
" Percayalah masih ada setitik kebaikan yang tersimpan di hati seseorang sekalipun dirinya terus menerus melakukan kejahatan."
..." Pelangi Hanani 🌹"...
Arga berlalu menuju taman Rumah sakit yang berada dibelakang.
Masih dengan kekesalannya Arga mencoba mencerna semua hal yang berkaitan dengan Andrea.
" Aku masih bingung dengan dia, dia itu lelaki pengacau tapi kenapa dia mau bantu orang ye , aku tengokpun die tampak ikhlas je lakukan itu semua. Sebenarnya siapa dia ?? Pikir Arga.
Tiba-tiba saja Arga kepikiran dengan Hana, sosok gadis yang selalu saja dia goda, yang selalu saja dia buat kesal, dan bahkan juga Arga sempat menyakiti hati Hana dengan ngomongnya.
Arga kembali mengingat momen ketika dirinya mengatakan Hana adalah orang asing.
###
" Kalau awak cakap tak de Insiden apapun, tapi kenapa pertikaian antara daerah Terengganu dan Penang ? Tanya Hana dengan nada sedikit meninggi dan berhasil membuat Arga menoleh kearahnya.
Spontan saja Arga menghampiri Hana yang tengah menatapnya.
" Hm awak ni cuma orang Asing Kat Istana ni ! Cuma budak kampung datang Kat sini, jadi tak Payah sibuklah nak ikut campur urusan yang berkaitan dengan Istana !! Awak ni datang Kat sini nak Sambung Study je, jadi fokuslah pada Study awak !! Ucap Arga dengan kasar beserta tatapan tajamnya pada Hana dan berlalu meninggalkan Hana.
###
" Maafkan aku Hana, telah mengatakan hal yang menyakiti hatimu !! Kata Arga dengan lirih.
" Han ku mohon sembuhlah. Aku akan perbaiki semuanya. Kita akan sama-sama menyelesaikan pertikaian ini Han !! Aku butuh kamu Han !! Sambung Arga tanpa Ia sadari cairan bening telah pupus dari matanya.
" Kamu tau Han ? Hanya kamu perempuan yang bisa membuat perubahan didiriku. Setelah hampir dua tahun lamanya aku tidak ingin memberi kesempatan kepada sesiapapun untuk berteman denganku, namun kau hadir dengan segala keunikan dapat meruntuhkan pertahananku. Bukan kau yang ingin berteman, melainkan hatiku yang tertarik hingga jatuh dalam sebuah harapan untuk bisa menjadi sahabatmu." Jujur Arga pada dirinya.
" Ku mohon Han, sadarlah !! Aku ingin beritau dirimu siapa yang telah mendonorkan darah untukmu, mesti kau sangat terkejut Han dengar pasal ni !! Arga tak ada berhentinya berbicara seakan-akan dirinya tengah berbicara dengan Hana.
Perasaan apa yang sedang Ia rasakan, apakah Arga mulai jatuh hati pada Hana atau justru hanya merasa bersalah atas apa yang menimpa Hana sebab dirinya.
Entahlah Arga juga masih sulit mengerti dengan perasaannya saat ini.
Argapun pergi menuju Masjid sebab waktu magribh telah tiba.
Di tempat lain ada sosok orang tua yang tengah merasakan firasat buruk terjadi pada putrinya.
Di Indonesia.
" Pak perasaan Ibu kok ga enak gini ya Pak ? Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Hana ?
Jujur Ibunya.
Ya memang benar naluri seorang Ibu terhadap anaknya memang sangat kuat dan tak bisa dipungkiri.
" Huss !! Ibu ga boleh ngomong gitu ! Orang satu hari lewat malamnya Hanakan hubungin kita. Ibu gimana sih, sudahlah Ibu pasti hanya rindu saja pada Hana." Ucap Bapaknya.
" Hm tapi Pak !! Ucapan Ibu Hana terpotong oleh Bapaknya.
" Ya sudah mari kita hubungin Hana biar kamu ga cemas lagi ! Ujar Bapaknya.
Tittt.. Titt " Nomor yang Anda tujuh sedang berada diluar jangkauan, cobalah untuk sesaat lagi " Ucap Operator.
Ya sebab Handphone Hana masih berada didalam tasnya, yang ketinggalan di Perkemahan.
" Pak gimana ini nomor Hana ga bisa dihubungin !! Ibu Hana mulai panik.
" Hm Ibu tenang dulu, mungkin Hana sibuk diperkemahan, sekarang kita telpon Vikri saja." Ucap Bapaknya untuk menenangkan Ibunya.
Titt.. Titt Telpon Vikri berdering.
" Siapa yang telpon ya Bun ? Ucap Ayah Ranti meraih Handphonenya.
Terteralah nama kakaknya dilayar.
" Hm Bun, kakak nelpon ni ? Bagaimana ini apa mungkin kita memberi tau apa yang terjadi pada Hana ? Tanyanya pada Istrinya.
" Untuk saat ini sebaiknya jangan dulu Bang. Beritau saja bahwa Hana dan Ranti sedang berkemah dan tidak diizinkan untuk sepenuhnya memegang handphone." Saran Bunda Ranti pada Suaminya.
Ayah Ranti mengangguk mengerti dan mengangkat telpon dari kakaknya.
" Assalamu'alaikum Kak." Ucapnya.
" Waalaikumussalam Vik." Jawab Ibu Hana.
" Apa kabar kak ? Tanya Vikri.
" Hm alhamdulillah baik Vik, Kak tadi menghubungi handphone Hana tapi ga bisa dihubungin sama sekali Vik. Hana disana baik-baik sajakan Vik ? Tanya kakaknya.
__ADS_1
Jleb sesuai dugaan pasti Ibu Hana menanyakan diri Hana.
" Oh Hana, itu kak Hana dan Ranti sedang berkemah dan memang sesuai peraturan mereka tidak boleh sepenuhnya menggenggam handphone satu harian, hanya diwaktu-waktu tertentu Kak. Mungkin sebab itu nomor Hana ga bisa dihubungin kak." Vikri terapksa berbohong sebab ia tak ingin kakaknya sedih apalagi kepikiran.
" Oh begitu ya Vik, syukurlah kalau Hana dan Ranti baik-baik saja disana. Yasudah kakak hanya ingin menanyakan itu Vik, sebab sedari kemarin perasaan kakak tidak enak terus Vik." Kata Ibu Hana dengan jujur.
Vikri yang mendengar perkataan Kakaknya tanpa sadar air matanya terjatuh.
" Firasat seorang Ibu terhadap anaknya memang sangatlah kuat, maafkan Vikri kak. Harus berbohong seperti ini. Sebab Vikri tidak ingin kakak kecewa dan bersedih hati jikalau mendengar kejadian yang sebenarnya menimpa Hana." Batin Vikri.
" Hehe Hana baik-baik saja kak. Mungkin kakak terlalu rindu pada Hana makanya seperti itu kak. " Kata Ayah Ranti.
" Hm mungkin itu memang benar Vik. Sudah setahun kakak tidak bertemu Hana. Ibu mana yang tak merindu jikalau putrinya tengah jauh darinya." Ungkap Ibu Hana dengan tetesan air mata.
" Hm iya kak Vikri paham apa yang kakak rasakan. Insya Allah libur sekolah tahun ini Hana bakalan pulang ke Indo, kak tenang saja ya." Vikri mencoba menghibur kakaknya.
" Alhamdulillah baiklah, kakak akan nantikan kepulangan Hana." Ucap Ibu Hana dengan girang.
" Hm iya kak, udah dulu ya. Kakak dan keluarga sehat-sehat ya disana. Titip salam ke Abang dan Rahmet, assalamu'alaikum." Salam Vikri pada Kakaknya sebab ia tak kuasa lagi untuk terus berbicara dengan kakaknya karena telah berbohong pada kakaknya.
" Iya dik. Kalian juga ya sehat-sehat terus disana. Makasih sudah menjaga Hana, waalaikumussalam." Jawab Ibu Hana.
Vikripun tertunduk bersalah telah menyembunyikan hal yang seharusnya diketahui oleh kakaknya.
" Bun, abang telah berbohong pada kakak, abang tak elok jaga Hana, Hana tinggal digudang dan sekarang Hana terbaring di ranjang Pasien. Ini semua karena Abang yang tak becus jaga Hana Bun. " Vikri terus menyalahkan dirinya.
" Abang ini bukan salah Abang. Ini sudah kehendak Allah, kita tak bisa menghindar apalagi tolak takdir yang telah Allah tentukan ni, sekarang ni yang perlu kita lakukan terus berdoa untuk kesembuhan Hana." Bunda Ranti mencoba untuk menenangkan Suaminya.
" Dah-dah sekarang Abang sholat dulu, dah masuk waktu magribh ni." Ujarnya pada suaminya.
Ayah Ranti sedikit tenang mendengar perkataan istrinya dan bergegas menuju Masjid untuk melaksanakan Sholat magrib berjamaah.
Yang tinggal hanya Bunda Ranti dan Ibu Kiran sebab mereka dua sedang tidak bisa melakukan sholat.
Sholat magribh kali ini diimami oleh Izaz, karena Arga sedang tidak mood menjadi Imam ditengah pikirannya yang masih kacau.
"Allahu Akbar." Takbiratul ihram telah berbunyi menandakan sholat berjamaah telah dimulai.
Lantunan ayat suci yang dikumandangkan Izaz memang merdu dan sejuk namun jikalau dibandingkan Arga, Arga lebih unggul dari Izaz.
" Assalamu'alaikum warahmatullah." Salam.
Dan kali ini doa dipimpin oleh Paman Hana yakni Ayah Ranti.
Terseliplah doa untuk Hana disana.
" Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya ada banyak hambaMu disini yang tertimpa sakit, Engkaulah yang maha penyayang dari segala penyanyang. Maka sebab itu sembuhkanlah mereka ya Allah, terutama untuk anakku Hana ya Allah, Engkaulah yang maha pemilik kesembuhan." Tetes demi tetes air mata Vikri telah tertumpah.
" Rabbanaatina fiddunya Hasanah Wa filakhirati Hasanah Wakina azabannar." Tutup Vikri.
Disudut Masjid ada sosok pemuda yang air matanya tak berhenti untuk menetes bahkan hingga doanya telah usai.
" Ya Allah Aku mohon jaga selalu sahabatku Hana, Sahabat sekaligus cinta pertamaku telah kau ambil ya Allah. Ku mohon untuk Sahabat sekaligus cinta keduaku ini jangan kau ambil lagi ya Allah." Ucap Arga dalam doanya.
Ia tak tau mengapa bisa hatinya berkata seperti itu pada Sang pemilik hati.
Entahlah Ia masih bingung dengan perasaannya.
Mereka kembali ke ruang tunggu. Tiba-tiba saja Arga tanpa sengaja melewati ruangan yang telah ditempati oleh Andrea. Terlihatlah Andrea sedang melaksanakan Sholat magrib.
" Hm budak pengacau tu Sholat juga, aku semakin yakin kalau dia tu memang orang baik. Hanya saja ada hal yang membuat dia terpaksa melakukan kekacauan itu. Aku akan menanyakan hal ini dengan baik-baik padanya." Tekad Arga semakin bulat ingin mencari tau kebenaran mengenai diri Andrea.
Ya siapa yang tidak penasaran dengan sosok Andrea pria pengacau di Penang. Namun kelihatannya tidak seburuk itu, sebab ia dengan lapang hati mendonorkan darahnya pada orang yang bahkan ia tak kenal. Dan bahkan ia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Andrea telah selesai melaksanakan Sholat.
" Assalamu'alaikum." Ucap Arga.
Andrea menoleh dan menjawab dengan malas sebab melihat Arga yang datang.
" Waalaikumussalam, ada perlu apa lagi kau lelaki penguntit ?? Tanya Andrea.
" Hm ada hal yang ingin aku tanyakan padamu! Tapi ku harap kau menjawab dengan benar !! Kata Arga.
" Silahkan !! Akan ku jawab jika itu pertanyaan berbobot !! Jawab Andrea dengan senyum tipis.
" Apa sebab kau buat kekacauan Kat Penang ? Ape ade orang yang suruh kau ? Tanya Arga tanpa takut.
Andrea tertawa mendengar pertanyaan Arga.
" Hahaha, kau tau kenapa aku buat kekacauan tu ?? Sebab aku tak terima pada Rajamu yang telah diskriminasi terhadap kaumku, yaitu keturunan Inggris !! Jawab Andrea sesuai dengan yang ia ketahui.
__ADS_1
Arga terkejut mendengar jawaban Andrea.
" Diskriminasi ?? Maksudmu Raja tidak memberi keadilan pada kaummu?? Tanya Arga lagi mencoba mencerna jawaban Andrea.
" Ya. Kami tau Rajamu itu diam-diam berniat mengusir keturunan kami dari tanah Malaysia ini!! Andrea mulai berteriak.
Arga tak habis pikir dengan pikiran Andrea. Darimana celahnya Ayah berniat seperti itu, sementara di Istana ada pejabat yang masih berdarah Inggris.
" Hm tenanglah. Coba rilexkan pikiranmu!! Kau hanya salah paham Raja tidak seburuk itu. Sebab kau tau di Istana masih ada beberapa pejabat yang berdarah Inggris. Aku tak tau siapa yang menghasutmu sampai bisa berpikir seperti ini. Tapi yang jelas dia telah berhasil mengadu domba kaummu dan orang Istana sehingga persatuan berpecah belah seperti ini. Tapi kuharap jika suatu saat kau tau kebenarannya kau akan berpihak pada kebenaran Andrea Abrazi." Kata Arga dengan nada yang sopan.
" Thanks bro sudah mendonorkan darah untuk Sahabatku Hana, senantiasa Allah membalas kebaikanmu dan SyafakAllah lekas sembuh bro !! Aku sudah tidak sabar bertarung denganmu, aku cabut dulu Assalamu'alaikum." Kata Arga meninggalkan Andrea.
Andrea merasa bingung dengan sikap Arga yang tidak marah padanya. Bahkan Arga berkata dengan sangat baik padanya.
" Tenang saja aku selalu berada dijalan yang benar !! Ya kau tidak perlu berterima kasih untuk itu karena aku tidak butuh itu.
Kau lihat sebentar lagi aku akan sembuh dan menghabisimu tanpa ampun !! Jawab Andrea.
" Waalaikumussalam Lelaki penguntit!! Kata Andrea yang masih bingung dengan semua perkataan Arga padanya.
" Hm penghasut, apa betul ke ada yang menghasut diriku dengan Ayah sehingga kami bersifat seperti ini ? Hm aku harus tanyakan hal ini kepada ayah setelah kondisiku membaik." Kata Andrea.
Arga sudah sampai di ruang tunggu dan menatap lekat Hana dari balik pintu IGD.
Belum ada perubahan dari kondisi Hana untuk saat ini masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Belum kunjung sadarkan diri.
" Han bangunlah, sadarlah aku masih menunggumu disini, masih dengan harapan yang sama dan doa yang sama." Ucap Arga dalam hatinya.
" Arga jom kita makan dulu. Nanti awak sakit pula tambah risau pula semua orang." Ajak Izaz pada Arga.
" Hm Bunda sama Ayah tak datang ke ? Tanya Arga.
" Insya Allah selepas Isya mereka datang. Sebab ada urusan yang tak bisa ditinggalkan." Jawab Izaz pada Arga.
" Oh selepas Isya. Jomlah kita makan" Kata Arga.
Merekapun pergi keluar Rumah sakit untuk mencari sebuah Restoran yang bisa mengisi perut mereka yang sedari tadi kosong.
" Ran, mau ikut kita tak makan diluar ? Tanya Izaz pada Ranti, sebab Izaz tau Ranti juga belum makan sedari tadi.
Ranti mengangguk iya dan mengajak Rayhan juga ikut bersama mereka.
" Bang Izaz Rayhan juga ikut ya ? Ujar Ranti.
Entah kenapa ada rasa tidak senang dihati Izaz saat Ranti mengajak Rayhan ikut bersama mereka.
" Hm boleh." Kata Izaz dengan terpaksa.
" Ye, aku ada bahan Bullyan." Ledek Ranti pada Rayhan.
" Jangan seperti itu Ranti, entar kamu justru jatuh cinta lagi sama aku hehe." Ucap Rayhan dengan pedenya.
Bukh.. Ranti melemparkan sepatunya ke Rayhan.
" Aduh dasar kau Ranti cantik-cantik kok bar-bar." Ucap Rayhan dengan menggelengkan kepalanya dan meraih sepatu Ranti.
Ranti menghampiri Rayhan untuk mengambil Sepatunya dari tangan Rayhan.
" Kemarikan sepatuku!! Pinta Ranti.
Rayhan pun membalas Ranti dengan mengerjainya.
" Ambil saja kalau bisa !! Kata Rayhan tengah menggantungkan sepatu Ranti di pohon mangga sekitar Rumah Sakit.
" Rayhan gila !! Dasar laki-laki ga punya hati !! Teriak Ranti pada Rayhan.
Rayhan hanya tertawa dan belari menuju mobil. Arga juga ikut tertawa melihat tingkah mereka berdua. Sementara Izaz menghampiri Ranti untuk membantunya mengambil Sepatunya.
" Nah pakai dengan elok, lain kali jangan lempar ke orang lagi tak baik! Kata Izaz.
" Hm iye bang, makasih bang Izaz.
" Sama-sama. Dah Jomlah kita pergi." Kata Izaz pada Ranti.
Merekapun berangkat berempat menggunakan mobil Ayah Ranti yang telah dipinjam Izaz sekelas sholat Maghrib tadi.
Sevimli 4 Oktober 2020
Salam Hangat dari Author 🌹
Maaf ya sering telat Up soalnya tugas Kuliah Author lagi banyak hehe
__ADS_1