
Happy Birthday Eunwoo 💙
Visualnya Arga :)
" Aku harap jika suatu saat nanti.
Semesta mengangkat kebenarannya.
Tak ada setetes air matapun yang tercurah dari netra ayah."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Sesampai di Pangkalan becak, Hana dan Ranti pun meminta tukang becak untuk mengantarkan mereka ke Bandara.
Bersyukur, sepagi ini ada becak yang bisa ngantarin mereka.
Tak butuh memakan waktu yang lama.
Mereka akhirnya, sampai di Bandara.
Tak muluk-muluk lagi, waktu mereka tinggal beberapa menit.
Mereka langsung berlari menuju terminal keberangkatan.
Benar saja belum sempat mereka duduk, jadwal penerbangan mereka sudah diumumkan.
" Han !!
Ayo jadwal kita udah diumumin ni." Ujar Ranti.
Hanapun mengangguk dan mengikuti langkah Ranti.
Sesampainya di Pesawat Hana dan Ranti memilih untuk beristirahat.
Tenaga mereka telah terkuras oleh kejadian pagi tadi.
Bagaimana tidak ?
Mereka berlari menghindari supir taxi gila itu, dan jarak yang mereka tempuh cukup melelahkan.
Bersyukur mereka bisa sampai di Bandara dengan selamat dan tidak ketinggalan pesawat.
Kalau tidak ?
Bagaimana caranya mereka bisa sampai di Malaysia ?
Plus, mau dapat uang dari mana lagi untuk membeli tiket pesawat ?
Sungguh Allah sebaik-baiknya pelindung.
.
.
Setelah satu jam lebih perjalanan yang mereka tempuh.
Akhirnya mereka mendarat di tanah menara kembar ini.
Hana dan Ranti pun keluar dari Pesawat.
Menarik handle koper masing-masing.
" Han, kita minta jemput bang Izaz aja ya ? Tanya Ranti.
" Gak usah !! Tolak Hana.
Rantipun mendekati Hana." Terus naik apa ?
" Naik Taxi aja, biar gak ngerepotin orang."
Rantipun menolak ujaran Hana, khawatir kejadian tadi pagi di Indonesia, terulang di Malaysia.
" Gak ah.
Entar kek di Indo lagi." Tolak Ranti mentah-mentah.
Hanapun baru teringat kejadian tadi, membuatnya sedikit ragu untuk memanggil supir taxi.
" Ah iya juga ya Ran..
Terus kita mau naik apaan.
" Jemput bang Izaz aja Han." Sarannya sekali lagi.
" Gak usah deh, cari becak aja yuk." Ucap Hana asal.
Ranti menepuk kepalanya, bisa-bisanya sepupunya yang jenius menyebutkan kata-kata itu.
" Hallo !!
Ini Malay Hana, bukan Medan.
Apaan sih !! Ketus Ranti pada Hana.
Hanapun baru menyadari, bahwa saat ini mereka memang benar berada di Malay bukan di Medan.
" Astaghfirullah, ah iya maaf ya aku lupa Ran.
Yaudah deh, kita minta jemput bang Izaz aja deh kepaksa." Hana menyerah dan menyetujui perkataan Ranti.
Rantipun tersenyum." Dari tadi kek.
Bentar aku hubungi bang Izaz dulu." Rantipun meraih ponselnya, dan segera menghubungi Izaz.
Rantipun menghubungi Izaz, namun sayang, Izaz tak dapat menjemput mereka berdua.
Akan tetapi, Izaz akan menyuruh supir pribadi Istana menjemput Hana dan Ranti di Bandara.
" Gimana Ran ? Tanya Hana.
" Bang Izaz gak bisa, lagi sibuk.
Tapi dia udah nyuruh supir kok jemput kita." Jawab Ranti.
Hanapun mengangguk mengerti.
Keduanya memilih menunggu Taxi di depan gedung utama Bandara.
Agar nantinya mereka dengan cepat bertemu dengan Supir Istana.
Selang beberapa menit kemudian, supir yang Izaz perintahpun sampai di Bandara.
" Ah nak Ranti dan Hana." Sahutnya.
Hana dan Rantipun menoleh ke arahnya.
" Ah, pakci dah sampai."
" Alhamdulillah udah nak, mari bapak bawakan kopernya." Tawarkannya.
Hana dan Ranti langsung menarik hendle kopernya." Gak usah Pakci, kita bisa sendiri kok." Tolak mereka.
Keduanya pun melangkah memasuki mobil.
Dan diikuti oleh supir pribadi Istana.
Supir Pribadi inipun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tak ada pembicaraan diantara ketiganya,
hanya ada suara deruh mesin mobil, dan juga suara kendaraan lainnya.
Sampai akhirnya Hana membuka suara.
" Pakci, bagaimana keadaan Istana ? Tanya Hana untuk memecah keheningan.
Supir Pribadi itu melirik Hana, dari kaca mobil.
Kelihatan raut wajah lesuh diwajahnya.
" Hm nak Arga ditahan di sel nak." Jawabnya lirih. Bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.
Hana tersenyum." Kenapa bapak bersedih ?
" Bagaimana tidak sedih nak ?
Arga itu anak yang baik, bahkan sangat bijaksana. Selalu ikhlas melakukan sesuatu, bahkan tak pernah mengungkit apapun untuk setiap kebaikan yang ia perbuat untuk orang lain, ia sangat berhati mulia nak.
Pakci yakin, dia bukan pengkhianatan.
Demi Allah, pakci yakin dia bukan pengkhianat." Mulutnya bergetar saat melontarkan kalimat ini.
Hana dan Ranti tersenyum, masih banyak orang yang mempercayai bahwa Arga bukan pengkhianatan.
__ADS_1
Masih banyak orang yang akalnya tak mudah di doktrin oleh orang lain.
Namun anehnya, kenapa Raja Nazhanul Hakim percaya pada semua yang Vachry
tunjukkan padanya.
Meski Vachry memiliki bukti, kenapa Raja Nazhanul meriset terlebih dahulu bukti yang dimilikinya ?
Entahlah, mungkin saja Vachry telah menghasut habis-habisan dirinya.
Sampai sangat mudah mengatakan Arga berkhianat padanya.
" Alhamdulillah, apa yang pakci katakan benar.
Bahwa Arga memang pemuda berhati mulia dan juga bijaksana.
Bahkan sedetikpun kata berkhianat tak pernah terlintas dalam benaknya..
Justru ialah yang berjuang mati-matian demi tegaknya kebenaran." Tutur Hana seraya mengingat semua perjuangan Arga.
" Benar nak, apa yang kamu katakan semuanya benar." Supir Pribadi inipun setuju dengan Hana.
" Iya pakci, doakan kami agar Allah mempermudah kami mencari bukti-bukti mengangkat semua kedzaliman yang Uncle Vachry lakukan." Tegas Hana dengan
Seiring dengan perbincangan yang terjadi, tak terasa mereka sudah sampai di Istana.
" Terima kasih pakci sudah mengantarkan kami berdua." Ucap Hana dengan lembut.
" Sama-sama nak.
Pakci akan bantu kalian untuk mencari bukti-bukti buat mengangkat kasus nak Arga ini, kalian tenang saja." Tutup Supir ini sebelum kembali ke tempatnya.
" Bismillah, perjuanganmu dimulai dari langkah pertamamu menginjakkan kaki di tanah ini Han, insya Allah semuanya akan baik-baik saja.
Allah bersama orang-orang yang benar Han." Hana mencoba untuk menguatkan dirinya.
" Aku juga akan berusaha ikut berjuang dalam kasus ini Han." Ujar Ranti seraya tersenyum pada Hana.
Keduanya saling membalas senyuman, dan mendekat untuk menguatkan satu sama lain.
Menyalurkan kekuatan dalam bentuk pelukan adalah cara terbaik
Hana dan Rantipun segera pergi menuju rumah Ranti. Untuk mengemasi barang-barang mereka. Supaya bisa dengan cepat mengunjungi Arga di Sel tahanan.
Sesampai di rumah Ranti.
Vakri dan sang istri pun menyambut mereka berdua dengan penuh kasih.
" Alhamdulillah, kalian udah sampai." Ucap Vakri menyambut putri dan ponakannya.
" Assalamu'alaikum ayah." Ranti meraih tangan ayahnya untuk menyalimnya.
" Waalaikumussalam.." Jawab Vakri yang menjulurkan tangannya pada Ranti.
Hana juga ikut menyusul Ranti.
" Paman dan Bibi sehatkan ? Sapanya seraya menyalim kedua tangan mereka bergantian.
" Alhamdulillah baik nak..
Ibu dan bapak sehatkan ? Tanya Vakri balik.
Hana mengangguk." Alhamdulillah, sehat juga paman."
Rantipun menarik tangan Hana untuk segera pergi menuju kamar." Ah iya yah, kami beberes dulu ya, soalnya mau istirahat dulu ni." Ranti sengaja melakukan ini, agar mereka dengan cepat bisa menjumpai Arga.
" Ah iyaiya, ayah lupa putri dan ponakan ayah ini pasti capek ya kan bun." Ujarnya, ibu Rantipun mengangguk.
" Ya sudah sekarang, kalian istirahat ya.
Jangan lupa ambil wudhu dulu biar lebih fresh." Kata sang bunda pada mereka.
Hana dan Rantipun menuruti permintaan bunda Ranti.
Dan segera melangkah menuju kamarnya.
Mengeluarkan semua barang-barangnya, kemudian memasukinya satu persatu pada tempat yang sesuai.
.
.
Setelah dua puluh menit berlalu, mereka telah selesai dengan urusannya masing-masing.
" Alhamdulillah, sekarang kita ke Sel tahanan yuk Ran." Ajak Hana yang sudah tidak sabaran.
Ranti menarik tangan Hana." Eh Hana kamu ini gimana sih ? Ucapnya menghentikan Hana.
" Emangnya aku kenapa ? Hana belum menyadari apa yang dimaksud Ranti.
" Kamu pikir mau ngujungi orang di Sel tahanan itu seenak jidat ? Ranti memelas pandangannya.
Wajah lesuh pun terlihat di mimik wajah Hana.
" Hm iya ya Ran."
" Kita harus minta izin dulu ke Raja buat ngujungi, kalau diizinin baru deh." Ya, begitulah peraturannya.
Terkecuali emang Raja sedang pergi keluar kota dan tidak berada ditempat, itupun harus meminta izin kepada penasehat hukum.
" Aku gak yakin kalau Uncle Nazh ngizinin." Hana berkecil hati.
Begitu juga dengan Ranti, ia juga menatap kosong ke arah depan. Merasa apa yang dikatakan Hana benar adanya.
" Iya Han." Sahut Ranti.
Cukup lama mereka berdua berpikir.
Sampai pada akhirnya, Hana memiliki ide pada akalnya.
" Ah gimana kalau kita minta izin sama pengawal itu diam-diam Ran." Ujarnya.
Ranti tersenyum." Iya, habis tu ketahuan kena gantung mah kitanya."
" Yaudah kita coba dulu aja minta izin ke Uncle Nazh." Tak ada pilihan lain.
Merekapun memilih pilihan ini.
Dengan bermodalkan nekad dan suara mereka memberanikan diri meminta izin pada Nazhanul.
Sesampai di ruangan Nazhanul, mereka melihat hanya pengawal yang jumlahnya lebih sedikit seperti biasanya.
" Maaf pakci, tuan raja ada di dalam ? Tanya Hana.
" Tidak ada, raja sedang mengunjungi Arga di Sel tahanan." Jawabnya singkat dengan ekspresi datar.
Membuat Ranti kesal." Yaelah, muka belum cleaning servis kali, ketat amat." Upat Ranti yang terdengar olehnya.
Hana langsung menarik tangan Ranti.
" Ah, makasih ya pakci." Kata Hana tak ingin memperpanjang masalah.
Hana menarik tangan Ranti, sampai menjauh dari para pengawal itu." Hana apaan sih narik-narik !! Protes Ranti.
Hana melepaskan pegangannya." Kamu itu ya, gak bisa banget ngejaga mulut itu." Kesal Hana.
Hahah..Ranti tertawa kecil.
" Habis ekspresi dia ngeselin."
" Udah ah, sekarang gini ke Sel tahanan aja langsung." Ajak Hana.
Keduanya pun beranjak menuju Sel tahanan.
Meski apapun yang terjadi, mereka siap menanggung resikonya.
Di Sel tahanan.
Benar saja, Nazhanul baru saja sampai ditempat gelap ini, yang hanya di huni untuk para pelaku tindak kedzaliman.
Namun, perlu digarisbawahi kecuali Arga,Andrea,Abriz dan Robert.
Kedatangan Nazhanul membuat Arga bangkit dari duduknya." Ayah." Ucapnya dengan lengkungan senyuman.
Namun sayang, lagi dan lagi.
Arga hanya mendapatkan pengabaian dari sang ayahanda.
" Setiap kejahatan yang dilakukan akan selalu mendapat balasan yang setimpal." Ucap Nazhanul dengan nada tegasnya.
Arga hanya tersenyum melihat wajah tegas sosok ayahnya.
Detik selanjutnya, pandangan Nazhanul tertuju pada Arga.
Keduanya saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Meski Nazhanul berusaha tegar, tetap saja ada kepedihan yang mendalam terletak pada kelopak matanya.
Begitu juga dengan Arga, air matanya sudah tak terbendung lagi.
Dan terjun bebas mengekspresikan perasaan sakitnya.
" Kau telah terbukti berkhianat pada Raja.
Hukuman gantung tetap berlaku padamu.
Hukum tetap tegak lurus berlaku pada siapapun. Sekalipun kau itu putraku.
Jangan pernah berharap ada negosiasi dalam hukum !! Tegas Nazhanul seraya memalingkan wajahnya dari Arga dan beranjak pergi.
Arga hanya tersenyum, menatap punggung sang ayah. "Aku harap, jika suatu saat semesta mengangkat kebenarannya.
Tak ada setetes air matapun yang akan tercurah dari netra ayah."
Ucapan Arga membuat langkah Nazhanul berhenti, meski ia tak menoleh pada Arga.
Hatinya tercabik-cabik mendengarnya.
Setetes air matapun mengalir diwajahnya, namun ia mengusapnya dengan cepat.
Ia tetap bersikap profesional dalam kepemimpinan.
Nazhanulpun beranjak keluar dari ruangan itu.
Arga hanya menatapnya dengan tatapan teduh.
Ia yakin meski mulut Nazhanul mengatakan hal itu, hatinya pasti merasakan sakit yang sama seperti yang Arga alami.
Andrea mendekati Arga.
" Sabar ya bro." Ujarnya memukul pelan pundak Arga.
Arga mengangguk pada Andrea.
" Thanks Dre."
Di depan gerbang sel tahanan, Nazhanul bertemu dengan Hana dan Ranti.
" Ah Uncle." Ucap Hana.
Nazhanulpun melihat mereka dengan raut kebingungan." Apa yang hendak kalian lakukan disini ? Tanyanya.
" Kami nak izin mengunjungi Arga Uncle." Jujur Hana padanya.
Nazhanul terdiam, seraya berpikir untuk mengambil keputusan.
" Bagaimana uncle, apa kami dizinkan ? Sambung Ranti.
Nazhanul mengangguk sebagai jawaban.
" Hanya sepuluh menit." Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan keduanya.
" Baik, terima kasih uncle." Jawab Hana dengan sopan.
" Astaga, dia pikir kita ini punya ilmu batin.
Sepuluh menit mah, hanya cukup untuk berkomunikasi melalui batin." Upat Ranti, yang tak terima dengan Nazhanul.
Hana langsung menarik Sanju untuk segera ikut ke dalam.
Berjalan menyusuri bangunan gelap ini, membuat keduanya tersadar pasti sangat sulit untuk berada disini.
Sosok lelaki yang belakangan ini selalu berada dipikiran Hana, kini terduduk lemah dilantai.
Tak lagi ada wajah sombong yang terlihat di mimik wajahnya.
" Apa kau selemah ini ? Teriak Hana padanya.
Membuat Arga, sentak terkaget.
" Hana." Ia bangkit dari duduknya.
" Ha ? Apa kau sebodoh ini ?
Membiarkan dirimu berada ditempat ini !!
Arga hanya tersenyum menatap Hana.
Sosok gadis yang bertahta dihatinya.
" Lihatkan betapa bodoh kau.
Diposisi sesakit ini kau masih bisa tersenyum.
Bodoh !! Upat Hana dengan senyuman.
" Kapan sampainya ? Tanya Arga.
Hana meminta pengawal untuk pergi sebentar.
" Pak bisa tinggalkan kami."
" Saya tidak bisa melakukannya." Tolaknya.
Pengawal itu awalnya menolak, namun Hana sudah mempersiapkan pisau tajam di kantungnya.
" Apa pakci ingin saya mengukir diwajah pakci." Ujar Hana sembari memainkan pisaunya.
Sentak semuanya terkaget, terutama Arga.
Bagaimana mungkin, wanita lemah lembut dihadapannya ini.
Bisa menggenggam pisau tajam dan memainkannya dengan lihai.
" Hana !! Teriak semuanya.
Namun, hal itu membuat pengawal tersebutpun pergi tanpa aba-aba.
Hahaha...Tawa renyah terlontar dari mulut Hana.
Ranti mendekati Hana." Hana sejak kapan kau bengis seperti ini.
Kau pasti bukan Hana kan. Keluar kau dari tubuh sepupuku." Ranti tak percaya bahwa gadis dihadapannya adalah Hana.
Kalaupun Hana, pasti ada ruh jahat yang merasukinya.
" Apaan sih !! Aku gak kerasukan kali." Protes Hana.
" Tapi Hana gak mungkin sekejam ini." Kata Ranti.
" Iya ni, sejak kapan pisau jadi mainan kamu Han. Biasanya juga kampak, eh maksudnya langsung tembak. Ah tendangan bebas yang kamu layangkan." Ujar Arga masih menatap takjub pada Hana.
Huhhh.. Hana menghela nafasnya.
" Kamu kira main sepak bola.
Ini itu cuma pisau mainan." Hana menunjukkan wujud pisau yang ia genggam.
Benar saja pisau itu hanya pisau mainan.
" Nih lihat." Hana memotong tangannya dengan pisau itu dan ya tidak sama sekali terpotong.
" Gak terpotongkan."
Mereka semua mengangguk.
" Astaga Han, bisa-bisanya aku udah deg-degan gini ngeliat kamu bakal berubah jadi wonder woman. Eh ternyata pisau boongan." Ranti geleng-geleng kepala melihat tingkah Hana.
Tingkah laku Hana mengundang tawa kecil diantara mereka.
" Kreatif banget sih calon istri Arga." Bukan Arga yang mengucapkan kata-kata ini, melainkan Andrea sendiri.
Membuat Hana tersentak.
Deg... Dentuman tak karuan pun mulai tiba.
Namun bukan baper yang mendominasi hatinya, lebih ke arah malunya.
Ya, malulah dengan mereka semua.
Darimana Andrea bisa tau kedekatan antara keduanya. Sampai bisa mengatakan itu.
" Calon istri apaan !!
Jangan nebar hoax deh." Ketus Hana.
Mereka hanya tersenyum melihat Hana yang sudah sedikit salah tingkah.
Begitu juga dengan Arga ia sedikit tenang melihat Hana berada dihadapannya.
Bersambung..
__ADS_1
Sevimli 30 Maret 2021
Salam hangat dari Author 🌹