
Jangan lupa Like dan Votenya ya :)
.
.
" Kamu adalah definisi wanita terbaik pilihan Tuhan, yang dapat berkamuflase menjadi sebuah Pelangi."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Selepas mereka melaksanakan sholat Isya di Masjid barulah, sang Taxi travel datang menghampiri..
Arga berada di posisi depan, tepatnya di samping pak supir. Sementara Hana dan Ranti berada di belakang.
Sepanjang perjalanan hanya ada suara deruh mesin mobil yang berjalan menyelimuti mereka.
Tak ada perbincangan sama sekali.
Arga sibuk dengan ponselnya, sesekali ia juga meluangkan waktu untuk melirik Hana.
Begitu juga dengan Hana, kepergian Anugrah masih saja menyelimuti pikirannya.
Sementara Sanju memutuskan memakai, earphonenya sembari menonton drakor kesukaannya.
Dari Kualanamu ke Daerah rumah Hana, bisa dikatakan memakan waktu cukup lama.
Ya, kurang lebih sekitar tujuh atau enam jam.
Dengan raut wajah Hana yang tampak lesuh, mengundang kekhawatiran dalam benak Arga.
" Hm, segitu gak relanya kamu Han ?
Untuk kepergian Anugrah." Batin Arga melirik Hana, dari kaca mobil.
Ekhem... Dehem Arga memecahkan keheningan.
Ya, semua yang berada di mobil tersentak kaget.Termaksud Hana.
" Kamu kenapa, Ga ? Tanya Hana.
" Gak apa-apa, cuma keselek doang." Ngelesnya.
" Yaudah kamu minum nih." Tupperware pink berisi air, Hana tawarkan pada Arga.
Arga meraih botol Tupperware itu, dan meneguknya dengan lahap.
Membuat Hana membeliakkan matanya..
Bukan hanya karena habis, melainkan Arga juga meminumnya dengan kokop.
Hana berdecak kesal." Ih, Arga."
" Terima kasih." Ucapnya tanpa merasa bersalah.
Plokk... Hana menampol kepala Arga dengan botol Tupperware itu.
" Aduh, bar-bar banget sih jadi cewek." Keluh Arga.
" Rasain !! Ketus Hana.
" Kamu kenapa sih nampol kepala aku ? Aku keknya salah mulu deh dimata kamu !!
Ya, benar saja Arga tak menyadari kesalahan apa yang ia perbuat pada Hana.
" Ini, kamu ngabisin minum aku, plus kamu minumnya kandas ke permukaan botol ini." Jawab Hana dengan geram.
Arga tak menyadari hal itu, membuatnya terkekeh kecil." Hehe, ya maaf.
Namanya juga haus suka keblablasan."
Ucapnya cengengesan.
Hana hanya menatap tajam Arga, sembari mengupatnya pelan.
" Dasar patung ! Pohon pisang nyebelin."
Arga terkekeh mendengar upatan Hana padanya.
Mungkin memang benar, sangat sulit untuk Arga meleburkan perasaannya pada Hana, terlebih lagi ia selalu berada di sisi Hana.
Merasa kesal dengan Arga, Hana memutuskan untuk melakukan hal yang sama seperti Ranti.
Ya, memakai earphone sembari mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran.
Begitu juga Arga kembali menyibukkan jarinya dengan ponselnya.
...🍂🍂🍂...
Setelah melewati beberapa jam kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah Hana, tepatnya sekitar dua puluh menit lagi memasuki waktu Shubuh.
" Berapa Pak ? Tanya Hana.
" Untuk satu orangnya Rp.130.000 dek, berarti di kali tiga jadi totalnya Rp.390.000 dek." Jawab Supir travel itu.
Hana meraih dompetnya untuk mengeluarkan uangnya.
" Ini...
" Ini pak, kembaliannya ambil aja." Belum sempat Hana membayarnya Arga sudah terlebih dahulu membayarnya.
Namun, satu hal yang membuat supir travel itu bingung. Uang yang diberikan Arga masih berbentuk Ringgit bukan rupiah.
" Tapi nak, inikan uang Ringgit ? Gak ada yang rupiah ? Tanyanya.
" Udah pak, jangan khawatir uang Ringgit itu kalau bapak tukarin ke Bank Indonesia, entar uangnya bakalan lebih dari jumlah yang bapak sebutkan tadi." Ujar Arga yang membuat supir travel itu mengerti.
" Yaudah, bapak permisi dulu ya." Pamitnya pada mereka.
" Iya pak, makasih ya."
Hana melemparkan tatapan tajamnya pada Arga. Membuat Arga menjadi kaku.
" Kenapa ? Tanyanya sedikit ragu.
Cukup lama Hana terdiam, tak menjawab pertanyaan Arga.
Sampai akhirnya ia menghela nafasnya.
" Awak yakin nak tinggal dekat rumah saye ? Tanya Hana tiba-tiba dengan logat Malaynya.
Arga terkekeh kecil mendengar pertanyaannya itu, ia pikir tatapan tajam Hana adalah sebuah kemurkaanmu. Tapi ternyata tidak sama sekali.
" Iya, gak ngerepotin kan ? Tanyanya.
" Ngerepotin ?
Yang ada kamu tu yang kerepotan !! Ketus Hana...
Hana takut Arga tidak nyaman tinggal di rumahnya.
Secara Arga dari keluarga bangsawan.
Sedikit banyaknya dia akan sangat sulit tinggal dilingkungan sesederhana rumah Hana..
Arga tersenyum seraya tetap melangkah menuju rumah Hana.
" Ini rumahnya ? Tunjuk Arga melihat rumah berwarna hijau.
" Bukan, itu rumah tetangga.
Di sebelahnya itu baru rumah aku." Tunjuk Hana pada rumahnya yang sederhana dengan sentuhan kebun bunga ala kadarnya.
Arga memperhatikan rumah Hana, dengan detail.
" Tidak terlalu buruk, bahkan sangat indah." Ucapnya menikmati pemandangan kebun bunga yang terletak dipekarangan rumah keluarga Hana.
Membuat Hana melototkan matanya,
ini pujian atau hinaan ?
Arga melangkah dahulu dari Hana dan Ranti.
" Assalamualaikum." Ucapnya sesampai di depan pintu rumah Hana.
Hana dan Ranti segera menyusul Arga.
__ADS_1
Tak ingin membuat orang tuanya nantinya salah paham dengan kehadiran Arga.
" Assalamu'alaikum Pak, ini Hana."
Ceklek... Rahmet membukakan pintu.
" Waalaikumussalam..
Kakak." Rahmet langsung mencium punggung tangan kakaknya.
Hana langsung memeluk adiknya yang sudah amat lama ia rindukan.
Meluapkan kerinduannya dengan bentuk pelukan.
" Rahmet, kangen banget sama kakak." Lirih Rahmet.
Hana mengangguk." Kakak juga kangen sama kamu.
Arga terhenyu, melihat kakak dan adik yang tengah melepas kerinduan itu.
Sudut bibirnya tertarik membentuk ulasan senyuman.
" Kamu beruntung dik, bisa memiliki kakak seperti Hana." Batin Arga.
Ranti juga tak mau tinggal diam, ia ikut berpelukan dengan kedua sepupunya itu.
" Kalian berdua melupakan aku ya." Protes Ranti yang mengundang tawa diantara mereka.
Tak lama kemudian, keluarlah Tameer dan istrinya.
" Hana." Panggil Ibunya.
Hana langsung melepaskan pelukannya.
" Ibuuu."
Tanpa aba-aba Hana memeluk tubuh perempuan teduh itu.
Sudah sangat lama ia merindukan tubuh itu, merindukan belaian tangannya, merindukan aroma khas ibunya. Merindukan segala hal yang bertautan dengan Ibunya.
" Ibu Hana kangen sama ibu." Tanpa tersadar Hana menitihkan air matanya.
Begitu juga dengan ibu Hana, mengeluarkan segala kesesakan di dadanya. Akibat menahan rindu pada sang putri semata wayangnya.
" Ibu juga rindu sekali pada Hana, Nak." Sahutnya dengan buliran hangat di pipinya.
Tameer ikut mendekati mereka.
" Anak Bapak, sekarang semakin dewasa ya." Ujarnya mengusap pucuk kepala Hana.
Hana melepas pelukannya. Sembari mencium punggung tangan Ibunya.
Kemudian beralih pada Bapaknya.
" Hana juga kangen sama Bapak." Katanya seraya mencium tangan Tameer.
Disusul oleh Ranti." Apa kabar Uncle, Aunty ? Tanyanya bergantian.
Kehadiran Arga masih tak tetgubris oleh mereka. Sebab kerinduan menggebu-gebu
yang mereka miliki, membuat mereka tak menyadari kehadiran Arga.
" Alhamdulillah sehat nak, kamu ? Tanya Ibunya Hana.
" Alhamdulillah sehat juga Aunty." Jawabnya.
Detik selanjutnya, barulah pandangan mereka beralih pada lelaki bekurta biru muda itu.
Tameer beserta istrinya memperhatikan seksama lelaki dengan paras tampan rupawan itu.
Arga tersenyum pada mereka, seraya mendekat untuk menyalim tangan Tameer.
" Ini siapa nak ? Tanya Tameer dan Istrinya.
" Masya Allah, ganteng kali kak.
Oh jangan-jangan ini calonnya kakak ya." Ujar Rahmet yang membuat Hana melototkan matanya.
Sementara Arga hanya tersenyum dengan perkataan Rahmet.
Ibu, Bapak ini namanya Arga dia anak Raja Nazhanul Hakim..
Arga ini ibu dan Bapakku..
Dan lelaki bocil itu adalah adikku.." Jelas Hana pada Arga.
" Kak, aku bukan bocil ya." Protes Rahmet, tak terima dikatain bocil oleh Hana.
Arga tertawa kecil.
" Masya Allah, jadi ini anak Raja Nazhanul Hakim ya, suatu kehormatan bagi kami bisa kedatangan dirimu nak." Ujar Ibu Hana dengan sopan.
Senyum Arga mengembang." Saya juga Buk, suatu kehormatan bagi saya, bisa berkunjung kesini." Arga tetap rendah hati.
Arga menghampiri Rahmet, dan menyodorkan tangannya untuk di salim oleh Rahmet.
Rahmet pun menyalin tangan Arga.
" Salam kenal Abang ipar." Ucapnya tak tau malu.
Arga tersenyum dengan tersenyum dengan deretan giginya." Salam kenal dik."
" Ya Allah kita keasyikan ngobrol sampai lupa kalau kita punya rumah..
Ayo kita ke dalam saja. Sebentar lagi memasuki waktu Shubuh." Ajak Tameer pada mereka.
Mereka mengangguk setuju dengan ajakan Tameer. Akhirnya mereka beranjak memasuki rumah Hana.
Hana masih saja khawatir, akan kehadiran Arga di rumahnya yang sangat sederhana.
Bahkan bangunannya tak sepenuh beton, melainkan setengahnya masih papan.
" Arga maaf Nak, rumah kami ini sebenarnya tidak layak untuk di tempati seorang pangeran seperti mu nak." Ibu Hana merasa tak enakan dengan Arga.
Ya, rumah sederhana yang kecil.
Tanpa adanya AC, tanpa adanya alat tungku pemanas.
Bahkan tak ada fasilitas elit di dalamnya.
Ukuran rumahnya saja bisa dibilang serata dengan ukuran gudang di Istana.
Jauh dari kategori sempurna. Bagaikan langit dan bumi, jika dibandingkan dengan Istana.
Tempat tinggal Arga.
Namun, Arga tak mempermasalahkan hal itu.
Ia tetap berusaha nyaman dengan rumah Hana.
Meski tidak ber- Ac, namun udara di sini cukup segar dan sejuk. Membuat sesiapun merasa nyaman.
" Eh gak apa-apa buk, ini sudah lebih dari cukup. Udara di sini berbeda sekali dengan Istana.." Kata Arga yang membuat mereka merasa tak enakan.
" Kalau di Istana harus membutuhkan sepuluh AC baru sejuk, kalau di sini pula tanpa satu Acpun udaranya sudah sejuk sangat.. Masya Allah." Lanjut Arga mengundang senyuman di wajah mereka.
" Kamu ini bisa saja !! Kata Ibu Hana yang kagum pada kerendahan hati Arga.
" Yaiyalah namanya juga calon mantu." Ledek Ranti.
Hana semakin merasa kesal dengan Ranti, yang tak tau tempat dalam bercanda.
Dengan kepalan tangan yang erat." Ran, ngomong sekali lagi mulut kamu aku obok-obok ni." Ancam Hana.
Semua tertawa melihat kekesalan Hana, yang akhirnya meluap.
" Iyaiya, fix canda doang."
" Sudah-sudah lebih baik, sekarang kalian cepetan bersih-bersih. Sebentar lagi bakalan adzan. Biar kita sholat shubuh berjamaah." Titah Ibu Hana pada mereka.
Hana, Ranti dan Arga menuruti perintah Ibu Hana. Hana terlebih dahulu memastikan air di kamar mandinya ada.
Sebab, ia tak ingin membuat mereka menimba air di Sumur.
Ya, sudah pasti baik Ranti atau Arga tak pernah melakukan hal itu.
__ADS_1
" Masih pakai sumur gini ya, Han." Tanya Arga yang tiba-tiba masuk ke kamar mandi rumah Hana.
Membuat Hana yang menimba air, refleks terkejut dengan kedatangan Arga." Ih, ngagetin aja kamu !!
Iya, rumah aku ini rumah ketinggalan zaman."
Arga tertawa kecil melihat ekspresi kesal Hana. Detik selanjutnya ia menarik lengan baju Hana untuk keluar dari kamar mandi.
" Sana keluar." Ujarnya.
" Ih, Arga bisa gak sih ?
Gak usah pakai acara sentuh !! Pekik Hana
Bukan muhrim tau !!
" Gak ada yang nyentuh kamu !! Akukan narik lengan baju kamu. Gak usah gr." Protes Arga.
" Dasar Arga pohon pisang..
Astaghfirullah, sabar Hana sabar.." Hana mencoba menstabilkan dirinya..
Sementara Arga tertawa bahkan terbahak di kamar mandi.
Jujur saja, semakin ia mencoba menjauh dari Hana, semakin pula hatinya tertarik oleh magnet pesona Hana.
.
.
.
Mereka memutuskan sholat shubuh berjamaah di ruang tengah, kali ini Arga yang mengambil posisi menjadi Imam.
Tentu saja, suaranya yang merdu, dapat menghipnotis sesiapapun yang mendengarnya.
Tak heran bukan bila banyak wanita yang menginginkan Arga, sebagai imam dalam rumah tangganya.
Sudah tampan, mapan, bijaksana, cerdas, rendah hati, bahkan termasuk ketegori Sholeh.
Say masya Allah, untuk Arga..
" Masya Allah ternyata Kakak selain tampan, suaranya juga bagus sekali ya." Ujar Rahmet yang terkagum pada Arga.
Sementara Hana hanya tersenyum masam, meski benar apa yang dikatakan Rahmet benar adanya.
" Gak kok, itu mah suara kentang doang." Arga tak mau meninggi.
" Serius kak suara kak mantap banget, kapan-kapan ajari Rahmet ya biar bisa kek kakak." Pintanya pada Arga.
" Insya Allah siap." Jawab Arga dengan senyuman.
Tameer dan Istrinya tersenyum melihat kedua lelaki itu.
Baru beberapa jam Arga datang ke rumah Hana. Tapi dia sudah seakrab itu dengan Rahmet.
...🍂🍂🍂...
Mentari terpampang begitu terik pagi ini,
mengundang perhatian Arga untuk berjogging di sekitar daerah sini.
Tidak ingin nantinya ia tersesat. Argapun memutuskan mengajak Rahmet untuk menemaninya.
Sementara Ranti, Hana, dan ibunya Hana tengah sibuk menyiapkan sarapan ala adanya.
Ya, hanya tersedia lele goreng, tempe goreng serta sayur daun ubi gulai.
Hana masih ragu dengan sajian sarapan pagi yang mereka buat. Akankah Arga berselera untuk memakannya ?
Entahlah pertanyaan ini membayang terus dalam benaknya.
.
.
Arga dan Rahmet sudah sampai di danau permai. Ya, salah satu danau yang tidak terlalu jauh dari rumah Hana.
Danau permai bukanlah tempat untuk rekreasi, melainkan hanya sekedar persinggahan bagi orang-orang yang melakukan perjalanan jauh.
Bahkan kalau sudah memasuki waktu sore, ada beberapa orang yang memancing ikan di sana.
Ada beberapa bangku taman yang sengaja di bangun untuk tempat duduk disana.
Pepohonan yang rindang menjadikan tempat itu sejuk dan cukup nyaman untuk beristirahat.
Rahmet mengajak Arga untuk menikmati udara sejuk yang berhembus kencang di danau permai.
Arga tersenyum sembari mengikuti langkah Rahmet.
Mereka memutuskan duduk di sebelah pojok taman.
Arga menatap Rahmet yang tampaknya cukup kelelahan." Minum dulu." Tawar Arga memberikan sebotol air mineral.
Rahmet menerima air mineral tersebut, kemudian meneguknya.
Secara bersamaan Arga juga meminum botol minuman lainnya.
" Bang, Kakak suka sama kak Hana ? Tanya Rahmet tiba-tiba.
Membuat Arga refleks menyemprotkan minuman yang ia teguk.
Kemudian membeliakkan matanya pada Rahmet.
Rahmet tertawa melihat keterkejutan Arga.
Ha-ha-ha...
" Segitunya amat bang." Cibir Rahmet.
Arga mencoba menormalkan dirinya.
Menarik nafasnya perlahan kemudian menghembuskannya pelan.
" Kenapa nanya gitu ?
Emang kelihatan ya kalau abang suka sama kakak kamu ? Tanya Arga balik.
Rahmet mengangguk." Iya, dari cara abang ngelihat kak Hana, kelihatan kalau abang suka samanya." Benar saja, dari cara Arga memandang Hana memang berbeda dengan wanita lainnya.
Arga tersenyum." Tak ada lelaki yang tak jatuh hati dengan segala hal yang melekat pada kakakmu met..
Wajahnya, sifatnya, dan tutur katanya tak ada celah kecacatan sedikitpun. Dia punya sejuta pesona iman, Met." Ungkap Arga tanpa sungkan.
" Iya bang, aku juga sangat bangga di karuniai seorang wanita yang bergelar kakak seperti kak Hana...
Meski orang kerap kali berbuat buruk padanya. Ia selalu memaafkannya bahkan ia justru membalasnya dengan kebaikan bukan keburukan..Tak jarang kak Hana mendapatkan hinaan dari teman sekelasnya di sekolah. Bahkan hanya ada orang yang berhati tulus yang mau berteman dan menerima hidup kemiskinannya." Rahmet tau betul bagaimana perlakuan teman sekelas Hana pada Kakaknya.
Hati Arga sedikit sakit mendengar perlakuan buruk yang Hana dapatkan.
" Aku semakin yakin Han, kalau kamu itu memang wanita tangguh.
Kamu adalah definisi wanita terbaik pilihan Tuhan, yang dapat berkamuflase menjadi sebuah Pelangi." Ujar Arga dengan penuh penghayatan.
" Ya, Kak Hana memang pantas di sebut Pelangi. Ia wanita yang pekerja keras, kehidupan kami yang kurang mampu membuatnya harus menjadi wanita tangguh di usia belianya.
Sejak dia bersekolah dasar, ia sudah ikut bapak ke Sawah. Ya, tepatnya sepulang sekolah. Waktunya yang ia punya tak pernah ada yang sia-sia.
Malam belajar, waktu tahajjud menghafal sekaligus memurajah hafalannya.
Ya, memiliki kakak seperti kak Hana adalah kenikmatan besar yang Allah berikan padaku.
Arga merasa sedikit terpukul, dengan takdir cukup perih yang dimiliki Hana.
Ya, disaat gadis lain menyibukkan diri dengan shopping, nongkrong atau hal lainnya.
Justru Hana harus ikut membantu Bapaknya mencari sesuap nasi.
" Hati ku tidak salah jatuh padamu, Han." Batin Arga membayangkan senyuman Hana.
Bersambung....
Sevimli 6 Januari 2021
Salam hangat dari Author 🌹
__ADS_1