan sih !
Rayhan pun tak mau kalah, ia pun mengambil kesempatan untuk meledek Arga.
" Cie, akhirnya pohon pisang ku berbuah lebat juga.
Tinggal panen doang ini, mah." cibirnya melirik Arga.
Arga pun menatap Rayhan sinis.
" Gua tonjok mulut lo baru tau lo !!
Rayhan pun tak menggubrisnya terus saja menggoda Arga dengan cibirannya.
Arga pun tak mau ambil pusing, segera menjauh dari teman resehnya itu.
Ia beranjak mendekati Hana.
" Han !
Aku sudah berjuang untuk menegakkan kebenaran, kini aku akan berkurang untuk meluluhkan hati sang pemilik hatimu, agar kelak ia dengan suka rela menyandingkan dirimu dengan diriku." ucap Arga dengan begitu manis pada Hana.
Hana pun mengangguk, dan menarik handle kopernya untuk beranjak ke pesawatnya sebab, ini sudah waktunya ia berangkat, tanpa penundaan lagi.
Semua orang tersenyum melihat keduanya.
Berharap kelak, Allah akan mempermudahkan cinta mereka untuk menyatu.
" Baek-baek lo di Turkey." ujar Andrea.
Ya, benar.
Andrea juga ikut mengantarkan mereka.
" Dih !!
Sorry ya, dalam agama gua dilarang bersentuhan sama najis Mukhaffafa ! tolak Arga, ketika melihat Andrea mengangkat tangannya untuk bersalaman dengannya.
" Brengsek lo ! upat Andrea, tapi ia tau bahwa Arga di mulut pedas hanya sedang bercanda.
Hahaha tawa renyah terdengar dari mulut Arga, ia pun tersenyum dan meraih tangan Andrea.
" Thanks bro.
Gua titip Malaysia ke elo." ujarnya.
Andrea pun tersenyum.
" Selow, gua bakal jaga dengan sepenuh hati."
Setelah usai berpamitan mereka bertiga pun meninggalkan keluarganya.
Namun, di detik terakhir inilah Ranti baru memberanikan diri untuk memberi bingkisannya pada Rayhan.
" Dibuka kalau udah sampai Turkey.
Jaga dirimu baik-baik, Ray." ucap Ranti, kemudian berlari meninggalkan Rayhan, sebab ia sudah tak dapat lagi membendung air mata yang sejak tadi ia tahan agar tidak terjatuh.
Rayhan yang melihat Ranti seperti itu pun tersenyum simpul, kemudian ia berlari mengejar Ranti.
" Gak usah nangis.
Ada WhatsApp kan ? Ada Ig ? Ada line ?
Kita masih bisa komunikasi, nabi Adam sama Hawa yang selama pisah gak bisa komunikasi tetap dipertemukan sama Allah."
Hikss.. hiksss. terdengar suara tangis Ranti dengan jelas.
" Elo percaya kan ?
Bahwa karena berjodohlah maka akan dipertemukan.
Gua berangkat ya, jangan nangis entar makin jelek tu muka lo yang dah jelek kian.
Isshhh.. Ranti bergedik kesal.
" Nyebelin ! ketuanya.
" Nyenengin ! sahut Rayhan.
" Ngeselin !!
" Tapi, ngangenin kan ? hehe..
Ranti pun tersenyum seraya mengangguk.
" Gua pergi ya." ujar Rayhan dan melangkah meninggalkan Ranti.
Dengan lambai tangan ketiganya, menjadi penutup kepergian mereka.
Perlahan demi perlahan, punggung ketiganya mulai tak terlihat, keluarga mereka pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.
Dan, kini Arga dan Rayhan akan memulai kehidupan baru mereka di Turkey.
Dan Hana juga akan memulai kehidupan baru nya di Mesir, akan ia juga mendapatkan tantangan baru disana ?
Takdir yang akan menjawabnya.
Meski memiliki jadwal yang sama, akan tetapi mereka memiliki rute yang berbeda.
Mungkin mereka akan sampai di tujuan masing-masing memakan waktu selama kurang lebih tiga hari.
Senantiasa sang pilot membawa para penumpangnya selamat sampai tujuan.
__ADS_1
Allahumma aamiin..
Di sudut dunia lain.
Sosok Anugrah telah mendarat selamat di tanah kelahirannya. Ya, gunung Sitoli, Nias.
Hahh... deruh nafas Anugrah terdengar purau.
Entahlah, ia tak tau drama apalagi yang akan ia hadapi ketika bertemu dengan sosok William.
Ayah kandungnya, yang kerap kali memaksakan kehendaknya pada Anugrah.
" Kuatkan mentalmu Anugrah !
Kencangin lagi sabar mu !! ujarnya pada dirinya sendiri.
Di depan sana, sudah berdiri dua anak buah William siap siaga menyambut kepulangan Anugrah.
" Den Anugrah.
Mari ikut, kami ! ujar Jeef mempersembahkan Anugrah memasuki mobilnya.
Anugrah hanya tersenyum simpul.
Dan memasuki mobil.
Setelah melihat Anugrah masuk, mereka berdua pun segera masuk dan melajukan mobilnya menuju rumah kediaman William.
Tibalah Anugrah dirumah yang sudah satu tahun lebih ia tinggalkan itu.
Ia menatap lekat bangunan rumah yang merupakan hasil desain dari buah pemikiran ayahnya yang merupakan seorang Arsitek.
Tidak banyak yang berubah, hanya ada perubahan warna dan juga bagian taman.
" Aku tak bisa membohongi hatiku.
Aku merindukan kalian." ucap Anugrah.
Ia pun melangkah ke rumahnya.
Tanpa mengucapkan salam.
" Kalau masuk rumah itu.
Ngucapin salam, Nug." tegur Yasmine.
Anugrah hanya memutar bola matanya melas.
" Keburu masuk udah, kak." alibinya.
" Kamu ini ! kebiasaan.
Sudah sana !! beresin barang kamu buruan sana ! titah Yasmine padanya.
Anugrah pun mengangguk dan berjalan menuju kamarnya.
Ceklek... ia membuka pintu kamarnya.
Kamarnya tampak bersih bahkan tak ada bedanya seperti saat ia tinggalkan kemarin.
Anugrah pun langsung menghamburkan diri di atas kasur berspreikan corak kotak itu.
" Tuhan aku lelah dengan semua ini." liriknya.
Ia menatap lekat langit-langit kamarnya.
Wajah Hana terlintas di benaknya.
Sudut bibirnya pun tersenyum simpul, mengingat betapa ia mencintai gadis yang sekarang sudah mulai tidak memiliki rasa padanya.
" Hanani Syaufa." ucapnya.
" Aku memang ceroboh.
Cepat sekali hatiku terjatuh padamu.
Bahkan dalam pertemuan sesingkat itu, tapi anehnya perasaan ini tidak hilang dengan waktu yang singkat."
Anugrah bangkit dari tidurnya.
Kemudian, meraih ranselnya.
Mengutak-atiknya, mencari sesuatu yang berharga di dalamnya.
Dan ya, sebuah bolpoint dan juga buku nuansa islami lengkap dengan surat dari pemberinya.
Yups, pemberian Hanani Syaufa.
" Masih ada harapan kah ? kau menjadi Zainabku, Han ? Ia mengelus pelan bolpoint itu.
" Masih pantas aku berharap kisah kita akan seindah kisah Abul Ash dengan Zainab binti Muhammad ?
Huhhh... Anugrah menghela nafasnya.
" Biasanya aku sangat percaya diri dalam hal apapun.
Tapi kenapa untuk hal ini aku tak berani menerapkan kepercayaan diriku, Han ?
Anugrah terus berbicara pada benda mati pemberian Hana itu, seolah-olah tengah berbicara pada Hana.
" Anugrah !! teriak seseorang dari lantai bawah.
Anugrah tau siapa pemilik suara itu, siapa lagi kalau bukan ayahnya, William Oktavius Mendrofa.
Ia pun memberesin barang-barangnya dan segera mengganti pakaiannya. Untuk bisa segera mungkin memenuhi panggilan ayahnya.
Setelah selesai.
Anugrah pun perlahan menuruni anak tangga.
Dan menuju ruang keluarga, dimana tempat keberadaan ayahnya.
Ia pun menyalim tangannya pria paruh baya itu.
Kemudian, duduk di sebelahnya.
" Ada apa, Yah ? tanyanya.
William tersenyum, menepuk pelan pundak Anugrah.
" Kamu lulus di universitas protestan terbesar di USA." kata William dengan penuh bangga.
" Aaaaa...
terima kasih Tuhan." bukan Anugrah yang kegirangan melainkan Yasmine lah yang berbahagia.
Ia memeluk adik laki-laki satu-satunya itu.
Sementara berbeda halnya dengan Anugrah.
Ia hanya tersenyum simpul, sedang memilukan dirinya yang selalu tertekan dengan keadaan.
Melihat raut wajah Anugrah yang biasa saja.
Mengundang kebingungan di benak William dan juga Yasmine.
" Loh, kamu kok gak senang, Anugrah ? tanya Yasmine.
Anugrah berdiri dari duduknya, tanpa menoleh pada William dan Yasmine.
" Aku lelah terus menerus mengemis pada takdirku.
Sekeras apapun aku berusaha memerdekakan diri dari tekanan, dari keterpaksaan, tetap saja keinginan dan kemauan ayah yang harus aku jalani."
" Anugrah lelah yah, dengan semua keadaan yang ayah ciptakan pada Anugrah." setetes air mata Anugrah mengalir.
" Apa maksudmu ? teriak William yang mulai emosi dengan perkataan Anugrah.
"Biar Anugrah beri tau sekali lagi, Yah.
Bahwa Anugrah ingin menjalani hidup tanpa adanya keegoisan dari ayah yang terus menerus memaksa Anugrah untuk melakukan sesuatu yang bukan merupakan keinginan Anugrah, Yah."
Anugrah menangkupkan kedua tangannya, memohon belas kasihan dari ayahnya.
"Anugrah capek,Yah!
Sekali saja ayah tanya apa yang Anugrah inginkan! Sekali saja biarkan Anugrah menentukan jalan hidup Anugrah! Anugrah mohon ayah." lirih Anugrah mengeluarkan segala kesesakan yang tertumpuk di dadanya.
"Dan kau akan dengan leluasa memeluk Islam? BEGITU?" ucap William dengan penuh penekanan.
Anugrah hanya tersenyum menanggapi pertanyaan yang jelas-jelas ayahnya sudah tau jawabannya.
"Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi!
Lima hari lagi kau akan berangkat ke USA!"
Anugrah bertepuk tangan seraya tertawa kecil, menatap sosok Arsitek yang merupakan ayahnya.
"Ayah memang berhasil menjadi seorang arsitek yang membangun begitu megah bahkan indah
rumah-rumah untuk tempat manusia berkeluarga.
Tapi sayangnya, ayah gagal menjadi seorang ayah sekaligus suami yang membangun rumah tangga dengan indah dan juga teduh." ungkap Anugrah, dengan sorot mata tajamnya.
Plak....
Satu tamparan William daratkan di wajah tampan putranya.
Anugrah merasakan panas menjalar di pipinya, ia tau sebuah tamparan yang akan ia dapatkan lagi, sama seperti saat ia ketahuan menyimpan buku islami oleh William.
" Ayah egois !!
Tak ingin berlama-lama Anugrah pun pergi meninggalkan William dan Yasmine.
" Anugrah !! Teriaknya.
Bersambung..
Sevimli 2 Juli 2021
__ADS_1
Salam hangat dari Author :)