
" Bagaimana bisa kau bahagia ? Ketika mengorbankan kebahagiaanmu sendiri."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Siang harinya.
Sebelum Izaz pergi ke Bukit Bintang, ia terlebih dahulu menemui dokter Nashrun.
Dua jam perjalanan akhirnya, mobil Izaz sudah terparkir rapi di Hospital Island.
Langkahnya menyusuri koridor Rumah sakit.
Derap langkah Izaz yang begitu cepat berhasil membuatnya bertemu dengan dokter Nashrun.
" Sepertinya ini ruangan dokter Nashrun."
Tok..
Tokk...
Tokk...
" Assalamu'alaikum." Ucap Izaz.
" Waalaikumussalam, masuk." Sahut orang yang berada di dalam.
Ceklek.. Izaz membuka pintu ruangan dokter Nashrun.
" Boleh bincang dengan dokter sebentar ? Tanya Izaz dengan sopan.
Nashrun memperhatikan jam yang melingkar di tangannya." Hm baiklah. Waktu luangku hanya tersisa setengah jam lagi."
"Dokter masih ingat kejadian beberapa bulan lalu? Di Gost Hill, Penang yang mengenai Hana dan Izaz.
Sejenak pikirannya mulai berotasi, membuat memory b beberapa bulan lalu terkuak.
" Ya saya ingat.
Mereka terluka dan ummi saya yang membawa mereka kemari. Ada apa bertanya seperti itu?
Izazpun tersenyum." Ada yang memitnah Arga, dok. Dia memutar balikkan faktanya. Membuat Arga sekarang di tahan. Dan bahkan di jatuhkan hukuman mati dok."
"Astaghfirullah, bagaimana bisa seperti itu."
Nashrun terkejut mendengar perkataan Izaz.
Izazpun menceritakan kronologisnya dari awal sampai akhir.
Mendengar semua penjelasan Izaz, tanpa pikir panjang Nashrun pun bersedia hadir besok hari dan akan mengajak bundanya juga untuk berpartisipasi sebagai saksi di persidangan.
" Kamu tenang saja.
Kita akan menangkan kasus ini." Ucap Nashrun menepuk pelan pundak Izaz.
" Thanks dok sudah bersudi hati membantu."
" Sama-sama dik."
" Kalau gitu, saya balik dulu ya bang.
Assalamu'alaikum." Pamit Izaz.
" Hati-hati.
Waalaikumussalam."
Selepas dari Izaz menemui dokter Nashrun, ia pun memilih melajukan mobilnya dengan cepat, menuju Bukit Bintang. Untuk menjemput Hana disana.
Sudah tiga hari, gadis itu belum kunjung kembali ke Istana. Membuat semuanya cemas, khawatir dan juga bersedih.
.
.
Ssttttt... Sebuah mobil Lamborghini menepi di gerbang Istana Royal Pahang.
" Apa perlu aku mengantarmu keluar ? Tanya Haiko.
Hana menggeleng." Gak perlu ! Ketusnya.
Hana pun membuka pintu dan segera keluar.
Kemudian menggemaskan dengan kuat pintu mobil Haiko. Rasa benci, kesal dan jengkel masih mendominasi dihatinya.
" Dasar bar-bar !!
Kemudian Haiko pun langsung melakukan mobilnya agar secepat mungkin menjauh dari Istana.
Dengan wajah yang begitu lesuh tak seceria biasanya.
Hana memandang lirih sebuah Istana yang berada dihadapan.
Ah, lebih tepatnya merasa terpukul dengan apa yang sedang menimpa penghuni Istana itu.
Hatinya yang masih carut-marut, membuat langkahnya bergetar. Dadanya kembali terasa sesak, mengingat betapa dalamnya luka yang ia miliki.
Terlintas dalam benaknya.
Kalau saja aku dulu lebih memilih untuk melanjutkan study di Ponpes Tahfidz, hal ini takkan pernah terjadi.
Buliran-buliran hangat mulai membasahi pipinya.
" Astaghfirullah Han, ini pilihanmu.
Kamu harus terima dan tanggung jawab atas pilihanmu ini Han. Kau sudah melangkah sejauh ini, kau harus tetap berdiri untuk menghadapinya. Allah juga tau Han, niat yang kau miliki.
Tidak ada yang lebih baik dari pada menjadi sebanyak-banyaknya manfaat."
" Bismillah." Hana melangkahkan kakinya.
Ruangan yang pertama kali ingin Hana hampiri saat ini adalah ruang jeruji besi, dimana tempat Arga berada.
Dengan tas ransel yang ia kenakan dan juga tas selempangnya Hana pun berjalan menuju ruang bawah tanah.
Hana menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya, ia tak ingin ketahuan habis menangis oleh Arga.
Huhh... Hana menghembuskan nafasnya, merilekskan dirinya.
Pintu utama rumah bawah tanah, sudah berdiri beberapa pengawal disana.
" Permisi Pakci.
Izinkan saya masuk untuk mengunjungi Arga, sebentar saja." Pinta Hana.
Cukup lama para pengawal itu memperhatikan Hana, mulai dari atas sampai bawah.
Mereka saling menatap seolah berdiskusi untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Hana.
" Baiklah.
Hanya sepuluh menit."
" Terima kasih pakci."
Tak ingin membuang waktunya, Hana pun berjalan dengan cepat memasuki ruangan ini.
Terlihatlah, keempat pria dibalik jeruji besi itu tengah terduduk memandang lantai tanpa suara.
Hanya ada jangkrik yang mulai bergema di ruangan ini.
" Assalamu'alaikum." Ucap Hana.
Arga langsung mendongakkan kepalanya.
" Waalaikumussalam, Hana.
Kamu !! Arga langsung berdiri menghampiri Hana.
" Kamu udah balik Han ?
Kamu gak kenapa-kenapa kan ?
Kamu gak ketemu sama bang Izaz ?
Arga langsung menghujani Hana dengan pertanyaannya.
Seulas senyuman terbit di wajah Hana.
" Aku baik-baik saja.
Aku gak ketemu bang Izaz, Ga." Jawab Hana.
Kening Arga berkerut.
" Lah, coba kamu hubungi nomor bang Izaz, terus tanyain dia dimana."
Hana pun menurut, mengambil ponselnya di tas selempangnya.
Tuttttt.... Panggilan terhubung.
" Terhubung, Ga."
Izaz meraih ponselnya." Hana."
Ia pun menggulir tombol hijau.
" Assalamu'alaikum, Han kamu baik-baik ajakan ? Kenapa panggilan abang gak pernah diangkat ?
" Waalaikumussalam.
Maaf bang, selama disana Hana gak megang handphone. A**lhamdulillah, Hana sekarang udah di Istana kok bang."
" Alhamdulillah, untung abang belum sampai sana.
Yaudah abang sebentar lagi sampai disana.
Abang tutup ya, assalamu'alaikum." Ujar Izaz.
" Hati-hati bang.
Waalaikumussalam."
Panggilan selesai.
__ADS_1
Hana pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
" Bang Izaz dah sampai ?
" Belum, dia mutar balik buat pulang." Jawab Hana.
Arga pun mengangguk memahaminya.
Sesaat tak ada pembicaraan antara keduanya. Saling canggung untuk membuka pembicaraannya.
Ehem...Ehem... Sampai terdengarlah suara dekheman dari mulut Andrea.
"Mau sampai kapan kalian berdiaman begitu?"
Arga dan Hanapun tersentak menoleh ke arah Andrea. Sambil menggeleng tidak setuju.
" Apa kau bertemu Dev Rakses, nak ? Kali ini Abriz yang bertanya.
Hana menggelengkan kepalanya.
" Hana gak ketemu sama om Dev uncle."
Hahhh.... Hembusan nafas ketiga pria itu menunjukkan kepasrahan mereka.
" Semesta memang sedang tidak berpihak pada kita." Ucap Abriz dengan lirih.
Hana pun tersenyum seraya menggeleng.
" Aku memang tidak bertemu dengan om Dev, uncle.
Sebab beliau telah meninggal satu tahun yang lalu."
" Innalilahi wa innailaihi Raji'un." Ucap mereka serentak.
" Aku bertemu dengan putranya bernama Haiko, ia awalnya tidak mau menceritakan apapun namun, Hana tetap berusaha untuk membujuknya dan akhirnya ia memberitahukan pada Hana, bahwa ayahnya menyimpan semua data bukti pembunuhannya di Trixie House."
" Trixie House ?
" Ya, rumah yang berada di atas tebing.
Meski ke sana sangat sulit, atas izin Allah Hana berhasil sampai disana dan menemukan data bukti pembunuhan yang beliau lakukan kepada uncle Hammer." Hana menceritakannya kepada mereka.
Wajah lesuh yang berbalut kesedihan itu, kini berubah terukir sebuah senyuman, dan raut kelegaan disana.
" Alhamdulillah."
" Kamu memang wanita hebat Han." Ujar Arga.
Hana tersenyum, setelah sekian lama akhirnya senyum itu kembali terbit di wajah Arga.
" Meski aku harus menikah dengan Haiko, aku tetap akan bahagia melihat semuanya akan baik-baik saja di negri ini, Ga." Batin Hana.
Andre, Abriz dan Robert terkagum melihat Hana, yang telah berhasil mendapatkan data bukti itu.
Mereka tak pernah menyangka, gadis asal Indonesia ini, berjuang banyak untuk negara mereka.
" Terima kasih Han, telah berjuang untuk negri kami." Ucap Andrea pada Hana.
Hanapun mengangguk." Aku juga tinggal disini, sudah menjadi kewajibanku untuk melakukannya."
Tanpa sengaja ponsel Hana terjatuh dari tas selempang yang resnya belum tertutup rapat.
Untung saja, tangan Arga sigap menangkapnya.
Ada sebuah pesan yang masuk disana.
Tanpa berniat untuk melihatnya, Arga yang masih menggenggam ponsel Hana pun membaca pesan tersebut.
Deg.... Membuat dada Arga tertohok.
Tangannya bergetar menggengam ponsel Hana. Seakan-akan atmosfer di tubuhnya berubah menjadi panas.
"Ga, kembalikan handphoneku." Sahut Hana.
Arga pun mengembalikannya tanpa berbicara lagi, ia memilih kembali duduk dan menjauhi Hana. Hana yang merasa heran dengan sikap Arga yang tiba berubah. Langsung menanyakannya.
" Kamu kenapa, Ga ? Hana sedikit khawatir padanya.
Arga menggeleng." Aku tidak apa-apa." Cetusnya.
Meski Hana merasa ada yang sedang di sembunyikan Arga, ia tetap memilih meninggalkan ruangan bawah tanah. Sebab, waktu berkunjunglah telah habis.
" Hm aku balik ya, Ga.
Uncle, Andrea, assalamu'alaikum." Pamit Hana.
" Iya nak.
Waalaikumussalam."
Dengan langkah yang berat Hana pun pergi meninggalkan ruangan ini. Ia tak mengerti apa sedang terjadi dengan Arga.
Daripada pusing memikirkan itu, Hana pun memilih untuk menghampiri sepupunya yang sudah selama tiga hari tidak dia jumpai.
Berlari kecil menuju belakang Istana.
Hana pun sampai di rumah pamannya itu.
" Hanaaa...
Waalaikumussalam." Ya, Ranti langsung saja memeluk sepupunya itu.
" Kamu baik-baik ajakan ? Kamu kenapa gak ada kabar sih Han ? Kamu gak tau kami semua mengkhawatirkanmu Han." Cercah Ranti habis-habisan.
Hana tersenyum membalas pelukan sepupunya.
" Aku baik-baik saja.
Sepupumu ini berhasil menuntaskan tugasnya hehe." Jawab Hana dengan senyumannya.
" Alhamdulillah, kau memang sepupu terhebatku Han."
Ranti dan Hana pun kembali ke masuk ke dalam rumah. Hari sudah menggelap sayup-sayup suara adzan mulai menggema.
Seperti biasanya mereka semua melaksanakan sholat magrib di Masjid.
Selepas isya, mereka berempat berdiskusi untuk mempersiapkan semuanya dengan sempurna esok hari di persidangan kedua atau persidangan putusan Arga, lebih fokusnya.
Selama dua jam lamanya mereka berdiskusi, akhirnya merekapun telah selesai menuntaskan semuanya.
Tak ingin tertinggal sedikitpun, mereka mengatur semuanya dengan baik dan detail.
Selepas berdiskusi, merekapun memutuskan untuk kembali beristirahat.
Untuk mengumpulkan tenaga di esok hari, agar terlihat lebih fresh di persidangan.
...🍂🍂🍂...
Keesokan paginya.
Terik mentari tak kalah menyilaukan pagi ini.
Siulan burung pun ikut bersenandung menyapa.
Tepat pukul sepuluh pagi sidang putusan Arga akan dimulai.
Dokter Nashrun bersama bundanya telah hadir di Istana, begitu juga dengan pengacara yang Izaz bayar.
Beberapa warga Penang dan Terengganu juga sudah hadir di Istana.
Tak lupa juga, beberapa wartawan pilihan Istana juga sudah berkumpul di luar ruang persidangan.
Ya, semua saksi sudah ikut andil.
Semua telah dipersiapkan secara sempurna.
Namun, ada satu saksi lagi plus data bukti itu dipegang olehnya sampai detik ini, belum tampak wujudnya di Istana.
Hana merasa cemas, takut Haiko tidak hadir hari ini. Padahal, bukti yang paling utama di pegang oleh nya.
Hana meremas ujung bajunya, gelisah menantikan kedatangan Haiko di Istana.
Hana memutar bola matanya ke seluruh sudut, untuk mencari keberadaan Haiko.
Namun, pria itu tak kunjung terlihat.
" Haiko kamu dimana ? Hana tak berhentinya mondar-mandir ke kanan dan ke kiri.
" Hana !! Panggil Ranti.
" Ah iya Han.
Kamu nungguin siapa ? Tanya Ranti yang melihat Hana yang masih berada di luar ruang persidangan.
" Nunggu Haiko Ran, dia akan akan membawa bukti pembunuhan om Hammer, dan dia juga gak bakal jadi saksi di persidangan nanti." Jawab Hana.
" Oh gitu.
Yaudah aku ikut temenin kamu, nungguin dia."
Selang beberapa menit kemudian, tampaklah sosok pria berkemeja hitam dengan celana keper coklat susu dengan tas berkas tergenggam ditangannya, melangkah menuju ruang persidangan.
" Han !!
Itu orangnya ? Tunjuk Ranti ke arah Haiko.
Hana menoleh ke arah yang Ranti tunjuk.
" Alhamdulillah, iya Ran."
Hana pun melangkah menghampiri Haiko.
" Akhirnya kamu datang juga." Ujar Hana.
" Kenapa ? Kangen ? Sahutnya.
Hyaksss... Hana bergidik ilfiel.
Haiko hanya terkekeh kecil, melihat ekspresi Hana.
" Pede !!
Buruan masuk, lima menit lagi sidang dimulai." Ajak Hana.
__ADS_1
Hana, Ranti dan Haiko pun menyusul yang lain masuk ke ruangan sidang.
Ruang persidangan kali ini tampak lebih ramai dari sebelumnya, walau seperti itu tetap tenang dan tertib.
Meskipun terdengar suara isak tangisan di sana.
Semua orang yang masuk di ruangan ini, di wajibkan mematuhi aturan yang berlaku, jika melanggar tanpa sungkan petugas yang berwenang mengusir mereka keluar dari ruangan.
Abriz, Andrea dan Robert duduk di kursi terdakwa yang berdekatan. Sementara Arga di tempat yang berjauhan dengan mereka.
Nazhanul, meski ia berusaha keras untuk tidak terlihat lemah, tetap saja ada raut kesedihan di wajahnya.
Wardah berada duduk di sebelahnya dengan mata yang sembab ia memandang lirih putranya yang berada di kursi terdakwa.
Tiga hakim yang ditugaskan telah masuk ke dalam ruangan. Semua yang berada didalam ruangan berdiri memberikan hormat pada mereka, dan kembali duduk setelah itu.
Dengan mengucapkan basmalah, sidang pun dimulai sesuai peraturan.
Satu persatu terdakwa ditanyai kembali perihal tindakan, serta sebab musabab mereka melakukan tindakan tersebut.
Beberapa menit kemudian Hakim ketua membacakan isi keputusan bergantian dengan rekannya.
Cukup lama ia menjelaskan mengenai isi JPU pada para terdakwa membuat keluarga serta rekan terkdawa deg-degan, detak jantung tak karuan, serta panas dingin mendengarkannya.
" Kepada saudara terdakwa bernama Arga di mohon untuk berdiri." Ujar Hakim ketua ketika hendak membacakan amar keputusan.
Dengan penuh wibawa Arga berdiri sudah siap mendengar keputusan Hakim ketua.
" Menyatakan bahwa terdakwa satu bernama Argasyah bin Nazhanul Hakim telah terbukti melakukan tindak pidana tanpa hak atau melawan hukum, pembunuhan berencana terhadap Tengku Nazhanul Hakim pemberontakan, melakukan kekacauan di beberapa daerah kekuasaan Istana. Atas tindakan pidana tersebut, majelis hakim menjatuhkan hukuman kepada terdakwa dengan tindakan pidana mati."
Teriakan histeris terdengar dari wanita berhijab denim itu. Berbeda dengan Hana dan yang lainnya meski keputusan itu mencabik-cabik hati mereka, mereka berusaha tenang karena mereka yakin kali ini kasus ini akan mereka menangkan.
Sementara disisi lain, ada sosok Vachry yang tersenyum lebar penuh kemenangan, bahagia diatas penderitaan Arga.
Wardah beranjak dari tempat duduknya, air matanya tertumpah begitu ruah, namun dengan cepat Nazhanul menariknya kembali untuk duduk.
" Bang !!
" Tenanglah !! Ujar Nazhanul.
Hakim ketua kembali mengambil ahli bicara.
"Kepada saudara terdakwa Argasyah, apakah menerima keputusan ini ? Atau ingin mengajukan permohonan, pembelaan menyatakan anda tidak bersalah ? Tanya Hakim ketua.
Semua orang menatap Arga dengan senyuman, terutama Hana. Berharap Arga menganggukkan kepalanya.
Arga menoleh ke belakang untuk melihat orang-orang yang berada di pihaknya.
Ya, pandangan tertuju pada Hana.
Gadis itu mengangguk tersenyum pada Arga.
Arga pun membalas senyumannya.
Kemudian Arga kembali menghadap Hakim ketua.
"Saya menerima amar keputusan yang diberikan kepada saya."
" Arga !! Teriak Wardah histeris mendengar putranya mengatakan hal itu. Ia berdiri dari kursinya hendak menghampiri putranya. Nazhanul pun menarik tangannya, namun kali ini Wardah menepis kasar tangan suaminya itu.
" Jangan pernah halangi aku !! Ia datang menghampiri putranya di kursi terdakwa.
Bukan hanya Wardah, bahkan semua orang yang berada di ruang persidangan terkejut mendengar keputusan Arga.
" Kembali ke tempatmu Wardah !!
Jangan salahkan aku jika bertindak kasar padamu !! Ancam Nazhanul.
" Diam kau !! Dengan derai air mata, Wardah tak lagi mengindahkan peringatan suaminya.
" Ibu mana yang bisa berdiam diri melihat putranya yang tidak bersalah berada dijeruji besi ha ? Ibu mana yang bisa tenang melihat putranya duduk di kursi terdakwa dan dijatuhkan hukuman mati ha ? Teriak Wardah dengan lantang.
Jauh dari lubuk hati Nazhanul ia merasakan hal yang sama, namun ia harus tetap profesional sebagai penguasa.
" Yang salah tetap bersalah.
Hukum akan tetap tegak lurus berlaku pada siapapun, sekalipun dia putraku." Tegasnya.
Ha-ha-ha.... Wardah tertawa lantang.
" Kau pikir putraku berkhianat ? Kau pikir putraku pemberontak ? Apa hatimu sudah tertutup sehingga kau tidak bisa melihat kebenaran dan kejujuran dimatanya ha ?
" Apa kau tidak ingat bagaimana putraku yang kubesarkan dengan kasih sayang menjadi orang yang pertama melindungimu saat orang lain memukulimu habis-habisan ha ? Kau tidak ingat bagaimana ambisinya dia ingin membunuh orang yang melukaimu ha ? Darahnya bahkan berkobar saat melihat kau dilukai orang lain.
Apa kau yakin putra yang seperti itu adalah seorang pengkhianat ?
Nazhanul terduduk lemah di lantai mengingat kembali kejadian yang baru saja Wardah katakan.
" Jawab aku !! Bentak Wardah.
Nazhanul terdiam tak bergeming sama sekali.
" Kau tidak yakinkan ? Lanjut Wardah.
Kemudian Wardah meraih pisau yang berada di keranjang buah tak jauh dari tempatnya berdiri.
" Seujung kuku saja kalian berani menyentuh putraku.Akan ku potong tangan kalian !! Sergah Wardah menodongkan pisaunya.
Suasana ruang sidang kali ini begitu banyak menguras air mata. Khawatir sekaligus tegang, melihat sosok Wardah yang tak gentar membela putranya.
Wardah menghampiri putranya di kursi terdakwa, dengan cepat ia mendekapnya dalam pelukannya.
" Arga putra bunda bukan pengkhianat. Bukan pembunuh, bukan pemberontak." Ia mengusap punggung putranya.
Arga tersenyum lirih." Bunda pasti kuatkan." Ucapnya.
Wardah melepaskan pelukannya dan menangkup wajah putranya dengan kedua telapak tangannya.
" Bunda selalu percaya pada Arga.
Meski dunia menyudutkanmu, kamu tetap pusat dunia bunda nak, ingat itu."
"Bunda tau?
Dengan hukuman pidana mati yang dijatuhkan pada Arga, membuat Arga beruntung, Bun. Di antara jutaan manusia di muka bumi ini, Arga salah satunya yang tau kapan kematian Arga akan tiba." Ujar Arga pada bundanya.
Membuat Wardah semakin histeris, ia menggeleng dan mengusap wajah putranya." Bunda tidak akan biarkan Arga pergi !! Sampai kapanpun." Sergahnya.
Bukhhh.. Tanpa aba-aba Izaz langsung melayangkan pukulannya pada wajah tampan Arga.
Menyebabkan sudut bibir Arga berdarah.
" Izaz." Teriak mereka terkejut.
" Brengsek !!
Jadi lo mau si b*ngsat itu yang menang ha ?
Lo mau semua tindak kejahatannya berlanjut, dan orang-orang yang tidak berdosa akan menanggung akibatnya ha ? Bentak Izaz pada Arga.
Arga hanya tersenyum simpul.
" Arga nyerah bang."
" Nyerah ?
Gua, Ranti, Rayhan, Hana udah susah payah berjuang ngumpulin bukti, dan saksi buat nunjukin lo tidak bersalah, tapi dengan seenak jidat lo nerima keputusan itu tanpa ngajuin permohonan ha ?
Brengsek Lo !! Teriak Izaz.
Arga hanya diam menerima semua makian Izaz.
" Itu lo sama aja gak ngehargain perjuangan kita brengsek !!
Izaz hendak melayangkan kembali pukulannya. Akan tetapi dengan sigap Rayhan menangkapnya.
" Bang tahan emosi lo !!
Suasana semakin riuh dan rusuh membuat petugas hendak menyeret mereka yang membuat keributan keluar ruangan.
Akan tetapi Nazhanul melarangnya, dan menyuruh mereka kembali ke tempat.
Hana beranjak dari kursinya, menghampiri Arga di kursi terdakwa.
Haiko menatap Hana yang beranjak dari kursinya.
" Arga !! Panggil Hana dengan sorot mata yang berair.
Arga menoleh menyahut panggilan Hana.
" Kamu tau ? Apa yang menyakitkan dari sebuah perjuangan ?
Arga menganggukkan kepalanya.
" Berhenti dan menyerah tengah jalan, Ga." Lanjut Hana.
" Perjuanganku telah selesai, Han."
Hana menggeleng. " Belum !!
Biarkan perjuangan kita selesai sampai garis finish, sedikit lagi, sedikit lagi, Ga." Hana menyatukan kedua tangannya dan memohon pada Arga.
" Kau sudah terlibat terlalu jauh dalam perjuangan ini Han, luka yang kau terima sudah terlalu dalam.Aku tidak mau sumur lukamu semakin dalam hanya karena menyelamatkanku."
Hana menggeleng." Aku tidak terluka, aku bahkan sangat bahagia bisa berjuang bersama kalian." Protes Hana seraya tersenyum pada Arga.
" Bagaimana bisa kau bahagia ? Ketika kau mengorbankan kebahagiaanmu ha ? Bentak Arga pada Hana.
Hana tersentak kaget mendapat bentakan dari Arga. Detik selanjutnya Arga tersenyum masam,menatap intens gadis berhijab purple dihadapannya.
" Aku baru menyadari bahwa wanita yang berdiri di hadapanku ini, adalah wanita yang selalu menjadi pelangi untuk orang lain,meski itu harus membuatnya merawat luka dalam dirinya sendiri."
Mengorbankan ? Kening Hana berkerut.
Apa yang maksud Arga ?
Bersambung...
Sevimli 8 April 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Semangat ya puasanya :)
__ADS_1