
" Menjadi batu yang dingin, dan si pohon pisang yang gak punya hati rasa jauh lebih baik, agar tak terluka untuk kesekian kalinya."
........" Pelangi Hanani 🌹".......
Hari-hari berlalu begitu cepat, menyisakan setiap kejadian yang akan menjadi kenangan.
Hari ini tepat Ujian Kenaikan kelas mereka akan berakhir, Hana merasa senang sekaligus tidak sabar sebentar lagi dia akan berlibur ke negara kelahirannya.
Ya, sudah lama rasanya ia tak menginjakkan kaki di persawahan.
Menghirup udara segar nan asri yang jauh dari polusi.
Merindukan percikan air dari curahan terjun kecil yang berada di persawahan.
Ya, lebih tepatnya ia merindukan semuanya, terutama Keluarganya.
" Alhamdulillah ujian sudah selesai." Ucap Hana yang melangkah keluar kelas bersama sepupunya.
" Iya, alhamdulillah.
Itu berarti kita bakal ke Indonesia dong, yeeee asyik banget tau gak." Ucap Ranti kegirangan.
" Norak !! Ledek Hana.
Ranti menyebikkan bibirnya." Biarin."
Arga yang mendengar percakapan kedua perempuan itu, tersenyum masam.
" Kalau Hana balik ke Indonesia, itu artinya dia bakal ketemu Anugrah dong ? " Arga dengan menerka-nerka.
Hana menatap Arga tengah melamun." Woy." Tegur Hana membuyarkan lamunan Arga.
" Ngelamun aje, Kesambet Ferguso entar Elu." Ledek Hana dengan tawanya.
Arga menaikkan sebelah alisnya." Bodoh." Ketusnya.
Tawa Hana semakin keras merasa puas membuat kesal Arga." Sensi amat kek cewek PMS, kenapa sih ?
Arga menatap melas Hana." Enak aja bilang gue PMS, gua cool gini dibilang sensi." Ujar Arga melayangkan bolpoint ke Hana.
Ha-ha-ha.
" Tuhkan makin sensi, pake acara ngelempar segala."
Arga menghampirinya Hana." Han, kalau gua ikut ke Indonesia. Boleh gak ? Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.
Hana meneguk ludah nya, terkejut dengan pertanyaan ngacok Arga." Kamu apaan sih !! Gak usah ngacok deh.
" Gua serius, gua pengen liburan ke Indo.
Udah dua tahun aku gak kesana." Jujur Arga.
Cukup lama Hana terdiam memikirkan jawaban.
" Gimana ya Ga, bukannya gak boleh sih.
Tapi entar kalau di Indo kamu mau tinggal dimana ? " Tanya Hana.
Arga menatap heran Hana." Astaga, ni cewek bodohnya kebangetan emang. Ya di rumah kamulah." Jawab Arga dengan kesal.
" Eh aku gak bodoh ya, bukan gitu masalahnya rumah aku itu jelek, gak ada AC, lantainya gak keramik, gak ada WiFi , pokoknya Gak ena."
" Please deh gak usah lebay, kamu kira aku ini anak Raja apa." Ucap Arga memotong ucapan Hana.
Hana terkekeh kecil." Kamu aneh banget sih, ya emang kamu anak Raja." Timpal Hana.
Arga ikut tertawa menginginkan perkataan bodohnya itu, bisa-bisanya dia lupa bahwa ayahnya seorang Raja.
" Iyaiya deh, pokoknya gua ikut. Urusan tinggal dimana itu gampang dah." Ujar Arga.
Hana mengangkat kedua bahunya." Terserah deh, udah ah aku mau balik ni." Kata Hana menatap jarum jam.
" Iya, lagian gua ikut ke Indokan biar bisa ketemu calon mertua, pasti mereka senang punya calon menantu kayak gua." Ucap Arga dengan pedenya.
Hana memutar bolak matanya." Hallo sorry ya, kriteria kayak elo ini bukan tipe gua." Jawab Hana dengan nada sombong.
Bukannya Arga marah atau kesal justru ia tertawa, merasa lucu melihat ekspresi Hana mengatakan hal itu.
" Hana, Hana kita lihat aja nanti." Tekan Arga dengan mengedipkan matanya.
" Eh kamu jangan lakuin aneh-aneh ya waktu sampai di rumah nanti." Hana merasa khawatir kalau Arga melakukan hal yang aneh saat di Indonesia.
" Terserah aku dong." Arga berlalu meninggalkan Hana.
" Arga aneh, Arga patung !! Pohon pisang." Teriak Hana.
" Gak-gak bukan pohon pisang, pohon jengkol diakan gak punya jantung apalagi hati." Gerut Hana.
" Arga pohon jengkol." Teriak Hana dengan penuh kekesalan.
Arga yang sudah berada jauh darinya, tapi masih dapat mendengar celotehan Hana.
Ia tertawa puas menikmati setiap celetohan itu.
" Hana, Hana dasar gadis aneh." Upatnya.
Ya, mereka berdua memang tidak pernah akur. Selalu saja berdebat meski itu tidak terlalu penting untuk didebatkan.
Namun, kekompakan mereka akan rapi ketika berada dalam keadaan darurat.
Ya, melawan para pengkhianat dan musuh mereka.
Sesampai di Istana.
Hujan datang membasahi bumi, guyurannya yang cukup deras membuat Hana terpikat untuk menyentuhnya.
" Masya Allah mandi hujan seru ni." Ucap Hana.
Kemudian Hana membaca doa, seraya menengadahkan tangan." Allahumma Shoyyiban Nafi'an."
Darr... Tiba-tiba Arga datang mengejutkan Hana.
" Allah Akbar." Hana terkejut membuatnya hampir saja terjatuh.
__ADS_1
Arga tertawa puas melihatnya." Gitu aja kaget, aneh banget." Ledeknya.
Hana menatap tajam Arga." Sabar sabar Hana, pohon pisang memang punya jantung tapi gak punya hati." Ucap Hana.
Arga tersenyum." Iya dong, soalnyakan hatinya udah buat si gadis Aneh."
Membuat Hana semakin kesal dengan Arga, malas berdebat Hana memutuskan untuk pergi meninggalkan Arga.
" Lah, kok mala cabut sih." Arga mengikuti langkah Hana.
Hana memutuskan untuk pergi ke Taman tanpa memperdulikan curah hujan yang deras itu. Ia enggan mengganti seragamnya sebab ia tau, besok memang sudah libur sekolah.
Hana mendudukkan diri di bangku tangan, membiarkan hujan mengguyurnya.
Menatap intens setiap rintikan hujan.
Sudut bibir Hana terangkat membentuk sebuah senyuman manis.
Menikmati irama hujan yang menetes deras.
" Cantik." Ucap pemuda yang memperhatikan Hana.
Ia berjalan menuju taman, berniat menghampiri Hana.
Sekaligus tertarik untuk ikut menikmati curahan hujan, yang kelihatannya menyenangkan.
" Gak usah senyum-senyum." Ucapnya pada Hana.
Hana menoleh ke sebelah kanannya, dan terlihat pemuda yang masih berseragam sama dengannya.
" Arga, kamu ngapain disini ? Ya, pemuda itu adalah Arga.
" Mau berenanglah." Jawabnya asal.
Hana memelas matanya, merasa kesal dengan pemuda nyebelin satu ini.
" Mau menikmati hujan bersama bidadari." Ujar Arga menatap rintikan hujan.
Hana melirik Arga, merasa sedikit gugup saat mendengar perkataan Arga itu.
Wajahnya sedikit memerah, rasanya jantung Hana mulai lepas dari tempatnya.
" Baper ya ? Makanya senyum." Tanya Arga tak merubah pandangannya.
Hana menyebikkan bibirnya." Hm gak, pede banget sih kamu." Ketus Hana.
Arga tertawa." Han apa aku bisa gantiin posisi Anugrah di hati kamu ? Tanya Arga dengan tatapan intensnya.
Hana tersentak kaget, sangat terkejut.
Pertanyaan aneh macam apa ini, kenapa Arga si pemuda patung ini tiba-tiba bahas ini.
" Arga kok nanyain masalah ini sih ? Batin Hana menatap bingung Arga.
Beberapa detik tak ada jawaban dari Hana, keheningan menyelimuti mereka, hanya suara hujan yang ikut menemani.
Masih dengan tatapan intensnya." Hm, kamu gak perlu jawab, dengan diammu ini cukup menjadi jawabannya." Ucap Arga pura-pura tersenyum.
" Bukan gitu Ga, aku juga gak tau dimana perasaanku saat ini, di satu sisi aku senang setiap kali bersamamu. Tapi disisi lain terkadang aku juga masih kepikiran sama Anugrah." Ucap Hana dalam hatinya.
" Hebat ya Anugrah, bisa buat wanita sesolehah kamu, jatuh hati sama dia." Arga menatap lucu semesta.
" Kenapa Allah jatuhkan hati hambaNya yang beriman pada dia yang gak sama sekali mengakuiNya sebagai Tuhan ya." Ujar Arga dengan tawa kecilnya.
Tatapan Hana semakin tajam pada Arga, tak mengira bahwa perkataan seperti itu akan terlontar dari mulut Arga.
" Apa kamu lupa dengan kisah percintaan Zainab putri Rasulullah ? Tanya Hana.
Guyuran hujan yang deras itu tak menghalangi perbincangan di antara keduanya.
Seuntai senyuman Arga muncul." Yang menemani Abdul Ash berjuang menjemput hidayah Allah ? Tanya Arga.
Hana mengangguk sebagai jawabannya.
" Lantas apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai Salman Al farisi ? Tanya Arga dengan serius.
Hana semakin bingung dengan perbincangan aneh diantara dirinya dan Arga.
Kenapa harus membahas sejauh ini ?
Apa tidak hal lain yang ingin dibahas ?
" Hm, cukup Ga !
Jangan membahas hal yang bukan menjadi kapasitas kita." Jawab Hana membuang asal pandangannya dari Arga.
Arga tersenyum kecut, memahami bahwa Hana memang belum sepenuhnya bisa menghilangkan perasaannya pada Anugrah.
" Aku harap suatu saat nanti aku bisa menjadi Abu Darda untukmu, jikalaupun tidak aku akan berusaha untuk sebisa mungkin setegar dan seikhlas Salman Al farisi." Suara pecah Arga menyatu dengan suara derasnya hujan.
Arga berdiri dari bangku taman, melangkah meninggalkan Hana sendirian.
Hana menatap punggung Arga yang perlahan menjauh darinya.
Jujur dalam hati kecilnya, ia merasa bodoh berada di posisi ini.
Bagaimana bisa ia melabuhkan hatinya pada Anugrah pemuda tak beriman itu.
" Jujur Ga, rasaku ke Anugrah sudah mulai terkikis semenjak aku berada di sini. Dan bertemu denganmu.
" Di tambah lagi semua sifat yang berada pada dirimu mampu membuatku semakin kagum padamu." Ucap Hana dengan setetes air matanya.
" Ya Allah Engkau yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati hamba pada cintaMu ya Allah." Mohon Hana.
Beranjak dari Taman, Hana memutuskan untuk pulang ke Rumah Ranti.
Hana memperlambat Langkahnya, agar curahan air hujan dapat ia nikmati dengan penuh makna.
Ia ingin menetralkan detak jantungnya, yang masih saja tak karuan sejak perbincangan tadi dengan Arga.
" Arga maafkan aku belum bisa membalas perasaanmu saat ini." Ucapnya dengan lirih.
Perlahan-lahan demi perlahan Hana sampai di Rumah Ranti.
__ADS_1
Ranti yang sedari tadi mengkhawatirkan Hana, terkejut melihat Hana tiba-tiba sudah berada di depan pintu dengan keadaan basah kuyup.
" Astaghfirullah Hana, kamu mandi hujan ya ? Tanya Ranti menghampirinya.
Hana tersenyum mengangguk.
" Dasar bocil." Ledek Ranti.
" Biarin." Kata Hana.
Ranti kembali masuk, meraih Handuk untuk Hana. Agar Hana segera mengeringkan tubuhnya.
" Ini ambil, keringin tubuh kamu ! Entar masuk angin lagi." Titah Ranti memberikan Handuk pada Hana.
" Terima kasih sudah mengkhawatirkanku sepupu baik hatiku." Ucap Hana membuka sepatunya.
Seusai membuka sepatunya Hana memasuki rumah Ranti, dan disusul Ranti.
Disisi lain, Arga yang melangkah pergi meninggalkan Hana, bukannya masuk ke Istana.
Justru ia melajukan motor sportnya menuju danau, tempat terfavoritnya disaat hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Dengan kecepatan yang maksimal, Arga menerobos hujan yang deras. Beruntung saja takdir tidak menjatuhkan dirinya.
Ia selamat sampai tujuannya.
Arga menongkatkan motornya.
Membuka helmnya, kemudian melangkah mendekati danau.
Ia mengambil posisi duduk di pinggiran danau. Masih dengan kondisi hujan yang tak sederas tadi.
Arga menetralkan irama detak jantungnya.
Ia menghirup oksigen kemudian menahannya lalu membuangnya secara perlahan.
Arga menatap senduh langit yang tak cerah itu, membiarkan curahan hujan menghujani matanya.
Detik selanjutnya ia mengedarkan pandangannya ke danau." Argggghhhhh." Teriaknya frustasi.
Ia tak tau kenapa sampai berada di titik ini. Hatinya seakan-akan tercabik-cabik, dadanya terasa sesak dikala mengingat bahwa Hana tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
" Aku memang bodoh mengira bahwa kamu memiliki perasaan yang sama denganku Han." Ucapnya senduh.
" Tuhan mengapa engkau jatuhkan hatiku ke dalam jurang yang kelam ? " Arga melempar satu persatu batu ke danau.
" Aku bahkan kehilangan Jihan cinta
pertama ku yang bahkan sangat sulit untuk aku lupakan. Tapi ketika ada seseorang yang bisa menggeser posisi Jihan di hatiku,
kenapa mala justru dia yang menjatuhkan ribuan belatih padaku." Arga terlihat kecewa dengan takdirnya.
Arga menenggelamkan wajahnya di kedua sisi pahanya.
Ia membiarkan dirinya sejenak dengan posisi ini, berharap ia akan lebih sedikit tenang.
Hujan mulai redah, hanya tinggal rintikannya.
Hari mulai menggelap, membiarkan senja tiba dilangit biru.
Arga mengangkat kepalanya menatap senduh langit senja sore ini.
" Indah." Ucapnya tenang menikmati senja di pinggiran danau.
" Pertemuan singkat meninggalkan sejuta cerita." Ucapnya lagi dengan senyuman.
" Kalian pasti menertawakan akukan ? Pria bodoh yang mengurung dirinya dengan perasaannya sendiri, Ha-ha-ha." Arga mentertawakan dirinya.
" Iya aku emang bodoh, mudah sekali di bohongi oleh Harapan." Arga seakan-akan berbicara dengan benda-benda mati itu.
" Kalian jangan sampai merasakan apa yang aku rasa ya, sakit sumpah berat deh pokoknya."
" Seharusnya aku kembali seperti dulu, ya Arga si batu yang dingin, Arga si pohon pisang yang gak punya hati, biar ceritanya gak ribet kayak gini, Ha-ha-ha." Arga lagi-lagi mentertawakan dirinya.
Arga menikmati hembusan angin sore, yang menelesuri tubuhnya.
Sesaat Arga terdiam kemudian ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Yang menunjukkan sebentar lagi akan memasuki waktu magrib.
Ia beranjak dari duduknya." Terima kasih sudah menemaniku sore ini." Ucapnya pada senja yang sedang beranjak tenggelam itu.
Arga meraih motornya, mengenakan helmnya. Kemudian melajukannya pulang ke Istana.
Hatinya kini sedikit tenang dari sebelumnya. Ia tak ingin lagi menjadi anak kecil yang tak bisa mengontrol dirinya.
Arga ingin menenangkan dirinya dengan caranya sendiri.
Ya, cara menenangkan dirinya adalah cara yang saat ini ia lakukan.
Tak merugikan orang lain atau bahkan merepotkan orang lain.
Beberapa menit kemudian Arga sampai di Istana dengan keadaan yang sama seperti tadi ia pergi. Hanya saja selama perjalanan Pakaian Arga berhasil dibuat sedikit kering oleh hembusan angin.
Arga memakirkan motornya di Garasi motor.
Ia melangkah masuk ke kamarnya.
Tepat di pintu Istana Arga bertemu dengan Hana.
Hana menatap Arga dengan seuntaian senyumannya, bukannya membalas justru Arga menatap datar Hana.
" Arga kenapa ya ? Hana tidak mengerti dengan pria satu itu.
" Bodoh ah, entar juga bakalan balik moodnya." Ucap Hana melangkah pergi ke Masjid.
Arga membalikkan tubuhnya agar dapat melihat Hana." Maafkan Aku Han, mulai saat ini aku akan mengikis perasaan ini. Aku tidak mau terjatuh terlalu dalam, yang nantinya membuat tak bisa pulih untuk selamanya."
Bersambung....
Sevimli 3 November 2020
Jangan lupa di like ya guys
Salam hangat dari Author 🌹
__ADS_1