
Jangan lupa like and Votenya :)
Dan jangan lupa juga baca karyaku Selaksa Rasa ya ✨
" Tuhan selalu meletakkan sesuatu hal dengan adil. Tuhan tidak pernah salah menempatkan apapun, termasuk salah satunya takdirmu."
....." Pelangi Hanani 🌹".....
Setelah usai mengikuti kajian.
Anugrah dan Fian memutuskan untuk langsung pulang ke kontrakan mereka.
" Nug !
Lo yakin mau pulang ? tanya Fian yang sedang mengemudikan motornya.
" Iya, Yan." jawabnya.
" Lo udah siap ketemu bokap, lo ?
" Bukan ke Indonesia.
Tapi, ke Palestina." jujur Anugrah, dengan tekad bulatnya.
stttt... tiba-tiba saja Fian merem mendadak.
Ha ? Fian terkejut mendengar jawaban dari Anugrah. Apa Anugrah benar-benar ingin bersyahadat di Palestina ?
" Kenapa ngerem mendadak sih, Yan ?
" Lo serius mau ke Palestina, Nug ? ulang Fian menyakinkan.
Anugrah mengangguk tanpa ragu.
" Iya, Yan.
Aku udah terlalu lama menunda-nunda keinginanku ini." ujar Anugrah, mengingat betapa lamanya keinginannya ini belum kunjung ia wujudkan.
"Aku baru menyadari bahwa selama ini, aku masih meletakkan harapan, bahwa Hana mau menjadi Zainab binti Muhammadku, namun ternyata pertemuan di Sungai Nil itu, menyadarkanku bahwa Hana memang benar-benar bukan Zainab binti Muhammadku." ucap Anugrah, dengan tersenyum sendu.
Ia teringat kali berapa Hana menolaknya menjadi Abul Ash gadis itu.
"Aku telah jauh berhijrah sampai ke negeri Firaun. Aku tidak ingin hijrahku rusak hanya karena seorang perempuan.Dan juga kali ini, aku benar-benar ingin melepas perasaanku kepadanya. Meski sulit dan sakit sekalipun, aku akan tetap lakukan."
"Dan aku ingin memulai kehidupan baru di Baitul maqdis, di tempat pertama kalinya aku bersyahadat. Menyaksikan bagaimana rasa sakit yang dialami oleh umat Islam di sana.
Dengan begitu, rasa cintaku terhadap Hana tidak terlalu lama menggerogoti hatiku.
Karena aku tidak ingin Hana menjadi saingan Tuhan di hatiku." tutup Anugrah, ucapan yang di temani dengan lapang dada.
Fian pun hanya terdiam, ia tau bahwa perasaan Anugrah terhadap Hana terlalu besar kedudukannya di hati Anugrah.
Sekaligus kagum melihat sosok Anugrah yang punya keinginan besar untuk pergi ke Baitul Maqdis.
Tanpa izin, air mata Fian terjatuh membasahi pipinya." Gua salut sama lo, Nug.
Gua yakin cewek beruntung yang bakalan bersanding sama lo." ucapnya kagum.
" Gua ikut sama lo, Nug." kata Fian padanya.
Anugrah menggeleng tidak setuju.
" Kamu masih kuliah, Yan.
Gak usah deh, biarin aku sendiri aja." tolak Anugrah beralasan.
" Udah.
Urusan kuliah mah gampang.
Pokoknya gua ikut sama lo." kata Fian, tidak bisa diganggu gugat.
Fian pun kembali melajukan motornya.
Sementara, Anugrah hanya bisa diam dengan keputusan Fian.
.
.
Hana tengah sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Tanpa tersadar, ada sosok lengan yang menarik tangannya dan membawanya menepi ke tempat yang sunyi.
" Lepasin ! teriak Hana meronta.
Lelaki itu tak merespon perkataan Hana, ia tetap menarik kasar tangan Hana.
Bughh...
Tanpa pikir lama, Hana menendang kaki pria ini.
" Jangan pernah berani menyentuhku ! cetus Hana dengan sorot mata tajam.
Pria itu sempat tersungkur, namun ia kembali berdiri dan menghampiri Hana.
" Kau perempuan yang berani ikut campur dengan urusanku, kan ?
Urusan ? Kening Hana berkerut.
Urusan apa ? Hana tak mengerti apa yang dimaksud pria ini.
Hana mundur tiga langkah ke belakang, menjauh dari pria ini.
" Urusan apa maksudmu ?
Aku tidak pernah berurusan denganmu ! protes Hana tidak terima.
Senyum smirk muncul di wajah pria ini.
Ia meraih ponselnya di dalam kantongnya.
Kemudian membuka fitur galeri, dan menunjukkan sebuah poto perempuan pada Hana.
" Mbak ini." ucap Hana saat melihat sang poto perempuan yang ingin ia tolong.
" Kau telah membantu gadis ini untuk melarikan diri ! katanya pada Hana.
" Kau dalang dibalik ini semua ha ?
Ia kembali menarik kasar tangan Hana, tapi sayang, langsung ditepis oleh Hana.
" Sudah kukatakan jangan berani menyentuhku iblis ! amarah Hana mulai berkobar.
" Kau pikir aku takut dengan bentakanmu itu ?
Takut dengan teriakanmu itu ha ?
Ia semakin mendekat pada Hana.
Bahkan menjebak tubuh Hana, hingga Hana tak dapat lagi mundur ke belakang karena kini tubuhnya sudah bersandar dengan dinding.
" Berani selangkah lagi kau mendekat.
Akan kupatahkan tukang belulangmu ! ancam Hana padanya.
__ADS_1
" Aku ingin tau bagaimana rasanya.
Boleh di coba ! godanya.
Nafas Hana mulai tak beraturan.
Bahkan detak jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
Bukannya ia takut menghadapi pria ini, namun ia takut pria ini menyentuhnya.
" Ya Allah, lindungi hamba." batin Hana.
Bughh...
Ada seseorang yang memukul pria ini dengan balok kayu yang cukup besar.
Membuat pria itu tersungkur, tanpa aba-aba.
" Mbak !
Gadis Trixtal Bar itu datang menyelamatkan Hana, ia pun menarik tangan Hana untuk pergi bersamanya.
Hana mengernyitkan dahinya, merasa heran kenapa gadis ini bisa tepat waktu menolongnya ? Pikir Hana.
" Mbak !
Kita mau kemana ? tanya Hana.
Gadis itu hanya diam, terus melangkah membawa Hana sejauh mungkin dari lelaki itu.
Sampai akhirnya.
Mereka terhenti di sebuah toko roti kecil.
Ia pun menoleh ke belakang, sudah tidak ada pria yang mengejar mereka lagi.
Hahh...
Terdengar suara hembusan nafas lega keduanya. Gadis itupun menyandarkan punggungnya ke tembok bangunan yang berada di sana.
Sementara Hana, memilih berjongkok di hadapannya.
" Makasih ya, mbak." ucap Hana dengan senyumannya.
" Untuk apa ?
" Udah nolongin saya." jawab Hana.
" Kamu juga kayak gini, karena saya." ungkapnya pada Hana.
Hana pun tersenyum, merasa senang.
Bertemu lagi dengan gadis ini.
Hana menatapnya lekat sampai membuat gadis ini mengernyitkan dahinya.
" Kenapa kau menatapku ?
" Ah gak, nama mbak siapa ya ? bukannya menjawab Hana justru bertanya.
Sejenak gadis ini terdiam, enggan menjawab pertanyaan Hana. Ia memalingkan wajahnya dari Hana.
" Canggung rasanya, kalau saya manggil mbak tanpa nama." ucap Hana.
Gadis itu menoleh pada Hana, menatap Hana tajam dengan mata coklatnya.
" Hisya." katanya singkat.
Hana pun tersenyum seraya menyodorkan tangannya sebelah, untuk berjabat tangan dengan gadis yang bernama Hisya ini.
Ia menatap tangan Hana yang sudah berada di hadapannya. Kemudian beralih pada senyuman yang berada di wajah Hana.
Entah apa yang menghampirinya, ia membalas dan menjabat tangan Hana.
Hana tersenyum hangat padanya, begitu juga dengan dia senyumnya terbit di wajahnya meski tidak lebar, hanya beberapa senti.
Ia pun segera melepaskan tangannya dari tangan Hana. Dan kembali memalingkan wajahnya dari Hana.
Allahu Akbar.. Allahu Akbar..
Suara adzan dzuhur telah berkumandang di negri Firaun ini.
" Alhamdulillah, udah adzan mbak." seru Hana.
Hisya hanya terdiam, tak bergeming sama sekali.
" Mari mbak, kita shalat." ajak Hana, seraya menyentuh tangannya.
Bukannya ajakan Hana diterima justru, Hisya menepis kasar tangan Hana.
" Lepas ! ucapnya, seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju arah yang berlainan dari Masjid.
Hana pun bangkit dan menyusul langkahnya.
" Mbak !
Percayalah dengan shalat hati mbak akan sedikit lega ! imbuh Hana, masih mengejar Hisya.
Hisya tak memberi respon apapun pada Hana, ia tetap melangkah meninggalkan Hana.
Hana pun menambah kecepatan jalannya.
Untuk bisa menjajari langkah Hisya.
" Mbak !
Mau sampai kapan mbak membenci Tuhan ?
Mau sampai kapan mbak Melabelisasi Tuhan tidak adil, hanya karena takdir yang mbak jalani gak sesuai dengan keinginan mbak ?
Masih tak ada jawaban apapun dari Hisya.
Ia terus mempercepat langkahnya.
" Mbak !
Tuhan selalu meletakkan sesuatu hal dengan adil, mbak. Tuhan gak pernah salah menempatkan apapun, termasuk salah satunya takdir mbak." teriak Hana pada Hisya.
Teriakan itu berhasil menghentikan langkah Hisya. Ia menoleh ke belakang, melihat Hana.
Dengan sorot mata tajam yang penuh bendungan air mata, ia mendekati Hana.
"Adil? Kau berbicara seolah kau tau apa yang tengah kurasakan selama ini?" Hisya meraih kasar kedua bahu Hana, sentak membuat Hana terkejut.
"Kalau Dia memang adil, kenapa Dia memberikanku takdir sekejam ini ha?" bentaknya pada Hana, buliran hangat mulai keluar dari sudut matanya.
"Mbak!"
"Kau tau berapa kali para pria brengsek itu menjajal tubuhku?Apa kau pernah merasakan bagaimana menjadi pelampiasan n*fsu?" Hana terdiam menatap Hisya yang sudah berderai air mata.
"Adil? Kenapa Dia tidak menolongku, saat para pria BRENGSEK itu menodai tubuhku ha?Dimana Dia saat aku membutuhkan pertolongan-Nya ha?Dimana? Kenapa sekalipun Dia tidak pernah menolongku!" teriaknya histeris pada Hana.
Perlahan genggamannya pada Hana mulai merenggang, ia terduduk di jalanan. Menenggelamkan wajahnya di kedua lengannya yang tertumpuk di atas lututnya.Bahunya naik turun senada dengan isak tangisnya.
__ADS_1
Itu membuktikan betapa lelahnya dirinya.
Melewati segala kesesakan yang tertumpuk di dadanya, segala keperihan, segala rasa sakit yang tak hentinya mengiris hati dan juga raganya.
Hana jongkok di hadapannya, tanpa tersadar setetes air mata Hana, turut berduka atas luka yang Hisya rasakan.
Ingin sekali Hana menyentuh punggung Hisya dan mengusapnya lembut untuk memberikan ketenangan. Namun, niatnya ia urungkan.
Sebab khawatir, bukannya mala membuat Hisya tenang, mala membuat Hisya semakin kacau.
" Ya Allah, sesakit inikah takdir yang Engkau berikan padanya ? Apa Kau tidak terlalu kejam padanya ? batin Hana.
Hana benar-benar terpukul melihat kondisi Hisya. Ia tak pernah menyangka betapa banyak luka yang ia rasakan, betapa banyak kepedihan yang berkecamuk dihatinya.
Hana membiarkan Hisya menuntaskan air matanya, agar gadis itu merasa lebih tenang.
Melepaskan segala yang menghimpit dada.
Dan juga Mencampakkan segala bentuk nyeri yang menghinggapinya.
Meski, setelahnya semuanya masih tidak baik-baik saja. Akan tetapi, setidaknya menangis dapat melegakan dirinya sedikit.
Lima belas menit, Hana masih setia menunggu Hisya menangis. Membuatnya menunda waktu shalatnya. Bukan karena ia tidak ingin shalat berjamaah. Melainkan ia ingin melihat Hisya lebih sedikit tenang, dengan begitu ia tidak terlalu khawatir meninggalkan Hisya, dan segera pergi ke Masjid.
Hisya pun mendongakkan kepalanya, menoleh ke sebelah kanannya. Terlihatlah gadis berjilbab denim masih setia dengan senyumannya.
Hisya memelas bola matanya, yang masih bersisa air mata di sana.
" Pergilah !
Aku tidak butuh ditemenin." ketusnya pada Hana.
" Mbak.
Saya akan tetap bantu mbak untuk bisa keluar dari Trixtal Bar, gimanapun caranya." titahnya serius padanya.
Ia melemparkan tatapan tajam pada Hana, seolah tak suka jika Hana masih mencampuri urusannya.
" Apa telingamu sudah tidak berfungsi ?
Aku tidak butuh bantuan dan belas kasihan siapapun !
" Mbak tidak punya hak untuk melarang saya, menyelamatkan wanita yang sedang dalam bahaya." ucap Hana tak mau kalah.
Hisya semakin dibuat emosi oleh Hana.
Tatapan tajamnya masih menghunus pada paras cantik Hana.
" Gak usah sok jadi jagoan ! cetusnya.
Hana tak menggubrisnya, ia tetap kekeuh pada keinginannya untuk membawa Hisya keluar dari Trixtal Bar.
Hana meraih buku dan bolpoint di ranselnya.
Kemudian merobek selembar kertas dari bukunya. Dan menuliskan sebuah nomor ponsel di sana.
" Mbak bisa hubungi nomor saya.
Kalau terjadi sesuatu pada mbak." ujar Hana meletakkan selembar kertas berisikan nomor ponselnya, di atas pangkuan Hisya.
" Mbak percayalah !
Bahwa Allah itu maha adil, dan Allah pasti menolong mbak. Ya, Dia menolong mbak.
Salah satunya dengan membawa mbak bertemu dengan saya." ucap Hana tanpa ragu padanya.
" Berhentilah berbicara.
Jangan membuatku membencimu hanya karena kau terlalu naif ! ancamnya pada Hana.
Hana hanya mengembangkan senyumnya.
Mencoba berulang kali menyakinkan gadis yang berada di hadapannya ini.
" Mbak Hisya.
Jika mbak sabar, tabah dan ikhlas menjalani kehidupan mbak, insya Allah tiada yang sia-sia atas itu semua, mbak.
Surga Allah menanti orang-orang kuat dan hebat seperti, mbak."
Hisya menarik bibirnya sebelah, menatap smirk Hana. Bulshit!
"Bagaimana bisa seorang pel*cur sepertiku masuk surga? Jangan mendongeng kau!" bentak Hisya.
"Mbak lupa?
Perihal seorang pel*cur membantu seekor anjing yang kehausan?"
Hana mendekati Hisya, kemudian menggenggam tangan dinginnya.
"Mbak lupa?
Seorang pelacur bernama Al-Malikah, perempuan Bani Israil yang bertaubat kepada Allah kemudian ia melahirkan 7 nabi, dan pada akhirnya namanya tercantum sebagai penghuni surga?" Hana menatap Hisya yang melemparkan tatapan tajam padanya.
"Pekerjaan ini bukan atas kemauan mbak sendiri! Mbak terjebak dalam selaksa ini.
Mbak berhak keluar dari sudut ketidakadilan ini! Kembalilah mbak!" Hana tersenyum hangat pada Hisya, sebisa mungkin ia memberikan kehangatan pada Hisya.
"Kenapa dia memberiku takdir seperti ini?" buliran hangat ikut membersamai ucapan Hisya.
"Segala sesuatu yang telah Allah tetapkan pasti sudah bekerja dengan keputusan terbaik. Mbak diletakkan pada garis takdir ini karena ada sesuatu istimewa yang akan Allah berikan untuk mbak, surga-Nya, mbak!"
Hisya tersenyum tipis mendengar kalimat Hana.
"Mbak!
Kita masuk surga bukan hanya karena amal kita semata-mata. Akan tetapi, juga karena Allah. Dan saya yakin, mbak adalah hamba yang selalu Allah ridhoi." Hana melepaskan genggamannya, dan bangkit berdiri.
" Jangan putus asa ya, mbak.
Allah sayang mbak kok, saya pamit dulu.
Assalamu'alaikum." ucap Hana berpamitan dan melangkah meninggalkan Hisya.
Hisya menatap punggung Hana yang mulai menjauh darinya. Entah kenapa, ada sedikit ketenangan di hatinya setiap kali bertemu dengan Hana.
" Waalaikumussalam." jawabnya.
Ia pun meraih kertas pemberian Hana.
Dan memasukkannya ke dalam kantong kemejanya. Kemudian ia melangkah pergi dari tempat itu.
Ya, kemana lagi dia akan melangkah ?
Kalau tidak kembali ke Trixtal Bar.
Entah sampai kapan dia akan bebas dan keluar dari tempat itu.
Akankah sampai ada yang bisa membelinya dan melepaskannya dari labelisasi kupu-kupu malam atau sampai tamat riwayatnya hidupnya ? Entahlah.
Bersambung..
Sevimli 27 Agustus 2021
__ADS_1
Salam hangat dari Author 🌹