Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 57 Kenangan


__ADS_3

" Traveling terbaik adalah bernostalgia dengan kisah yang sudah berstatus sebagai kenangan."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Tepat hari ini, Anugrah kembali mengadakan perjalanan menuju Sibolga.


Apalagi kalau bukan untuk mengurus perpindahan sekolahnya.


Kalau bisa dikata, sebulan lagi dirinya akan menghadapi ujian akhir semester.


Namun, William bersikeras buat maksain Anugrah pindah ke Canada.


Bukan tanpa alasan ketergesaan William.


Ia ingin Anugrah segera pergi ke Canada sebelum kondisinya membaik, sebab ia takut jikalau dirinya sudah sembuh.


Maka Anugrah akan berubah pikiran.


Tepat pukul setengah sepuluh pagi, Anugrah sampai di Pelabuhan Sibolga.


Ia, mengambil motornya di Kapal barang.


Setelah menyelesaikan segala urusannya dengan maskapai.


Anugrah melajukan motornya menjauh dari Pelabuhan.


Ya, satu tempat yang ia tujuh,


yaitu sekolahnya SMA N 1 Mata Uli.


Anugrah melajukan motornya dengan lambat,


sebab ia ingin menikmati sisa-sisa waktunya di Sibolga.


Ia menikmati setiap hembusan angin yang menelesuri Indra penciumannya.


" Ada banyak hal yang bakal aku bawak pergi sebagai parsel termanis di ingatan.


Ya parsel manis itu berbentuk sebuah kenangan."


" Aku bakal kangen semua hal yang berkaitan dengan kota sejuk Sibolga ini." Anugrah tersenyum miris.


.


.


.


Tak lama kemudian Anugrah akhirnya mendarat di Sekolahnya.


Anugrah turun dari motornya, melangkah menghampiri Satpam sekolahnya.


" Pak, saya murid di sekolah ini, atas nama Anugrah Pota Mendrofa." Ucap Anugrah pada Satpam yang bertugas di gerbang.


" Sebentar ya, saya cek dulu." Pak Satpam itu mengecek data nama-nama murid sekolah,


dan ya, terteralah nama Anugrah di layar monitor.


" Oh, baik silahkan masuk nak." Pak Satpam membukakan pintu gerbang.


" Terima kasih Pak."


Anugrahpun kembali mengendarai motornya,


kemudian memarkirkannya di tempat parkir kendaraan murid.


Anugrah mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya sekolahnya. Bukan karena ia tak pernah melakukannya.


Melainkan ini akan menjadi hari terakhirnya menikmati sisa-sisa waktunya di Sekolah yang amat ia cintai ini.


Kedua sudut bibirnya tertarik melengkung membentuk senyuman.


Anugrah melanjutkan langkahnya menuju ruang kepaka sekolah untuk meminta surat perpindahan sekolah sekaligus penjelasannya mengenai perpindahan dirinya.


Karena perpindahan sekolah Anugrah bukan ke luar kota melainkan ke luar negeri ada banyak berkas-berkas yang harus ia siapkan.


Bahkan membuatnya harus menginap di Asrama.


Sebelumnya beberapa berkas telah diselesaikan oleh anggota William.


Dan beberapa berkas lainnya yang wajib Anugrah menangani. Sebab itulah Anugrah juga turun tangan menyiapkannya.


Seperti Surat penyetaraan ijazah, Nomor induk Siswa dan sebagainya.


Kantor Kepala sekolah.


Tok...


tok


tok...


" Permisi, Selamat Siang Pak." Ucap Anugrah dengan sopan.


Kepala sekolah menoleh, melihat Anugrah tidak dengan seragam sekolahnya.


Ia sudah mengetahui tujuan Anugrah menemuinya pasti untuk mengurus perihal pindah sekolahnya.


" Silahkan masuk." Yusuf mempersilahkan Anugrah.


Anugrah dengan sigap menghadap sang kepala sekolah.


" Maaf Pak, jika saya mengganggu waktu Bapak." Anugrah membungkukkan tubuhnya.


" Tidak masalah, semua berkas perlengkapan perpindahan sekolah kamu sudah hampir selesai, besok semuanya tinggal kamu tanda tangani." Ucapnya pada Anugrah.


Anugrah tersenyum masam." Cih, ini pasti kerjaan ayah, sengotot itu ayah mau aku pergi


dari sini." Batin Anugrah yang tengah menahan kekesalannya.


" Nak, kamu adalah salah satu siswa berprestasi di Mata Uli, jujur saja saya sangat berat melepas kamu nak."


" Tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau saya harus turuti permintaan Pak William." Suara kepala sekolah itu terdengar sedikit lesuh.


Anugrah tersenyum." Jujur Pak, saya juga sangat berat untuk meninggalkan sekolah ini.


Selama satu tahun setengah saya menjalani suka duka di sini." Ucap Anugrah.


" Saya juga tidak menyangka pencarian saya dalam menggapai kecerdasan di sini hanya setengah jalan dari perjuangan saya...


Saya sudah merasa sekolah ini menjadi tempat teristimewa di hati saya Pak, setiap sisi sudut ruangannya menyimpan sebuah rasa yang sulit di lupakan apalagi di tinggalkan." Ucap Anugrah yang matanya mulai berkaca-kaca.


Kepala sekolah beranjak dari kursinya, kemudian menghampiri Anugrah.


" Nak, saya tidak tau kenapa Pak William secara mendadak memintamu untuk pindah sekolah bahkan sampai sejauh Canada, tapi satu hal yang pasti saya yakin itu adalah sebuah pertimbangan yang sangat matang ia laksanakan...


Semoga Tuhan mempermudah urusanmu nak , jangan pernah lupa ya sama sekolah kita. Kapanpun kamu datang kembali kami siap menyambutmu dengan sepenuh hati." Ucap Yusuf dengan hangat.


Mata Anugrah semakin memerah, menahan sesak di dada. Kali ini ia patah hati lagi bukan karena Hana atau gadis lain, melainkan patah karena separuh kebahagiaannya telah hilang.


Anugrah mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh, kemudian ia tersenyum sembari memeluk Yusuf sang kepala sekolah.


" Terima kasih Pak, saya tidak akan pernah lupa dengan semua hal yang berbentuk lembaran kertas kisah yang saya ukir di Sekolah ini." Ucap Anugrah.


Yusuf pun membalas pelukan Anugrah, selayaknya Ayah memeluk sang anak.


" Sama-sama nak."

__ADS_1


Anugrah memang sudah berstatus sebagai siswa teladan di Mata Uli, jadi jangan heran bila banyak guru yang menyayangi termasuk salah satunya Kepala sekolah.


Detik selanjutnya Anugrah melepaskan pelukannya, dan beranjak pamit.


Langkah yang ia tuju kali ini adalah ruangan guru.


Ia ingin berpamitan pada para pengajarnya di Mata Uli, terutama Wali kelasnya untuk terakhir kalinya.


Kantor Guru.


Ceklek...


" Permisi Pak, Buk." Ucap Anugrah.


Para guru yang berada di ruangan itu menoleh ke arah Anugrah.


" Loh Anugrah, ada perlu apa nak kesini ? Tanya salah satu guru Anugrah.


Anugrah melangkah masuk, menghampiri para gurunya.


" Anugrah mau pamit buk untuk terakhir kalinya." Ucap Anugrah dengan gugup.


Para guru yang sudah mengetahui kepindahan Anugrahpun melangkah menghampirinya.


Anugrah menyalam satu persatu tangan gurunya untuk terkahir kalinya.


Anugrah tak menemukan Chessi sang wali kelas, dan salah satu guru favoritnya.


" Ibu Chessi kemana ya Buk ? Tanya Anugrah.


" Oh Ibu Chessi sedang ke Masjid Nak, sholat sunnah duha." Jawab salah satu gurunya.


" Oh kalau gitu Anugrah izin keluar ya Pak, Buk, selamat siang." Anugrah bergegas keluar, melangkah menuju Masjid, mencari sosok guru yang telah ia anggap seperti Ibunya.


.


.


.


Sesampai di Masjid, Anugrah memilih menunggu di teras masjid.


Ia membuka sepatunya, kemudian mendudukkan dirinya di lantai teras masjid.


Anugrah menatap lekat setiap sudut Masjid sekolahnya. Melihat murid-murid serta guru yang bergama Islam sedang khusuk melaksanakan sholat sunnah duha.


Senyum simpul Anugrah terbit, ada keteduhan yang ia dapatkan saat melihat mereka sholat.


Anugrah menyanggah dagunya, sikunya berada di atas kedua pahanya.


" Suatu saat nanti aku juga bakal ngerasain apa yang mereka lakuin." Ucapnya masih dengan menatap para jamaah sholat.


Tak lama kemudian." Anugrah." Panggilnya.


Anugrah menoleh kearahnya.


" Sanju." Ya, itu adalah Sanju.


Bukh... Sanju melayangkan bukunya ke lengan Anugrah..


" Aww, apa-apaan sih, San." Protes Anugrah tak terima Sanju memukulnya.


" Kamu tu yang kebangetan !! Mau main pindah aja." Sanju sudah mulai membendung air matanya.


Ekspresi muka Anugrah langsung datar, ia juga tak tau harus berkata apalagi.


Terjebak dalam ruang keterpaksaan membuatnya tak mampu berbuat apapun.


" Kamu maafin semua salah akukan ? Tanya Sanju dengan setetes air matanya.


Anugrah tersenyum pada Sanju." Kamu gak punya salah apapun, gak berhak minta maaf."


" Eh eh kok nangis sih !! Ini di Masjid loh San, kamu udah kayak bocil yang gak dikasih permen sama bapaknya aja." Ledek Anugrah.


" Kamu kan bapaknya." Jawab Sanju.


Anugrah terkekeh dengan Sanju yang masih saja menangis.


Keluarlah sosok guru yang Anugrah cari, pandangan langsung tertuju pada Anugrah.


" Anugrah." Anugrah menoleh, ia tau persis suara itu.


" Buk Chessi." Anugrah melangkah mendekatinya, meraih tangannya untuk menyalamnya.


Tanpa aba-aba Anugrah langsung memeluk Chessi.


" Ibu, bisakah ibu seret Anugrah dari ruang keperihan ini ?


Bisakah ibu tarik Anugrah dari jurang kesakitan ini ? Buk, Anugrah menyerah buk dengan keadaan." Anugrah terus melontarkan pertanyaan menyakitkan itu.


Sanju ikut terhanyut dengan pemandangan di depannya.


Chessi, wanita yang sudah berusia lima puluh satu tahun itu, mengusap kepala Anugrah.


" Nak, kalau saja ibu bisa tanpa kamu pinta ibu langsung menyeretmu nak, menarikmu dari replika neraka dunia itu nak...


Tapi apalah daya ibu tidak bisa melakukan apapun nak, ayahmu lebih berhak menentukan apapun untukmu..


Insya Allah ibu yakin di titik terendah ini adalah salah satu jalan untukmu menuju barometer kemenangan nak." Ucapnya pada Anugrah.


Anugrah tersenyum, terharu ada banyak manusia yang selalu berada di sisinya saat ia tengah tenggelam dalam lautan api.


" Gapai terus hidayah Allah nak, doa ibu selalu menyertaimu." Chessi salah satu guru yang mengetahui bahwa Anugrah tengah jatuh hati pada keyakinannya.


Anugrah melepaskan pelukannya." Terima kasih untuk segala ketulusan yang ibu berikan, Anugrah yang tampan, cerdas serta berwibawa tidak ada tandingannya izin melangkah keluar dari sekolah ini ya buk." Ucapnya dengan pedenya.


Sanju langsung melotot kedua matanya, begitu juga dengan Chessi terkekeh kecil melihat Anugrah si pede tingkat rubik.


" Dasar kepedean !! Ketus Sanju.


" Emang bener kok."


" Kanebo kering !! Ledeknya.


Petak... Anugrah menyentil kepala Sanju yang terlapisi jilbab.


" Ngomong sekali lagi aku nikahin kamu."


Jleb... Sanju mulai merasakan debaran di hatinya. Lidahnya tiba-tiba keluh untuk mengucap sesuatu.


Ia sedikit senang mendengar perkataan itu meski ia tau itu hanya candaan Anugrah.


" Kalian ini selalu saja berantem." Ucap Chessi menggelengkan kepalanya.


" Kalau begini terus entar ibu yang bakal nikahkan kalian."


" Eh gak deh buk, kasihan entar anak saya punya mamak galak kayak Sanju." Ledek Anugrah.


Sanju berdelik kesal." Ih, aku juga gak mau anak aku punya ayah sepede kamu." Sanju tak mau kalah.


" Terlalu tampan wajib memiliki tingkat kepedaan tinggi." Ucap Anugrah menyombongkan dirinya.


Sanju yang kesal dengan Anugrah, langsung melayangkan bukunya.


Bukhh.. Sayangnya buku yang dia lempar jatuh ke lantai.


" Gak kena Haha.." Anugrah berlari menjauhi kekesalan Sanju.

__ADS_1


Dan ya, Sanju juga ikut mengejar Anugrah.


Chessi terkekeh kecil melihat kedua tingkah muridnya itu." Hm, kalau yang dua ini selalu saja bertengkar tapi selalu juga kompak, entahlah." Chessi memutuskan pergi ke kantor guru.


Anugrah yang berlari dengan kencang membuat Sanju berada jauh dibelakangnya.


Tepat berada di rumah seni, memutar balik memory Anugrah mengenai pertemuan singkatnya dengan sosok gadis yang sangat menjaga mur'ahnya sebagai perempuan.


___


" Rumah Seni ? Inikah nama ruangannya ?


Tanya gadis itu.


" Ya, ruangan ini dipakai untuk keperluan seni." Jawab Anugrah yang membuat gadis itu memasang muka melasnya."


" Hei nona aku tau wajah ku ini sangat tampan, tapi tolong turunkan tatapan mata mu yang kelihatannya tertarik padaku."


" Hallo tampan katamu ? Kau ini bagaimana Tuan, apa kau tidak bisa melihat dirimu di kaca dengan benar ha ? Ohiya aku lupa, matamu itukan demensi ukurannya sangat kecil mana mungkin bisa melihat dengan jelas haha, bahkan kau sangat pantas di juluki China buta."


___


" Ha-ha, China butamu ini sekarang tengah berkabut Han."Anugrah tertawa mengingat moment saat Hana dengan kekesalannya menjuluki Anugrah dengan China buta.


" Hanani Syaufa terima kasih sudah mengantarkanku sejauh ini." Ucapnya mengingat gadis itu.


Kemudian Anugrah beralih menuju Perpustakaan, ia ingin mengunjungi tempat-tempat yang pernah Hana datangi bersamanya. Bernostalgia dengan harapan yang telah lenyap bersama kenangan.


Perpustakaan SMA N 1 Mata Uli.


Anugrah menatap gedung perpustakaan dengan seulas senyuman.


__


" Ya Allah lindungilah aku dari makhluk akstral China buta yang kasat mata dihadapanku ini ya Allah."


__


Ucapan gadis itu masih terekam jelas dalam memory Anugrah." China buta, dasar Hana gadis unik."


Anugrah kembali melangkah dengan langkah penuh arti, sembari menarik ulur nafasnya untuk merilekskan pikirannya.


Ia memandang langit yang cerah, seolah-olah sedang menyapanya." Hallo langit, bahagia selalu ya !! Ucapnya.


Anugrah terus melangkah, kali ini tempat yang ia injak adalah Kantin di mana saat itu Rombongan Study Banding sekolah dari Sekolah Hana tengah melaksanakan makan siang bersama.


___


Plakk.. Satu tamparan mendarat di wajah Anugrah.


" Beraninya kau menyentuhku ! *Apa kau tidak punya malu ? Apa kau tidak tau tidak diperbolehkan menyentuh seseorang yang bukan halal untukmu !!


Apa kau tau dosanya sebesar apa ha ?


" Asal kau tau menyentuh bara api yang membara jauh lebih baik untukku daripada menyentuh yang bukan halal untukku*."


___


Anugrah terniang-niang dengan perkataan yang terlontar dari Hana saat itu yang membuat Anugrah mati kutu melihat kemurkaan Hana.


" Hahaha tamparan cinta." Ucapnya asal.


Anugrah kemudian melanjutkan kembali nostalgianya.


Ya, danau teratai tempat tujuannya kali ini.


Tak butuh waktu lama, Anugrah tiba di danau.


Pandangannya mengedar ke arah teratai merah muda yang tengah mengambang mekar di danau.


Pikirannya kembali melayang pada kenangannya dengan gadis bernama Hana itu.


___


" Maaf kalau untuk berteman aku tidak bisa.


Kalau kacamata dalam memandang Tuhan saja kita berbeda, bagaimana mungkin kita berteman ? Dan sejauh ini aku sudah terbiasa tidak memiliki teman nonmuslim."


" Ya dalam Islam dianjurkan untuk toleransi, tapi ini hanya dalam konsep pertemananku tidak ada sangkut pautnya dengan agamaku.


Jika kau ingin menjadi temanku islamkan dulu dirimu."


___


Mengingat perkataan Hana yang menyakitkan itu membuat dada Anugrah mulai sesak, bagai terhantam besi panas.


Tak ada senyuman yang timbul di wajahnya, melainkan senduh.


Anugrah tertunduk di tepi danau, dengan tatapan yang kosong, Anugrah meremas baju bagian dadanya yang menahan sakit.


" Kalau waktu bisa di putar kembali, aku juga ingin berdoa dengan menangadahkan tangan, aku juga ingin berjalan menuju Masjid saat adzan berkumandang." Ucapnya lirih menatap danau.


" Aku masih bertahan sejauh ini, dan aku harap sampai seterusnya."


Dari kejauhan ada sosok gadis yang melihat Anugrah tengah menatap lekat danau yang mengemas rapi sebuah kenangan kepunyaan Anugrah.


Ia tersenyum simpul." Aku tau Anugrah, hatimu memang sudah tertaut dengan Hana bahkan sangat sulit untuk melepaskan bautnya." Sanju melangkah menghampiri Anugrah.


.


.


" Nug !! Panggilnya.


Anugrah mendengar suara Sanju refleks menata kembali matanya agar tidak terlihat sedang berkabut.


" Sanju, kenapa kemari ? Tanyanya.


" Kamu gak mau pamit ke anak-anak ? Tanya Sanju balik.


" Ah iya kamu benar, yaudah ke kelas yuk temani aku buat pamitan sama yang lain." Ajaknya beranjak pergi dari danau.


Sanjupun mengikuti langkah Anugrah, berusaha mengimbangi langkahnya.


" Cie yang lagi bernostalgia." Ucap Sanju.


Anugrah tersenyum." Gak ah." Jawabnya singkat.


Sanju mengerut heran." Lah, terus ? Tanya.


Anugrah tersenyum lebih lebar." lagi Travelinglah." Jawabnya.


" Ha ? Ke danau traveling ?


Ngaco deh kamu !! Sanju merasa bingung dengan Anugrah.


" Rumah seni, perpustakaan, Kantin dan danau." Jawaban Anugrah membuat Sanju malas untuk meladeninya.


Sanju pun tidak menghiraukan lagi jawaban konyol Anugrah.


Melangkah meninggalkannya.


" Ets jangan salah !! Aku belum selesai ngomong !! Itu semua tempat banyak kenangan nya..." Ucap Anugrah berhasil membuat Sanju sadar semua tempat itu adalah tempat yang pernah Anugrah dan Hana datangin.


" Traveling terbaik adalah bernostalgia dengan kisah yang sudah berstatus kenangan." Sambung Anugrah sembari melambaikan tangannya.


Bersambung.....

__ADS_1


Sevimli 23 Desember 2020


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2