
" Segala sesuatu keperihan yang menghampiri hamba saat ini senantiasa adalah jalan hamba menuju keridhoanMu ya Rabb."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Teringat akan keberadaan Afnan dan kakek.
Membuat Arga mengkhawatirkan kondisi mereka.
Dengan pikiran yang kacau, Arga memberanikan diri untuk menghubungi nomor Rayhan, dengan meminjam ponsel para penjaga Penjara.
" Afnan, kakek.
Bagaimana kondisi mereka ya saat ini ? Argapun melirik kedua pengawal itu.
" Pakci !! Panggil Arga.
Membuat semuanya menoleh, Robert, Andrea dan Abriz juga ikutan bingung.
Kenapa Arga memanggil para pengawal ?
" Lo mau ngapain ? Tanya Andrea.
Arga menoleh." Aku mau hubungi Rayhan." Jawabnya.
Andrea pun mengangguk dan tidak bertanya lagi.
Para pengawal itu menoleh dengan tatapan begitu sinis.
Pengawal itu menoleh pada Arga." Ada apa ? Tanyanya.
Arga tersenyum." Boleh saya pinjem ponsel pakci bentar ? Pintanya dengan sopan.
" Untuk apa ? Tanya pengawal itu dengan ketus.
" Untuk menghubungi teman saya pakci." Jawab Arga.
Cukup lama pengawal itu terdiam, memikirkan jawaban dari untuk permintaan Arga.
Sampai pada akhirnya, ia pun bersudi hati meminjamkan ponselnya pada Arga.
" Nah ambil !! Ujarnya menyodorkan benda berbentuk persegi itu.
Arga pun tersenyum dan meraih ponsel itu.
" Terimakasih pakci."
Arga sedikit ragu untuk menghubungi nomor yang hendak ia hubungi, pasalnya ia takut kalau nomor itu bukan nomor Rayhan.
Ya, meski ia hafal.
Sebab, ia menghafal nomor Rayhan itu sudah sejak lama. Dan jarang sekali terulang di otaknya.
Pasalnya, seperti keadaan biasa setiap kali ia ingin menghubungi Rayhan ia hanya tinggal mencari kontak Rayhan tanpa perlu menghafalnya kembali.
" Benar ga sih ini nomornya ? Terka Arga.
Drttt.. Panggilan tersambung.
" Ray ponsel kamu bunyi tu !! Ujar Ranti pada Rayhan.
Rayhanpun merogoh tasnya, untuk mengambil ponselnya.
Tertera nomor tidak dikenal di layar ponselnya.
" Nomor baru.
Siapa ni ? Benak Rayhan.
Rayhanpun menggulir tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
" Hey siapa lo ? Ketus Rayhan.
" Gua Arga ogeb !! Jawab Arga tak kalah ketus.
Rayhanpun tersenyum." Alhamdulillah lo udah bebas langsung main nomor baru aje ya." Ucap Rayhan si bodoh kebangetan.
" Jangan ngadi-ngadi lo !! Ini nomor penjaga penjara.
Gua pinjem buat ngehubungin lo." Jujur Arga pada pengawal yang berjaga.
Di sebrang telpon Rayhan manggut-manggut mengerti atas perkataan Arga.
" Btw, ngapain lo ngehubungin gua ? Kangen lo ? Ujar Rayhan dengan pedenya.
Cihhh... Arga bergedik najis mendengar perkataan dari teman ogebnya itu.
" Najis gua kangen sama lo !! Ketusnya.
Gua ngehubungin lo cuma mau bilang, kalau lo udah sampai di Terengganu, lo jumpai anak cewek namanya Afnan dia tinggal sama kakeknya di sana.
Lo tanya aja sama orang,-orang disana. Mereka pasti tau, tolong lihat kondisi mereka ya Ray !! Jelas Arga pada Rayhan.
Rayhan pun mengangguk.
" Iyaiya gua nanti temuin mereka !! Lo tenang aja.
Baik-baik lo di anggurin hahaha.." Ledek Rayhan pada Arga.
Arga menyebikkan bibirnya." Brengsek lo !! Makinya kesal.
" Udah ya !! Gua tutup dulu gua lagi jalan ni." Rayhan dan Ranti memang sedang berjalan kaki menuju rumah-rumah warga.
" Iya bye !!
Assalamu'alaikum." Arga menutup panggilan.
" Waalaikumussalam."
Seusai Arga menutup panggilan, ia pun mengembalikan ponsel pengawal itu.
" Terima kasih ya pakci." Kata Arga seraya memberikan ponselnya.
Arga pun mulai mengingat-ingat kembali kejadian saat dia dan Hana dijebak di Gost Hill Penang.
Satu yang terlintas pada benaknya, bahwa ia selalu memasang kamera kecil di bagian motornya.
Ia sengaja memasangnya dan menyambungkannya ke ponselnya, agar jika suatu waktu motornya di colong orang lain, ia bisa melacaknya dengan baik.
Barangkali kejadian saat itu terekam di kamera tersebut.
" Kamera kecil di motorku, ya benar saja.
Kenapa baru sekarang aku menyadarinya." Arga menggerutui kelupaannya.
" Lo masang kamera di motor lo ? Sahut Andrea.
Arga mengangguk sebagai jawabannya.
" Itu berarti kejadian lo waktu di jebak sama Vachry terekam gak disana ? Tanya Andrea.
" Mungkin saja." Jawab Arga sedikit ragu.
" Lo kabarin abang Lo !!
Suruh dia meriksanya." Titah Andrea pada Arga.
Argapun mengangguk setuju untuk melakukannya.
.
.
.
Bukhhh...
Hana terjatuh ke bawah ruangan Trixie House.
Lebih tepatnya, ruang bawah tanah.
Gelap.
Bahkan sangat gelap.
Tak ada cahaya sedikitpun, hanya ada cahaya remang-remang yang di dapati di tempat ini.
Kepala Hana terantuk di lantai Ruangan ini, membuatnya sedikit pening.
Dan sulit untuk bangkit.
__ADS_1
" Ya Allah.
Kepala ku rasanya sakit sekali." Keluh Hana memegang kepalanya yang sakit.
Pandangannya mulai samar, tak dapat lagi melihat dengan jelas.
Tubuh yang sudah terkapar di lantai, rasanya sangat sulit untuk di gerakkan.
Bahkan mulutnya terkatup, tak dapat berkata sepatah katapun.
Tak ada sesiapapun yang dapat menolongnya.
Hanya ada pertolongan Allah yang akan datang menyapanya.
" Ya Allah, Engkau yang maha segalanya.
Tiada sesiapapun yang bisa menolong hamba kecuali Engkau ya Allah. Jika takdir hamba di gariskan akan berakhir disini, maka izinkan hamba mati dalam husnul khatimah." Batin Hana tengah meminta pada sang Khaliq.
Pelan-pelan mata Hana mulai tertutup.
Seiring dengan berhentinya jari jemarinya bergerak.
Allahuakbar...
Allahuakbar... Suara adzan dzhuhur berkumandang.
Bak sebuah keajaiban dari Allah, gadis yang terkapar lemah itu perlahan dapat membuka matanya.
Jari jemarinya mulai bergerak, begitu juga dengan mulutnya.
" Ii--izinkan aaa--kuuu untuk sholaa--aatt ya Allah." Lirih Hana terbata-bata.
Dengan sekuat tenaga Hana mengumpulkan kembali tenaganya untuk bangkit, paling tidaknya ia bisa duduk itu sudah lebih baik dari berbaringlah lemah seperti ini.
" Allahuakbar." Ucap Hana yang berhasil bangkit.
" Sungguh tiada kuasa yang paling besar dari kuasa Mu ya Allah." Hana tersenyum menanggapi hal baru yang tengah ia rasakan.
Tak ada air yang Hana dapati, ia pun dengan sigap menyentuh debu-debu yang berada di dekatnya.
Kemudian menggunakannya untuk bertayamum.
Hana memasang niatnya mantap dalam hati.
Dan seusai melakukannya, ia pun melaksanakan sholat dhuhur tanpa alasan sajadah.
Melainkan, langsung menggunakan lantai ruang bawah tanah ini sebagai tempat untuk bersujudnya.
Setiap gerakan sholat Hana, tampak begitu khusyuk, bahkan seekor tikus di depan saja, tak dapat mengganggunya.
" Assalamu'alaikum warahmatullahi." Salam penutup Hana di sholatnya.
Menandakan berakhirnya sholatnya.
Bibir Hana langsing memuji asmaNya berulang-ulang kali. Baswara kehidupan yang kian ia terka sedikit demi sedikit kini telah ia pahami.
Bahwa ikhtiar yang diiringi dengan usaha adalah sebuah roda untuk menggenggam segala sesuatu yang ingin dicapai.
Seusai beribadah, Hana bergegas mencari kembali tombol untuk naik ke atas.
Meski gelap, Hana tetap meraba-raba benda-benda di sekitarnya.
Kresek... Hana menyentuh sebuah benda.
" Apa ini ? Hana mulai menerka.
Dengan rasa penasaran, Hana pun meraihnya.
Dan mengangkatnya tepat di bagian lubang yang sedikit memancarkan cahaya dari atas.
Hal ini ia lakukan, agar ia bisa melihat dengan jelas benda yang bersifat berkas ini.
Setelah posisi berkas itu tepat, Hana pun mulai membolak-baliknya.
Hana terkejut, ternyata berkas itu berisikan data-data bukti tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh
Def Rakses, ayahnya Haiko.
" Surat perjanjian.." Hana menggenggam surat itu.
Kemudian Hana beralih ke surat lain.
Dan ini ada sebuah tip.." Hana memandangi tip yang ia dapatkan bersama dengan surat-surat itu.
" Apa ya isinya ?? Tercokol di kepala Hana.
Senyum merekah pun terbit di wajahnya.
Ia tak pernah menyangka, bahwa ia berada di titik keberhasilan ini.
Hana pun kembali mengemasi berkas-berkas bukti itu.
Dan kemudian beranjak mencari jalan untuk bisa keluar dari tempat bawah tanah ini.
Hana melangkah ke sisi kanan Ruangan ini.
Dan ya, ia menyentuh sesuatu yang bersifat kayu.
Dan ternyata itu adalah sanggahan sebuah tangga untuk bisa naik ke atas.
" Tangga otomatis." Ucap Hana menyadari bahwa yang ia pegang adalah sebuah pegangan tangga.
Tanpa buang-buang waktu Hana pun menaiki tangga tersebut, meski dengan tertatih ia tetap berusaha untuk tetap menaikinya.
Hanya ada sepuluh anak tangga yang ia naiki, ia sudah keluar dari tempat bawah tanah ini.
Ya, bahkan ia sudah keluar dari Trixie House.
" Alhamdulillah." Ucapnya lega.
" Aku berhasil Arga !!! Teriak Hana dengan kencang seolah-olah sedang bertemu dengan Arga.
Hana meraih ponselnya di tas selempangnya.
Dan berniat untuk menghubungi Izaz.
Namun sayang, saat ia menggenggam ponselnya.
Terlihatlah tak ada sinyal di ponselnya.
" Ais, mana sinyal gak ada lagi." Keluh Hana.
Ia pun kembali menyimpan ponselnya ke tas selempangnya.
Hana pun kembali melangkah turun dari tebing tinggi ini. Ingin segera pergi dari tempat menyeramkan ini.
Hana pun kembali menggenggam tali yang pertama kali ia gunakan saat mendaki tebing ini.
Setapak demi setapak Hana mulai menuruni bukit ini.
Memijak satu persatu bebatuan yang tertempel di tebing tinggi ini.
Hana lebih berhati-hati, ia tak ingin terjatuh lagi.
Bisa-bisa badannya akan remuk sudah berkali-kali terbanting dengan keras.
Terik matahari yang terpancar, tak membuat semangat Hana memudar untuk terus berusaha.
Ia terus melangkah turun.
Hana mulai menerka-nerka apakah dibawah sana sudah ada yang menantinya atau tidak.
Seperti saat ia sampai di tempat ini.
Sudah ada yang menyambutnya, ya apalagi kalau bukan hewan berbisa itu.
.
.
.
Sudah lima belas menit berlalu, Hana sudah berhasil mendaratkan kakinya di tanah hutan belantara ini.
Tapp...
" Alhamdulillah selesai." Ucapnya seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Beruntung kali ini, tak ada yang menanti kehadiran Hana dibawah. Ia pun kembali mencari keberadaan Safety Shoes yang diberikan Haiko padanya.
__ADS_1
Setelah menemukannya, Hana kembali mengenakannya.
" Bertahan gak ya sampai keluar dari hutan ini ? Hana sedikit ragu dengan Safety Shoes yang tepinya sudah tersobek sedikit.
" Bismillah." Ucap Hana dengan mantap dan melangkahkan kakinya siap menyelusuri kembali jalan ekstrim ini.
Ya, tumpukkan kaca sudah tertata rapi di hadapannya.
Begitu juga dengan semak belukar siap untuk menggoreskan tintanya pada tubuh Hana.
Ceracakk... Bunyi tumpukkan kaca yang Hana pijak.
Sraaakkk... Semak belukar itu kembali berhasil menggores lengan Hana.
" Auwww...." Ringis Hana yang melihat goresan luka tenganga lebar di lengannya.
Darah segar mengalir dari lengannya.
Cukup membuat Hana sedikit melemas.
" Kenapa rasanya sesakit ini ? Kepala ku juga mulai sedikit pusinng. Seperti mau demam mendadak."
Keluh kesah Hana pada dirinya sendiri.
" Kita harus kuat ku mohon !!
Sedikit lagi, perjuangan kita selesai." Ujar Hana pada tubuhnya sendiri.
Duduk menepi sejenak untuk beristirahat juga rasanya tidak mungkin. Sebab, jalanan yang ia pijak di penuhi tumpukkan kaca tak tersisa celah sedikitpun.
Meski dengan kondisi lemah, Hana tetap melangkahkan kakinya. Ingin segera keluar dari tempat ini.
" Aku harus keluar dari tempat neraka dunia ini." Ucap Hana.
Dengan langkah tergopoh-gopoh Hana tetap berusaha kuat untuk melangkah.
Sraakk....Kali ini kaca merobek tepi safety shoes Hana.
" Robek." Hana menyadari tumpukkan kaca itu merobek tepi Safety Shoes nya.
Hana pun melanjutkan perjalanannya.
Tak terlalu memperdulikan safetynya yang sudah robek tepinya.
Nyuutttt... Tumpukan kaca itu berhasil menembus Safety Shoes Hana.
Bahkan menembus telapak kakinya, Hana kembali kehilangan darahnya.
" Ya Ilahi." Ucap Hana lirih.
Ia memandangi Safety Shoes yang dimana dibalik benda itu ada kakinya yang sudah berbalutkan darah.
Tak ada sanggahan yang hendak menjadi penopang untuk Hana berjalan. Kalau saja ada dinding maka Hana bisa memegangnya dan menjadikannya sebagai penopang tubuhnya untuk berjalan.
Hana masih berdiam diri, mencoba memulihkan segala rasa sakit yang ia dapatkan.
Ia mengangkat sebelah kakinya yang terkena tumpukkan kaca itu.
Membuka perlahan safety shoes yang ia kenakan sudah berlumuran darah segar miliknya.
Lukanya tidak terlalu lebar akan tetapi cukup dalam, sehingga menyebabkan pendarahan cukup besar.
" Ya Allah, sedalam ini ternyata lukaku." Hana merintis kesakitan.
Hikss.. Hiksas...
" Ibu !! Bapak !!
Hana sedang terluka !! Gak ada yang bisa nolong Hana buk !! Pak !
Hana mulai terisak, dadanya mulai terasa sesak.
Luka di tangannya juga tak kalah cepat menyebarkan keperihannya.
" Arga !
Maafkan aku, Ga ! Tenagaku sudah habis sekarang.
Aku sudah mencoba sebisa mungkin untuk bertahan dan berjuang. Tapi nyatanya aku belum keluar dari tempat ini, Ga ! Tolong aku !
Asma Allah tak pernah terlepas baik dari hati ataupun lisan Hana. Kalimat tasbih senantiasa membasahi bibirnya. Hana berharap ada sebuah pertolongan yang menolongnya.
Detik selanjutnya, Hana kembali memasang safety shoes nya, meski sudah robek. Tapi ia masih bisa mengenakannya untuk melindungi kakinya.
" Aakkuuu harus berjuang !
Aku gak boleh nyerah ! Ada banyak manusia yang akan tertindas jika aku berhenti berjuang." Hana mencoba kembali berusaha keras melangkahkan kakinya.
" Ya Allah segala kepedihan dan keperihan yang hamba rasakan saat ini senantiasa adalah jalan hamba untuk menggapai ridho Mu."
Hana melangkahkan kaki kiri yang masih pulih belum terluka sama sekali.
Derap langkahnya begitu lamban sekali.
Butuh waktu lama untuk ia sampai di penghujung jalan tumpukan kaca dan semak belukar ini.
Cairan bening tak berhenti menetes dari pelupuk matanya. Rasa sakit kian mendominasi tubuhnya, entahlah atas dasar kepahitan apa yang ia lakukan, sampai situasi sesadis ini harus ia rasakan.
" Allah...
Allah....
Allah.... Sepanjang jalan Hana tidak berhenti mengucapkan asma Allah.
Luka yang tenganga lebar itu juga tak berhenti mengalir, membuat Hana semakin melemas karena kehabisan banyak darah.
" Inikah ? Akhir hidup ku ya Allah ? Pandangan Hana mulai buram, pening di kepalanya juga semakin mencengkram erat.
" Jika aku mati siapa yang akan membawa bukti ini sampai di Istana ? Hana menyeret kakinya yang terluka.
Tak bisa lagi diajak untuk melangkah.
Perlahan-lahan robekan safety shoes semakin melebar.
Membuat tumpukkan kaca menerobos kaki Hana yang berjalan di atasnya.
Sakit bukan ? Jangan terkena tumpukan kaca.
Tergores kaca sedikit saja, sudah perihnya minta ampun.
Sedikit lagi, Hana akan sampai di penghujung jalan.
Senyum merekah pun terbit di wajah nya.
" Sedikit lagi Han !! Ujarnya menyemangati dirinya.
Hana memang wanita kuat.
Disituasi sehebat ini ia masih bisa tersenyum.
Satu langkah lagi.
Sraakk..... Semak belukar itu melukai perut Hana.
" Rahmaaann !!! Teriak Hana.
Pandangan Hana yang buram kini menjadi gelap.
Pusing di kepala yang ia rasakan sejak tadi.
Membuatnya kehilangan kesadarannya.
Perlahan-lahan tubuh Hana tak terkendalikan.
Saat langkah terakhirya selesai.
Saat itu pula Hana terjatuh.
Bukhh...
" Lailaha Ilallah.." Seru Hanaa menutup matanya.
Bersambung..
Sevimli 22 April 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa untuk like and Votenya :)
__ADS_1