Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 117 Melarikan diri


__ADS_3

Jangan lupa like and Votenya.


Ohiya aku mau ngomong ni, kalau karya baruku udah terbit di Noveltoon judulnya Selaksa Rasa.


Jangan lupa mampir dan baca ya 🤗


" Senantiasa Allah menguatkan lagi derana kita, mengkencangkan lagi ketegaran dalam diri, dan juga menderaskan lagi keikhlasan dalam diri kita."


....." Pelangi Hanani 🌹".....


Terik mentari menyeruak masuk dari celah jendela. Menyebabkan kesilauan mata.


Sang dosen pun menutup kelas hari ini, dengan mengucapkan salam.


" Assalamu'alaikum.."


" Waalaikumussalam." jawaban serentak dari para mahasiswa.


Hana pun mengemasi barang-barang ke dalam tasnya. Dan segera melangkah keluar dari kelas.


Ya, kemana lagi kalau bukan ke Qars El Nil.


Hana memilih menempuhnya dengan berjalan kaki, siapa tau dijalan bertemu dengan gadis misterius itu.


Didepan sana, Hana melihat ada sesuatu yang mengganjal. Ya, ada perempuan yang bersembunyi dibalik tong sampah.


" Mbak itu mau ngapain ya ?


Karena penasaran, Hana pun melangkah menghampirinya.


" Mbak ! panggil Hana.


Perempuan itupun terkejut saat Hana berada disebelahnya.


" Kamu ! pekiknya terkejut.


" Mbak." hal yang sama terjadi pada Hana.


Ya, perempuan itu adalah gadis misterius yang tengah Hana cari.


" Dimana dia ? tiba-tiba dua pria tegap datang.


Dengan cepat, gadis itu menarik tangan Hana untuk bersembunyi.


" S**uttt ! ujarnya pada Hana.


Namun sayang, tanpa sengaja gadis itu memijat ranting kayu yang berada didekatnya.


Krakk.. menghasilkan bunyi renyah.


Dua pria tegap itupun tersenyum, mengetahui bahwa gadis yang mereka cari sedang bersembunyi dibalik tong.


Hana dan gadis itupun sedikit ketakutan.


Khawatir mereka akan tertangkap basah.


Hahaha... terdengar tawa renyah dari mereka.


" Ternyata kau bersembunyi disini."


Pria itupun mengangkat tong sampah yang menutupi kedua gadis yang sedang bersembunyi itu.


" Kau mau lari kemana ? kata pria tegap itu pada gadis itu.


" Siapa kalian ? teriak Hana dengan lantang.


Teriakan Hana membuat kedua pria itu menoleh padanya. Senyum angkuhpun terbit diwajah mereka.


" Hei anak kecil !


Beraninya kau berteriak !


Salah satu dari mereka hendak menyentuh Hana, namun dengan cepat Hana melayangkan tendangannya.


Bughh...


" Jangan pernah berani menyentuhku ! teriak Hana padanya.


Pria tegap itupun terkejut sekaligus kesakitan mendapatkan tendangan keras tepat diperutnya.


Gadis misterius itu menatap Hana, tak percaya bahwa tendangan Hana mampu memberikan rasa sakit pada pria itu.


Melihat kawannya kesakitan, pria tegap satu lagi pun menyerang Hana.


Dengan cepat Hana menghindari pukulannya.


Dan gantian memberikan tendangan bebasnya tepat diperut pria itu.


Bugghh..


" Enakkan om ? ledek Hana.


Pria yang kesakitan tadi, bangkit kembali untuk menyerang Hana.


Sejenak keduanya terlibat pertengkaran yang hebat. Beruntung Hana berkali-kali bisa menghindari pukulan yang diberikannya.


Gadis misterius itupun takut Hana akan terkena pukulan dari keduanya. Dengan cepat iapun menarik tangan Hana untuk menjauh dari kedua pria itu.


" Sebaiknya kita pergi ketempat keramaian." ucapnya seraya menarik tangan Hana membawanya lari bersamanya.


" Tapi mbak..


" Udah, mereka itu terlalu kuat untuk dihadapi."


Hana pun mengangguk mengikuti gadis misterius ini.


" Hei mau lari kemana kalian ? teriak pria itu.


Kedua pria itupun mengejar Hana dan gadis itu.


Hana dan gadis itu terus berlari sekuat mungkin mencari tempat yang aman dari kedua pria frontal itu.


Masjid Amru bin Ash.


Terlintas dibenak Hana.


" Mbak kita ke Masjid aja, biar aman." ujarnya pada gadis itu.


Gadis itu menggeleng cepat, tidak setuju.


" Saya tidak pakai jilbab." alasannya.


" Tapi mba--


" Kamu ikuti saya saja ! potongnya.


Mereka berduapun terus berlari, entah kemana tujuan pastinya. Hana hanya bisa terdiam mengikuti gadis misterius ini.

__ADS_1


Hana menoleh kebelakang, kedua pria itu masih saja mengejar mereka.


Sampai akhirnya, gadis itu melihat keramaian tidak jauh didepan sana.


" Kita kesana aja." ujarnya.


Hana pun mengangguk, seraya melangkah menuju yang dimaksud gadis ini.


Ternyata ada sebuah pertunjukan musik yang sedang berlangsung disini.


Keduanya pun menerobos keramaian, berdiri ditengah-tengah keramaian tersebut.


" Excuse me ! ucapnya membelah keramaian.


Gadis misterius itu yakin bahwa dengan posisi seperti ini. Akan sedikit menyulitkan kedua pria itu menangkap mereka.


Benar saja, kedua pria itu belum kunjung melihat mereka.


" Kemana larinya gadis itu ?


Kedua pria itupun, terus memperhatikan sekitar mencari keberadaan Hana dan gadis itu.


" Tunduk ! ujar gadis itu pada Hana.


Hana pun menundukkan kepalanya.


Agar tidak terlihat oleh mereka.


Cukup lama Hana dan gadis misterius ini menundukkan kepalanya, membuat Hana kepala Hana cukup pegal.


" Bisa patah lama-lama leherku kalau terus seperti ini." keluh Hana dalam hati.


" Sial !!


" Ayo kita pergi dari sini.


Mereka tidak ada disini."


Kedua pria itupun pergi dari sini, berlari meninggalkan keramaian ini.


Gadis misterius itupun, mencuri-curi pandang.


Memastikan kedua pria itu pergi, barulah mengangkat kepalanya.


Hahhh... hembusan nafas leganya.


" Mereka sudah pergi." katanya pada Hana.


" Alhamdulillah." ucap Hana lega.


Keduanya pun menatap satu sama lain, dan tanpa sadar keduanya saling melemparkan senyuman.


" Mbak kita duduk disitu aja, yuk ! ujar Hana melihat ada bangku kosong ditepian sungai Nil.


Gadis misterius itupun mengangguk, mengikuti ajakan Hana.


Sejenak, keduanya terdiam.


Tak ada obrolan satu sama lain.


Bukan saling canggung, melainkan bingung harus memulai percakapan darimana.


Gadis itu tersenyum hambar menatap gemuruh air sungai yang mengalir tenang.


Sementara Hana menatapnya dengan penuh tanda tanya.


" Mmm, mbak ! panggil Hana.


" Iya." jawab gadis itu tanpa menoleh.


" Kenapa mbak dikejar sama para pria itu ?


Emang mbak punya salah apa ke mereka ?


tanya Hana hati-hati.


Gadis itupun menoleh pada Hana.


" Saya tahanan mereka.


Sudah sepantasnya mereka mengejar saya." jawabnya singkat.


Kening Hana berkerut semakin bingung dibuat oleh jawaban gadis ini.


" Tahanan ?


Kesalahan apa yang mbak perbuat sampai menjadi tahanan mereka ? tanya Hana penasaran.


Gadis itu tersenyum simpul.


" Melarikan diri dari mereka.


Ya, tahanan yang sedang melarikan diri, lebih tepatnya buronan." jawabnya.


Hana semakin tidak mengerti dengan jawaban konyol gadis ini. Bukannya memberikan jawaban yang pasti justru ia mala memberikan teka-teki pada Hana.


Tanpa menahan diri lagi, Hana pun memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu hal yang penting pada gadis ini.


" Saya minta maaf sebelumnya, mbak." ujar Hana sebelum bertanya.


" Untuk apa ? gadis itu menoleh pada Hana.


" Ada pertanyaan sensitif yang ingin saya tanyakan pada mbak." ungkap Hana serius.


" Silahkan !


" Apa benar mbak ini seorang wanita yang melarikan diri dari Trixtal Bar ? tanya Hana dengan berani.


Sesaat gadis itu terkejut mendengar pertanyaan dari Hana, namun detik selanjutnya ia tersenyum. Dan menganggukkan kepalanya.


" Benar.


Aku ini seorang wanita penghibur di Trixtal Bar." jawabnya.


" Astaghfirullah." pekik Hana terkejut.


" Kenapa ?


Aku kotorkan ? Hinakan ? ucapnya pada Hana.


Dengan cepat Hana menggelengkan kepalanya tidak membenarkan pernyataan gadis ini.


" Gak mbak.


Gak satupun wanita didunia ini, wanita kotor dan hina, semua wanita itu mulia mbak.


Kita ini berharga, bahkan Islam sangat mengangkat martabat kita sebagai wanita, mbak. Mbak jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi mbak." Hana mencoba memberikan pemahaman pada gadis malang ini.

__ADS_1


" Kau bisa berkata seperti karena kau tidak mengalami hal yang serupa sepertiku ! cetusnya.


Hanapun mendekatinya dan menggenggam tangannya." Mbak ! Saya yakin ada sesuatu hal yang menyebabkan mbak terjerumus ke dalam lembah kelam itu."


Gadis itu menepis tangan Hana.


" Sudahlah.


Biarkan ini menjadi urusanku, kau tidak perlu terlibat terlalu jauh ! tekannya pada Hana.


" Gak mbak !


Mbak harus keluar dari Trixtal Bar." Hana tetap bersikeras.


" Sudah kubilang pergilah ! gadis itu beranjak dari duduknya. Dan melangkah menjauhi Hana.


" Jangan sok jadi pahlawan untukku !


Tak satupun manusia yang bisa selamat dari pria brengsek itu." teriaknya pada Hana.


Hana terperanjat mendapat teriakan darinya.


Detik selanjutnya, gadis itu terkulai lemah dilantai taman. Bulir-buliran kristal keluar dari sudut matanya.


" Siapapun yang melarikan diri darinya.


Siapapun yang mencoba pergi dari Trixtal Bar, maka the end of story, she died." lirihnya diantara derai air matanya.


Hana terdiam ditempat.


Merasakan sakit didadanya, saat melihat gadis itu terkulai lemah dilantai taman.


Hana memang tak pernah merasakan sakit yang sama dengan gadis ini, akan tetapi ia cukup mengerti bagaimana rasa sakit yang sedang mengguncang dirinya.


Dengan perlahan Hanapun mendekatinya.


Ikut duduk disebelahnya.


Gadis itu menenggelamkan wajahnya dikedua sisi lututnya. Menumpahkan segala isak tangisnya. Tak menghiraukan banyak pasang mata yang melihatnya terpuruk seperti ini.


Sudah terlalu banyak kepedihan yang berkecamuk dihatinya. Terlalu banyak luka yang membiram, bahkan sudah tak terhitung lagi berapa banyak rintihan pilu yang ia pendam sendirian.


" Pergilah !


Tinggalkan aku sendiri ! titahnya pada Hana.


Namun Hana enggan menurutinya.


Ia memilih tetap duduk disebelahnya.


Hana menatap intens gadis senduh itu, membiarkannya sampai ia tenang.


" Ya Allah, kuatkan derana gadis ini.


Kencangkan ketegaran dalam dirinya. Dan deraskan lagi keikhlasan dalam dirinya." pinta Hana dalam hati.


Cukup lama gadis itu menangis, sekitar lima belas menit barulah ia mengangkat kepalanya dan menoleh pada Hana.


" Kenapa kau masih disini ? tanyanya seraya menyerka air matanya.


" Karena mbak membutuhkan seseorang disaat seperti ini." jawab Hana dengan senyumannya.


" Aku tidak butuh siapapun ! ketusnya.


" Mbak memang tidak butuh manusia, tapi mbak butuh Allah disisi mbak." kata Hana.


Sudut bibir gadis itu tertarik sebelah, membentuk senyum sungging.


" Aku tidak butuh Dia ! sergahnya.


" Astaghfirullah, mbak.


Sampai kapan mbak akan membenciNya ?


Mau sampai kapan mbak terus menerus memaki takdir ? Melabelisasi Tuhan tidak adil hanya karena kehidupan yang mbak jalani tidak sesuai dengan keinginan mbak ?


Perkataan yang terucap dari mulut Hana.


Semakin membuat wajah gadis ini merah padam, menahan amarah.


" Diamlah !


Kau tidak tau apapun atas apa yang kualami !


Semua orang di dunia ini sama.


Sama-sama bejat ! Sama-sama BRENGSEK ! teriaknya keras pada Hana.


Ia berlari meninggalkan Hana yang masih terdiam menatap punggungnya.


Ingin sekali Hana menarik tangannya, akan tetapi entah kenapa, kali ini tangan Hana kaku untuk digerakkan. Bahkan kata-kata yang ingin ia ucapkan tercekat ditenggorokan. Matanya tengah membendung cairan hangat.


Perlahan punggung gadis itu sudah tak terlihat oleh Hana. Hanya dalam satu kedipan air mata Hana lolos dari matanya.


" Mbak !


Kamu kuat mbak ! barulah Hana bersuara.


Air mata Hana terus mengalir sampai membasahi jilbabnya. Meski tak memiliki hubungan darah dengan gadis itu, tetap saja Hana merasakan hatinya remuk melihat gadis itu.


Ia yakin bahwa Allah memberikan ujian yang bertubi pada hambaNya. Karena Allah yakin bahwa hambaNya mampu melampauinya.


Begitu juga dengan gadis itu.


Ia ditempatkan pada takdir yang berat.


Karena Allah yakin gadis itu adalah hambaNya yang kuat.


Tak pernah terlintas dibenak Hana.


Ditahun terkahir di Mesir, ia akan bertemu dengan gadis bernasib malang itu.


Jika di Malaysia ia berhasil berjuang.


Maka, ini saatnya ia akan berjuang kembali untuk membebaskan gadis itu dari Trixtal Bar.


Hana menancapkan tekad dalam hati.


Bahwa ia takkan kembali ke Indonesia, sebelum gadis itu keluar dari jurang curam itu.


" Bagaimanapun caranya aku akan bertanggung jawab atas kebebasanmu mbak." ucap Hana.


Ia pun menyerka air matanya, dan pergi untuk kembali ke Asramanya.


Bersambung.


Sevimli 15 Agustus 2021

__ADS_1


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2