
" Kalau semesta mengizinkan kita bertemu kembali. Pastikan sebelumnya hatimu memiliki rasa yang sama denganku."
......" Pelangi Hanani 🌹" ......
Dua hari berlalu di Jakarta, akhirnya Arga memutuskan untuk langsung pulang ke Malaysia tanpa kembali ke rumah Hana.
Sementara Hana dan Ranti terlebih dahulu pulang, kemudian lusa baru kembali ke Malaysia.
Udara dingin pagi hari ini menemani mereka, membela keramaian di jalan kota Jakarta.
Ya, bukan Jakarta namanya kalau tidak macet.
Namun, meski dingin polusi udara yang tercemar dari asap-asap kendaraan tetap saja terhirup di rongga-rongga hidung.
Gadis manis yang kepalanya berbalut hijab coklat susu itu tersenyum, memandang setiap rinci jalanan kota Jakarta yang mereka lewati.
" Maha suci Engkau ya Allah, aku tak pernah menyangka bisa menginjakkan kaki di Malaysia dan sekarang aku telah menghirup udara di belanta fana yang bergelar Ibu kota Indonesia ini, terima kasih ya Allah." Syukur Hana dalam batinnya.
Pemuda yang bernetra bening itu sibuk mengutak-atik ponselnya, untuk mencari tau mengenai strategi paling ampuh. Mematahkan serangan musuh melalui pemikiran.
" Ga, maaf ya gua gak bisa nemenin Lo berjuang." Ujar Rayhan yang membuat pandangan Arga beranjak dari ponselnya.
Ia tersenyum mendengar perkataan sahabat bobroknya itu." Gak usah sok sweet Lo !!
Najis gua." Upatnya dengan senyumnya.
Petak....
Rayhan menampol kepala Arga.
" B*ngke Lo !!
Kedua sahabat itu mengutarakan senyuman satu sama lain.
Meski kerap kali melontarkan perkataan kasar yang tak menunjukkan setitik kasih.
Jauh dari itu semua keduanya saling menyayangi satu sama lain.
Hana dan, Ranti ikut terharu melihat keduanya pun ikut saling berpelukan satu sama lain.
" Hana." Ucap Ranti seraya mendekat untuk mendekap.
Hana juga tak tinggal diam.
Merentangkan tangannya untuk membalas pelukan Ranti.
" Hmmm, Rantiii."
Keduanya saling menguatkan satu sama lain.
Rayhan dan Arga memandang bahagia kedua gadis yang berstatus sepupu itu.
" Kita harus kuat dan menyatu untuk menuntaskan permasalahan ini." Ujar Rayhan.
Arga mengangguk senyum.
Haru, ya terharu memiliki sahabat seperti Rayhan yang kian tak jenuh memberi dukungan padanya.
Begitu juga Hana dan Ranti.
Mereka dua juga ikut andil membantunya dalam perjuangan ini.
Terutama Hana.
Ya, gadis nan sholehah yang berparas ayu itu, memang terlihat lembut dari tutur perkataannya.
Terlihat anggun dari penampilannya.
Namun, jauh dibalik itu semua.
Gadis itu bak Ummu Umarah di Medan Pedang
Ya, kuat dan kokoh menghadapi segalanya.
Asanya tak kian terikat dengan kata putus.
Meski kerap kali terombang-ambing oleh semesta.
Gadis itu tak pernah menyalahkan Tuhan atas segala kepahitan hidup yang di jalaninya.
Yang kian rela menjadi Pelangi untuk kehidupan orang lain.
Meski itu membuatnya mengorbankan kebahagiaannya.
Hanani Syaufa, sosok gadis yang berulangkali kali terluka dalam perjuangan ini.
Entahlah, kalau bisa dikata.
Ia bukan penduduk Malaysia yang berkewajiban membela negara twin tower itu.
Ia gadis asing yang datang menyapa negri tetangganya dengan tujuan yang mulia.
Bodoh ? Karena berkorban dalam menuntaskan kasus yang sebenarnya tak ada keterkaitannya dengan dirinya begitu ?
Cari nama ? Melakukan perjuangan itu semua semata-mata ingin mengangkat namanya begitu ?
Salah besar.
Hanani Syaufa bukan gadis seperti itu.
Dirinya melakukan semuanya karena Allah.
Bahkan sedetikpun tak pernah terlintas dalam benaknya, untuk mengharapkan imbalan daalm perjuangan ini.
Ia hanya berniat meluruskan kembali apa yang bengkok.
Kebathilan yang harus di musnahkan.
Dan menegakkan kebenaran yang tak akan pernah lekang oleh apapun.
Ikut menuntaskan permasalahan di Negri Malaysia adalah salah satu dari tujuan perjalanan hidupnya.
Senantiasa Allah selalu melindungi gadis yang kerap disapa Hana itu.
.
.
Tiga menit yang lalu mereka telah sampai di Bandara Soekarno-Hatta.
Sekitar satu jam lagi, pria berparas tampan dan berpostur tinggi itu akan terbang kembali ke tanah kelahiran.
Lengkungan senyuman diwajah gadis yang menaklukkan hatinya itu tak kian memudar meski dalam keadaan berbicara.
Membuat detak jantung Arga tak berhenti bergeming.
Tak ingin berkelut dalam deg-degannya.
Ia memutuskan untuk menghampiri gadis yang sedang asyik mengobrol dengan Ranti si cewek keran bocor.
" Han." Panggilnya.
Membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
" Iya Ga."
" Hm, terima kasih ya kamu udah mau ikut berjuang dalam menuntaskan permasalahan Negriku." Ucapnya dengan tulus.
Hana tersenyum." Kirain mau ngomong apaan."
Hana menjeda beberapa detik perkataannya.
Kemudian sedikit menjauh dari Arga.
" Hm, sudah sepantasnya setiap orang yang melihat kebathilan harus memusnahkannya, bukannya mendiamkannya.
Malaysia memang bukan negriku, namun bukan berarti aku tak bertanggung jawab dalam meluruskan kembali apa-apa yang perlu di luruskan. Ini bukan hanya tugas untuk seorang anak Raja bukan ?
Tapi ini juga tugas untuk setiap insan yang hatinya terbuka dan terlapang untuk menegakkan kebenaran." Perkataan Hana kali ini terlihat begitu anggun dengan senyumannya.
Kagum..
Dan bangga.
Kata-kata yang tepat untuk gadis ini.
" Jangan biarkan warna pelangi dalam dirimu memudar ya Han. Karena semua orang membutuhkannya." Kata Arga.
Hana mengangguk." Jika itu akan memberikan ketenangan dan kekuatan untuk orang lain. Seikhlas hati aku akan mendekapnya agar selalu berbaswara." Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.
Rayhan dan Ranti ikut mendekat pada keduanya.
Ranti merangkul tangan Hana.
Dan Rayhan menepuk pundak Arga memberikan kekuatan.
" Safe flight Bro." Ujar Rayhan.
" Lo jangan lupa sesekali Weekand ke Malay, jangan jadi mangga lupa getah Lo." Balas Arga yang mengundang tawa di antara mereka.
Hahaha...
Mereka berdua pun menutupnya dengan salam tos perpisahan ala mereka.
Seusainya, Arga menghampiri Hana dan Ranti.
"Aku balik Han, jangan lupa secepatnya susul aku ya. Aku nggak bisa berjuang sendiri." Kata Arga pada Hana.
Hana tersenyum menggelengkan kepalanya.
" Yakin ?
Bukannya kamu itu pria paling kuat ya ?
Ledek Hana dan tak lupa ekspresi ngeselinnya.
Arga tersenyum dengan deretan giginya.
" Iya deh iya.
Meskipun Arga orangnya kuat, tapi dia masih butuh bantuan orang lain."
" Hm, Fii amanillah ya Ga.
Aku juga pamit pulang ke Labuhan batu." Balas Hana dengan senyumannya.
Arga mengangguk." Too Han.
__ADS_1
" Ran, gua balik.
Lo juga secepatnya balik ke Malay, biar ada yang bar-barin telinga gua sampe budeg."
Perkataan Arga mengundang tawa diantara mereka. Ya, mulut Ranti memang paling ahli dalam bidang marah-memarahi.
" Gak bisakan Lo, sehari gak dengerin ocehan gua haha..."
Kemudian Ranti mengangguk dan mendekati Arga." Safe flight ya Ga.
Maafin gua ya udah sering nyetrum hati lo dengan kemarahan gua."
" Gak perlu minta maaf.
Justru gua say thanks sama Lo, karena Lo hati gua terbuka untuk berusaha sebisa mungkin teguh dalam pendirian. Gak pinplan kesana kemari Ran."
Ranti mengangguk."Jangan plin-plan lagi,lo! Kalau plin-plan lagi gua budegin tu telinga." ancam Ranti dengan kepalan tangannya.
Arga tersenyum dan mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
Sesuai saling berpamitan beberapa menit kemudian terdengarlah suara keberangkatan IATA-Bandara KUL.
Argapun beranjak dari terminal keberangkatan. Menarik handle kopernya dan menyeretnya ikut bersamanya.
" Gua cabut guys..
Assalamu'alaikum.." Pamit Arga pada mereka bertiga dengan senyumannya.
Rayhan pun menghampiri Arga, dan tanpa aba-aba ia memeluk Arga sahabatnya itu.
Ya, kali ini ia menurunkan gengsinya.
Meski ia tau bakalan kena damprat oleh Arga, ia tetap ingin memeluk tubuh sahabat sombongnya yang merupakan putra bungsu Raja Malaysia.
Rayhan merasa bersalah, disituasi rumit seperti ini. Seharusnya ia selalu mendampingi Arga, tapi kenyataannya jarak yang membentang telah memisahkan keduanya. Jakarta dan Malaysia ya, dua negara yang berbeda.
Jujur dari hati kecil Rayhan, hatinya sudah bersahabat dengan Malaysia.
Ya, ia sudah terlanjur jatuh hati dan merasa damai di Negri Ziran itu.
Kalau bisa dikata, ia ingin menetap di Negri itu.
Namun sayang, keputusan kedua orang tuanya tak bisa diganggu gugat untuk kembalinya ke Tanah kelahiran.
Membuat dirinya tak berdaya.
Suka atau terpaksa ia harus menuruti perintah kedua orang tuanya.
Arga yang di dekap secara tiba-tiba oleh Rayhanpun hendak mendorong Rayhan.
" Ga, maafin gua nggak bisa bantu Lo Ga." Suara Rayhan terdengar lirih, membuat Arga tidak jadi mendorong Rayhan.
" Hm, lebay banget sih Lo ah." Balas Arga.
" Maafin gua Ga, gua gak bisa berbuat apa-apa. Gua emang gak berguna Ga."
Arga pun melepaskan pelukan Rayhan dengan pelan." Lo apaan sih !! Kok ke banci gini, gelay gua tau GAK." Sergah Arga meski bergedik geli namun deretan giginya tetap ia perlihatkan.
Arga merengkuh pundak Rayhan. "Ada kok yang bisa lo lakuin buat perjuangan gua ini." Arga tersenyum pada Rayhan.
Ia tau bahwa Rayhan ingin sekali membantunya, namun lagi-lagi jarak yang menjadi problematikanya.
Rayhan menatap Arga, menunggu lanjutan ucapan Arga.
"Doa.
Gua butuh doa dari sahabat yang punya hati tulus kayak, lo." Arga memeluk Rayhan dan menepuk punggungnya.
Senyuman di wajah Rayhan semakin melebar, dan semakin mendorong cairan hangat keluar dari sudut matanya.
Ia mengangguk dan juga ikut memukul punggung Arga.
"Doa gua selalu mengikuti jejak langkah lo, Ga." ungkapnya.
"Percayalah! Allah selalu memudahkan langkah kita untuk menuntaskan pertikaian di Royal Pahang, lihatlah! Sejauh apapun kita berkelana yang kita temui tetap mereka
para kurdil-kurdil jahanam. Bukankah pertanda semakin mudah untuk kita menemukan bukti-bukti kelicikan pejabat Istana." Hana mencoba untuk menyakinkan bahwa Allah bersama orang-orang yang benar.
"Setuju! Hidup geng IPK!" seru Ranti.
Ketiga serentak menoleh pada Ranti."IPK?" kening ketiganya berkerut.
"Apaan tuch, kidz?" tanya Rayhan, mengayunkan tangannya.
"Indeks Prestasi Kumulatif, kali ye!" asal Arga.
"Ye! Insan Pejuang Kebenaran.
Gitu doang kagak tau, hahaha!" terdengar tawa renyah Ranti.
Keduanya saling mendekap.
Kedua telapak tangan dari masing-masing mereka menepuk punggung satu sama lain secara bersamaan, saling memberikan kekuatan.
Kali ini, tak seperti dua hari yang lalu.
Kalau kemarin setelah berpelukan saling mendorong dan mengupat satu sama lain.
Keduanya kini benar-benar henyak oleh keadaan haru diantara keduanya.
Hana dan Ranti ikut terharu melihat keduanya. Haru sekaligus bahagia.
Bahkan air mata Arga yang terbendung, akhirnya tertumpah ruah.
Cukup lama keduanya dengan posisi itu.
Sampai pada akhirnya terdengar kembali pengumuman keberangkatan penerbangan Arga.
"Ga! Waktunya kamu berangkat." ujar Hana, membuat kesadaran keduanya terkumpul kembali.
"Ah iyaiya Han." Kata Arga dan melepaskan pelukannya.
"Aku balik ya Han.
Gua balik Ran, gak usah nangis lagi Lo." Cetus Arga pada Rayhan.
Setapak demi setapak, kini Arga telah menjauh dari mereka.
Namun, pandangan mereka tak beranjak dari punggung putra bungsu Raja Malaysia itu.
Begitu juga dengan Arga masih menampilkan senyumnya meski hanya tidak lebih dari dua Centimeter.
Drrtttt... Dering ponsel Hana yang di silentkan bergetar dalam tas selempangnya.
Hana yang merasakan getaran ponselnya pun, merogoh tasnya, dan meraih ponselnya.
Bang Izaz.. Ya, nama itu yang tertera pada layar ponselnya.
" Siapa yang telpon Han ? Tanya Ranti.
" Bang Izaz Ran, aku angkat dulu ya." Jawab Hana seraya menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
" Assalamu'alaikum, hallo bang zaz." Salam Hana.
" Waalaikumussalam, Arga kat mane ye ?
Abang call die tak angkat." Tanya Izaz.
" Ahhh...
Hana bingung harus menjawab apa, pasalnya mereka belum memberitau orang-orang Istana, bahwa hari ini Arga kembali ke sana.
Hana menatap Rayhan dan Ranti bergantian, seolah bertanya ia harus menjawab apa.
" Jujur aja Han." Rayhan mengangguk pada Hana.
" Eehhh...
Arga balik kat Malay hari ini bang, sebab tu tak angkat call abang. Beizy pulakan kat Bandara ni bang zaz." Meski gugup, Hana tetap berusaha jujur pada Izaz.
" Baguslah budak tu balik cepat.
Ade hal serius yang nak ditanyakan kat die." Ujar Izaz di sebrang telpon.
Hana sudah bisa menebak, hal dan pertanyaan serius apa yang akan mereka layangkan pada Arga.
" Ah iya bang Zaz, Arga baru je berangkat."
" Ah iyelah Han..
Tak habis-habis budak tu buat pasal." Kata Izaz terdengar sedikit emosi tersulut di dalamnya.
Hana menghela nafasnya sejenak, memikirkan akan ada hal menyakitkan yang akan menyambut kepulangan Arga di Malay.
" Bang Zaz, Hana nak cakap satu kat abang.
Arga adalah adik terbaik yang akan selalu diimpikan oleh sosok abang.
Jangan mudah percaya dengan ape-ape yang sebenarnya kite sudah bisa pastikan dengan logika kite, bahwa itu tak pernah benar keadaannya." Nasehat Hana pada Izaz.
Di sebrang Hana, Izazpun mengerut heran.
Kenapa perkataan Hana seolah-olah berhubungan dengan keadaan yang sedang terjadi di Istana.
" Maksud Hana ape ye ? Tanya Izaz seraya terus berpikir.
" Hana tau ye ape yang dah Arga buat ? Tebak Izaz.
Hana tersenyum." Hm, sekali lagi Hana hanya pesan satu benda kat abang.
Tak ade putra Raja yang setulus dan sebijaksana Arga dalam menegakkan kebenaran.." Hana menghentikan ucapannya.
Memenjamkan matanya yang mulai berbinar-binar.
Berkelud dalam kesedihan, memikirkan fitnah yang akan menimpa Arga.
" Hana tutup ye, assalamu'alaikum." Hana sudah tidak ingin melanjutkan lagi obrolannya dengan Izaz, dan memilih mengakhirinya.
Rayhan dan Ranti yang mendengar percakapan mereka juga sudah bisa menerka, hal apa yang akan terjadi pada Arga.
Hana menunduk lemah di lantai Bandara, seraya meramas gamis yang ia kenakan.
" Arga Ran..
Arga Ray.." Ujar Hana yang mulai menitihkan air matanya.
" Hana." Ranti mendekati Hana." Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja Han, Arga itu orang yang cerdas dan bijaksana dalam mengatasi masalahnya." Ranti menangkup pipi Hana yang mulai dihujani air mata itu.
__ADS_1
" Han !!
Allah takkan pernah biarkan kedzaliman berkepanjangan.
Percayalah, Allah tau dan percaya bahwa Arga adalah hambaNya yang terpilih yang kuat untuk mengemban amanah ini." Kata Rayhan mencoba menenangkan dan menyakinkan Hana.
Detik selanjutnya Hanapun menghapus air matanya dan mengangguk membenarkan perkataan Rayhan." Kamu benar Ray.
Arga pria yang hebat."
" Tumben omongan Lo bijak begini.
Biasanya suka ngasal." Cibir Ranti yang memulai perdebatan.
Rayha menatap tajam Ranti.
" Yeee, Lo gak ngaca apa ? Siapa yang mulutnya kayak keran bocor ha ? Gak sadar punggung banget Lo." Balas Rayhan tak mau kalah.
" What ever !!
Mulut gua kayak keran bocor kek yang penting apa yang gua omongin seratus persen real berdasarkan data." Ranti juga tak mau kalah.
Rayhan hendak berbicara lagi.' Fakta mata dari Hongkong !! Yang a...
" Udah-udah kalian ini, mau pisah juga masih juga berantem." Potong Hana.
Rayhan mengulum bibirnya, begitu juga Ranti mengangkat sebelah mulutnya.
" Masa iya sih ? Kalian nyiptain perpisahan terburuk diantara kalian..
Belum tentu loh, kedepannya kita ketemu lagi."
Ucapan Hana mencolos hati keduanya.
Membuat mereka sesaat beradu dalam pandangan.
Merasa apa yang dikatakan Hana benar adanya.
Meski mereka berdua kerap kali bertengkar, namun tampak dari raut keduanya tak ingin saling berpisah.
" Jujur Ran, gua gak tau perasaan apa yang ada dihati gua ini. Tapi gua emang bener-bener berat pisah sama Lo.
Gua pengen ngomong gini, tapi tingkah judes Lo itu ngebuat mental gua mundur." Gumam Rayhan dalam hati, pandangannya masih tertuju pada gadis berhijab mustrad itu.
Ranti juga menatap Rayhan." Jujur Ray, gua gak tau kenapa suka banget ngajak Lo ribut dan gua juga belum bisa sepenuhnya terima kalau Lo udah gak tinggal di Malay." Pandangan keduanya bertemu beberapa saat, sebelum pada akhirnya.
Hana teriak pada keduanya.
" WOY BUKAN MAHROM !! Membuat keduanya tersadar dan mengalihkan pandangannya.
" Gua gak mau jadi orang ketiga ya." Ujar Hana pada mereka.
Rayhan dan Ranti pun salah tingkah seketika, merasa malu ketahuan tengah memandang satu sama lain.
" Masih mau berdiam mematung gini ?
Kata Hana.
" Kalau mau melambungkan perkataan manis dalam perpisahan silahkan, masih ada waktu sekitar sepuluh menit lagi." Sindir Hana pada Rayhan.
Rayhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung memulai dari mana.
" Eehhh..
Ran gua, guaaa...
Minta maaf sama Lo udah buat Lo selalu kesal.
Udah buat Lo selalu marah-marah..
Dannnn.. Gua juga mau bilang sama Lo
Kalau guaaa..." Mulut Rayhan tergagu-gagu untuk mengungkapkan isi hatinya.
Ranti yang penasaran dengan ucapan Rayhanpun menghampirinya." Kalau apa ?
Mulut Rayhan lagi-lagi terkatup untuk berucap.
Ranti terus menatap Rayhan.
" Gua gak punya banyak waktu buat nungguin Lo yang omong ha ho ha ho gini ya."
Huhhh.. Rayhan menghembuskan nafasnya.
" Kalau semesta mengizinkan kita bertemu kembali, pastikan sebelumnya kamu memiliki rasa yang sama dengan aku." Dengan berani akhirnya Rayhan mengeluarkan kata-kata ini.
Degg...Jantung Ranti berdegub tak karuan.
Sekujur tubuhnya seperti terkena sengatan listrik seketika.
" Ha ?? Hanya itu kata yang dapat keluar dari mulutnya, selebihnya tercekat di tenggorokan.
Senang..
Berbunga.. Itulah yang kini Ranti rasakan.
Ia tak menyangka Rayhan akan mengatakan hal yang sebenarnya menyatakan bahwa Rayhan menyukai Ranti.
" Lo cuma jawab Ha ?
Gak ngehargain gua banget sih Lo." Cetus Rayhan kesal dengan jawaban Ranti.
Ranti menggeleng cepat, bukan itu maksudnya.
" Bukan..
Bukan gitu gua refleks aja tadi, terkejut dan gak nyangka aja Lo yang sering ngebuat gua kesal dan marah..
Ternyata juga diam-diam ngebalas perasaan gua Ray." Jujur Ranti tanpa sungkan.
" Ha ? Maksud Lo ?
Lo juga suka sama gua." Tanya Rayhan menyakinkan jawaban Ranti.
Ranti mengangguk iya.
Membuat Rayhan melompat-lompat kegirangan.
Ya, gimana orang yang lagi ngebucin.
Begitulah keadaan Rayhan sekarang.
Dan Rayhan menghentikan lompatannya, kemudian beralih menghampiri Ranti.
Dengan cepat Hana menghalaunya.
" Eh jabat dulu tangan Om gua di Ijab Kabul.
Baru Lo bisa ngedeketin sepupu gua." Kalau biasanya Ranti yang sering ngelindungi Hana dari Arga.
Kali ini, justru Hana yang melindungi Ranti dari Rayhan.
Mengundang gelak tawa diketiganya.
" Siap Boss..
Doain ya beberapa tahun kemudian." Ujar Rayhan.
" Hm, senantiasa Allah beri yang terbaik untuk kalian berdua."
" Lo kok gak kaget Han ? Tanya Rayhan.
" Kaget kenapa ?
" Ya, ngeliat kita berdua ternyata saling suka."
Hahaha... Terdengar tawa dari perempuan berhijab coklat itu.
" Ya gaklah, hidup kalian kan kebanyakan drama. Awal-awal berantem eh lama-lama suka hehe, tapi ya gak apa-apa deh.
Asal kalian berdua bisa ngejaga perasaan satu sama lain dan gak sampai ngebantah perintah Allah aja."
Rayhan dan Ranti pun saling tersenyum, keduanya menjadi canggung untuk mengucap sesuatu.
Ya, meski mereka saling suka.
Bukan berarti mereka bisa menjalin hubungan yang bergelar pacaran.
Tidak !!
Say no to Pacaran.
Gila aja mau menyandang gelar pendekat zina.
" Ray, aku pamit ya jadwal keberangkatan aku udah terdengar tu.
Jangan lupa sesekali ke Malay." Ujar Ranti padanya.
Rayhan mengangguk." Insya Allah, kalau liburan semester aku ke Malay.
Hmm, meski kita udah tau perasaan kita masing-masing aku minta kita jangan bersikap canggung ya, bersikap seperti biasanya aja." Pinta Rayhan pada Ranti.
Ranti setuju." Iya Ray, assalamu'alaikum.
Jaga diri kamu baik-baik ya."
" Waalaikumussalam, iya Ran.
Kamu juga safe flight ya."
" Ray, aku juga balik ya.
Assalamu'alaikum." Pamit Hana gantian.
" Waalaikumussalam Han, hati-hati."
Hana dan Ranti akhirnya melangkah menuju penerbangan mereka.
Pandangan Ranti masih saja tertuju pada pria yang berkemeja putih itu.
Dan pria itu juga melakukan hal yang sama, membalas tatapan gadis yang tengah berlabuh pada hatinya.
Begitulah terkadang kita tak tau arah aluan suka membawa hati kita berkelana.
Tanpa disangka-sangka terkadang suka itu bisa tiba tanpa dipinta.
Bersambung...
__ADS_1
Sevimli 27 Februari 2021
Jangan lupa like and Votenya ya :)