
" Setiap wanita memiliki porsi kemuliaannya masing-masing."
....." Pelangi Hanani 🌹".....
Seusai Hana dan keluarganya makan malam.
Hana pun bergegas berangkat ke stasiun bus.
Untuk menunggu bus rute Rantau Prapat-Medan.
Kali ini Hana di temani oleh keluarga kecilnya yang lengkap personilnya.
Ini untuk kedua kalinya mereka melepaskan gadis keras kepala ini untuk pergi ke luar negeri, bahkan sejauh Mesir.
" Han.
Jaga diri baik-baik disana, ya nak." ucap ibunya sedikit lirih, yang tak kuasa melepaskan putrinya pergi jauh.
Hana mengangguk, kemudian menangkup wajah ibunya dengan kedua tangannya.
" Ibu jangan khawatir ya.
Putri ibu ini selalu di jaga oleh pengawal yang tidak tertandingi, bu." ujar Hana." Ya, malaikat Atid dan Roqib kan selalu jagain Hana setiap detik bahkan." lanjut Hana dengan tawa kecilnya.
Ibunya tersenyum,memeluk putrinya.
" Putri ibu ternyata sudah dewasa, ya."
" Hm, masa Hana mau kecil mulu hehe." ucap Hana membalas pelukan ibunya.
Tameer dan Rahmet pun tersenyum seraya ikut perlukan dengan mereka.
Mengundang air mata diantara kedua kelopak mata Hana. Ia mengeratkan pelukannya.
" Ibu, bapak maafin Hana ya selama ini banyak salah sama ibu dan bapak." buliran-buliran hangat menemani ucapan Hana.
" Kamu gak punya salah sama bapak, dan ibu.
Kamu putri bapak yang baik dan Sholehah.
Selalu membantu sesama, bapak bangga sama kamu yang sudah berani berjuang untuk menegakkan kebenaran di negeri orang." Tameer mengelus lembut pucuk kepala putrinya.
Begitu juga Rahmet ikut meneteskan air matanya, entahlah, entah air mata apa ini ?
Mereka berempat hanyut dalam kehangatan, saling meluapkan segalanya. Bahagia, suka, duka berpadu menjadi satu.
Tinnn....tinnn
Sampai terdengarlah suara Klekson dari bus ALS.
Ibu Hana, Rahmet dan Tameer melepaskan pelukannya. Dan mengangguk pada Hana, seolah berkata ini saatnya kamu berangkat.
Hana meraih tangan Tameer, menyalim nya.
" Jaga kesehatan bapak, jangan lupa rutin berobat pak." ujarnya. Kemudian bergantian pada ibunya.
Si bungsu Rahmet pun menyalim tangan kakaknya.
Seusainya.
Hana pun melangkahkan kakinya, menuju bus.
Meski, berat.
Meski sulit, tapi ia harus melakukannya.
" Empat tahun bukanlah waktu yang cepat, nak.
Ibu pernah berpisah denganmu selama tiga tahun, kau baru saja pulang ke rumah tidak sampai seminggu dan kini kau harus pergi lagi ?
Sesingkat ini kah kita melepaskan rindu ?"
lirih ibu Hana.
Membuat Hana tak dapat menahan kuasanya.
" Ibuuu." rengek Hana yang kembali menghamburkan dirinya dalam pelukan ibunya.
Air mata keduanya kembali menetes, membasahi pipi.
Benar saja, hati ibu mana yang tak merindu ?
Berpisah selama tiga tahun, dan harus berpisah kembali lagi selama empat tahun.
Keduanya hanyut dalam kehangatan, tak peduli lagi dengan sekitarnya.
" Nak.
Kali ini, celengan rindu ibu jauh lebih besar dari sebelumnya. Ibu akan sangat-sangat merindu." ucap ibunya dengan senyuman.
Hana melepaskan pelukannya, dan beralih menyentuh pipi ibunya, menghapus air mata yang menetes disana.
" Setelah empat tahun, Hana yang akan memecahkan celengan ibu hehe."
Tinn...tinnn
Tiba-tiba saja.
Sang supir pun menghidupkan Kleksonnya.
Sentak membuat mereka menoleh ke arah bus.
" Ini jadi naik gak bang ?" tanya kerneknya.
" Ah, jadi dek." jawab Tameer.
" Han, berangkatlah nak." ujar Tameer.
Hana pun mengangguk.
Kali ini, ia benar-benar harus pergi.
Ia menarik nafasnya panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.
" Hana pergi pak, buk.
Rahmet, assalamu'alaikum." pamit Hana.
" Waalaikumussalam.
Jaga diri baik-baik disana, Hana." teriak Tameer.
Sementara istrinya tak kuasa menahan tangis, kini menumpahkan tangisannya di pundak Tameer.
" Kakak titip bapak sama ibu, Met." kata Hana dari cendela bus, seraya melambaikan tangannya.
Rahmet mengangguk seraya mengembangkan senyumnya.
" Teruslah berjuang, Kak.
Kami selalu menantikan kedatangan mu kembali." sahut Rahmet.
Bus semakin laju berjalan, membuat Hana semakin tak terlihat oleh mereka.
Tameer pun mengajak istri dan putranya kembali ke rumah, setelah mengantarkan kepergian putrinya.
Hana yang berada di dalam bus, tak dapat menahan air matanya untuk tidak terjatuh.
Ia menangis dalam diamnya, beruntung malam ini penumpang bus tidak terlalu padat.
Bahkan Hana duduk sendirian, membuatnya lebih leluasa untuk menangis.
" Maafin Hana, buk, pak." lirihnya.
Hana menyerka air matanya, dan menggunakan jari jemarinya untuk berdzikir, agar senantiasa pemilik hatinya membuat hatinya yang bersedih sedikit tenang.
Ya, bukankah hanya dengan mengingat Allah hati akan tenang ?
" Subhanallah...
Subhanallah...
Subhanallah...
Seusai berdzikir hati Hana kini, semakin tenang.
Untuk lebih rileks lagi.
Hana pun memasang aerphonnya, untuk mendengarkan murattal, hitung-hitung muraja'ah hafalannya.
__ADS_1
...🍂🍂🍂...
Canada
Di bangku taman asrama.
Ada sosok pria bermata sipit yang sibuk dengan bukunya. Ya, buku itu sudah hampir selesai ia baca.
Di bawa pohon rindang, terpaan angin kecil pun berhembus begitu merdu. Membuatnya semakin nyaman membaca buku itu.
" Nug !"
Suara perempuan memanggil pria itu.
Anugrah tau pemilik suara itu, ia enggan menoleh. Matanya tetap fokus pada bukunya.
" Ada apa, Len ?" tanya Anugrah tanpa mengalihkan pandangannya.
Alena pun memilih duduk disebelahnya.
Melihat Anugrah fokus dengan buku itu, Alena pun menunduk untuk melihat cover buku.
Buku apa sih yang dibaca Anugrah ? Pikirnya.
" Mengenal tasawuf." judul bukunya.
Hm, Alena tidak terkejut.
Sebab, ini bukan pertama kalinya atau bahkan kedua kalinya ia melihat Anugrah membaca buku islami.
" Hebat banget ya, wanita muslimah itu." ujar Alena.
Kening Anugrah berkerut, wanita muslimah mana yang dimaksud Alena ? tanda tanya di kepalanya.
" Bisa ngebuat hati kamu sejatuh itu ke Islam." sambung Alena.
Kini, Anugrah tau wanita muslimah yang dimaksud Alena.
" Hanani Syaufa, namanya." ucapnya.
Alena menoleh ke Anugrah, tersenyum simpul menatapnya.
" Apa yang membuat kamu jatuh hati padanya, Nug ?"
" Matanya ? Wajahnya ?
Atau Segala fisik yang melekat pada dirinya." cercah Alena.
Anugrah menutup bukunya, kemudian memandang ke pohon rindang, yang daunnya sedang bergoyang tersepoi angin.
"Dia memang cantik, matanya indah, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, dan senyumannya begitu menawan, mampu menjadi penawar luka bagi siapapun yang melihatnya." Anugrah membayangkan sosok wanita yang ia ceritakan.
"Ya, cinta pada pandangan pertama, bukan? Bukan kah sudah pasti itu karena fisik?
Namun, setelah aku merenunginya kembali, jika aku mencintainya karena semua itu. Kisah Imam Hasan Al Basri yang mencintai seorang gadis, yang akhirnya gadis itu rela mencongkel bola matanya hanya karena cinta Hasan Al Basri padanya, maka akan terulang kembali kisah yang sama. Dan aku tidak mau apa yang terjadi dengan gadis itu, terjadi pada Hana."
"Oleh karenanya, bukan itu yang membuatku jatuh cinta padanya sampai detik ini, melainkan ketaatannya pada agamanya, cara ia menjaga mura'ahnya, betapa wara' dirinya, tutur katanya, dan masih banyak lagi kebaikan yang melekat pada dirinya yang mampu membuat hatiku mampu terjatuh terlalu dalam padanya, bahkan sangat sulit untuk bisa berpaling ke hati yang lain." ungkap Anugrah, dengan senyumannya.
Membuat Alena terdiam membisu di tempat.
Benar saja, dari ungkapan itu.
Alena memahami sesempurna apa seorang Hanani sampai membuat Anugrah mencintai Hanani sedalam ini.
"Sesempurna itu ternyata sosok Hanani?"
"Letak kesempurnaan wanita ialah di muru'ah nya, ya harga dirinya." imbuh Anugrah yang beranjak berdiri dari bangku.
" Hm, benar."
"Apakah aku juga termasuk wanita yang berharga itu?" Alena ikut berdiri di belakang Anugrah, menunggu jawaban keluar dari mulut pria itu.
Anugrah mengangguk, dan kini menoleh untuk menatap Alena
" Ya, semua wanita memiliki porsi kemuliaannya masing-masing, Len."
Alena tersenyum kecut memandang Anugrah yang juga menatapnya.
" Dan porsi kemuliaanku tak dapat membuat hatimu terjatuh padaku?" tanya Alena dengan senyuman, meski ia tau jawabannya.
Anugrah diam tak bergeming sama sekali, ia tau bahwa Alena menyukai dirinya sejak dulu.
Namun, perasaan itu datang tanpa di pinta dan tidak akan pernah ada jikalau terpaksa.
Anugrah tersenyum, dan mengelus pelan pucuk kepala Alena.
" Porsi kemuliaanmu akan dapat membuat hati pria yang jauh lebih baik dari aku terjatuh padamu,Len." kata Anugrah.
Alena yang mendengar perkataan Anugrah, mengembangkan senyum simpulnya.
Sudah mengetahui akan merasakan sakitnya, mencintai sebelah pihak.
Ia hanya mengangguk kemudian beranjak pergi meninggalkan Anugrah.
Anugrah yang ditinggal Anugrah hanya bisa menatap punggung wanita yang mencintainya itu tapi tidak ia cintai.
" Maafkan aku, Len." ucapnya.
.
.
.
Kilau mentari sudah menyuruak ke permukaan bumi. Membuat para penduduk bumi, sudah sibuk beraktivitas.
Ya, pagi-pagi sekali.
Hana sudah stay di Kualanamu, internasional port. Dengan tangan kanan yang menyeret koper, dan dengan tas selempang disebelah punggung kanannya.
" Setengah jam lagi berangkat." Hana melirik jam di ponselnya.
" Bismillah." ucapnya melangkah menuju terminal keberangkatan.
Selang beberapa menit Hana duduk di bangku tunggu. Akhirnya, info jadwal penerbangan rute Medan-Kuala Lumpur tergema ke seluruh sudut bandara.
Hana menutup ponselnya, dan memasukkannya ke dalam sakunya. Kemudian ia beranjak pergi menuju pesawat yang akan ia tumpangi.
Setelah penumpang sudah berada di bangku masing-masing dan merasa nyaman.
Pesawat pun terbang menuju ke tempat tujuan.
Hana memilih untuk membaca novelnya untuk menemaninya agar rasa bosan tidak menghigapinya.
Ttrrrt.....ponsel Hana bergetar.
Membuatnya menghentikan aktivitas membacanya.
" Ranti sepupuku." terterah sedang melakukan panggilan padanya.
Hana menggeser tombol hijau, menerima panggilannya.
" Hallo Hana.
Kamu udah ada dimana ?
Kabarin aku gak pake ngeleg !
Biar aku jemput ni, kamu baik-baik aja kan ? Jangan bilang kamu ada sesuatu !' oceh Ranti di balik telpon.
Hana terkekeh kecil melihat sepupunya ini.
" Assalamu'alaikum dulu kali." cibirnya.
" Hehe waalaikumussalam.
Kebla-blasan."
" Hm, iya aku udah di pesawat.
Sekitar setengah jam lagi sampai di Kuala lumpur." jawab Hana.
" Oke-oke, aku bakalan jemput kamu dari sekarang.
Biar entar gak telat, soalnya jarak dari sini ke Bandara bukannya dekat."
" Hm, makasih ya." ucap Hana.
" Iya, sama-sama.
__ADS_1
Udah dulu ya, biar aku on the way ni.
Bye, assalamu'alaikum." pamit Ranti.
" Iya, hati-hati.
Waalaikumussalam." jawab Hana mengakhiri panggilan.
Hana bersyukur memiliki sepupu sekaligus sahabat secare itu padanya. Bahkan Ranti kerap kali menjadi orang yang paling pertama ada disaat Hana terluka.
Meski, Ranti bar-barnya gak ketulungan.
Cerewetnya tingkat high quality sifat penyayang nya, pedulinya membuat siapa pun nyaman berada didekatnya.
Pesawat mendarat di bandara KUL.
Hana keluar dari pesawat, melangkah mencari sosok Ranti yang katanya akan menjemputnya.
Dan ya, benar saja.
Tak jauh dari tempat Hana berdiri sosok Ranti melambaikan tangan padanya.
" Ranti." setelah itu Hana di buat kaget oleh sosok pria yang berdiri di sebelah Ranti.
" Arga." ya, siapa lagi kalau bukan dia.
Tanpa sengaja, Arga melihat Ranti yang buru-buru mengeluarkan motor Scoopy dari garasi rumahnya.
Tidak biasanya, Ranti pergi sepagi ini ? pikirnya.
Karena penasaran ia pun menghampiri Ranti dan bertanya, setelah mendapatkan jawaban bahwa Ranti ingin menjemput Hana.
Arga pun memutuskan untuk ikut dengan Ranti dan mengajak Ranti untuk ikut bersamanya naik mobilnya.
Mereka berdua menghampiri Hana, begitu juga Hana ikut memangkas jarak diantara mereka.
" Hana, aku rindu banget sama kamu." ucap Ranti langsung memeluk Hana.
Hana pun serupa membalas pelukan Ranti, lebih erat.
" Telingaku juga rindu dengerin omelan kamu, ni."
Ucapan Hana mengundang tawa mereka.
" Wellcome kembali di Malaysia.
Hanani Syaufa." ujar Arga.
Membuat Hana tersenyum dibalik pelukan Ranti.
" Boleh ikutan meluk gak, ni ? goda Arga.
" Gak ! sergah keduanya.
Hahaha tawa Arga terdengar nyaring di gedung bandara, membuat Hana dan Ranti melepaskan pelukannya.
" Pelukan aja tu sama tiang ! ketus Ranti dan mengajak Hana pergi keluar Bandara.
" Buruan kita balik, Han.
Lama-lama disini juga, buat apaan." kata Ranti, Hana pun menyetujui ajakan Ranti.
Mereka pergi meninggalkan pria yang masih tertawa sendirian itu.
" Hey main tinggal aja !
Lupa kali ya, yang punya mobil gua juga." Arga pun menyusul mereka berdua.
Ranti dan Hana yang sudah tiba di parkiran baru menyadari bahwa pemilik mobil yang akan mengantarkan mereka pulang adalah pria yang menyebalkan itu.
" Lah, baru ingat Han.
Kalau aku kesini tadi bareng sama Arga naik mobilnya." kata Ranti.
" Hm, yaudah deh kita nunggu dia aja."
" Ha ha ! Sok mau ninggalin gue.
Gak nyadar apa gua yang punya mobil ? cetus Arga.
Hana dan Ranti bergedik kesal mendengar perkataan Arga." Sombong ! serentak mereka.
" Udah buruan minggir ! Gua mau balik." membuka pintu mobilnya, kemudian menghidupkan mesin mobilnya.
Hana dan Ranti pun meraih kenop pintu mobil bagian belakang. Namun sayang, tak kunjung terbuka juga.
" Woy !
Lo ngunci dari dalam ya ? tanya Ranti pada Arga.
Dengan tampang sok Coolnya Arga
mengangguk seraya memainkan alis matanya.
" Sorry ya, mobil gua gak bisa ngangkut cewek bar-bar kayak kalian." ucap Arga.
Itukan !
Arga mulai ngeselin.
Ishhh... Hana dan Ranti berdecak sebal.
Bughh.. tanpa sungkan Ranti pun melayangkan tendangannya pada mobil Arga.
" Woy ! Lecet mobil gua." protes Arga tidak terima dengan aksi bar-bar Ranti.
" Makan tu mobil ! kesalnya.
" Ran !
Udah ah jangan emosi.
Sabar aja, ya. Kita bisa naik taxi kok." Hana mencoba menenangkan Ranti.
Hana pun menarik lengan Ranti untuk menjauh dari mobil Arga. Sementara Arga tersenyum penuh kemenangan, merasa senang membuat kesal kedua gadis yang mulai menjauh dari mobilnya.
" Paling cocok emang jadi psychopat." Arga menggelengkan kepalanya.
" Bisa-bisanya Rayhan si bobrok suka sama cewek sebar-bar lo, Ran.
Mungkin kalau kalian berjodoh, bakalan patah-patah tu punggung lo Ray, dibuat cewek sebar-bar Ranti Hahah.
Sentuh sedikit, udah kena smack down jadi hot spicy kidukidu ya." ucap Arga membayangkan Ranti dan Rayhan di masa depan.
Tiga detik kemudian, tawa Arga mereda.
Menyadari sesuatu.
" Tapi, kayaknya Hana juga gak kalah bar-bar, kalau gua nikahin dia.
Gua juga bakalan kena gelindingin terus tu tiap hari. Bisa-bisa remuk badan gua semua." Arga bergidik ngeri.
" Eh tapi gak apa-apa.
Kalau gelud tiap hari kan, bisa makin cinta hahah."
Arga pun memasuki mobilnya dan melajukannya menyusul kedua gadis yang sedang kesal dengannya itu.
Entah setan apa yang merasuki pikiran Arga.
Sampai-sampai dia bisa memikirkan hal sejauh itu. Args pohon pisang, hm.
Kebanyakan minum obat, kali bang Arga makanya gitu hehe
Bersambung..
Hai Author mau nanya dong.
Cerita gimana sih ? Seru ga ? Atau Ngebosenin ?
Teamnya Arga Markono mana ni ?
Teamnya Anugrah Santoso juga mana ni ?
Koment di bawah ya, apa aja sih yang kalian rasakan setelah membaca Novelku ini.
Ada pelajaran yang bisa dipetik ga sih ?
Sevimli 26 June 2021
__ADS_1
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa like and Votenya ya :)