
" Bagaimana mungkin aku memercayai sesuatu , yang bahkan pangkalnya saja sudah tertolak oleh logika."
Mempercayai pada hal yang yang aku tau sangat sulit untuk hatimu lakukan ?
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Izazpun tengah sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk mengumpulkan bukti-bukti, membebaskan tuduhan itu pada Arga.
" Hana." Ucapnya mengingat bahwa Hana yang kerap kali bersama Arga ketika insiden itu terjadi.
" Aku harus infoin ke Hana sekarang juga."
Izazpun meraih ponselnya, dan menghubungi nomor Hana.
Drttt....
Ponsel Hana bergetar...
" Siapa ya yang nelpon ? Hana meraih ponselnya dari sakunya.
" Bang Izaz..
Hanapun menggulirkan tombol hijau pada ponselnya.
" Assalamu'alaikum bang Izaz." Ucap Hana.
" Waalaikumussalam Han.
Hana masih di Indo ? Tanya Izaz.
Hana mengangguk." Iya bang Zaz, kenapa ?
" Bila Hana balik kat sini ? Tanya Izaz.
" Insya Allah besok bang.
Hm, ada ape ya bang ? Kenapa abang gelisah macam ni ? Arga dah sampai kan ?
Tanya Hana yang mulai cemas dengan Arga.
" Iya Han, Arga dah sampai dua hari yang lalu.
But, Arga ditahan Han, hari ini dia udah ngejalanin sidang pertamanya.
Minggu depan sidang kedua Arga." Ungkap Izaz dengan lirih.
Deg...Hana terkejut dengan perkataan Izaz.
Apa yang mereka takutkan, ternyata telah terjadi.
" Aaargaa diiitahaan ? Hana tergagu-gagu mengucapkannya.
" Iya Han, kamu cepetan balik ya.
Abang yakin Hana bisa bantu abang buat cariin bukti bahwa Arga bukan pengkhianat.
Abang tau kamu yang selalu menemani Arga menuntaskan permasalahan ini kan ?
Abang mohon ya Han,kita cuma punya waktu sepekan untuk mengumpulkan bukti-buktinya."
Mohon Izaz pada Hana.
Hana mengangguk, tanpa Izaz mintapun.
Hana pasti akan berjuang untuk mengumpulkan bukti-bukti itu.
" Insya Allah bang Zaz, Hana bakalan berjuang untuk mengumpulkan semua bukti-bukti itu.
Hana menjadi saksi nyata bahwa Arga bukanlah pengkhianat !!
Melainkan ia sosok pejuang kebenaran yang selalu memikirkan keselamatan orang lain ketimbang dirinya.
Arga itu sosok bijaksana bang Zaz.
Dia berjuang ikhlas karena Allah, ia tak pernah mengharapkan apapun. Ia ingin negrinya aman dan damai. Bahkan nyawanya ia pertaruhkan untuk keutuhan negrinya.
Besok insya Allah Hana dan Ranti bakalan balik ke Malay." Hana bertekad untuk menuntaskan segalanyan. Dan segera mungkin inginkan si pengkhianat itu mendapatkan balasan atas segala kejahatannya.
" Alhamdulillah kalau gitu Han.
Safe flight ya Han..
Abang nak ke sel tahanan lihat Arga kejap..
Abang tutup dulu ya..Assalamu'alaikum." Tutup Izaz.
" Iya bang Zaz, waalaikumussalam." Hana memutuskan panggilan.
Hana pun bergegas memasuki kamarnya.
Untuk mengemasi semua barang-barangnya.
Ranti yang melihat Hana seperti itupun terheran. Untuk apa Hana terburu-buru ?
Padahal kan beres-beres nanti malam juga bisa. Pikirnya.
" Han kamu kok buru-buru gini ? Tanya Ranti mendekati Hana.
Sembari mengemasi barang-barangnya.
" Kita harus balik malam ini juga Ran." Jawab Hana tiba-tiba pada Ranti.
" Ha ? Bukannya besok Han.
Kamu gimana sih ?
Hana menghentikan aktivitasnya, dan menghampiri Ranti." Arga di tahan."
Mendengarkan perkataan Hana, membuat Ranti terpelongo terkejut.
" Kamu serius Han ? Ranti masih saja bertanya pada Hana.
" Iya, Arga udah ngelewatin sidang pertamanya.
Dan sidang keduanya Minggu depan.
Itu kesempatan terakhir buat kita ngebuktiin dia gak bersalah." Ungkap Hana pada Ranti.
" Astaghfirullah, itu artinya kita cuma punya waktu satu minggu buat ngumpulin bukti-bukti." Hana menganggukkan kepalanya.
Tanpa aba-aba, Rantipun meraih kopernya dan mengemasi barang-barangnya.
Hana tersenyum, merasa sedikit tenang.
Sebab, ada banyak orang yang ingin membantu membersihkan nama Arga dari fitnah ini.
" Kita balik naik kapal or pesawat ? Tanyanya.
" Hm, kitakan udah pesan tiket pesawat Han.
Entar hangus dong." Kata Ranti pada Hana.
Hanapun berpikir seperti itu.
Namun, apa tidak lebih baik lebih cepat balik.
" Kita balik besok aja ya." Bujuk Ranti.
Dengan terpaksa Hanapun mengangguknya.
Seusai mereka berunding, merekapun memutuskan untuk menyiapkan segala keperluan yang akan di bawak besok.
...🍂🍂🍂...
Di Istana...
Izaz memutuskan untuk menemui Arga di Sel tahanan.
Untuk meminta penjelasan dari Arga mengenai kronologis kejadiannya, siapa-siapa yang terlibat, agar mempermudah mencari bukti-buktinya.
Sesampai di Sel tahanan.
" Ada apa nak Izaz ? Tanya salah satu penjaga sel.
" Saya mau ketemu Arga, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengannya." Jawab Izaz dengan sopan.
" Ah, nak Izaz udah izin ke Tuan Nazh ?
Izaz mengerutkan keningnya.
" Apa mesti izin dulu ?
" Hm setelah saya bertemu Izaz, saya akan izin ke ayah saya." Jawab Izaz yang mulai kesal dengan pengawal di hadapannya.
" Maaf nak, sesuai peraturan..
Nak Izaz harus izin terlebih dahulu." Ia belum mengizinkanku juga.
Arghh.. Izaz berdengus kesal..
Ia pun mendorong pengawal tersebut.
Merasa sudah muak dengannya.
" Aku ingin bertemu dengan adikku, tidak ada sesiapapun yang bisa menghalanginya !! Sergahnya pada pengawal itu.
Kemudian tanpa ragu Izaz, memasuki daerah sel tahanan.
Ya, tempat yang tak sepantasnya menjadi tempat adiknya.
Tempat yang seharusnya dihuni para penjahat bukan adiknya yang bijaksana.
Ruangan yang tak terlalu besar, bercahayakan lampu yang minimalis.
Sangat sulit untuk bisa bertahan di Sel tahanan bawah tanah ini.
" Adikku tidak pantas berada disini." Izaz membenci keadaan ini.
Ia mencari jeruji besi nomor 12, tepat dimana Arga, Andrea, abriz dan Robert berada.
Pemandangan yang pertama terlihat oleh netranya adalah sosok adik lelakinya.
Terduduk lemah di balik jeruji besi.
" Arga." Panggilnya.
Sentak semuanya menoleh ke arahnya.
" Bang Izaz." Ujar Arga berdiri mendekati sang abang.
" Pak saya mohon bukakan selnya.
Saya ingin bertemu dengan Arga sebentar." Pinta Izaz pada pengawal yang menjaga dibagian dalam.
" Tapi nak ti...
" Hanya tujuh menit !! Potong Izaz.
__ADS_1
Dan akhirnya, pengawal itupun membukakan pintu selnya, dan memberikan Arga kesempatan untuk bertemu Izaz.
Izaz menatap lekat wajah Arga yang masih tersenyum padanya.
Bukhh.. Satu pukulan Izaz layangkan padanya.
" Izaz." Teriak Robert yang terkejut dengan tingkah Izaz.
" Kenapa kau tidak mengatakan semuanya padaku ha ? Apa kau pikir kau hebat bisa menyelesaikan semuanya ? Bentak Izaz padanya.
Arga hanya tersenyum simpul." Maaf bang." Hanya kata itu yang ia ucapkan.
Izaz menggenggam wajah sang adik.
Ia melihat betapa banyak luka yang tersembunyi dibalik senyuman itu.
Dengan cepat ia mendekap tubuhnya.
" Dek, apa kau tidak menganggapku saudara mu ? Apa aku ini bukan abangmu ?
Seketika air mata Izaz bergulir ke bawah.
Argapun ikut meneteskan air mata.
" Maafkan Arga bang...
Arga gak mau nyusahin abang." Jujurnya pada Izaz.
Izaz melepaskan pelukannya." Menyusahkan ?
Apa kau pikir aku tidak bertanggung jawab atas Negriku ini ?
Arga tercuit mendengarnya..
Benar saja, semua warga negara wajib bertanggung jawab atas negaranya.
" Sudahlah semua telah terjadi, sekarang ceritakan semuanya pada abang !! Jangan ada lagi secuilpun yang kau sembunyikan dari abang. Katakan siapa-siapa yang terlibat dalam kasus ini, biar abang mudah mencari bukti-buktinya." Kata Izaz pada Arga.
" Abang percaya kalau Arga bukan pengkhianat ? Tanya Arga.
Petak... Izaz menampol kepala Arga.
" Bagaimana mungkin aku mempercayai hal yang bahkan pangkalnya saja sudah tertolak oleh logika ?
" Bagaimana mungkin aku percaya pada hal yang aku tau sangat mustahil untuk bisa hatimu lakukan." Jawab Izaz dengan senyumannya.
Arga tersenyum.
Bersyukur, disaat ia terjatuh, dan terluka parah.
Masih ada banyak tangan yang mendekapnya.
Masih banyak hati yang mempercayainya.
" Terima kasih bang." Air matanya kembali terjatuh.
Andrea, Abriz dan Robertpun tersentuh melihat mereka berdua.
" Sudahlah !! Jangan buang-buang waktu.
Sekarang ceritakan semuanya." Pinta Izaz pada Arga, agar dirinya menceritakan semuanya dengan jelas.
Argapun memulai ceritanya, mulai dari kejadian dua tahun yang lalu. Saat dirinya tanpa sengaja bertemu dengan Vachry dan Abriz disebuah Caffe.
Saat itu, ban motor Arga bocor.
Dan iapun menambalnya disalah satu bengkel terdekat. Daripada menunggu lama di bengkel Arga memutuskan untuk ngopi di Caffe yang bersebelahan dengan bengkel.
Dan di Caffe itulah Arga melihat Vachry bertemu Abriz, awalnya ia hanya berpikir ah paling juga mereka itu temen lama yang reuni.
Namun, saat mendengar kata hilangkan semua bukti-bukti. Membuat Arga tertarik untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
Dan singkatnya, Argapun mengerti bahwa orang yang bersama Vachry adalah orang suruhannya untuk memitnah almarhum Hammer, ayah Jihan.
Mendengarkan cerita Arga, membuat Izaz terduduk lemas. Rasa penyesalanpun mulai menyelimutinya.
" Aku telah meletakkan kebencian pada orang yang salah." Ucapnya menyesal telah membenci Hammer yang sebenarnya di fitnah.
" Iblis kau Vachry !! Upatnya yang sudah mulai emosi.
" Sudahlah kak, ini saatnya kita mengembalikan nama baik almarhum Uncle Hammer dan keluarganya." Ujar Arga seraya menepuk pundak Izaz.
" Arga lanjutkan ya.." Kata Arga yang diangguki oleh Izaz.
Argapun melanjutkan kembali ceritanya, mengenai pertikaian antara daerah Terengganu dan Penang, yang dikudai oleh Robert dan Andrea.
Kejadian di Penang hill yang menyebabkan, nyawa Hana hampir saja melayang.
Kejadian dirinya yang dijebak dengan Hana di Ghost Hill oleh pejabat brengsek itu.
Pria yang kerap di sapa Vachry itu memang benar-benar iblis.
Benar-benar licik, memanfaatkan Hana untuk membuat Arga menanda tangani surat itu.
Dan ya, Arga tak ingin Hana terluka.
Pada akhirnya, iapun memilih menandatangani surat itu.
" Berarti yang terlibat dalam kasus ini, Uncle Robert, putranya dan Abriz." Izaz menunjuk ke arah mereka bertiga.
Arga mengangguk." Ya bang."
" Tidak ada yang lain ? Tanya Izaz mendekati mereka bertiga dibalik jeruji besi.
" Benar nak." Jawab Robert padanya.
" Tidak ada yang lain ?
Memory mereka berdua kembali berotasi, mengingat kembali kejadian tiga tahun lalu.
Beberapa menit keheningan menyelimuti
Abriz dan Robert yang terus berpikir, belum kunjung juga mengingatnya.
" Tak ingat ke ? Tanya Izaz.
Merek berdua menggeleng sebagai jawabannya.
Huhh...
Izazpun menghela nafasnya.
" Apa tak ada jejak kejahatannya yang kalian punya sama sekali ? Tanya Izaz pada mereka.
Abrizpun mencoba mengingat-ingat kembali.
Sesuatu yang pernah ia dapatkan dari Vachry yang bisa dijadikan bukti.
Cukup lama ia berpikir, sampai pada akhirnya.
Ia teringat sesuatu.
" Bukti transfer." Ucapnya mengingat hal itu.
" Ya, bukti transfer.
Tiga tahun lalu Vachry mengirimkan uang atas kerjaku melalui transfer, sebab kemarin itu dia tidak sempat datang ke rumah sakit.
Arga dan Izaz mendekatinya." Apa paman masih menyimpan kertasnya ? Tanya Arga.
Abriz terdiam, tak tau apakah dirinya masih menyimpannya atau tidak.
Ya, benar saja.
Sudah kertasnya kecil, ditambah lagi kejadiannya tiga tahun lalu.
Allahurabbi...
" Aku masih menyimpannya." Ungkapnya mengingat bahwa dirinya menyimpan langsung kertas itu di sebuah brankasnya.
" Kau menyimpannya dimana paman ? Izaz bertanya dengan gercep pada Abriz.
" Di brankas rumahku.
Pergilah ambil kertas itu, istri dan anakku pasti berada di rumah. Minta padanya dan katakan bahwa aku yang memintanya, tapi jangan pernah katakan aku berada di sini.
Karena itu akan membuatnya terpukul.
Alamat rumah di Perumahan Selangor nomor 21, sekitar setengah jam dari sini." Abriz tak ingin istri dan anaknya khawatir sekaligus tersakiti melihatnya.
Izaz mengangguk paham.
" Aku memahaminya paman."
Abriz mengeluarkan KTP-nya, agar nantinya Izaz menunjukkan pada satpam yang berjaga di pos, supaya Izaz diizinkan untuk memasuki perumahan itu.
" Bawak ini, tunjuk pada satpam yang berjaga di pos." Abriz memberikan KTPnya.
Izaz mengangguk, seraya mengambilnya dan menyimpannya di dalam dompetnya.
" Apa kalian tidak punya hal lain yang bisa dijadikan bukti ? Tanya Izaz kembali pada mereka.
Mereka kembali menggeleng tidak mengingat sesuatupun.
" Hm yaudah kalau macam tu.
Izaz cabut dulu, nak ngambil kertas transfer tu." Ucap Izaz pada mereka.
" Assalamu'alaikum." Pamitnya pada mereka.
" Waalaikumussalam."
" Hati-hati bang Zaz." Kata Arga padanya.
" Kau tak perlu khawatir, abang akan kumpulkan semua bukti-bukti nya." Izaz tersenyum pada Arga.
Detik selanjutnya, Izazpun beranjak dengan cepat keluar dari sel tahanan.
" Sudah selesai Tuan ? Tanya pengawal yang menyebalkan tadi.
Izaz tak menggubrisnya.
Ia terus berjalan menuju garasi, untuk mengambil mobilnya dan melajukannya ke Rumah Abriz.
Brummm...
Dengan kecepatan maksimal Izaz, pergi meninggalkan Istana.
.
.
.
Tak sampai setengah jam, Izaz sampai di perumahan Selangor yang dimaksud oleh Abriz tadi.
Izaz keluarga dari mobilnya.
__ADS_1
Dan beranjak menuju pos untuk meminta izin pada satpam perumahan Selangor ini, berkunjung ke rumah nomor 21.
" Permisi Pakci..
Saya nak kunjung kat rumah nomor 21 Pakci." Ucap Izaz padanya.
" Hm, ada bukti yang bisa menjamin bahwa kamu bersangkutan dengan pemilik rumah ?
Benar saja, dia meminta buktinya.
Izaz mengangguk dan meraih KTP Abriz di dalam dompetnya." Ini pakci."
Izaz memberikan ktp tersebut.
Dan akhirnya, satpam yang berjaga pun mengizinkan Izaz berkunjung ke rumah nomor 21.
" Silahakan." Ucapnya membukakan palang perumahan.
" Terima kasih Pakci." Izazpun dengan cepat kembali melajukan mobilnya.
Izaz memperhatikan dengan rinci, perumahan yang ada di daerah ini.
Sudah cukup jauh dari gerbang, barulah Izaz memarkirkan mobilnya ke tepi jalan yang kosong.
Izaz memutuskan untuk berjalan mencari rumah nomor 21.
" Ini delapan belas..
Itu sembilan belas." Ucapnya terus berjalan mencari keberadaan rumah Abriz.
" Nah pasti didepan sana nomor dua puluh satu." Izazpun berlari kecil ke arah rumah yang berwarna Hijau army itu.
" Nah benar dua puluh satu." Izaz melihat nomor 21 terletak di tepi pintunya.
Sesampai di rumah itu, Izaz dikagetkan oleh sosok lelaki yang memiliki jabatan cukup tinggi di Istana.
" Uncle Vachry." Ya, Pejabat brengsek itu.
Amarah yang sempat terpadam di Istana tadi, kembali meruak dalam diri Izaz.
" Hai calon menantuku." Ucap Vachry.
" Cuihh.. " Izaz beludah di hadapannya, merasa jijik mendengar perkataannya.
" Aku bukan calon menantumu !!
BRENGSEK !! Teriak Izaz yang mendekatinya.
Bukhh.. Izaz melayangkan pukulannya pada Vachry.
Hahaha.. Terdengar tawa dari mulut manusia iblis satu ini.
" Waw hebat sekali..
Pukk...
Pukkk.. Vachry menepuk tangannya.
Semakin membuat kemarahan Izaz bertambah.
" KAU !! Izaz hendak melayangkan kembali pukulannya.
Namun, terhenti oleh ucapan Vachry.
" Biar kutebak..
Kau mau mengambil kertas inikan." Vachry menunjukkan kertas transfer Abriz yang sudah berada di genggamannya.
Izaz melotot heran..
Bagaimana bisa dia mendapatkannya ?
Ah, sudahlah.
Jangan pernah lupakan..
Bahwa pria satu ini memang sangat licik.
" Kau mau tau aku tau darimana mengenai kertas ini ? Tanyanya dengan ekspresi liciknya pada Izaz.
Izaz hanya menatapnya tajam penuh kebencian.
" Jangan pernah lupakan, bahwa anak buahku banyak sekali yang berkeliaran di Istana."
" KAU MEMANG LICIK !! Teriak Izaz padanya.
Izaz hendak merebut kertas itu dari tangan Vachry, dengan cepat Vachrypun merobek kertas itu.
" Ambillah." Ucapnya menghamburkan robekan-robekan kertas tersebut.
Izaz terdiam kutub melihat kertas yang bisa menjadi bukti untuk sidang minggu depan.
Kini kertas itu, berubah menjadi robekan-robekan yang tak berguna sama sekali.
Izaz terduduk dilantai, memungut robek-robekan kertas tersebut.
Berharap bisa, menyatukannya kembali.
Namun sayang, semua hanya sia-sia.
" Vachry baj*ngan !! Teriak Izaz.
" Good luck untuk mu calon mantu menantuku."
Ucapnya meninggalkan Izaz yang masih memungut robekan kertas itu.
.
.
Emm...
Emm... Tiba-tiba saja ada suara perempuan yang berasal dari kamar.
Izaz yang mendengar suara itupun, mencari ke sumber suara.
" Seperti suara perempuan..
Kayaknya dari kamar deh." Izazpun berlari menuju kamar di rumah ini.
Benar saja, di kamar belakang sudah ada sosok perempuan yang terikat tangan serta tertempel lakban dimulutnya.
Dan putrinya yang balita masih tertidur pulas di tempat tidur.
Perempuan itu adalah Istri Abriz dan balita itu adalah putrinya.
" Astaghfirullah." Izaz membuka ikatan pada tangan Istri Abriz.
Setelah melepasnya, istri Abrizpun membuka lakban yang menutupi mulutnya.
" Terima kasih nak." Ucapnya pada Izaz.
Izaz mengangguk." Makci istri paman Abriz ?
Tanya Izaz, yang diangguki oleh istrinya.
" Kau mau mengambil kertas bukti transfer itukan ? Tebaknya, melihat wajah lesuh dari Izaz.
" Iya makci." Jawabnya.
Zivya, sang istri Abrizpun tersenyum pada Izaz.
" Jangan khawatir nak..
Masih ada bukti yang memperlihatkan lelaki brengsek itu melakukan transfer ke rekening suami makci." Ucapnya pada Izaz.
Membuat Izaz menoleh ke arahnya.
" Apa itu makci ? Izaz belum mengerti dengan perkataan Zivya.
Zivyapun meriah ponsel keluaran empat tahun lalu. Dan memberikan ponsel itu pada Izaz.
Izaz mengambil ponsel itu.
" Di dalam ponsel itu ada pesan tanda transfer tiga lalu yang masih tersimpan dengan baik.
Pesan itu bisa kau jadikan bukti." Katanya ada Izaz.
Benar saja, meski kertas itu sudah dirobek oleh Vachry. Dan Vachry sudah merasa dirinya paling pintar, ternyata dia melakukan satu hal ini.
" Alhamdulillah.." Izaz lega akhirnya mendapatkan satu bukti.
" Terima kasih makci." Ucapnya pada Zivya.
" Apa makci sudah tau apa yang terjadi ? Tanya Izaz dengan hati-hati.
Zivya tersenyum dan mengangguk.
" Saya sudah tau suatu saat hal ini akan terjadi..
Sudah menjadi resiko untuk kita mendapatkan hukuman sesuai dengan perbuatan kita.
Meski, itu karena keterpaksaan atau kesengajaan." Zivya benar-benar kelihatan tegar apa yang menimpa keluarganya.
Izaz terkagum padanya.
Jarang sekali ada seorang istri yang bisa bersikap seperti Zivya ini.
" Makci mau menjadi saksi di persidangan kedua minggu depan ? Tawarkan Izaz.
Zivya tersenyum." Saya akan berada di gardang terdepan sebagai saksi nyata atas tindak kejahatannya." Jawab Zivya dengan mantap.
Membuat senyum Izaz semakin mengembang.
" Baik terimakasih makci..
Kalau gitu Izaz permisi, mau mencari bukti-bukti yang lain." Pamit Izaz padanya.
" Senantiasa Allah melancarkan segala perjuanganmu nak." Tutur Zivya padanya.
" Allahumma aamiin..
Assalamu'alaikum makci." Izaz beranjak keluar dari rumah Abriz.
" Waalaikumussalam." Jawab Zivya.
Izaz keluar dari rumah Abriz dengan senyuman.
Benar saja, setelah kesulitan ada kemudahan.
Allah takkan biarkan hambaNya yang berjuang demi kebenaran berada dalam keterpurukan.
Pasti Allah akan menolongnya.
Bersambung..
Sevimli 22 Maret 2021
__ADS_1
Salam hangat dari Author 🌹