
Jangan lupa like and Votenya :)
Dan jangan lupa juga baca karyaku Selaksa Rasa ya ✨
" Tidak ada yang lebih berharga dari pada membahagiakan orang lain."
....." Pelangi Hanani 🌹".....
Sudah beberapa kali Hana menghubungi nomor Sanju, namun tak kunjung di angkat olehnya.
" San.
Kamu kenapa sih ?
Hana pun mengetik pesan cukup panjang pada Sanju, berharap Sanju mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Sampai Sanju enggan mengangkat panggilan Hana.
• Surakaya, Turki.
Pesan pun terkirim pada Sanju.
Melihat ada notifikasi di ponselnya, Sanju pun membukanya. Ternyata pesan dari Hana.
Sebenarnya Sanju malas untuk membukanya.
Namun, dengan terpaksa ia akhirnya membuka dan membacanya juga.
" Assalamu'alaikum.
Sanju, aku ada salah sama kamu ya ?
Kenapa panggilan aku diabaiin terus, San ?
Kalau emang aku punya salah, aku minta maaf ya, tapi please cerita ke aku, aku ngelakuin kesalahan apa ke kamu !
Isi pesan Hana.
Sudut bibir Sanju, melengkung ke atas sebelah.
" Kehadiranmu adalah kesalahan terbesarnya ! cetus Sanju, terbesit kebencian di hatinya.
Tttt.... Hana menghubungi Sanju kembali.
Membuat Sanju mengerang rahangnya.
" Apalagi sih !
Dengan kasar Sanju mengusap tombol hijau di ponselnya.
" Alhamdulillah.
Akhirnya kamu angkat juga, San." ucap Hana girang di sebrang telpon.
" Gak usah basa-basi, Han.
Kamu mau ngomong apa ? kata Sanju dengan nada ketus.
Membuat Hana terdiam di tempat.
Ini untuk pertama kalinya, Sanju bersikap ketus padanya.
" San, kam--
" Kalau gak ada yang penting buat diomongin.
Biar aku matiin."
Dada Hana sedikit sakit, mendapatkan bentakan dari sahabatnya itu.
" Aku cuma mau bilang, aku ada salah apa sama kamu sampai kamu berubah kasar gini sama aku ? Aku salahnya dimana sampai kamu kayaknya gak suka banget sama aku ?
Mata Hana mulai berkaca-kaca, mengeluarkan perkataan yang terpendam dihatinya.
" Salah kamu ?
Biar aku kasih tau.
Kau tau siapa pria aku temui di Turki, sekaligus yang membuat hatiku terjatuh.
Tapi sayang, dia mencintai gadis lain.
Dan kau tau siapa gadis yang dia cintai, itu ?
Hana menggeleng tidak tau.
" Tidak, San."
" Pria itu bernama Argasyah Nazhanul Hakim.
Dan gadis yang dia cintai itu, bernama Hanani Syaufa. Kau sudah mengertikan ?
Hana menutup mulutnya, terkejut mendengar nama-nama yang Sanju sebutkan.
Ternyata selama ini, pria yang Sanju ceritakan padanya adalah orang yang ia anggap menjadi Abu Dardanya.
" San !
Ini ga---
" Kenapa ?
Berkali-kali pria yang kucintai merupakan orang yang jatuh cinta padamu." teriak Sanju, mulai tak bisa mengendalikan dirinya.
" San !
Kamu tenang dulu, San.
Arga itu bukan siapa-siapa aku, San." Hana mencoba untuk memberikan Sanju pengertian.
Air mata Sanju mulai membasahi pipinya.
Ia benci dengan kenyataan ini.
Kenapa harus Hana orangnya ? pikirnya.
" San !
Kamu percaya ya, Arga cuma punya rasa cinta sebatas sahabat ke aku gak lebih." Hana mencoba kembali memenangkan Sanju.
" Kalau kamu emang sahabatku.
Jauhin Arga, Han ! instruksi Sanju pada Hana.
Hana tersentak kaget mendengar permintaan Sanju. Apa yang harus Hana lakukan ? Akankah dia menuruti permintaan Sanju ?
" Kenapa ?
Kau tidak bisakan ? sentak Sanju.
Hana terdiam, meramas erat ujung jilbabnya.
Tengah dilema dengan pilihan ini.
Hana menjauhkan sejenak ponselnya dari wajahnya, ia menghembuskan pelan nafasnya, mencoba merilekskan dirinya.
Setelah sedikit tenang, ia pun mendekatkan kembali ponselnya ke pipinya dan mulai membuka mulutnya untuk bersuara.
" Insya Allah, aku bakal jauhin Arga kalau itu bisa buat kamu bahagia, San." jawab Hana, mencoba tegar.
Sudut bibir Sanju tertarik membentuk lengkungan senyuman, ada rasa senang di hatinya, takkalah mendengar jawaban dari Hana.
" Baguslah.
Yaudah aku tutup, soalnya aku lagi sibuk." ucap Sanju, kemudian memutuskan panggilan sepihak.
" San !
Hallo, San."
__ADS_1
Hana pun melihat layar ponselnya, ternyata Sanju sudah mengakhiri panggilannya.
• Mesir
Melihat panggilan telah berakhir, Hana pun meletakkan ponselnya di atas kasurnya.
Kemudian, ia duduk di tepian kasurnya.
Mencoba berdamai dengan kenyataan yang baru saja ia hadapi.
Ada rasanya nyeri di hatinya.
Ketika mengetahui bahwa dirinya dan sahabatnya mencintai orang yang sama.
Egois rasanya, bila Hana tak mengindahkan permintaan Sanju. Ia lebih memilih dirinya terluka dari pada harus Sanju yang terluka.
Buliran hangat mulai berjatuhan dari matanya, namun senyumnya juga tiba bersamaan dengannya.
" Gak ada yang lebih berarti dari pada membahagiakan orang lain, Han." ucap Hana pada dirinya.
Hana meraih ponselnya kembali, membuka fitur galeri di sana. Tangannya pun tertuju pada potonya bersama Sanju saat di Bandara, empat tahun lalu.
" San.
Maafin aku ya, udah buat kamu sedih."
Hana mengusap lembut poto yang berada dalam ponselnya itu. Merasa bersalah, karena dirinya telah hadir di antara Arga dan Sanju.
Padahal ya, yang terlebih dahulu ketemu Arga itu kan Hana, bukan Sanju.
But, bukan Hana namanya kalau gak bisa menjadi pelangi untuk orang lain.
" Nanti juga bakalan ikhlas, Han.
Kayak sebelumnya hehe."
Berulangkali Hana mencoba untuk menyakinkan dirinya, berusaha mulai sekarang menepis rasa yang ada di hatinya saat ini.
" Hana ! teriak Nima di luar.
" Assalamu'alaikum."
Sentak membuat Hana terkejut.
Dengan cepat, Hana mengusap sisa-sisa air matanya, ia tak ingin ada bekas sedikitpun.
Sebab, ia tak ingin Nima mengetahui kalau dirinya baru saja menangis.
" Waalaikumussalam, bentar Nim."
Hana pun bangkit dari duduknya.
Berjalan menuju pintu, dan membukanya.
" Apa, Nim ? tanyanya.
" Han, ini ada kiriman."
Nima memberikan sebuah bingkisan pada Hana. Membuat kening Hana berkerut.
Bingkisan dari siapa ? benaknya.
" Dari siapa, Nim ?
Nima menaikan bahunya, pertanda tak tau dari siapa. " Tapi, katanya paketan dari Turki."
Ha ? Turki.
Apa ini kiriman dari Arga ?
Hana mulai menerka-nerka.
" Lah, mala bengong kau.
Ambil cepat ! kata Nima, membuyarkan lamunan Hana.
" Iya, sama-sama.
Aku balek dulu, kalau gitu.
Assalamu'alaikum." pamit Nima, pergi setelah tugasnya selesai.
" Waalaikumussalam." jawab Hana.
Hana pun menutup pintu kamar.
Penasaran dengan bingkisan itu, Hana pun mulai membukanya dengan hati-hati.
Tampaklah sebuah kotak berukuran sedang, yang bertuliskan from Arga to Hana.
Benar dugaan Hana, ini bingkisan dari Arga.
Tingg...
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Hana.
Hana pun meraih ponselnya, dan membukanya.
Ternyata sebuah pesan masuk dari pria pemilik hatinya.
" Arga."
Hana membuka pesannya, dan membacanya.
" Hai, wanita yang kelak akan menjadi teman sedunia seakhiratku.
Bagaimana dengan bingkisannya ?
Apa kamu menyukainya ?
Apa ia dapat membuat senyumanmu, tertarik sampai belasan senti ?
Aku harap seperti itu ya.
Ahiya, tak terasa selama tiga tahun kita tidak pernah bertemu, dan ini akan menjadi tahun terakhir perpisahan kita. Dan akan kupastikan tidak adalagi tahun-tahun berikutnya.
Hanani Syaufa.
Nama yang selalu menyelinap dalam setiap untaian doaku. Nama yang kuharapkan tertera di Lauhul Mahfudzku. Nama yang kerap kali menjadi pemilik rinduku, Nama yang kelak akan menjadi pemilik akadku.
Senantiasa kau selalu dalam lindungan Allah.
Cukup tahun ini, tabungan rinduku bertambah.
Cukup tahun ini jarak kita melebar.
Tidak dengan tahun-tahun berikutnya.
Salam manis..
Dari Pria yang kelak akan meminangmu.
Argasyah Nazhanul Hakim 🌹..
Isi pesan Arga.
Hana tersenyum haru membaca pesan dari pria yang selalu membuatnya kesal sekaligus senang.
Jantungnya berdegup kencang.
Pakcepak cepak jeder, berbunga-bunga setelah membacanya.
Bagaimana tidak ?
Meski mereka saling memiliki rasa yang sama.
Selama berpisah dengan jarak yang jauh, dan waktu yang lama. Keduanya memilih untuk tidak selalu berkomunikasi. Berkomunikasi hanya ala kadarnya, dan untuk hal-hal yang penting saja.
__ADS_1
Sebab, mereka tau bagaimana interaksi sesama yang bukan mahramnya dalam Islam.
Mereka tidak ingin membuat rasa fitrah diantara mereka berubah menjadi fitnah.
Hana menghentak-hentakkan kakinya di lantai.
Saking kegirangan membaca pesan itu.
" Astaghfirullah, Hana kamu berlebihan hey ! tegurnya pada dirinya.
" Dasar Arga tukang bikin anak orang baper !
ucapnya dengan senyuman malu-malunya.
Perlahan Hana membuka kotaknya, hingga terlihat dua buah scrapbook yang unik bertuliskan Pelangi Hanani dan juga, ada tiga bunga tulip yang di keringkan di dalamnya.
Tanpa begitu indah menawan, pria itu juga tak lupa menyelipkan tiga bungkus coklat Turki disana, ia memang selalu ingat kesukaan Hana.
Scrapbook album yang berisikan berbagai poto Hana disana. Mulai dari yang waras hingga tak waras. Entah dari mana pria itu menemukan poto-poto itu. Kemungkinan saja ia mengambil poto Hana secara diam-diam tanpa sepengetahuan Hana.
" Dasar !
Seenak saja mengambil potoku ! upat Hana tersenyum.
Seketika wajah Sanju terlintas di benak Hana.
Membuat senyuman Hana terenggut begitu saja. Scrapbook album itu terlepas dari tangan Hana.
" Aku gak bisa lakuin ini ! ucap Hana.
Ia mengemas kembali barang-barang pemberian Arga, ke dalam kotaknya.
Dan memilih menyimpannya, di lemarinya.
Hana kembali duduk ditepi kasurnya.
Mencoba menetralkan degupan kencang di dadanya. Hari ini suka dan duka tengah menghampirinya.
" Aku udah janji sama Sanju.
Buat ngejauhin Arga, aku udah janji bakalan jauhin Arga." ucapnya mengingat perkataannya pada Sanju.
Hana pun meraih ponselnya, dan membuka fitur kontak, segera mungkin ia memblokir nomor Arga disana.
" Maafkan aku, Ga.
Aku harus ngelakuin ini, aku gak bisa terusin perasaan ini, aku gak mau Sanju yang terluka."
Hana meletakkan kembali ponselnya, ia meletakkan kepalanya yang terasa sakit diatas kasurnya. Air mata yang sempat terjeda tadi, kembali jatuh di pangkuan kasur.
Berungkali ia mencoba untuk menepis Arga dalam pikirannya. Berulangkali pula senyuman Arga terbayang di pikirannya.
" Astaghfirullah, Han.
Kamu gak boleh gini ! Please Ga, kamu pergi dari pikiranku ! teriak Hana di kamar sendirian.
Gemuruh di hatinya mulai menekan dirinya.
Bahkan rasa dilema pun tengah menghampirinya. Khawatir jika sampai Sanju tau Arga mengirimkan bingkisan, bisa-bisa hal itu akan membuat Sanju bertambah benci padanya dan juga bersedih hati.
" Jangan sampai Sanju tau kalau Arga ngirim ini ke aku." ucap Hana, berharap hal itu tidak sampai pada Sanju.
Drtt...
Ponsel Hana berdering.
Hana pun meraih ponselnya.
Ada panggilan masuk dari Rayhan.
" Rayhan." ucapnya, menggulir tombol hijau.
" Assalamu'alaikum, ada apa ya Ray ?
" Waalaikumussalam, ini Han.
Ponsel lo kok gak bisa dihubungi sama Arga, jadi dia pikir terjadi sesuatu sama lo." kata Rayhan.
Beberapa detik kemudian, Rayhan baru menyadari bahwa dirinya bisa melakukan panggilan pada Hana, tidak seperti Arga.
" Eh bentar deh.
Tapi, giliran gua kok bisa hubungi lo, diangkat lagi. Lo blokir nomor Arga ? terka Rayhan.
Hana terdiam, rasa gugup menghampirinya ketahuan oleh memblokir nomor Arga.
" Han ! panggil Rayhan.
" Ahh itu apa namanya, itu Ray tadi nomor ak--
" Kenapa nomorku diblok Han ?
Bukan Rayhan yang bertanya melainkan Arga, ia merebut ponsel Rayhan dari tangan Rayhan.
Ingin berbicara pada Hana secara langsung.
Tangan Hana gemetaran, bahkan jantungnya kembali berdetak tak karuan. Saat suara yang sudah sejak lama tidak ia dengar, kini dengan amat jelas terdengar di telinganya.
Ingin sekali Hana berteriak, mengatakan bahwa ia sangat merindukan pria itu. Namun, semuanya tercekat di tenggorokan.
Lidahnya kelu untuk berucap.
Ia hanya terdiam, menutup mulutnya.
Agar tangisannya tak terdengar oleh pria itu.
" Maafkan aku, Ga." ucapnya dalam hati.
" Han ! Kamu dengar akukan ?
Tak ingin berlama-lama membuat Arga menunggu jawaban yang tak pasti darinya.
Hana pun memutuskan panggilannya.
Tuttt....
Tutt...
" Han !
" Kenapa, Ga ? tanya Rayhan.
" Dia gak ngejawab, plus dia mutusin panggilan." jawab Arga.
Otak Rayhan berputar sembilan puluh derajat Celcius, mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tiba-tiba Hana bersikap seperti ini pada Arga ?
Sanju.
Ya, benar.
Nama Sanju terlintas di pikiran Rayhan.
" Ga !
Gua rasa sikap Hana yang tiba-tiba kayak gini, ada hubungannya sama Sanju deh." ungkap Rayhan pada Arga.
Arga menoleh pada Rayhan.
Merasa yang dikatakan Rayhan benar adanya.
" Ternyata kau belum bisa menyikapi semuanya dengan dewasa, Zaf." ucap Arga, merasa kecewa dengan Sanju.
Bersambung..
Sevimli 1 September 2021
Salam hangat dari Author :)
__ADS_1