Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 109 Kebenaran itu dicari


__ADS_3

" Setinggi apapun ilmu yang kita punya.


Sedalam apapun ilmu yang kita dalami.


Seluas apapun kebenaran yang kita cari.


Jika Allah tidak menghendaki hidayahnya kepada kita.


Tetap saja, hati kita akan vacum pada kebenaran bahwa Islam adalah agama yang benar."


..... " Pelangi Hanani 🌹".....


• Sakarya, Turki.


Sudah hampir dua minggu Arga dan Rayhan tinggal di Kota Sakarya, Turki.


Ya, berada di apartemen yang berbeda.


Namun, berada di kampus yang sama dengan jurusan yang berbeda.


Arga mengambil jurusan hukum sementara Rayhan mengambil jurusan Desain dan arsitektur seni.


Ya, mereka menempuh pendidikan di SAU alias University Sakarya, Turki.


Universitas ini merupakan Universitas Negeri yang terletak di kota Sakarya, Turki dengan jarak hanya 2 jam perjalanan darat dari kota Istanbul.


Dianggap sebagai salah satu universitas terbesar di Turki dengan lebih dari 85.000 mahasiswa, Sakarya University memiliki kegiatan penelitian yang sangat tinggi dan program yang komprehensif yang ditunjang oleh 12 Fakultas, 4 Departemen, 3 Lembaga, 3 Akademi, dan 14 Sekolah Kejuruan.


Di Turki, Sakarya University adalah universitas negeri pertama dan satu-satunya yang menerima Sertifikat Kualitas ISO-2002 dan “Sertifikat Kualitas Keunggulan EFQM Tingkat Kompetensi."


Inilah salah satu dari berbagai alasan kenapa Arga memilih duduk di bangku University Sakarya ini.


Kualitas Universitasnya yang sudah memanca negara.


Hari ini.


Arga dan Rayhan berangkat ke kampus lebih awal dari biasanya. Dikarenakan ada sesuatu yang ingin Arga cari di Perpustakaan, kampusnya.


" Ray buruan ! teriak Arga dari luar apartment Rayhan.


" Sabar napa !


Ceklek..


Rayhan membuka pintu.


" Lo mau cari apa sih di perpustakaan ? tanya Rayhan, yang tak habis pikir dengan Arga.


Bisa-bisanya mengajak dirinya berangkat sepagi ini.


Padahal masih tersisa satu jam lagi, untuk bermalas-malasan sebelum jadwal Kampus tiba.


Petak... Arga menyentil kening Rayhan.


" Dasar pemalas ! cibirnya.


" Gila lo !!


Bisa-bisanya lecet jidat gua." protes Rayhan.


Menyentuh keningnya yang sedikit sakit.


" Udah gak usah bacot lagi lo !!


Buruan kita berangkat ! ajak Arga seraya melangkah meninggalkan Rayhan.


Rayhan hanya memasang mata melasnya, merasa sedikit jengkel ketenangannya diganggu oleh Arga.


Namun, tetap saja ia mengikuti langkah Arga.


Bip... bippp.


Suara mobil yang akan dikendarai Arga.


Ya, sebagai anak Sultan Royal Pahang.


Ia difasilitasinya lengkap diperantauannya.


Arga pun menyalakan mobil Ford Mustang GT nya.


Rayhan yang awalnya berjalan, ketika mendengar mesin mobil Arga sudah berderuh, langsung saja berlari.


Setelah Rayhan masuk, Arga pun dengan cepat melajukan mobilnya.


Bahkan Rayhan belum sempat memasang sabuk pengamannya.


Ssttt...Rayhan bedesis kesal.


" Kampret lo, Ga ! upatnya.


Arga tak menggubrisnya sama sekali, ia tetap fokus mengendarai mobilnya.


Tak ingin terkena pasal nantinya, dengan terpaksa Rayhan tetap memasang sabuk pengamannya.


Beberapa menit kemudian.


Mereka sampai di kampus Sakarya.


Arga memarkirkan mobilnya, lalu kemudian berjalan menuju perputaran. Bahkan ia lupa bahwa sahabatnya Rayhan masih berada di dalam mobil.


" Astaghfirullah..


Gua ditinggal gini aja, brengsek lo, Ga !!


Dengan kesal Rayhan pun keluar dari mobil, dan berlari mengejar Arga.


Arga yang sudah lebih dahulu masuk pun, langsung menuju rak buku di mana tempat buku yang ia ingin cari berada.


Setelah mendapatkan judul buku yang ia cari, ia pun tersenyum sembari menarik buku itu.


Saat ia menarik buku tersebut, disaat bersamaan pula ada sebuah tangan yang juga tengah menariknya.


Alhasil, keduanya saling menarik buku tersebut.


Arga menoleh ke samping kanannya, melihat sosok yang punya tangan tersebut.


Ya, terlihatlah seorang gadis berhijab coklat tua.


Gadis itu juga melakukan hal yang sama.


Secara tidak sengaja, manik mata mereka pun bertemu, saling menatap satu sama lain.


Namun, dengan segera Arga langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.


" Tafaddhol ! ujar Arga menarik tangannya dari buku.


" Ah, syukron." balas gadis ini.


Arga pun beranjak, beralih pada buku lainnya.


Sementara gadis ini, masih diam tak bergeming.


Terus menatap punggung Arga yang sudah menjauh darinya.


" Arga ogeb ! teriak Rayhan yang baru sampai di perpustakaan.


Arga yang masih sibuk mencari buku, tak menoleh sedikitpun. Tanpa sengaja netra Rayhan melihat sosok gadis yang sedari tadi tak hentinya menatap Arga.


Membuat Rayhan berpikir sejenak.


" Kenapa gadis ini, ngeliatin Arga mulu." batin Rayhan.


Beberapa detik kemudian, gadis itu sadar bahwa Rayhan tengah melihat, ia pun langsung memalingkan pandangannya. Kemudian mengambil buku itu dan segera pergi ke bangku baca.


" Aneh ! gumam Rayhan.


" Ga ! panggil Rayhan.


" Hm."


" Lo nyadar gak sih ? Dari tadi ada yang ngeliatin lo ?


Arga pun langsung melirik kanan, kirinya.

__ADS_1


Memperhatikan sekelilingnya.


" Gak ada yang ngeliatin gua." jawabnya.


Rayhan pun langsung menarik badan Arga, dan menghadapkannya ke arah gadis yang sedang duduk tidak jauh dari mereka.


Arga melihat seorang gadis yang tadi sempat berebut buku dengannya.


" Apaan sih ! ketus Arga dan berbalik kembali.


" Dia dari tadi ngeliatin elo ! pungkas Rayhan.


" Yaa biarinlah.


Dia punya mata, ya bebas mau lihat siapa aja."


Rayhan menatap melas pria dingin disebelahnya ini.


Ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud Rayhan. Mana mungkin seorang gadis berhijab menatap seorang pemuda dengan tatapan sedalam itu, kecuali adanya rasa suka.


Sudah bertemu dengan buku yang ia cari.


Arga pun langsung mengambil posisi duduk di kursi baca. Rayhan pun mengikutinya.


Kini posisi mereka bersebelahan dengan gadis itu.


Membuat gadis itu tersentak kaget, bahkan ia terlihat gugup saat bersebelahan dengan Arga.


Hal ini tambah menyita perhatian Rayhan.


" Ni cewek kenapa sih ?


Sawannya lagi kambuh kali." gumam Rayhan pelan.


Sesekali gadis itu diam-diam mencuri pandang pada Arga. Senyum dibibir mungilnya pun tak terlepas darinya. Sementara Arga yang tak menyadari hal itu terus saja melanjutkan aktivitas membacanya.


Rasa penasaran Rayhan semakin menggebu ia pun menghampiri gadis itu.


" Excuse me sis." ucap Rayhan yang sudah duduk disebelahnya.


Gadis ini terperanjat kaget, bahkan buku yang ada di tangannya terjatuh ke lantai.


" Astaghfirullah." pekiknya terkejut.


" Ah sorry-sorry." ucap Rayhan mengambil buku terjatuh dan memberikan pada gadis ini.


" Its oke."


" Rayhan From Indonesia." ujar Rayhan memperkenalkan diri membuat gadis itu mengangguk tersenyum.


" Indonesia ya ?


Zafirah, saya juga dari Medan." ucap gadis ini memperkenalkan dirinya kembali.


Mata Rayhan sedikit melotot, mendengar bahwa gadis ini ternyata berasal dari negara yang sama dengannya.


" Gak nyangka ya.


Ternyata dunia sesempit ini." kata Rayhan.


Zafirah pun tersenyum, seraya mengangguk.


" Jurusan apa disini ? tanyanya pada Rayhan.


" Jurusan Desain dan arsitektur seni.


Kamu sendiri ?


" Hukum."


" Ah hukum, samaan dong sama teman saya."


Zafirah menoleh kearah Arga.


Senyumnya semakin mengembang, mengira bahwa kalau Arga temannya Rayhan itu artinya mereka berasal dari negara yang sama.


" Teman kamu dari Indonesia juga ? tanya sambil melirik Arga.


" Kagak.


" Ooh Malay.


Kirain Indonesia."


Seketika senyum di wajah Zafirah pun memudar.


Ia pun kembali membaca bukunya.


" Kecewa ya ? Kalau dia dari Malay ?


Zafirah meletakkan bukunya di meja.


Menggelengkan kepalanya, tidak membenarkan pertanyaan Rayhan.


" Gak kok." jawabnya.


Arga yang sedang asyik membaca buku pun merasa sedikit terusik dengan kedua orang yang sedang asyik mengobrol itu.


" Keep silent !


Ini tempat membaca bukan mengghibah." ujarnya.


Sejenak keduanya terdiam, menatap sosok empunya suara. Senyum dibibir Zafirah kini kembali merekah saat mendengar suara gagah dari Arga.


" Yeaay.


Sewot loh ! ketus Rayhan.


Detik selanjutnya, mata Rayhan beralih pada Zafirah.


Ya, Zafirah masih saja enggan beralih menatap Arga.


Membuat Rayhan tersenyum simpul.


Rayhan mulai menyimpulkan, dari gelagat Zafirah yang tak hentinya menatap Arga. Bisa jadi Zafirah sedang suka pada sahabatnya itu.


Arga melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, ia pun berdiri kemudian melangkah mengembalikan buku di tempat awal buku itu berada.


Selepasnya, Arga pun pergi meninggalkan Perpustakaan menuju jelasnya.


Zafirah masih saja menatap punggung Arga yang mulai tertelan oleh pintu perpustakaan.


" Lo suka ya sama Arga ? tanya Rayhan tiba-tiba memakai aksen ala Jakartanya.


Mata Zafirah membeliak seakan-akan ingin lepas dari tempatnya. Dengan cepat ia memalingkan pandangannya ke arah lainnya.


" Gak ah." jawabnya menggeleng tidak.


" Gua cuma mau ngomong kalau hatinya udah ada yang nempetin." kata Rayhan pada Zafirah kemudian ia berdiri menyusul Arga.


Zafirah terdiam membisu mendengar pernyataan yang baru saja Rayhan lontarkan.


Sedikit terkejut, namun lebih ke arah menyakitkan sih.


" Udah ada yang punya ya." ucapnya dengan senyum simpul.


Ia meletakkan bukunya, menatap lantai kosong berwarna putih itu.


" Kenapa ya ?


Setiap kali hati gua terjatuh, pasti ke orang yang hatinya bukan buat gua."


" Udahlah San !


Ingat lo ke Turki buat belajar bukan cinta-cintaan !


Udah cukup San, luka lama lo aja belum sembuh.


Jangan nambah sembiluh perih lagi, San !


Zafirah terus menyadarkan dirinya.


Ia tak ingin terluka lagi untuk kali keduanya.

__ADS_1


Cukup luka lama yang belum kering, jangan ditambah lagi dengan luka yang semakin membasah.


Zafirah pun bangkit dari duduknya, berjalan mengarah rak buku, kemudian meletakkan buku yang ia ambil tadi.


Sedetik kemudian.


Ia melangkahkan kakinya meninggalkan Perpustakaan. Sudah waktunya ia ke kelas, sebab sebentar lagi jadwal perkuliahan akan di mulai.


.


.


.


• Florida, USA.


Sosok Anugrah Pota Mendrofa tengah duduk di taman Venetion Garden Park, Florida.


Menatap pepohonan yang berlambaian tersepoi angin.


Menghirup udara sejuk tanpa adanya polusi.


" Tenang." ucapnya.


Ya, Venetion Garden Park terletak di Florida, Amerika serikat. Salah satu taman yang penuh penghijauan.


Pasalnya dari pangkal sampai akhir.


Di penuhi dengan pepohonan yang hijau nan lebat.


Bahkan di danaunya saja ditanami bunga teratai yang bermekaran.. Bangau-bangau disana pun tak tinggal diam tengah sibuk mencari mangsanya untuk bertahan hidup apalagi kalau bukan ikan.


" Nugrah !


Panggil gadis berambut pirang yang tiba di sebelahnya.


Anugrah menoleh padanya.


" Hei Len." sapanya.


Ya, Alena.


Ia juga melanjutkan studinya di Universitas yang sama dengan Anugrah.


" Masih teguh sama pilihan kamu ? tanya Alena.


" Pilihan apa ? tanya Anugrah balik, pura-pura tidak tau maksud pertanyaan Alena.


" Pilihan jadi mualaf." jawab Alena.


Anugrah tersenyum seraya mengangguk.


Ia menatap langit yang cerah, seolah sedang Tuhannya.


" Pilihan itu adalah perjuangan terberatku, Len."


Hah... Anugrah menghela nafas.


" Kau tau Len, Tuhan seolah tersenyum mendengar pertanyaanmu. Sepertinya dia merestuiku untuk pindah agama, Len." ungkapnya mengalihkan pandangannya pada Alena.


Alena hanya menyebikan bibirnya, sedikit kesal mendengar perkataan Anugrah.


" Hm, aneh ya Nug.


Seharusnya wanita muslim itu kan nyari imamnya di Masjid, kenapa mala ngelirik ke Gereja. Disangka Pendeta bisa kali ya jadi imam di Masjid." ucap Alena berargumen.


Anugrah tertawa kecil mendengar perkataan yang baru saja Alena lontarkan. Ada raut kekesalan yang terlihat di wajah gadis berambut pirang itu.


" Dan terkadang tanpa disangka-sangka.


Ada seorang Pendeta yang beralih tugas menjadi seorang ustadz bahkan Ulama Internasional." ujar Anugrah dengan senyumannya.


Kening Alena berkerut, menatap tajam Anugrah.


" Syeikh Yusuf Estes.


Seorang Pendeta asal Texas, Amerika. Yang memutuskan untuk memeluk Islam, bukan karena seorang perempuan melainkan karena sebuah hasil pencarian kebenaran yang ia temukan." sambung Anugrah.


Alena tersenyum getir mendengar pernyataan Anugrah. Merasa bahwa argumennya telah terpatahkan oleh Anugrah.


" Agama itu bukan warisan.


Agama adalah kepercayaan batin mengenai keberadaan Tuhan. Dan batin takkan pernah bisa dimanipulasi. Agama adalah sebuah kebenaran yang harus kita cari keberadaannya." Anugrah menjeda beberapa detik perkataannya.


Ia tersenyum menawan menatap lurus ke depan.


" Menurutku kalau kita memeluk sesuatu semisal kayak agama ni, tanpa tau, buta plus tuli akan apa yang ada di agama yang kita peluk, Itu sama aja kayak sebuah pendokrinan buat kita. Kayak, kamu kenapa protestan ? Ya, karena orang tuaku protestanlah. Tanpa sedikitpun kita mencari tau kebenaran tentang agama itu, itu yang dikatakan doktrin.


Dan jujurly aku gak mau termasuk dalam golongan orang-orang yang terdokrin itu.


Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk terus mencari dan mencari kebenaran mengenai agama itu, dan tanpa disangka semakin aku mencari kebenaran itu justru kebenaran itu merujuk pada Islam.


Semakin aku mempelajari terus pelajari kitabku, semakin aku menemukan bahwa kebenaran itu ada pada Islam." jelas Anugrah tanpa ragu.


Alena terperanjat kaget mendengar perkataan Anugrah. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Anugrah berbicara sejauh ini.


" Nug !!


Kamu udah gila ha ?


Jernihin lagi tu otak kamu ! cetus Alena.


" Agama kita baik kok, Len.


Semakin aku mempelajari kitab kita, aku semakin dekat dengan kebenaran.


Bahkan aku menemukan bahwa ajaran agama kita mempunyai beberapa kesamaan dengan ajaran Islam. Hanya saja, point unggulnya yang mempraktekkan kebenaran itu justru mereka yang muslim. Itu adalah point penting kenapa ada banyak orang yang memutuskan untuk memeluk Islam. Dan inilah yang aku rasakan." lanjut Anugrah dengan senyumannya.


" Setinggi apapun ilmu yang kita punya.


Sedalam apapun ilmu yang kita dalami.


Seluas apapun kebenaran yang kita cari. Jika Allah tidak menghendaki hidayahnya untuk kita. Tetap saja, hati kita akan vacum dari kebenaran bahwa Islam adalah agama yang benar."


Setelah mengeluarkan semua penjelasan isi hatinya pada Alena. Anugrah pun berangkat dari duduknya, berjalan meninggalkan Alena yang masih terdiam membisu menatapnya.


" Kamu sudah melangkah sejauh ini, Nug.


Islam telah menguasai hatimu sepenuhnya." ucap Alena.


Tanpa aba-aba, Anugrah berbalik arah kembali menatap Alena yang masih duduk di bangku taman.


" Len !!


Masih ada banyak kebenaran yang harus aku cari tau lagi, doain ya semua lancar sampai titik temu hasil akhir dari pencarianku ini." ujar Anugrah padanya.


Alena hanya tersenyum sumbang membalas perkataan Anugrah.


" Jika itu pilihanmu.


Semoga Tuhan memberkatimu." balas Alena.


Anugrah pun tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Alena.


" Bye !


Aku balik luan." pamitnya.


Bersambung...


Sevimli 13 Juli 2021


Salam hangat dari Author 🌹


Oh iya author minta maaf ya untuk pembaca Pelangi Hanani yang nonis 🙏🏻


Author minta maaf kalau dialog antara Anugrah dan Alena mengenai agama tanpa sengaja menyinggung perasaan kalian.


Jujurly, author ga ada maksud buat nyinggung agama manapun disini. But, balik lagi ke ceritanya bahwa disini karakter Anugrah adalah sosok nonis yang berjuang ingin memeluk Islam.


Dan ya, Author udah lihat beberapa kisah perjalanan seorang nonis untuk memeluk Islam.


Nah, dari beberapa kisah tersebut menjadi bahan untuk riset Author ngebuat karakter Anugrah di Novel ini, bagaimana perjuangan Anugrah untuk menjadi seorang muslim.

__ADS_1


So, author ngebuatnya bukan asal-asalan aja ya :)


__ADS_2