
" Usahakan kalau pagi-pagi itu cari berkah bukan racik bumbu ghibah."
......" Pelangi Hanani 🌹" ......
" Boleh aku duduk disini ? Tanyanya.
Hana melotot kaget melihat sosok pria yang meminta izin untuk duduk padanya.
" Arga." Ya, pria itu adalah Arga.
Arga tersenyum sembari menunggu jawaban dari Hana.
Hana mengangguk mengizinkan." Tapi jaga jarak ya." Ujarnya.
Arga akhirnya duduk di sebelah Hana dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
Hana kembali menatap ke depan melihat orang-orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing di danau.
Begitu juga Arga iya fokus memandang ke langit yang mulai menerbitkan senja.
Tak ada pembicaraan di antara mereka, mereka sama-sama terdiam, tak ada yang ingin memulai pembicaraan.
" Bang, bang lagi ngambekan ni sama pacarnya." Ledek salah satu pemuda yang melintas di depan mereka.
Hana dan Arga menoleh ke pemuda itu, seraya menggeleng serentak.
" Kami gak pacaran bang." Ujar Hana.
Arga hanya mengangguk setuju, rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk menjahili Hana pikir Arga.
" Wah padahal kalau di lihat-lihat abang sama kakaknya cocok loh." Ujarnya lagi yang semakin membuat Hana kesal.
Hanapun membuka suara." Maaf ya dek !! Dalam Islam pacaran itu dilarang, gak ada pacar-pacaran." Ketus Hana.
Dengan refleks pemuda itupun tertawa, dan selanjutnya melangkah meninggalkan mereka.
" Astaghfirullah, sabar Hana." Ujar Arga dengan tawa kecilnya.
Hana menyebikkan bibirnya." Gak lucu."
Hana kembali menyandarkan punggungnya di bangku taman. Menatap senja yang tiba menyapanya.
Sudut bibirnya tertarik membentuk lekungan senyuman.
" Masya Allah, indahnya." Arga menoleh bukannya menatap senja, justru ia menatap Hana yang sedang tersenyum.
Tak lama kemudian, ia ikut tersenyum dan menatap senja sore itu.
" Iya, kayak kamu." Ujar Arga.
Hana tersentak refleks memandang Arga.
" Iya, kayak Jihan." Meralat perkataannya, tanpa mengubah pandangannya.
Hana tersenyum getir, ternyata benar ia yang salah dengar. Pikirnya.
" Jangan berharap Han." Hana mencoba menstabilkan detak jantungnya.
" Kenapa kesini ? Tanya Arga.
Hana tersenyum." Itu, ini, dan semuanya." Seraya jari telunjuknya menunjuk ke sekeliling.
Pandangan Arga mengikuti alur tangan Hana.
Ia memahami bahwa Hana saat ini, sedang merilekskan dirinya.
Terlihat dari kedua matanya yang sedikit bengkak, dan juga memerah.
" Any problem apa ? Tanya Arga yang membuat Hana menoleh padanya.
Hana menggeleng tak berniat untuk bercerita pada Arga.
Argapun memakluminya, tak ingin memaksa Hana, sebab jika Hana ingin dia nantinya sendiri akan bercerita.
" Mungkin saat ini, kamu belum mau bercerita padaku, tapi jika kamu sudah siap aku akan sedia untuk mendengarkannya..
Luapkanlah sepedih apapun itu..
Tumpahkanlah sederas apapun itu..
Agar hatimu sedikit tenang.." Ujar Arga dengan tulus pada Hana.
Hana tertegun mendengar pernyataan Arga,
jujur saja, jauh di dalam lubuk hati Hana.
Ia ingin sekali melepaskan semua beban yang menyesakkan dadanya, yang membuat air matanya candu untuk terjatuh.
" Aku gak bawa coklat ni." Kata Arga pada Hana.
Membuat Hana tertawa kecil." Gak, aku gak minta coklat."
Benar saja, seperti biasa setiap kali Hana bersedih hati. Arga selalu saja menyodorkan sebungkus coklat untuknya.
Namun, kali ini berbeda Arga tak membawa sebungkus coklatpun.
Terdiam sejenak, mereka berdua saling membisu.
Hana masih saja fokus pada masalah yang sedang di hadapi keluarganya.
Senja mulai tenggelam, meninggalkan sisa-sisa kemerahannya.
Orang-orang pun beranjak pulang ke rumah.
Sebab, sekitar dua puluh menit lagi, adzan maghrib akan berkumandang.
Hana masih terdiam, menatap lekat danau yang tak henti bergeming itu.
Arga tersenyum kecut, melihat wajah lesuh Hana yang tak biasanya seperti ini.
" Han, balik yuk." Ajaknya.
Hana masih terdiam tak menjawab sama sekali.
" Udah mau magribh ni Han." Ujarnya.
Tanpa menjawab sepatah katapun, Hana beranjak dari bangku taman. Meninggalkan Arga bergegas pulang ke rumah.
" Astaghfirullah, cewek kalau badmood gitu amat ya." Keluh Arga yang tak habis pikir dengan Hana.
" Hana kesambet apaan sih, aneh bener."
Argapun beranjak mengikuti langkah Hana.
Dua anak muda itu berjalan tak saling bersamaan. Hana berada di depan, sementara Arga di belakangnya.
Langkah Hana tak bisa di tebak, kadang lambat, detik selanjutnya cepat sekali.
Entahlah seperti orang depresi saja.
.
.
Sesampai di rumah Hana, mereka Argapun meraih kopiahnya untuk bergegas berangkat ke Masjid bersama Rayhan dan Tameer.
Sementara Hana, ia bergegas mengambil wudhu untuk sholat bersama ibunya dan juga Ranti.
Waktu semakin larut, membuat insan-insan beristirahat dengan teduh dan tenang.
Berbeda dengan Hana, ia terbangun dari tidurnya, kemudia membuka perlahan jendela kamarnya, dan menatap bintang dari sudut jendela mininya itu.
Kelap kelip bintang yang bertaburan dilangit malam, mampu menerbitkan senyum sutra di wajah Hana.
" Aku merindukanmu." Ucapnya mengingat sosok pria yang kini tengah berada di Canada.
__ADS_1
" Baik-baik disana ya, jangan lupain aku." Ujarnya lagi pada bintang yang seolah adalah pria itu.
Detik selanjutnya, Hanapun bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Tahajjud dan juga witir.
Cukup lamat Hana menyentuhkan keningnya dengan sejadahnya di sujud terakhirnya, sembari berdoa dalam hatinya.
" Ya Rabb, entah ini ujian yang harus aku syukuri atau justru aku keluhkan.
Entahlah, hamba tak pernah merasa se-gelisah ini. Hamba tak pernah merasa se-sakit ini..
Hanya karena keegoisan hamba atas cita-cita hamba, hamba melupakan keluarga..
Membiarkan mereka menderita tanpa meringankan beban mereka, hamba memang bukan anak yang baik ya Allah, izinkan hmaba untuk memperbaikinya dari sekarang ya Rabb." Hana bangkit dari sujudnya.
" Assalamu'alaikum warahmatullah." Salam Hana, telah selesai menyelesaikan sholatnya.
Hana langsung berdzikir menggunakan tangannya, dengan khidmat yang mendalam.
Sehingga ada ketenangan yang datang menyapa hatinya.
Di lanjutkannya dengan membaca surahtul Fatiha, tiga qul, beserta ayat kursi dan juga memurajaah hafalannya.
Sekitar setengah jam kemudian, berulah Hana selesai.
Langkah selanjutnya Hana menengadahkan kedua tangannya, sembari kembali meminta pada Allah.
" Ya Allah, Engkau yang maha segalanya.
Jika Engkau yakin kehidupan ini yang tepat untuk hamba dan akan semakin mendekatkan hamba padaMu. Hamba ikhlas menjalaninya dan hamba mohon ya Allah kuatkan, tegarkan, sabarkan hamba ya Allah." Pinta Hana pada sang pemilik semesta.
Hanapun, membuka mukenanya, kemudian meraih buku catatan hariannya serta dengan bolpointnya.
Ya, kali ini Hana menambah lagi coretan suara hatinya.
Day 21 Juli 2020.
" Hari yang begitu indah, namun tidak dengan hatiku.
Cerahnya mentari bahkan tak mampu menerangi hatiku yang tengah redup.
Bahkan tak sesiapapun yang dapat membuat hatiku kembali pada posisi keceriaannya..
Bukan persoalan cinta.
Melainkan, persoalan kehidupan yang ku genggam.
Aku tak pernah menyalahkan siapapun, atau bahkan takdir.
Hanya saja, aku butuh waktu, butuh menyendiri untuk mendapatkan sedikit ketenangan.
Memulihkan segalanya..
Mengompres kembali kehangatan yang tengah menyentuhku..
Aku tak ingin memaki takdir, karena percumakan ?
Membentak semesta, apalagi sia-sia jugakan ?
Biarlah biarkan diriku menikmati setiap derita serta luka yang dunia sodorkan.
Sampai akhirnya aku terbiasa dengan mereka.
And last..
Sekeras apapun hidup,
ia tetap untuk di jalani bukan untuk
di sesali. " Tutup Hana pada buku catatan hariannya.
Hana tak kembali merebahkan tubuhnya pada kasurnya, melainkan ia lebih memilih untuk beristirahat di meja belajarnya.
Sampai pada akhirnya kantuk menghampiri matanya. Membuatnya berat untuk membukakan matanya.
Perlahan-lahan Hanapun kembali tertidur.
Arga juga tengah melakukan sholat di sepertiga malam seperti kebiasaannya.
Tak banyak yang ia minta, salah satu di antara pintanya adalah meminta agar Allah mengembalikan keceriaan gadis yang ia kagumi serta yang tengah bertahta di hatinya.
" Ya Allah, ya Rabb Engkau maha segala dari segala maha. Yang memutar balikkan hati, hamba mohon ya Allah kembalikanlah keteduhan hati Hana. Jangan biarkan ia larut dalam kepedihan. Dia adalah hamba terbaik Mu ya Allah, ia pantas untuk menyandang kebahagiaan dari Mu ya Allah." Doa itu terlontar begitu tulus dari lisannya.
Seusai berdoa Arga memilih untuk memurajah hafalannya.
Ia tak ingin kehilangan hafalan yang sudah susah payah ia perjuangkan.
Serta ia tak ingin menjadi hamba Allah yang lalai akan waktu.
...🍂🍂🍂...
Pagi ini, cuaca sedikit mendung.
Tak mendukung untuk aktivitas jogging di pagi hari.
" Ya, harinya mendung met.
Gak cocok banget ngejoggin." Keluh Arga.
Rahmet pun berpikir, apa yang lebih cocok
untuk menggantikan jogging.
Ting..
" Nah, gimana kalau kita ke ladang aja nangkap ikan bang. Biasanya mendung gini ikan pada keluar bang." Ajak Rahmet padanya.
Arga tersenyum mengangguk." Boleh, yuk."
Dan pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk memancing ikan di pagi-pagi buta seperti ini.
Berbeda halnya dengan Hana, Ranti dan ibunya sibuk menyiapkan sarapan pagi.
Hana tak seceria seperti biasanya, ia lebih banyak diam bahkan tak ikut berbincang dengan ibu dan sepupunya.
" Han, jangan diam aja loh, entar kesambet jin ifrit baru tau loh." Ledek Ranti.
Hana masih diam, tak menggubris perkataan Ranti yang terdengar seperti meledeknya.
Ibu Hana yang melihat perubahan sikap Hana, merasa heran dan segera menghampirinya.
" Nak, kamu ada masalah ? Tanyanya lembut.
Hana hanya tersenyum, sembari menggeleng.
" Kalau gak ada, kenapa kamu kelihatan murung gini ? Tanya Ibunya lagi.
" Iya Han, cerita dong !! Jangan diam mulu." Sahut Ranti.
Hana menghela nafasnya kasar." Huuu."
" Bapak ngutang ke Rantenir kan buk." Ucap Hana yang berhasil membuat ibunya terkejut.
Ibunya hanya terdiam, tak tau harus berkata apa.
" Darimana Hana tau ? Batinnya.
" Kenapa ibu diam ? Iyakan buk ? Tanyanya lagi membuat ibunya tersadar.
" I--iyaa nak." Jawabnya dengan gugup.
Hana tersenyum kecut menanggapi jawaban ibunya.
" Hm, kenapa ibu gak ngomong sih ? Kalau aja Hana tau bakal begini, Hana gak bakalan mau pergi ke Malaysia.
Biar Hana yang kerja, gak apa-apa buk Hana gak usah lanjut sekolah." Kata Hana dengan lirih.
__ADS_1
" Nak, kamu gak boleh ngomong gitu.
Kita gak pernah tau kejadian ke depannya nak. Begitulah yang terjadi dengan Bapak kamu. Kalau saja dia tau bakal ada inseden sepertih itu, dia juga bakalan ngehindar nak.
Tapi apa semua Qadarullah nak, percayalah setiap kejadian yang ada untuk di petik hikmahnya, bukan untuk di jadikan beban pikiran yang membuat kita sampai terpuruk nak. Hana percayakan itu semua ? Ibunya mencoba menenangkan Hana.
Ranti denga cepat memeluk tubuh Hana, untuk menyalurkan kehangatan, dan berharap Hana bisa sedikit tenang.
" Ini semua salah Hana buk." Ucapnya dengan tetesan air mata.
Ranti menangkup pipi Hana, dan mengusap air matanya." Ini gak salah kamu Han, udah ya kamu gak boleh gini. Ini bukan Hana sepupu aku."
Ibu Hana juga ikut memeluk mereka. Mencoba menenangkan putrinya yang tengah bersedih hati itu.
Entahlah, rasa bersalah Hana masih menyelimuti hatinya.
Merasa gagal menjadi anak yang berbakti.
Kalau saja waktu bisa Hana putar, ia enggan untuk beranjak pergi ke Malaysia.
Dan meninggalkan keluarganya dengan luka yang cukup pedih ini.
Dengan terisak Hana melepaskan pelukan Ranti dan ibunya.
Kemudia menyalam kedua tangan ibunya.
" Maafin Hana ya buk, belum bisa jadi anak yang baik." Ucapnya.
Ibunya menggeleng tidak setuju dengan perkataannya." Gak, Hana putri terbaik ibu. Bahkan semua ibu juga merasa iri pada ibu karena memiliki putri sebaik Hana." Ibunya mengelus lembut pucuk kepala Hana yang dilapisi jilbab itu.
Hana menyerka air matanya, kemudian mengembangkan senyumnya.
" Udah ya nak, sekarang kita sarapan dulu."
" Nak Ranti." Panggil ibu Hana.
" Iya aunty."
" Aunty minta tolong temani Hana panggil Arga sama Rahmet ke Sawah ya." Ujar Ibu Hana.
Rantipun mengangguk, melakukan permintaan ibu Hana.
" Ayok Han." Ajaknya menggengam tangan Hana.
Hanapun tersenyum dan membiarkan Ranti menggengam tangannya.
.
.
.
Tak butuh lama mereka berjalan, akhirnya sampailah di Sawah.
Terlihatlah dua lelaki bodoh, yang pagi-pagi buta sudah memancing ikan di Sungai.
" Woy bocil." Teriakan Ranti berhasil mengejutkan Arga dan Rahmet.
" Gila ya, bisa gak sih ? Gak usah teriak-teriak." Ketus Arga dengan wajah kesalnya.
" Ha-ha-ha." Hana dan Ranti tertawa bersama.
" Bodoh amat." Ucap Ranti lagi.
" Ngomong sekali lagi, aku ceburin loh." Ancam Arga.
Ranti tetep meledek Arga dengan lidahnya.
" Wekk, ceburin kalau bisa."
Dengan cepat Arga naik ke atas.
" Udah-udah stop, kalian ini kek bocil aja.." Ucap Hana menengahi mereka.
" Udah-udah ayo kalian cepetan bersih-bersih biar kita pulang..
Ibu nyuruh kita sarapan." Ujar Hana pada mereka.
Seketika Arga menurut dengan perkataan Hana. " Awas lo ya. Kalau bukan karena Hana,
aku udah bakalan ceburin lo kesini."
Ranti masih saja meledek Arga." Cie, suami takut istri ha-ha-ha ." Dan kemudian berlari menjauhnya.
Bukannya Arga yang kesal, kali ini mala justru Hana yang kesal." Ranti awas kamu yaaa." Teriak Hana seraya mengejar sepupunya itu.
Arga dan Rahmet tertawa melihat tingkah kedua gadis itu, ya seperti bocil yang sedang main kejar-kejaran.
Seusai Arga dan Rahmet bersih-bersih, merekapun menyusul Hana dan Ranti.
Tak membutuhkan waktu lama, Arga dan Rahmet berhasil menyamakan langkah dengan Hana dan Ranti.
Kini mereka berempat berjalan bersama.
Ketika hendak memasuki pekarangan rumah Hana, ada beberapa ibu-ibu yang melintas di hadapan mereka.
Sembari berkata." Lihat tu, anaknya sok belagak sekolah ke Malaysia. Eh, tau-tau diri sendiri terutang banyak sama rantenir." Ghibahnya yang terdengar oleh mereka.
" Bener tu, udah gitu pulang-pulang bawak cowok ganteng lagi. Pasti ada apa-apanya itu, gak tau diri banget sih jadi anak." Sahut yang lain.
" Iya, untung aja aku gak punya anak gadis kayak gitu." Celetohnya lagi.
Hana tersenyum getir, merasa tertohok dengan perkataan Ibu-ibu yang sedang menggosipinya itu.
Dada Hana mulai terasa sesak, buliran-buliran hangat mulai terbendung di sudut matanya..
Tanpa berkata sepatahpun, Hana lebih memilih berlari ke rumahnya sembari beristighfar didalam hati.
" Astaghfirullah ...
Astaghfirullah...
Astaghfirullah kuatkan hati hamba ya Allah." Batin Hana menenangkan dirinya.
" Hana !! Teriak Arga, dan Ranti bersamaan.
Dengan emosi yang memuncak Ranti pun menghampiri ibu-ibu penggosip itu. Sementara Rahmet dan Arga mengejar Hana.
" Eh emak-emak kurang sesajen !! Bisa gak sih pagi-pagi itu cari berkah bukan racik bumbu ghibah." Ucap Ranti dengan lantang dan membuat ibu-ibu penggosip itu menyebikkan bibirnya.
" Eh, dasar anak gadis gak punya sopan santun !! Ujarnya pada Ranti.
Ranti tersenyum kecut." Ha ? Sopan santun ?
Tolong ya emak-emak terhormat sebelumnya bercerminlah terlebih dahulu !!
Gimana orang lain mau ngehormatin kalian, kalau mulut kalian itu tidak bisa di jaga dengan baik..
Kalau kalian tidak tau mengenai kebenaran yang ada, gak usah sok tau deh jadi orang..
Dan satu lagi ya, ghibah itu di larang dalam Islam. .
Ya, kalau kalian masih mau ngeghibah ya silahkan dengan ulasan, kalian sendiri makan daging bangkai saudara kalian sendiri." Ucap Ranti kemudian berlari menyusul Hana.
Seketika ibu-ibu gosip itu terdiam mendengar perkataan Ranti yang begitu menusuk relung hati mereka.
Ya, tentu benar dalam Islam di larang untuk menghibah, menceritakan keburukan orang lain sama seperti memakan bangkai saudara sendiri.
" Dan janganlah kamu mencari keburukan orang lain, dan janganlah kamu menggunjing orang lain. Adakah diantara kalian yang senang memakan bangkai saudara sendiri ?
Tentulah merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat, lagi maha penyayang." Q.S. Al Hujurat : 12.
Senantiasa Allah selalu jauhkan lisan kita dari aktivitas ghibah.
Sevimli 17 Januari 2021
__ADS_1
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa like and Votenya ya :)