
" Ku sematkan selalu namamu di sujudku."
....... Pelangi Hanani 🌹.......
Masih dalam keadaan terpukul, Hana memeluk Ranti dengan begitu erat dan terus menerus mengeluarkan isakannya.
Menumpahkan segala hal yang telah lama tertahan di dada. Menuangkan segala hal yang selama ini ia pendam sendirian.
Luka, perih, sakit, dan sembiluh perih semuanya menyatu dalam satu wadah ya. Ya, hati Hana.
Wanita yang selalu menebarkan kehangatan, wanita yang selalu ceria tanpa beban, yang selalu saja mengedepankan kebahagiaan orang lain. Yang selalu senyum dengan memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Ternyata wanita itu menanggung luka yang amat mendalam, memupuk kesesakan di dalam hatinya, dan bahkan mampu bertahan dengan hati yang tak kunjung pulih.
Hana menangis di pelukan Ranti, ia tak memperdulikan Arga akan meledeknya cengeng atau bocil, terserah.
Hana tidak peduli lagi.
" Menangislah Han, sebab tak semuanya dapat diluapkan melalui kata." Ujar Ranti membelai kepala Hana yang di balut jilbab.
" Huaa." Tangis Hana semakin pecah.
" Lebih baik patahnya sekarang !! Sebab semakin lama bertahannya maka, akan semakin sedikit peluang untuk kamu kembali bangkit Han." Ucap Ranti dengan hangat.
" Huaa aku legaa Ran hehehe." Kata Hana dengan gelak tawanya.
" Aku ikhlas kisah kami benar-benar berakhir hehe." Hana tertawa kembali, mungkin ia ingin mencoba menghibur dirinya.
" Alhamdulillah, baguslah kalau begitu." Kata Ranti sembari ikut tertawa.
Arga masih terdiam, tak bergeming sedikitpun. Kalau bisa di bilang luka hati yang ia rasa jauh lebih perih, pedih dan sakit.
Bagaimana tidak ? Orang yang menempati hatinya sedang membahas kisah cintanya bersama orang lain, tepat di hadapannya.
Arga menunduk, mencoba menetralkan detak jantungnya, mencoba memanilisir rasa sesak di dada. Mengatur ritmik getaran di sekujur tubuhnya.
" Ya Allah, Engkau yang maha membolak-balikkan hati manusia, ku mohon jatuhkan hatiku pada orang yang kelak akan bersanding denganku." Batin Arga.
Tanpa ia sadari, tetesan air mata berhasil lolos dari matanya. Tanpa sengaja Hana melirik ke arahnya.
" Arga, kamu oke kan ? Tanya Hana.
Arga tersentak kaget, Hana ternyata tengah menatapnya. Ia menyerka air matanya, dan mengatur nafasnya.
" Hehe oke je." Jawabnya singkat.
" Oh, iyelah." Hana tak ingin bertanya lebih lanjut lagi.
Besok hari adalah jadwal Hana pulang dari Rumah Sakit. Ia sedikit lega dengan begitu dirinya tak perlu lagi merepotkan banyak orang, untuk mengurusnya di Rumah Sakit.
Terutama Ranti, sepupunya.
" Ran, besok aku udah balik ke Rumah kan ? Tanya Hana.
Ranti tersenyum." Iya, besok sore kamu udah boleh pulang. Entar dari sekolah kami langsung kesini." Jawab Ranti.
Hana tersenyum senang, mendengar kabar dirinya akan pulang besok hari.
Akhirnya ia bisa kembali menikmati dunia luar, tanpa adanya lagi aroma khas obat yang selalu ia cium selama di rawat di Rumah Sakit.
Kembali ke Sekolah, yang suasananya sudah sangat ia rindukan, bahkan juga orang-orangnya, kembali melanjutkan tantangannya selanjutnya. Baik nantinya ia berjuang bersama Arga atau tidak. Entahlah ia belum tau sepenuhnya.
Di sudut ruangan, sosok pria itu masih saja terdiam terpaku tanpa gerakan. Entah apa yang terjadi padanya.
" Wake up Arga !! Ayo tidurmu terlalu panjang !! Kau harus sadar bahwa Hana tidak menyukaimu." Tegasnya pada hatinya.
Ia memilih melangkah keluar, sebab di ruangan itu terasa panas untuknya, bahkan pasokan oksigen di tubuhnya semakin berkurang. Ia tak ingin bertahan di ruangan itu, bisa-bisa ia mati kutu di dalamnya." Pikirnya.
" Hm, aku permisi keluar ya." Ujar Arga.
" Ah, iya Arga !! Jawab Hana.
Arga melangkah keluar dari ruangan itu. Mencari tempat untuk bisa sedikit melegakan hatinya.
Ranti tau betul bahwa Arga kini tengah terengah melihat insiden Hana dengan Anugrah.
" Hm, aku tau Arga pasti hati mu saat ini sedang tidak baik-baik saja !! Bersabarlah Arga, sampai Allah jatuhkan hati Hana padamu. Walaupun tak tau kapan saat itu akan tiba." Dalam lubuk hati Ranti ia merasa ibah pada Arga.
Tring.. Bunyi Handphone Ranti.
Ia meraih Handphonenya, ternyata ada pesan WhatsApp masuk di grub kelas mereka.
Yang isi pesannya ialah pengumuman mengenai Rayhan akan pindah sekolah ke Indonesia, setelah kenaikan kelas nanti.
Jleb, entah kenapa hati Ranti anjlok, saat membaca pesan itu, pikirnya mulai menerka-nerka untuk apa Rayhan pindah sekolah ? Bahkan sampai ke Indonesia.
Ada rasa tidak terima di hati Ranti mengetahui itu semua. Atmosfer di tubuhnya kini sedikit memanas, wajahnya kini menunjukkan kekecewaan.
Kesal, marah, tidak terima, kini semuanya berpadu menjadi satu.
Walaupun dirinya dan Rayhan jika bertemu selalu saja berantam, selayaknya musuh bebuyutan. Walau Rayhan selalu saja membuat Ranti naik tanduk, dan di saat bersamaan juga, Rayhan mencoba menggoda Ranti.
Entah angin apa yang datang menyapa hati Ranti seolah tak terima, bahwa dirinya dan Rayhan akan berjauhan.
" Rayhaaaaan.." Teriaknya.
Hana tersentak kaget mendengar teriakan Ranti, yang mirip dengan suara radio rusak.
" Ih, Ranti apa sih teriak-teriak !! Emang ini hutan apa !! Pakai teriak-teriak segala !! Ujar Hana.
Ranti masih dengan ekspresi kesalnya.
" Iya !! Ini hutan !! Dengusnya.
" Apaan sih Ran !! Kok mala kamu yang marah ? Yang telinga sakitkan aku bukan kamu." Ketus Hana pada Ranti.
Ranti tak menggubris perkataan Hana, ia masih kesal dengan kabar yang ia dengar.
Hana memperhatikan Rantipun penasaran. "
"Kenapa tiba-tiba mood Ranti jadi kacau gini setelah melihat pesan di handphonenya ? Apa yang terjadi ya ." Batin Hana.
Ia menepuk bahu Ranti, kemudian menyiapkan mental untuk bertanya pada Ranti. " Ran ! Apa yang terjadi sih sama kamu ? Tanya Hana.
Ranti mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Hana. " Rayhan Han." Rengeknya.
Kening Hana berkerut, apa yang terjadi pada Rayhan." Pikir Hana.
__ADS_1
" Rayhan kenapa ?? Meninggal ? Tanya Hana asal.
Ranti melototkan kedua matanya pada Hana, bukannya mala menghiburnya. Hana mala justru berkata yang tidak-tidak mengenai Rayhan.
Pukkk.. Ranti menimpuk Hana dengan tas selempangnya.
" Aduh !! Apaan sih Ran." Ketus Hana.
" Itu mulut apa cabe sih !! Pedas amat." Ujar Ranti.
Hana tak terima bila ia mulutnya di katain cabe oleh Ranti membalas mencubit Ranti.
" Rasain !! Enak aja ngatain mulut aku cabe !!
" Sakit Hana !! Habisnya kamu sih Ngatain Rayhan meninggal." Ranti tak terima bila Hana mengatakan terjadi hal buruk pada Rayhan.
" Hahaha, akukan nada ku kan bertanya.Bukan nada pernyataan !! Dasar aneh." Cibir Hana menyunggingkan senyumnya.
" Hm, Rayhan pindah ke Indonesia." Ranti menyandarkan tubuhnya ke dinding.
" Ya, biarinlah !! Kok kamu sedihnya kebangetan gitu ? Hana bingung dengan Ranti.
" Ya, ya sedih aja." Ketus Ranti yang sebenarnya ia tak ingin Rayhan pindah.
" Tunggu deh, jangan bilang kamu suka sama Rayhan." Tanya Hana dengan tatapan introgasinya.
" Ha ? Ya, gak lah !! Tolak Ranti.
" Gila aja, aku suka sama dia. Gak mungkinlah." Batin Ranti mengedikkan bahunya.
" Hm, iya ke ? Tanya Hana masih tak percaya.
" Wallahi !! Puas ? Tegas Ranti pada Hana.
Hana tersenyum puas, berhasil menggoda Ranti.
" Hahaha, PMS buk ? Judes amat." Ledek Hana.
" Hanaaaa..." Teriak Ranti.
Begitulah, terkadang saling mendukung, saling menjaga satu sama lain, dan juga kadang membuat kesal satu sama lain.
Itu adalah hal yang biasa dalam bekeluarga.
Kini wanita bersaudara itu tengah ribut satu sama lain. Sementara Arga pergi ke Rooftop, bangunan bagian ter atas Rumah Sakit ini.
Ia sengaja memilih tempat itu, sebab di Rooftop, sebab hanya ada beberapa orang yang berada di sana.
Satu demi satu anak tangga Arga naiki, dengan langkah yang gentir ia tetap melanjutkan langkahnya. Hingga sampai di pintu Rooftop.
Ceklek...Pintu Rooftop terbuka.
Tampaklah pemandangan langit yang begitu indah.
Arga menghembus nafasnya, memandang langit dengan tatapan senduhnya.
Beberapa detik kemudian ia memejamkan matanya.
Sepoian angin yang berhembus seakan-akan tau, bahwa ada hati yang sedang membutuhkan kesejukan.
Sang mentari yang menunjukkan pesona sinarnya, seolah-olah tau harus memberikan cahaya pada hati yang kini tengah redup.
Arga tertawa seolah-olah tau bahwa semesta sedang menghiburnya.
" Hahaha terima kasih semesta !! Ucapnya.
Detik selanjutnya Arga kembali memejamkan matanya, mengangkat kedua tangannya meletakkan pada kedua sudut bibirnya.
Kemudian berteriak.
" Aaaaaaaaaaaaaaaaaaghh." Arga berteriak sangat kencang.
Mengulanginya lagi." Aaaaaaaaaa."
Arga tertunduk ke lantai, menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Ia tak menangis hanya saja ia ingin dengan posisi seperti itu sejenak.
Ia lelah dengan hatinya sendiri, kenapa perasaan itu baru saja tumbuh,
dalam sekejap mata sudah terpatah.
Masih dengan posisi menenggelamkan wajahnya di lututnya. Tiba-tiba saja ada sosok pria yang menepuk bahunya.
" Arga !! Panggilnya.
Arga mengangkat kepalanya, menoleh kearah sumber suara. Ia terheran melihat sosok pemuda berdarah Inggris, berdiri dihadapannya.
" Andrea." Ucap Arga.
" Bagaimana bisa pria pengacau ini di sini ?" Batin Arga.
Andrea tengah tertawa melihat Arga yang kini tertunduk piluh.
" Aku pikir kau tak kenal lelah !! Ujarnya menyepelekan Arga.
Arga tersenyum kecut, tak menggubris perkataan Andrea. Melainkan ia berdiri menuju tepi Rooftop, menatap legam pemandangan di sekitarnya.
" Sudahlah, jangan buang-buang tenaga mu untuk hal bodoh !! Siapkan saja tenaga mu untuk menghadapi aku !! Ujarnya pada Arga kemudian melangkah pergi, meninggalkan Arga.
" Tenanglah kau bukan levelan ku !! Kini Arga yang kembali merendahkan Andrea.
" Haha jangan berkhayal terlalu tinggi, entar jatuh sakit lagi." Balas Andrea tak mau kala tekak dengan Arga.
Kini mereka hanya membalas senyuman angkuh satu sama lain.
Selayaknya musuh bebuyutan, ya mereka memang musuh sejak awal bertemu bahkan.
Arga menggelarnya Pria pengacau, sementara Andrea menggelar Arga dengan sebutan Penguntit.
Cukup konyol sih memang, namun itulah yang terjadi di antara kedua pemuda itu.
Arga terdiam sejenak, mencerna perkataan Terakhir dari Andrea.
Ya, tenaga itu menghadapinya.
" Apa mungkin Andrea akan berulah lagi." Pikirnya.
Apapun itu Arga bukanlah seorang yang penakut, apalagi pengecut.
__ADS_1
Bagaimanapun lawannya pasti akan ia hadapi.
" Wake up Arga !! Stop memikirkan cinta ini bukan saatnya, nanti pasti akan tiba waktunya.Sekarang pikirkan negrimu yang tengah kacau ini bodoh !! Ujarnya pada dirinya.
" Akan tetapi namamu akan selalu ku sematkan di sujudku." Sambungnya.
Kini ia sadar ada hal yang lebih penting dari pada mengedepankan persoalan percintaannya.
Arga kemudian berlari menuruni kembali anak tangga yang awalnya ia naiki.
Dengan langkah yang semangat, dengan senyuman yang begitu hangat, Arga mencoba untuk tegar dan kuat.
Ia tak kembali ke ruangan Hana, melainkan ia lebih memilih pulang ke rumahnya.
Waktu telah berlalu begitu saja,
lengah sedikit menjadi siang.
Tidur sejenak sudah menjadi malam.
Wah, cepat sekali memang perputaran waktu pada jarum jam.
Keesokan harinya, Hana sudah di perkenankan pulang.
Vikri, Bunda Ranti telah tiba di Rumah Sakit.
Sementara Ranti akan menyusul dari Sekolahnya.
Hana sudah selesai mengkemasi barang-barangnya. Ia melihat setiap sisi Ruangan di mana ia di rawat selama sebulan lebih. Aroma obat yang selalu menemaninya.
Jarum infus yang selalu berada di tangannya.
Ranjang Pasien yang menjadi tempat untuk rabahannya belakangan ini.
Itu semua pasti akan selalu terniang di ingatannya. Akan menjadi sebuah kenangan yang tersimpan rapi di ingatannya.
Terutama seseorang yang paling ia rindukan nantinya adalah Suster Aishka, yang begitu amat merawatnya dengan baik, suster Aishka merawat Hana bukan selayaknya Pasiennya melainkan, ia merawat Hana selayaknya adiknya.
Suster Wavi juga adalah sosok yang begitu hangat pada Hana, pasti Hana akan selalu mengingat kebaikannya.
Bagitu juga dengan Dokter Nashrun, sosok Dokter muda yang baik dan ramah. Tidak seperti dokter muda lainnya yang terkenal dengan sikap kutubnya.
" Hana hari ini kamu sudah di perkenankan untuk pulang ke Rumah, tapi bukan berarti kamu bebas mengkonsumsi apapun !! Ingat makan-makanan yang mengandung Zat besi, dan juga luka bekas gigitan ular itu jangan lupa di bersihin sepekan sekali." Ucap Dokter Nashrun pada Hana.
" Hehe, insya Allah siap laksanakan Dok.
Terima kasih banyak ya Dokter Nash sudah mau menangani saya dengan baik." Tutur Hana pada Dokter Nashrun.
" Its oke, udah kewajiban saya Hana." Jawabnya.
Hana tersenyum manis pada Dokter Nashrun, kemudian menghampiri Suster Aishka.
Kontan saja Hana memeluknya dengan erat.
" Kak Aishka terima kasih untuk semua kasih sayang yang kakak kasih ke Hana. Hana sayang banget sama kakak." Uneg-uneg Hana akhirnya keluar.
Aiskha tertegun mendengar perkataan Hana, detik selanjutnya ia tersenyum bahagia, membalas pelukan Hana.
" Sama-sama Hana, kak Aish udah anggap Hana sebagai adiknya kakak. Kakak juga sayang sama Hana." Ucapnya pada Hana.
" Nanti Hana sesekali berkunjung ya ke sini, biar kita bisa ketemuan hehe." Sambungnya.
" Hm, insya Allah Kak Aish."
Setelah Suster Aishka, Hana kemudian berpamitan pada Suster Wavi.
" Sus Wavi, terima kasih ya untuk kehangatan suster ke saya selama sebulan lebih ini.
Senantiasa Allah membalas kebaikan kalian pada Hana." Ucap Hana.
Suster Wavi tersenyum." Iya Hana, sama-sama tetap jadi gadis yang ceria ya."Ujarnya.
Hana tersenyum, mengangguk iya.
" Terima kasih ya Dokter Nash, suster Aishka, dan Suster Wavi telah melayani dan menangani Hana, dengan usaha yang semaksimal mungkin. Jazakumullah Khoir." Ujar Vikri menyalam tangan Dokter Nashrun.
" Sama-sama Pak." Jawab mereka serentak, kemudian Dokter Nashrun membalas jabatan tangan Vikri.
" Assalamu'alaikum semuanya." Pamit Hana.
" Waalaikumussalam Hana, hati-hati ya." Ujar mereka.
Hana mengangguk, sembari melangkah keluar dari ruangan.
Ranti telah tiba di Rumah Sakit dengan seragam sekolahnya. Bersama Izaz dan juga Rayhan.
" Hallo Hana, selamat ya kamu udah sembuh total. Alhamdulillah aku ikut senang." Ucap Rayhan.
" Alhamdulillah, iya terima kasih Ray." Balas Hana.
" Alhamdulillah Han, Abang senang kamu akhirnya keluar dari penjara virus ini hehe." Ucap Izaz.
Hana tertawa ketika Izaz mengatakan rumah sakit adalah penjara virus. Ya, memang benar Rumah sakit adalah tempat dimana sedikit banyak dapat menularkan virus bukan ?
Semua penyakit ada di rumah sakit. Oleh sebab itu, sebisa mungkin ketika berada di rumah sakit lebih jaga lagilah diri kita, dari mereka yang kita tau sedang mengidam penyakit apa.
Kini, Hana mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, ada sosok pemuda yang ia cari.
Sosok pemuda yang ia harapkan kehadirannya namun ternyata pemuda itu tak datang saat ini.
Entahlah sehabis kejadian kemarin Pemuda itu tidak datang lagi menjenguk Hana.
" Arga kemana ya ? Kok gak datang sih.
Dari kemarin juga habis kejadian aku nelpon Arga dia langsung cabut dan gak balik lagi. Sebenarnya maunya apa sih ? Nyebelin banget tau gak." Batin Hana tengah kesal dengan Arga.
Bersambung....
Sevimli 28 Oktober 2020
Salam hangat dari Author 🌹
Selamat Hari Sumpah Pemuda 🌹
Pemuda itu Anti takut.
Anti pengecut.
__ADS_1
Anti pengkhianat dan juga Anti penjilat.