
" Aku hanya ingin menjalankan apa yang dilakukan oleh Nabi Yusuf saat berbicara dengan Zulaikha.
Ya beliau menundukkan pandangannya dan lebih memilih menatap tanah dari pada menatap Zulaikha."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Canada
Pagi ada acara pembaptisan di Gereja Basilika St Yohannes, oleh pendeta Abraham Lincoln.
Yang disaksikan banyak orang.
Mulai dari penyiraman rohani, sampai pengakuan dari seseorang yang ingin berpindah keyakinan dari Buddha menuju ke Protestan.
Sampai pada akhirnya, masuklah puncak acara yakni pembaptisan.
Semua siswa-siswi Basilika St Yohanes diwajibkan untuk menyaksikan acara keagamaan ini sampai acara selesai.
Sosok Anugrah merasakan jenuh sudah berjam-jam duduk di kursi Gereja.
Bukannya sibuk memperhatikan apa yang sedang berlangsung di Gereja.
Justru dirinya, sibuk membaca sebuah e-book yang berjudul Ya Allah Aku Pulang, penulis Alfialgahzi.
Cukup lama Anugrah bertahan ditempat ini.
Rasa jenuh, dan bosan mulai menyapanya.
Tak ingin tenggelam dalam lautan kejenuhan.
Ia memutuskan pergi dari tempat ini.
" Nug kamu mau kemana ? Tanya Alena, yang melihat Anugrah beranjak pergi dari Gereja.
" Keluar bentar, nyari minuman." Jawab Anugrah.
Alena pun mengangguk, percaya pada perkataan Anugrah.
Ia pun tak berniat untuk mengikuti Anugrah.
Anugrah berjalan keluar dari Kompleks Sekolah.
Belum ada tujuan yang jelas kakinya hendak melangkah.
Yang ia inginkan hanya keluar dan menjauh dari tempat itu.
Anugrahpun menghela nafasnya panjang.
Merasa lelah dengan semua belenggu kekangan yang ia rasakan. Entah sampai kapan ia akan terus berada dalam ranah keterpaksaan ini.
Bersekolah di sekolah religius ternyata bukannya membuatnya semakin jatuh hati pada agamanya, mala justru membuat hati terus berpaling dari nya.
Sayup-sayup terdengar suara adzan dzhuhurpun bergema dengan begitu indah.
Meski Islam kaum minoritas di Canada, bukan berarti kaum Islam di larang untuk beribadah. Apalagi mengumandangkan adzan.
Sejenak Anugrah menghentikan langkahnya.
Sorot matanya sibuk mencari tempat sumber suara adzan.
Sampai pada akhirnya, pandangannya berhenti ke sebelah Utara ia berdiri.
Ada sebuah masjid yang tampak dari kejauhan.
" Itu Masjidnya." Gumamnya.
Kemudian Anugrah pun melanjutkan kembali langkahnya. Bukan memutar balik untuk kembali ke asrama.
Melainkan, ia melanjutkan langkah menuju Masjid.
Membutuhkan waktu sekitar tujuh menit untuk Anugrah sampai di Masjid ini.
Langkah Anugrah terhenti di gerbang pagar besi Masjid. Ingin melangkah masuk.
Namun, nalurinya berbicara bahwa ia bukanlah seorang muslim, membuatnya menarik kembali langkahnya.
Ia memilih untuk duduk di bangku tunggu yang berada di luar wilayah Masjid.
Dari pada bingung tak berfaedah.
Anugrah pun meraih pinsenya, dan membuka aplikasi e-book untuk kembali melanjutkan membaca Buku karya dari penulis terkenal asal Medan itu.
Sepuluh menit berlalu.
Aktivis sholat dzuhur berjamaah di Masjid pun telay selesai dengan bunga-bunga dizikir sekaligus doanya.
Ada sepasang mata yang memperhatikan Anugrah yang sibuk dengan ponselnya dari kejauhan.
Ia pun berniat menghampirinya.
" Assalamu'alaikum." Ujarnya, yang belum mengetahui Anugrah seorang Protestan.
Aktivis membaca Anugrah pun terhenti dan pandangannya beralih pada sosok yang mengucapkan salam.
Anugrah melihat sosok pemuda yang tampaknya usianya tak terpaut jauh jaraknya dengan usianya.
Anugrah tak menjawab salamnya bukan karena ia enggan, melainkan ia merasa tidak pantas untuk menjawabnya.
Anugrah hanya menerbitkan seulas senyuman sebagai balasan untuk salam pemuda itu.
Kening pemuda itu mengernyit, merasa bingung kenapa Anugrah tidak menjawab salamnya.
" Sudah sholat bang ? Tanya pemuda itu, ia ikut duduk di sebelah Anugrah.
Anugrah menggeleng sebagai jawabannya.
" Hm, sholat dulu bang.
Biar gak gelisah." Ujarnya.
Anugrah tersenyum masam menunduk tatapannya pada halaman Masjid.
" Saya gak pantas untuk menginjakkan kaki di tempat suci itu." Jawab Anugrah padanya.
Pemuda itupun tersenyum simpul.
" Semua pantas melangkahkan kaki di Masjid bang.
Semua berhak memasukinya, bahkan sebesar apapun dosa kita, tempat itulah yang tepat untuk kita menebus dosa-dosa kita." Tuturnya dengan sopan pada Anugrah.
Anugrah tersentuh mendengar perkataan pemuda ini,akan tetapi sayang.
Bukan dosa yang menghalangi langkahnya untuk menuju Masjid.
Melainkan lintas perbedaan agamalah yang membuatnya malu untuk menginjakkan kaki di sana.
" Apa yang kamu katakan benar.
Akan tetapi sayang, itu tidak berlaku untuk manusia yang berstatus protestan sepertiku." Kata Anugrah dengan nada sedikit lirih.
Pemuda ini tersentak kaget, sekaligus merasa sedikit bersalah sudah lancang mengatakan hal yang tidak tepat pada tempatnya.
" Ah I am sorry.
Saya tidak tau kalau abang nonis bang." Maafnya pada Anugrah.
Anugrah tersenyum tidak merasa tersinggung, sebab ini bukan kali pertamanya ia disangka muslim.
" No problem.
Aku sudah terbiasa dengan hal itu."
Pemuda itupun tersenyum merasa sedikit lega, Anugrah tidak tersinggung dengan perkataannya.
Detik selanjutnya ia pun izin pamit pada Anugrah.
" Hm bang saya izin pamit ya." Katanya pada Anugrah.
" Ah boleh aku tanyakan sesuatu hal padamu ? Titah Anugrah padanya.
Pemuda itupun berbalik, kembali menghadap Anugrah. " Boleh bang." Seraya mengangguk.
__ADS_1
" Kalau Tuhan maha kuasa.
Lantas kenapa Ia menjadikan banyak agama di tempat kita berpijak ini ? Kenapa tidak hanya satu saja ?
Pertanyaan yang selama ini tercokol di kepala Anugrah, akhirnya ia tumpahkan juga pada sosok yang menurut feeling nya pasti bisa menjawabnya.
Tak ada raut kebingungan sedikitpun di wajah pemuda ini. Ia justru tersenyum lebar, seraya kembali duduk di sebelah Anugrah.
" Jawaban yang tepat untuk pertanyaan abang terdapat di surah Al Maidah ayat empat puluh delapan.
Jika Allah menghendaki, maka niscaya Allah akan menjadikan kalian satu ummat saja, akan tetapi Allah ingin menguji kalian, terhadap pemberianNya kepada kalian. Maka berlomba-lombalah kalian berbuat kebajikan." Jawab pemuda itu dengan santun.
Anugrah sudah cukup lelah mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Mencari di berbagai buku, bahkan juga kitab.
Akan tetapi baru kali ini ia menemukan jawaban yang tepat bahkan membuat hatinya terketuk.
" Allah bisa saja dengan mudah menjadikan kita satu ummat. Akan tetapi, Allah ingin melihat hamba-hambaNya yang mana yang benar-benar berada dalam ketaatannya.
Hidayah Allah itu berlaku untuk semua orang bang.
Tinggal manusialah yang akan memilih.
Mengetuknya atau justru mengabaikannya."
Jawaban sang pemuda ini membuat Anugrah tertegun, kegelisahan yang kian erat menyelimuti hatinya selama ini perlahan-lahan mulai kendur detik ini juga. Benar batin dan pikirannya pun kian terkikis.
Ia semakin yakin bahwa ia tak salah menjatuhkan hatinya pada Islam.
"Ayat-ayat Allah terlalu indah untuk dimaknai bang. Maka rugilah jika kita tidak menghayatinya." Lanjutnya dengan seulas senyuman.
" Thanks bro untuk jawabannya." Ujar Anugrah dengan senyumannya.
" Sama-sama bang.
Saya duluan ya bang." Pamitnya kembali pada Anugrah.
Anugrah pun mengangguk mengizinkannya.
Ia masih menatap punggung pemuda yang sudah mulai jauh darinya.
Ia terkagum dengan pemuda yang memberikan jawaban begitu menakjubkan itu.
" Aku semakin jatuh hati pada agamamu Han." Ujar Anugrah mengingat Hana.
Anugrah pun beranjak pergi dari bangku taman Masjid.
Melangkah kembali ke Sekolahnya.
.
.
.
Anugrah tak berniat untuk kembali ke asrama ataupun ke Gereja.
Ia lebih memilih ke Perpustakaan dan memutuskan untuk membaca buku Sirah Nabawiyah yang diberikan Hana padanya.
Tak ada satu orangpun di Perpustakaan.
Hanya ada penjaga dan pembersih perpustakaan.
Mereka juga heran ketika melihat Anugrah dengan berani datang ke Perpustakaan.
Sebab, sepengetahuan mereka hari ini, semua siswa-siswi wajib berada di Gereja untuk mengikuti acara pembaptisan dari anak salah satu donatur besar di Sekolah Basilika St Yohanes.
"Excuse me!" Anugrah menoleh pada penjaga perpustakaan.
"Ada apa pak ? Tanya Anugrah.
"Apa kau tidak mengikuti acara pasca?" penjaga perpustakaan ini memakai kacamatanya, ingin melihat detail wajah Anugrah.
Anugrah tersenyum." Ikut pak. Tapi tidak sampai selesai." Jujur Anugrah.
" Ah begitu, apa kau ingin membaca buku ? Tanyanya lagi.
Anugrah pun melangkah memasuki Perpustakaan. Ia memilih menyandarkan tubuhnya pada bangku paling sudut yang berdekatan dengan tembok.
Agar ia lebih bisa rileks untuk membaca.
"Nug!" suara yang tidak terdengar asing di telinga Anugrah memanggil namanya.
Anugrah enggan menoleh ia tetap fokus pada buku yang ia baca.
Perempuan berambut panjang lurus itupun, memilih duduk di hadapan Anugrah.
" Nug !!
Kamu dari mana ? Tanyanya." Kok lama banget sih keluarnya ? Katanya bentar doang.
Anugrah hanya tersenyum simpul.
Tak menanggapi pertanyaan Perempuan yang bernama Alena.
" Anugrah Pota Mendrofa !
Aku lagi ngomong sama kamu loh." Kesal Alena melihat Anugrah mengabaikannya.
" Kamu gak sopan banget sih Nug !
Aku lagi bicara sama kamu tapi kamu gak ngelihat aku. Kamu reseh banget sih ! Tukas Alena yang bertambah kesal dengan Anugrah.
Masih dengan posisi yang sama.
Anugrah mengulum senyumnya.
" Aku hanya ingin menjalankan apa yang dilakukan oleh Nabi Yusuf ketika berbicara dengan Zulaikha.
Ya, beliau menundukkan pandangannya dan lebih memilih menatap tanah dari pada menatap Zulaikha."
Jawaban Anugrah membuat Alena membuat kening Alena berkerut. Alena juga bingung dengan Anugrah yang belakangan ini kerap kali menjalankan ajaran Islam.
" Gak usah sok islamnable deh !
Kamu itu PROTESTAN bukan Islam." Sindir Alena dengan senyuman smirk nya.
Cukup menghantam dada Anugrah.
Benar saja, kenyataan pahitnya Anugrah bukanlah seorang muslim.
Anugrah hanya mengembangkan senyumnya.
" Saat ini aku memang seorang protestan.
Namun, belum tentu satu atau dua menit ke depan atau seterusnya aku masih tetap berstatus protestan.
Ayahku yang menjadikanku protestan bukan diriku sendiri. Hidayah Allah itu gak terjangkau Len." Sergah Anugrah, kemudian ia beranjak dari bangku perpustakaan.
Dan memilih meninggalkan Alena di Perpustakaan.
Anugrah menatap Anugrah penuh kekesalan.
Issshh... Alena berdengus kesal.
" Kalau om William tau apa yang kamu lakukan. Dia pasti akan marah besar Nug."
Alena adalah salah satu teman Anugrah di bangku SMP. Alena cukup kenal dengan sosok William.
Dan sebenarnya William juga meminta Alena untuk menginformasikan segala sesuatu yang dilakukan Anugrah di Canada.
Namun, Alena juga tak tega.
Jika memberitahukan semuanya kepada William apa yang dilakukan Anugrah. Ia masih menutupinya.
Sebab tak ingin Anugrah di marahi oleh William.
...🍂🍂🍂...
Hana merasa suntuk berada seharian di dalam kamar.
__ADS_1
Ia pun memutuskan untuk keluar menuju pekarangan rumah Haiko untuk mencari udara segar.
Perempuan berjilbab pasmina instan itu memilih duduk di ayunan.
Ia mengayunkan kakinya agar dapat membuat ayunan itu bergerak.
Anugrah merasa sedikit tenang berada di sini.
Sepi, udara tak tercemar polusi, banyak pepohonan rindang yang membuat udara disini semakin sejuk.
Ah, lebih tepatnya.
Tidak ada Haiko yang mengusik ketenangannya.
Sejenak beban pikiran Hana menghilang dari benaknya.
Ia menghirup oksigen pelan-pelan dan membuangnya.
" Alhamdulillah..
Sedikit lega, izinkan aku sejenak seperti ini."
Hana memejamkan matanya, membiarkan dirinya sejenak dengan posisinya.
Berharap mendapatkan ketenangan.
" Siapa yang menyuruhmu keluar ?
Suara serak itu terdengar dari belakang Hana.
Hahh.. Hana menghela nafasnya.
Baru saja ia merasa bebas dari beban berat.
Kini beban hidupnya datang kembali.
Hana tak menggubris Haiko, ia lebih memilih menambah kelajuan ayunannya.
Membuat Haiko mengeraskan rahangnya.
Ia berniat untuk menghampiri Hana, dan memberikannya hukuman.
" Kau !! Teriaknya.
Namun, Haiko mengurungkan niatnya.
Ia pun kembali melangkah memasuki rumahnya, dan meninggalkan Hana.
Mungkin benar, Hana butuh waktu panjang untuk menentukan pilihannya.
Hana tersadar bahwa waktu persidangan kedua Arga sudah di depan mata.
Hanya tersisa dua hari lagi. Ya, dua hari lagi.
Hana kembali di selimuti pikiran kacau balau.
Ia akan menyelamatkan banyak orang akan tetapi akan mengorbankan dirinya.
Entahlah, kedua pilihan gila itu.
Membuat Hana semakin stres.
Muka Hana mulai kusut bahkan tak seceria biasa akibat terus-menerus kepikiran dengan permintaan Haiko itu.
" Arga !!
Bagaimana ini, Ga ? Hana tersenyum hambar merata nasibnya.
Hana tak mengerti kenapa otak Haiko bisa segesrek ini. Bisa-bisanya dia meminta wanita asing untuk menjadi istrinya.
Bodoh !!
Dasar Haiko bodoh !! Hana terus mengupat dalam hatinya.
Bukan hanya karena tidak adanya perasaan. Dan tidak kenal dengan Haiko.
Melainkan Haiko bukanlah termasuk kriteria pria yang Hana idamkan sebagai imamnya dalam berumah tangga.
Dan bahkan usia Hana yang menurutnya masih belia membuatnya tak pernah sedikitpun memikirkan pernikahan.
" Aku lelah !! Lelah !! Teriak Hana dengan kencang.
Haiko menatap Hana dari balik jendela.
Ia memperhatikan perempuan teduh itu sedang termenung dengan mata yang berbinar.
Ia memahami bahwa pilihan yang ia layangkan adalah sebuah pilihan yang tidak bisa untuk dilakukan Hana.
Akan tetapi, mau bagaimana lagi.
Hati kecil Haiko menginginkan Hana menjadi miliknya.
Haiko telah jatuh hati pada Hana.
Sejak Hana berteriak padanya.
Ia juga tak memahami dirinya, bisa-bisanya dia jatuh hati pada Hana secepat ini.
Ia menggenggam erat dadanya.
Yang berdetak kencang saat indra penglihatannya tertuju pada gadis yang sedang termenung di ayunan itu.
" Ko !! Kenapa kau bisa jatuh hati secepat ini !!
Sadar Ko ! Dia tidak mempunyai rasa padamu.
Sitt..
" Sialan !! Haiko mengupati kebodohannya yang tak dapat menghentikan debaran di hatinya.
Tak ingin jantungnya copot dari tempatnya, akibat terus-menerus memandang Hana.
Haiko pun memilih pergi.
Hana masih saja terdiam mematung.
Ia menjatuhkan pandangannya pada awan langit yang mulai berwarna jingga itu.
Ah lebih tepatnya perpaduan antara jingga dan kuning yang menerbitkan senja.
Menandakan bahwa hari mulai sore.
Melihat senja itu membuat Hana mengingat akan seseorang.
Ya, siapa lagi kalau bukan Arga.
Pria yang mengatakan
" Kuharap kau tidak akan menjadi senja untukku. Kilaumu sekejap, pergi seketika.
Kalau kedatanganmu hanya ingin membuatku terluka. Maka pergilah."
Dada Hana mulai terasa sakit, bagai terhujam ribuan belatih mengingat perkataan yang Arga lontarkan saat mereka berada di Pantai Penang.
Hikkss... Hikksss.. Tangis Hana terpecah belah.
Saking sesaknya, ia tak dapat lagi membendung air matanya.
" Maafkan aku, Ga !!
Akuuu seepe-rrtinyaa memang akan hikss.. hikksss menjadi hikss..Senja untukmu.." Tangisan Hana bersatu padu dengan perkataannya.
Bersambung...
Sevimli 26 April 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa untuk like and Votenya ;)
Semangat puasanya guys
__ADS_1