Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 67 Sedikit Tenang


__ADS_3

" Terluka bukan berarti Allah tak cinta.


Terpuruk bukan berarti Allah mengutuk.


Terkadang kita butuh luka untuk di kenang tawa. Dan butuh air mata untuk di kenang bahagia."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Sesampai di dapur, mereka baru menyadari ketidakberadaan-nya Hana di sana.


" Loh, Hana kemana Ran ? tanya Ibunya.


" Gak tau Aunty, tadi bukannya ikut kita ya ?


Yaudah Ranti aja yang nyari." jawab Ranti, tengah mencari keberadaan Hana.


Namun, dengan cepat Arga berdiri.


" Udah aku aja yang nyari Ran, kamu kan udah laper banget kayaknya." kata Arga padanya.


Argapun melangkah pergi meninggalkan rumah Hana, satu tepat yang ia yakini bahwa Hana pasti berada disana.


Dengan langkah yang cepat, Arga akhirnya sampai di Danau permai.


Ya, benar saja sosok Hana terduduk di rerumputan, menenggelamkan wajahnya di antara kedua pahanya.


Arga berlari mendekati Hana.


Ikut duduk di sebelah Hana, dan tetap menjaga jaraknya dengan Hana.


Samar-samar Arga mendengar suara Hana. Dengan sedikit keraguan, Arga mencoba memberanikan diri menegur Hana.


" Han." panggilnya.


Hana mengangkat kepalanya, tampaklah wajah cantiknya kini di balur dengan linangan air mata. Serta matanya kini memerah dan sedikit membengkak.


Refleks Arga ingin menghapus air matanya, namun dengan cepat Hana menjauh darinya.


" Ah, maaf Han.


Aku tadi refleks doang, gak ada maksud lain."


ujar Arga yang sadar atas tindakannya.


Hana menyerka air matanya, tanpa menjawab pernyataan Arga.


Pandangan Hana kini beralih ke langit, menatap senduh sang mentari yang selalu tersenyum pada bumi.


" Hebat kan mataharinya." Arga ikut memandang matahari.


Hana mengangguk setuju, membenarkan perkataan Arga.


" Kenapa harus menangis ? tanya Arga pada Hana.


Hana tersenyum hampa, menatap langit dengan tatapan kosong.


" Gak tau, semuanya terasa sesak, berat, perih, sakit, lebih sakit dari putus cinta haha." ucap Hana dengan tawa di buat-buat.


" Bunuh diri, itu haramkan haha." lanjut Hana.


Arga terkejut melihat Hana, bisa-bisanya perkataan itu keluar dari mulutnya.


" Hm, marah sama Tuhan ? tanya Arga.


Hana menggelengkan kepalanya tanpa ragu.


" Terus kenapa bisa ngomong gitu ?


Senyum itu seketika lenyap dari paras cantiknya, ia menunduk menatap rumput yang bergoyang tersepoi angin.


" Aku gak marah sama kehidupan miskin yang aku punya. Hanya saja aku kecewa dengan Tuhan, yang kerap kali, menghadirkan kepingan-kepingan luka yang tak pernah berhenti di kehidupanku."


Pernyataan Hana kali tampak begitu jujur dari hatinya, sampai air matanya ikut mengalir di wajahnya.


Arga terhenyak melihat Hana sesendu ini,


orang yang tampak selalu ceria, orang yang tampak selalu menghibur orang lain, orang yang selalu tampak baik-baik saja.


Ternyata dia adalah orang yang paling banyak merawat luka dalam hatinya.


Arga merogoh kantongnya, meraih tisunya.


Kemudian ia menyodorkannya pada Hana.


" Ambillah." ucapnya pada Hana, Hana pun menerima tisu pemberian Arga.


Menghapus air matanya, dengan tisu tersebut. Bahkan juga tak segan Hana mengeluarkan ingus dari hidungnya menggunakan tisu tersebut.


" Kadang kala kehidupan memang memberikan kita bany....


Ngusss.... tiba-tiba Hana mengeluarkan ingusnya, membuat Arga berhenti berbicara.


" Astaga Hana, jorok banget sih jadi cewek."


ketusnya pada Hana.


" He-he-he.. ya maaf


namanya udah numpuk, kepaksa


dibuanglah." Hana cengengesan.


Arga menyebikkan bibirnya." Untung sayang."


Perkataan Arga membuat Hana melotot ke arahnya. " Apa ?


" Eh gak, gak ada.


Untung cantik." elak Arga.


Namun, meski begitu jantung Hana tetap berdegub tak karuan.


Senyum simpul timbul di wajahnya.


Membuat Arga yang melihatnya, jadi salah tingkah.


" Gak usah senyum-senyum." timpalnya.


Hana langsung memasang ekspresi datarnya,


tak ingin ketahuan tengah blushing oleh Arga.


Keheningan menyelimuti mereka kembali, tak ada yang ingin memulai pembicaraan.


Hana hanya fokus pada lamunannya, sementara Arga mencoba memberanikan dirinya, untuk mengatakan sesuatu pada Hana.


" Han, kamu tau." ujar Arga memecah keheningan.


" Gak." jawab Hana singkat.


" Han, kamu taukan ?


Sebenarnya apa arti kehidupan sesungguhnya.


Bukan hanya sekedar mengenai ada lalu tiada, atau bahkan bukan sekedar hidup kemudian mati.


Maka bodohlah, dan terlalu sempit jika hidup hanya di maknai dengan harta, tahta, dan cinta."


Arga menjeda beberapa detik ucapannya.


Membuat Hana menoleh ke arahnya, ia menunggu Arga melanjutkan perkataannya.


Arga tersenyum memandang lurus ke depan.


" Karena hidup bukan hanya tentang kesenangan, kemewahan apalagi kebucinan.


Karena hidup adalah pengabdian kita kepada Allah, sang pemilik semesta alam.


Terluka bukan Allah tak cinta.


Terpuruk bukan berarti Allah mengutuk.

__ADS_1


Berjaya juga bukan berarti dia mulia.


punya segalanya juga bukan berarti dia bahagia Han.


Ingat Fir'aun kan, Or qorun ? Mereka berjaya dan punya segalanya tapi apa ?


Allah hinakan mereka..


Kadangkala Allah letakkan kita di fase jatuh sejatuhnya, bukan karena Allah membenci kita Han. Justru Allah sayang dengan kita, ia ingin kita berada dekat dengannya.


Kamu taukan ? Allah juga menjadikan pergantian siang dan malam bukan hal yang sia-sia Han, melainkan di dalamnya terdapat pelajaran yang harus dipetik bagi orang-orang yang berpikir.


Seperti itulah Allah berikan kita kesedihan sebagai pemanis di saat kita berada di fase bahagia. Sebab, butuh gelap untuk melihat terang."


Arga menatap Hana yang menundukkan kepalanya.


" Lihat ayahku dia berjaya kan ?


Apa semuanya baik-baik saja ? Tidakkan.


Bahkan masalah yang berada di Istana jauh lebih besar Han hehe, ayahku di fitnah, di khianati, kehilangan sahabat, dan bahkan terjadi kesalahpahaman dengan ku, putranya." Arga mencoba menenangkan Hana.


Tentu saja, berhasil membuat Hana terhenyak dan tersadar. Tak seharusnya dirinya, tertunduk lemah bahkan sampai sefrustasi ini.


" Astaghfirullah, ya Allah apa yang sudah aku lakukan ? Tak sepantasnya aku seperti ini. Kenapa aku bisa terjerat dalam kebodohan seperti ini. Ya Allah, ingat Han ada manusia yang lebih pantas mengeluh dari pada dirimu." Hana mulai menyadari kebodohannya yang berkelud dengan masalah yang bahkan sudah terselesaikan.


" Kamu benar, Ga.


Aku emang lemah banget, gini aja pake acara nangis hm. Makasih ya udah nyadarin aku." Hana menyadari akan hal itu.


" Kamu itu kuat, hebat dan tangguh untuk melewati ini semua. Allah percaya pundak kamu adalah pilihan yang tepat untuk takdir berat ini."


Hana tersenyum mengangguk.


" Allahumma aamiin, kamu juga bahkan jauh lebih kuat dari aku, semangat buat kita hehe."


Arga sedikit tenang dan lega melihat senyum sekaligus tawa di wajah Hana.


" Gitu dong kan makin cantik." pujinya, membuat Hana lagi-lagi salah tingkah.


Jantung Hana tak karuan, lidahnya seakan-akan kaku untuk berbicara.


Dengan cepat Hana menghembuskan nafasnya, untuk merilekskan dirinya.


" Huhh."


Membuat Arga tetawa melihat tingkah Hana.


" Balik yuk, laper ni." Ajaknya pada Hana.


Hana yang juga merasa perut keroncongnya lapar, tak mau menolak." Hm yaudah ayok."


Beranjak pergi dari danau permai, meninggalkan Arga yang masih menatap dirinya heran.


" Buset dah, main tinggal aja tu cewek." kesal Arga melihat Hana, sembari mengikuti langkah Hana.


.


.


Sesampai di rumah, Hana bergegas menuju dapur, sudah tak sabar melahap makanan buatan ibunya.


" Nak, kamu dari mana sih ? tanya bapak Hana.


" Dari danau permai pak, nyari udara seger hehe." jawab Hana sambil mengunyah makanan di mulutnya.


Mereka berempat pun manggut-manggut.


" Nak Arga, ayo di makan." persilakan ibu Hana seraya menghidangkannya pada Arga.


Arga tersenyum." Terima kasih aunty."


Ya, tak terpungkiri.


Sesederhana apapun lauk pauk yang di masak, akan menjadi lezat jika itu sentuhan Ibu Hana.


Ranti tertegun melihat Arga dengan lahap memakan nasinya, sebab tak biasanya Arga seperti itu.


" Tumben banget cepat kilat gitu, Ga." ledeknya


" Habisnya enak banget Ran." jawabnya.


Semua ikut tersenyum mendengar perkataan Arga.


" Alhamdulillah, dimakan lagi nak.


Kalau memang nak Arga suka." tawar ibu Hana.


Dengan cepat Arga pun meraih ikan bakar di hadapannya, namun terhadang oleh tangan Hana yang juga menginginkan ikan terakhir itu.


" Aku juga mau." kata Hana.


" Gak, ini buat aku kan aunty." Arga tak mau kalah.


Mereka tertawa melihat tingkah laku Hana dan Arga.


" Hana, biarkan Arga mengambilnya nak. Argakan sesekali kesini ya nak. Kamukan udah sering makan beginian."


Hana pun mengalah, melepaskan tangannya dari ikan bakar tersebut, dengan muka kesalnya. Sementara Arga tersenyum penuh kemenangan.


" Dasar cowok gak ngalah sama cewek !


celetuk Hana pada Arga.


" Ada tempatnya dong." balas Arga.


" Udah deh, kalian nikah aja.


Biar bisa makan sepiring berdua haha." cetus Ranti pada mereka.


Hana menyebikkan bibirnya." Najis."


Bapak dan Ibu Hana tertawa melihat tingkah laku para anak muda itu.


" Sudah-sudah gak baik berantem depan makanan ya. Hana juga gak boleh ngomong gitu ya nak." tameer mencoba mendamaikan keadaan.


" Yaudah, bapak sama ibu pamit dulu, pergi ke Sawah sebentar ya. Masih ada yang mau di kerjain di sana." pamit Tameer pada mereka berempat.


Mereka berempat pun mengangguk iya.


" Hati-hati pak, buk." teriak Rahmet.


Seusai mereka makan dan beres-beres, mereka sibuk dengan handphone masing-masing. Berbeda halnya dengan Hana yang sibuk dengan bolpoint dan buku hariannya.


Ada satu kalimat yang ia tulis di sana.


Ya, salah satunya perkataan Arga.


" Day 22 Juli 2020


Aku baru memahami satu hal, bahwa hidup bukan mengenai ada lalu tiada.


Atau bahkan bukan hanya hidup kemudian mati.


Benar kata Arga.


Maka sangat sempit, bila hidup hanya di maknai sebatas harta, tahta, dan cinta.


Karena hidup bukan hanya tentang kesenangan, kebahagiaan, apalagi kebucinan.


Selayaknya perputaran waktu yang telah tertakar rapi, tak tersisa sedikitpun.


Benar, butuh luka, untuk di kenang tawa.


Butuh air mata, untuk di kenang bahagia.


Tak ada yang lebih tinggi derajatnya di mata Allah kecuali Orang-orang yang bertaqwa.


Semakin berat ujian hidup, maka, semakin besar pula keyakinan Allah pada pundak kita untuk memikul beban berat itu.


Terima kasih Arga, telah mengetuk hati yang tadinya hampir tertutup rapat dari cahaya."

__ADS_1


Tulis Hana dengan senyumannya.


Sementara Arga, sibuk membuka instagramnya di kamar Rahmet sendirian.


" Gila, followersku makin naik aja." ucapnya melihat angka followers menaik.


Antassalam..


Tiba-tiba ada panggilan masuk di handphonenya.


" Rayhan." ya, Rayhan yang menghubunginya.


Arga pun menggeser tombol hijau di layar handphonenya.


" Ngapain Lo hubungin gua ? tanya Arga to the poin.


" Astaghfirullah ketus amat lo, Assalamu'alaikum dulu kek." kata Rayhan di balik telpon.


" Waalaikumussalam, udah usah basa-basi cepetan ngomong." Ketus Arga lagi.


Rayhan menggelengkan kepalanya.


" Lo gak lagi pmskan ? Sensi amat." ledeknya.


" Lo kalau bacot lagi gua matiin ni." ancam Arga.


" Astaghfirullah iye-iye, gua cuma mau nanya doang kapan Lo balik ? Tanya Rayhan padanya.


Arga tertawa mengerti maksud Rayhan.


" Lo nanya gitu, karena udah kangen berat sama Ranti kan." kata Arga tanpa segan.


" Eh, Lo ngomong gitu pelanin dikit kenape sih, kalau dia denger gimana coba."


Jujur saja Rayhan takut Ranti mendengar percakapan mereka.


Arga tetawa mendengarnya.


" Yaudah sini Lo gua bisikin." Arga mendekatkan handphonenya ke mulutnya.


Begitu juga dengan Rayhan yang mendekatkan handphonenya ke telinganya.


Detik selanjutnya Rayhan menyadari sesuatu.


" Eh bentar deh, Ga.


Lo kan lagi sendirikan ?


Gua juga sendiri." kata Rayhan.


" Iya emang."


" Terus ngapain kita bisik-bisik gini, mana dari telpon lagi. Kok Lo jadi ogeb gini sih." ungkap Rayhan menyadari kebodohan mereka.


" Lo juga ngapain mau gua bisikin ogeb, bodohan gua apa elo ? celetoh Arga pada Rayhan.


Rayhan pun menepuk jidatnya.


" Iya juga ya.


Eh gak deh, kite bodohnya barengan bego."


" Gak Lo begonya sendirian.


Udah deh sebenarnya Lo cuma mau nanya itu doangkan ? Gak ada yang lain ?


Biar gua tutup ni."


" Ya elah, elo emang gak kangen apa sama gua ? Gercep banget mau matiinnya."


" Gak, gak ada yang mau di kangenin dari Lo."


"Astaghfirullah, awas aja Lo ya.


Kalau sempat kangen sama gua."


Arga menggedikan bahunya, ilfiel.


" Najis !! Lo kira gua guy apa."


" Buset, emang kalau kita kangen sama teman cowok kita guy ya ? Gak deh kayaknya.


Gua cuma mau ngomong jadwal keberangkatan gua ke Jakarta di percepat dua minggu lagi." imbuh Rayhan terlihat memperihatinkan.


Membuat Arga tercengang." Gila Lo, bukannya sebulan lagi ?


" Gak jadi, Ga.


Bokap gua mendadak ada panggilan


di Jakarta."


" Hm, yaudah Lo tenang aja.


Kalaupun kita gak jumpa di KL, gua bakalan ke Jakarta buat nyemperin Lo."


Ya, anak Sultan mah banyak duit bebas mau kemana aja wkwk.


" Tadi katanya gak kangen, ini main nyamperin gua aja hehe, thanks Ga.


Jangan lupa ajak Hana sama Ranti ya." saran Rayhan pada Arga.


" Lo yang bayarin ongkosnya kan ?


" Aduh, anak Sultan perhitungan banget."


Mereka berdua tertawa bersama.


" Iyaiya Lo stay cool aja di sana."


" Yaudah, gua tutup Ga.


Assalamu'alaikum." pamit Rayhan padanya.


" Waalaikumussalam, hati-hati Lo." jawab Arga menutup panggilan.


Ya, begitulah para pria berteman.


Tak saling mengumbar kata-kata manis untuk mengungkapkan kerinduan yang menggebu.


Cukup hanya dengan saling membodohkan satu lama lain.


Saling meledek satu sama lain.


Sudah mengungkapkan kerinduan mereka.


Arga berniat untuk memberitau Hana dan Ranti, namun detik selanjutnya.


Ia mengurungkan niatnya, sebab rasanya terlalu cepat bila menyampaikannya sekarang.


Ia pun kembali menyandarkan tubuhnya di kursi belajar sederhana nya Rahmet.


Menscrool Instagram, bahkan kerap kali ia juga membuka akun Instagram Hana.


Ada beberapa poto yang Hana posting disana. Beserta dengan caption-nya yang indah.


Bahkan juga ada banyak video quotes beserta instrumen buatan Hana di sana.


Membuat Arga, tertarik untuk membaca isinya.


Dan terdapatlah quotes mengenai cinta beda agama.


" Bagaimana mungkin kita bersama ?


Kalau kacamata tentang Tuhan saja kita berbeda ? " quotes Hana di salah satu postingannya.


Arga sudah bisa menebak itu pasti mengenai Anugrah. Sedikit sesak sih, namun Arga berusah sebisa mungkin mensterilkan hatinya.


" Jika Allah kehendaki kau berjodoh dengan Hana, maka pasti akan bersanding nantinya Ga, tak usah risau." ucap Arga menenangkan dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


Sevimli 21 Januari 2021


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2