Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 70 Islam


__ADS_3

" Kalaupun suatu saat aku memeluk agama.


Maka, Islam adalah jawabannya."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Anugrah terus mengejar sosok guru Psikolog itu, sampai berada di taman Sekolahnya.


Anugrah melihat sosoknya duduk di bangku Taman.


Menatap lekat langit yang sedang mempesona itu.


Tanpa sungkan, Anugrah menghampirinya.


" Excuse me Miss." Ujarnya membuat guru Psikolognya menoleh ke arahnya.


" What happent ? Tanyanya dengan nada tinggi.


" May I sit here ? Izin Anugrah padanya.


( Boleh saya duduk di sini ).


Tanpa menjawab guru Psikolog tersebut mengangguk.


Anugrah pun mendudukkan posisinya di sebelah guru Psikolog itu.


" May I give you question ? Guru Psikolog itu menatap Anugrah bingung.


Apa yang ingin ditanyakan anak ini benaknya.


Lagi-lagi dia hanya mengangguk.


" True or false.


You don't have religion ? Tanya Anugrah dengan berani.


( Benar atau salah, Kamu tidak memiliki agama ).


Ya, guru Psikolog itu terkenal tidak memiliki agama.


Guru Psikolog itu sejenak menatap Anugrah.


Kemudian beralih memandang lurus ke depan.


" True.


I don't have religion, but I believe God." Jawabnya.


( Benar, aku tidak memiliki agama.


Tapi aku percaya Tuhan).


Anugrah mengangguk paham.


" Why ? Did you Choose like that ?


( Kenapa ? Kau memilih seperti itu ).


Guru Psikolog tersebut tersenyum dan mengangkat bahunya ke atas.


" I don't Understand my self."


" Hahaha..." Anugrah tak dapat menahan tawanya.


" You are funny Miss." Ceplosnya membuat Guru Psikolog itu tersenyum masam.


" You a Psychologist.


You can Understand many people, but don't Understand you." Ledek Anugrah padanya.


Bukannya marah, justru ia ikut tersenyum.


" Ya, memang lucu." Ujarnya.


Anugrah tersentak kaget, mendengar guru Psikolog itu menggunakan bahasa Indonesia.


" Miss, bisa bahasa Indo ? Tanyanya.


" Of course, saya ini asli orang Jakarta." Jawabnya.


Ya, jujur saja Anugrah memang baru seminggu berada di Sekolah ini. Otomatis dirinya belum mengenali sepenuhnya identitas guru-guru disini.


" Wah, Jakarta Miss.


Saya asli Nias Miss." Kata Anugrah.


" Salam kenal, sesama warga negara Indonesia." Anugrah tersenyum mendengar perkataan gurunya ini.


"By the way Miss, apa tidak ada agama yang membuat hatimu tertarik untuk memeluknya."


Lanjut Anugrah lagi, menanyakan pembahasan hal sebelumnya.


Guru Psikolog yang kerap disapa Miss Yuona itu menggeleng ragu.


"How about Islam?" tanya Anugrah.


Miss Yuona terkekeh kecil, membuat Anugrah bingung. Apa yang lucu? pikirnya.


"Kenapa ketawa, Miss?"


"Lucu aja gitu, kenapa kamu malah menawarkan Islam. Bukannya justru agama kamu?" tanyanya, melirik Anugrah.


Anugrah tersenyum hambar, pernyataan Miss Yuona memang benar. Aneh memang!


"Karena hati saya telah jatuh cinta pada Islam." jujur Anugrah tanpa ragu padanya.


Miss Youna menatap Anugrah, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.


"Hah!" ia menghembuskan nafasnya.


"Kalaupun suatu saat, saya memiliki agama.


Maka Islam adalah jawabannya." lontarnya dengan senyuman pada Anugrah.


Anugrah lagi-lagi terkejut dibuat Miss Youna. Yang diam-diam ternyata sama dengan dirinya. Ya, hati mereka sama-sama tengah berlabuh pada Islam.


"Apa yang membuat Miss, jatuh cinta pada


Islam?" tanya Anugrah serius.


Miss Youna tersenyum."Islam adalah agama yang indah, tanpa polesan apapun, mampu mempesona orang lain untuk menyakininya."


"Kamu tau Palestina?


Anugrah mengangguk tau.


" Itu salah satu hal yang membuat saya jatuh hati pada Islam." Jawabnya pada Anugrah.


Anugrah tersenyum." Ya, aku juga takjub pada penduduk Palestina yang sampai sekarang bertahan untuk mempertahankan kekokohan Masjidil Aqsha. Meski nyawa taruhannya, mereka tak peduli.


Tetap memperjuangkan Islam, bahkan mereka tak pernah menyalahkan Tuhan yang memberikan mereka perjalanan hidup seberat itu. Bahkan mereka juga tak pernah mengutuk takdir yang amat kejam pada mereka.


Sebab, mereka yakin bahwa Allah menyayangi mereka dengan memberikan ladang jihad yang begitu panjang masanya." Ujar Anugrah jujur dari hatinya.


Miss Youna, tersenyum mengangguk.


Benar adanya yang dikatakan Arga.


Palestina adalah ladang Jihad untuk kaum muslimin.


Maka rugilah, mereka yang tak mau ikut andil di dalamnya.


" Benar, mereka adalah definisi kaum terbaik sepanjang masa." Ungkapnya.


" Hm, kalau hati Miss, sudah jatuh pada Islam.


Lantas, kenapa tidak segera memeluknya ?


Tanya Anugrah.


Membuat Youna tersenyum miring.


Ia juga tak mengerti mengapa seperti itu.


" Entahlah, aku masih nyaman dengan status ketidak punya agamaan ini." Jawabnya yang memang benar tak mengerti dengan dirinya sendiri.


Anugrah ikut tersenyum." Antara nyaman dengan gengsi itu kadang beda tipis loh Miss di waktu tertentu." Cibir Anugrah.


" Hm, jangan ngeledek saya !! Kamu juga kenapa gak segera memeluknya ?


Dan mala, belajar di sekolah ini.


Cukup menohok hati Anugrah.


Anugrah tersenyum miris, mengingat betapa kerasnya takdir menghalanginya memeluk Islam.


" Hm, takdir yang terlalu keras mempersulit ku memeluknya.


Semesta yang belum mengizinkan aku untuk mengucapkan dua kalimat agung itu.

__ADS_1


Dan mungkin saja Allah juga ingin aku berjuang lebih keras lagi." Ujar Anugrah yang membuat Youna memahaminya.


" Ayah mu yang menjadi penentang nomor satu dalam perjuangan mu ? Tanya Youna.


Anugrah mengangguk." True. Bahkan aku sampai di sini juga karena dia."


" Dia membuatmu berada dalam keterpaksaan ? Tanyanya.


" Ya, terpaksa bahkan tertekan.


Mulai dari teman, tempat ku menuntut ilmu bahkan juga cita-cita."


" Apa kau membencinya ? Tanyanya lagi.


Anugrah menggeleng." Tidak, aku hanya membenci sifat egoisnya, pemaksanya, keras kepalanya."


Youna pun menatap wajah Anugrah, yang langsung berubah mimik ketika ditanyakan perihal ayahnya.


" Dia selalu terlihat kuat, namun ternyata hatinya banyak memendam duka." Batin Youna.


Teng-teng.... Lonceng berbunyi.


Menandakan waktu istirahat telah selesai.


" Ah, jam istirahat sudah selesai." Ujar Youna.


" Hm, iya.


Kalau gitu saya balik ke kelas ya Miss.


Thanks udah mau ngobrol dengan saya." Kata Anugrah padanya.


" Hm, Your welcome.


Senang juga bisa mengobrol dengan kamu.


Ini hanya sebuah perjalanan, kita tidak tau bagaimana endingnya. Nikmati saja prosesnya." Ungkapnya pada Anugrah sembari melangkah meninggalkan Anugrah.


Anugrah tersenyum mendengar perkataan Youna yang mengarah pada nasihat itu.


" Ya, benar ini hanya sebuah perjalanan.


Yang butuh di nikmati bukan di sesali." Anugrah melangkah dari taman menuju kelasnya.


Siapa sangka kedua orang tersebut ternyata hatinya telah terjatuh pada Islam.


...🍂🍂🍂...


Keesokan harinya.


Arga dan Rahmet memutuskan untuk jogging pagi ini.


Sebab, udaranya tampak mendukung.


Entah ada gerangan apa, Hana dan Ranti tertarik untuk ikut.


" Kuy met, keburu matahari terbit luan." Kata Arga melihat hari semakin terang.


" Kuy bang." Jawab Rahmet sembari melangkah keluar.


Tiba-tiba saja Hana dan Ranti juga keluar dengan pakaian Casual dan sepatu sport mereka.


Membuat Arga dan Rahmet terheran.


" Kalian mau kemana style beginian ? Tanya Arga penasaran.


Hana dan Ranti tersenyum." Mau olahragalah." Serentak mereka menjawab.


" Iya kali mau stand up." Canda Ranti.


" Ha ? Tumben banget."


" Ya, kita juga mau hidup sehat kali.


Emang ada yang larang gitu ? Tanya Ranti.


" Gak sih, tapiii....


" Udah ah, gini aja di besar-besarin.


Ayok keburu siang entar." Kata Hana menarik tangan Ranti untuk melangkah pergi.


Arga dan Rahmet masih saja terdiam menatap kedua gadis yang sudah mulai menjauh dari mereka.


" Bang kok kita diam mulu ? Mau berangkat jam berapa lagi ni." Ucapan Rahmet membuat Arga tersadar.


Arga dan Rahmet pun beranjak menyusul Hana dan Ranti di depan.


Tak butuh waktu lama, Arga dan Rahmet berhasil mendahului Hana dan Ranti.


" Astaghfirullah, gercep banget tu orang." Kata Ranti yang menyadari bahwa Arga dan Rahmet sudah berada di depan mereka.


" Hm, namanya juga cowok Ran, biasalah."


Sambung Hana.


Merekapun terus berlari kecil, rute mereka hari ini ialah mengelilingi sekitar daerah kota Hana.


Sampailah mereka tiba di sebuah Caffe.


Karena sudah terlalu lelah.


Arga mengajak mereka untuk istirahat sejenak sekalian nongki di Caffe.


" Terasa juga ya capeknya." Kata Hana yang sudah ngos-ngosan.


" Iya, tapi gak apa-apa biar aku kurus." Ucap Ranti.


Arga dan Rahmet mengerutkan keningnya.


Tubuh Ranti bisa dikatakan kategori kurus.


Kenapa dia ngomong biar kurus, mau sekurus apalagi dia ?


" Eh Ran, elo itu udah kurus kayak capung tau.


Mau sekurus apalagi Lo." Ledek Arga.


" Ih, bisa gak sih Lo itu sekali-kali kalau ngomong ke cewek manis gitu.


Sama Hana aja Lo bisa ! Giliran sama gua hm, elo hina terus." Ketus Ranti.


Mereka bertiga tertawa menanggapi perkataan Ranti.


" Gak ah, sama aku juga gitu kok." Protes Hana.


Ranti pun menautkan sebelah bibirnya.


" Gak beda."


" Udah ah, lebih baik sekarang kita istirahat di Caffe itu. Sekalian kita nongkrong bentar."


" Boleh, elo yang traktir ya." Sambar Ranti.


" Ye, giliran gini aja elo maunya gratisan.


Dasar muka tembok." Cibir Hana.


" Gak apa-apalah, Arga mah sultan.


Gak kerasa traktirin cuma tiga orang." Balas Ranti yang sudah melangkah maju ke Caffe lebih dulu.


Hana menggeleng, merasa malu memiliki sepupu sebobrok Ranti.


Masih terdiam di tempat, Hana rasanya segan menerima ajakan Arga.


" Hm, mau berdiri di situ aja ni ? Yakin gak mau masuk ? Ujar Arga.


Dengan berat hati akhirnya, Hana melangkahkan kakinya menuju Caffe itu.


Caffe yang cukup ideal.


Tidak terlalu kecil, dan tidak terlalu besar juga.


Yang di lengkapi dengan berbagai aksesoris menarik di dinding. Seperti dream Charter yang bergantungan, jam pasir yang terletak di setiap sudut meja pengunjung.


Dan juga ditambahkan nuansa ala-ala Korea di dalamnya.


Membuat sesiapun merasa nyaman berada di dalamnya.


Mereka berempat memesan makanan yang berbeda.


Ranti memesan Steak udang + Milkshake, Rahmet memesan Nugget + Lemon Tea, Arga memesan Spaghetti + Susu Coklat, sementara Hana hanya memesan Diamond Brokfarm Coklat.


Sembari menunggu makanan, mereka memutuskan untuk bermain TOD.


Ya, botol yang berputar berhenti untuk pertama kalinya tepat di depan Arga.


Dan ya, giliran Arga yang kena kali ini.

__ADS_1


" Yups, Arga yang kena." Ujar Ranti.


" Truth or dare ?


" Hm, dare." Jawab Arga.


" Wah, ternyata kamu ingin mendapatkan tantangan. Baiklah."


Dengan kesepakatan bertiga Arga mereka beri tantangan mengajak poto salah satu perempuan yang berada di Caffe ini, terkecuali Hana dan Ranti ya.


" Hm, tantangannya kamu ajak Poto salah satu cewek yang ada di Caffe ini.


Terserah yang mana aja." Kata Ranti.


Dengan senyuman Argapun menjawab.


" Yaudah aku poto sama Hana kalau gitu."


" Ets no no, terkecuali aku dan Hana." Ujar Ranti dengan cepat.


" Hm, iyelah.


Padahal Poto mau buat buku nikah loh." Kata Arga dengan senyum jahilnya.


Membuat Hana menunjukkan ekspresi kesalnya.


Arga pun melirik di sekitarnya, mencari cewek yang kira-kira mau di ajaknya Poto.


Ya, pasti maulah.


Secara siapa sih yang gak mau poto sama Cowok seganteng Arga ? Dan se cool dirinya.


Pandangan Arga tertuju pada satu gadis yang duduk di pojok kanan Caffe.


Tampaknya gadis itu seusia dengan mereka.


Arga tersenyum, kemudian melangkah menuju meja gadis tersebut.


Ranti dan Rahmet pun mengikuti langkah Arga. Kecuali Hana yang malas membuang-buang waktunya untuk hal seperti itu.


" Han ayok lihat Arga." Ajak Ranti.


Hana menggeleng." Gak, aku disini aja."


Dengan sopan Arga menegurnya.


" Excuse me, mbak boleh saya duduk di sini."


Izin Arga padanya.


Dengan heran sekaligus kaget karena melihat pria tampan meminta duduk di sebelahnya.


Gadis itupun mengangguk senyum.


" Silahkan." Jawabnya mempersilahkan Arga.


Hana yang melihat dari kejauhan pun, tersenyum simpul." Dasar buaya sungai Nile." Upatnya.


Ranti dan Rahmet sudah tidak sabar mendengar Arga mengajak gadis itu berpoto.


" Saya Arga mbak."


" Ah, Saya Amil." Merekapun saling berkenalan.


Detik selanjutnya Arga pun akhirnya mengungkapkan tujuannya." Boleh poto bareng gak mbak ? Tanyanya.


Dengan senang hati gadis itu mau.


Dan akhirnya mereka berdua pun berpoto dengan menggunakan jarak pastinya.


" Makasih ya mbak, ini sebenarnya kami lagi main TOD, jadi saya kena tantangan begini." Ujar Arga.


Gadis itupun hanya tersenyum hambar.


" Ah, iya sama-sama." Ucapnya singkat.


Dan tantangan Arga akhirnya selesai.


Ketika hendak melangkah kembali ke mejanya tiba-tiba ada sosok gadis yang mirip Jihan melintas menuju keluar.


" Jihan." Arga mengejar sosok gadis itu.


" Arga." Ucap Hana dan Ranti yang melihat Arga keluar dari Caffe.


" Jihan, gadis itu mirip Jihan." Ucapnya terus berjalan keluar Caffe mencari gadis itu.


Dengan cepat Hana, Ranti dan Rahmet pun mengikuti langkah Arga.


Arga yang hanya fokus mencari keberadaan gadis yang mirip Jihan itu. Tak menghiraukan lagi kendaraan yang berlalu lalang di Jalan Raya.


Tiba-tiba ada sebuah mobil sedan dengan kecepatan tinggi melintas di depan Arga.


Arga yang sadar bahwa dirinya kini sudah berada di tengah jalan melototkan matanya.


" Arga awas." Ujar Hana dan Ranti dengan panik.


Sttt....


Bukkhh...Bunyi rem mobil tersebut bersamaan dengan bunyi kaki Arga yang tertabrak.


" Arga !!!


Bang Arga..." Teriak mereka bertiga.


Ya, untung saja mobil itu berhasil merem mobilnya. Hanya lutut Arga yang terluka, terkena bagian depan mobil.


Mereka bertiga berlari menghampiri Arga.


Untuk melihat kondisinya.


Sementara yang punya mobil turun, menghampiri Arga juga.


" Aduh kamu gimana sih ? Mau cari mati kamu ha ? Bentaknya pada Arga.


Arga yang merasa kakinya sedikit ngilu, hanya bisa terdiam membeku.


" Kamu lihat ini, lecet mobil saya jadinya." Ketusnya pada Arga yang memperlihatkan lampu mobil bagian depannya lengkang.


Dengan sigap Hana menghampirinya.


" Apa anda tidak bisa bicara baik-baik ?


" Diam kau !! Jangan ikut campur."


" Hm, kau sudah menjadi orang tua. Tapi sopan santun mu sangat minim sekali." Ledek Hana.


Membuat si empunya mobil semakin emosi.


" Sudah jangan banyak cerita kamu.


Saya gak mau tau bocah bodoh itu harus ganti rugi kerusakan mobil saya." Tuntutnya.


" Kau memang bukan manusia !! Melihat orang tengah terluka seperti itu kau masih saja memikirkan soal ganti rugi.


Saya tau teman saya salah !! Tapi apa tidak ada rasa simpati anda sedikit pun.


Dia juga kalau keadaannya gak darurat seperti tadi gak bakalan dia berada di tengah jalan raya kayak tadi."Jelas Hana padanya.


" Ini bukan perihal uang atau apa.


Tapi ini perihal rasa kemanusiaan.


Dan anda tidak memilikinya." Tutup Hana sembari meninggalkan orang tua itu.


Ranti, Arga dan Rahmet tercengang mendengar perkataan yang Hana haturkan.


Tampak begitu sopan tapi sangat menusuk.


Arga pun berusaha beranjak menghampiri orang tua itu.


Kemudian mengambil beberapa uang di dompetnya.


" Ini untuk ganti rugi kerusakan mobil anda pak, maafkan saya yang bodoh ini telah membuat anda menunggu." Kata Arga dengan tatapan tajamnya.


Kemudian Arga mengajak Ranti dan Rahmet masuk kembali ke Caffe.


Orang tua tersebut pun tercengang, saat melihat jumlah uang yang Arga berikan. Bahkan dua kali lipat dari uang ganti rugi mobilnya.


" Banyak juga duit bocah itu." Pungkasnya, kemudian masuk ke dalam mobilnya dan bergegas melajukannya.


Ya, begitulah terkadang.


Ada manusia yang memanfaatkan keadaan hanya demi materi semata.


Bersambung...


Sevimli 27 Januari 2021


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


__ADS_2