
" Bahkan penderitaanku tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan penderitaan saudaraku
di Negri Syam."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Hana hanya membawa tas selempangnya, sementara ranselnya sudah ia titipkan pada Haiko.
Kedua tangan Hana menggenggam Safety shoes yang diberikan Haiko tadi.
Sesampai dijalan semak belukar dan ribuan pecahan kaca ini, Hana menelan salivanya nyali sedikit menciut melihat jalanan yang bisa meregas habis kaki siapapun yang berjalan di atasnya.
" Ya Allah..
Jalanannya semenyeram kan ini." Hana mulai ragu untuk melangkah.
Ia terdiam menatap setiap rinci jalanan yang di penuhi semak belukar serta pecahan kaca itu.
Ia mengingat satu persatu wajah orang-orang yang teramat ia sayangi.
Ia seakan-akan tidak percaya akan selamat nantinya.
" Bismillah." Hana memakai safety shoes yang diberikan Haiko padanya.
Setelah mengenakannya Hana pun melangkah perlahan di atas serpihan kaca itu.
Ceracakk....
Crakcakkk.. Bunyi pecahan kaca yang Hana pijak.
" Apa sepatu ini bakal bertahan sampai aku kembali nanti ?? Ya Allah entahlah hamba gak tau gimana nasib hamba ke depan." Ucap Hana yang mulai gelisah.
Hana terus berjalan di atasnya, bahkan tak jarang semak-semak belukar itu membelit kakinya.
Srttt.... Tangan kiri Hana tergores oleh tajamnya semak belukar.
" Awww....ya Allah.." Hana merasakan perih pada tangan kirinya dan ya, keluar darah segar disana.
" Kenapa begini saja rasanya sakit sekali." Keluh Hana yang merasakan sakit pada tangannya.
Ia mengelap darah pada tangannya dengan jilbabnya.
Berharap hanya sedikit darah yang tercucur.
Sejenak Hana memberhentikan jalannya.
" Aku gak boleh nyerah !!
Aku harus dapatin bukti-bukti itu." Tekad Hana.
Hana mengembangkan senyumnya, meski air mata tengah terbendung di sudut matanya.
" Semangat Hana !! Jangan lemah gini.
Ini gak sakitloh Han." Hana terus menyemangati dirinya.
Ya, siapa lagi yang bisa menyemangati dirinya saat ini ? Kalau bukan dirinya.
Hana melanjutkan langkahnya, bahkan lebih cepat dari semula. Sembari kakinya melangkah, seiring itu pulalah ia membasahi lisannya dengan dzikir.
Lagi dan lagi, semak belukar itu mengenai anggota tubuh Hana. Entahlah sepertinya semak belukar itu sudah jatuh cinta pada Hana. Makanya ia mendekap padanya.
Hana lagi-lagi harus mengikhlaskan darahnya.
Tidak terlalu sakit sih, akan tetapi rasanya lebih ke arah perih.
" Han jangan ngeluh !! Masih banyak orang diluar sana yang merasakan sakit jauh lebih sakit dari ini." Ujar Hana pada dirinya.
Ia pun kembali melangkah." Bismillah." Ucapnya.
Sudah dua jam berlalu, stamina Hana semakin lama semakin melemah. Bahkan derap langkahnya kini mulai tertatih.
Tumpukan kaca yang Hana pijak selama dalam perjalanan mampu menguyak sedikit bagian pinggiran safety shoes yang ia kenakan.
" Ya Allah, sepatunya kuyak." Ucapnya melihat safety shoes itu.
Hana melihat di seluruh tubuhnya, ada begitu banyak goresan-goresan luka yang terukir disana.
" Rasanya tubuh ingin ambruk begitu saja.
Luka-luka ini begitu perih bahkan sangat perih." Ucap Hana dengan lirih.
Perlahan-lahan pandangan Hana mulai samar, teriknya matahari yang mengenai kepalanya. Membuat kepalanya merasakan pusing sebelah.
" Ya Allah kepala sakit sekali rasanya.
Seperti di hantam benda berat." Hana menyentuh kepalanya yang terasa berat.
Meski demikian, Hana tetap melangkah maju.
Sampai pada akhirnya, ia melihat dengan samar-samar ada tebing tinggi yang tidak jauh darinya.
" Tebing..
Ya, ini tebing yang Haiko bilang." Terbitlah senyum diwajahnya.
Harapan pun mulai kembali berseteru.
Langkahnya kembali bersemangat.
Dengan cepat ia berjalan menuju tebing itu..
Sttt...ya, kedatangan Hana sudah di sambut beberapa ular disana.
" Astaghfirullah." Hana beristighfar melihat ada tiga ekor ular berada di depannya.
Ketegangan mulai menyelimuti Hana.
Rasa takut juga ikut membersamai.
" Ya Allah bagaimana ini ? Bibir Hana bergetar hebat untuk mengucap.
Bahkan sekujur tubuhnya juga ikut bergetar ketakutan.
Entahlah.
" Seharusnya sebelum kesini aku harus belajar cara memawang ular, biar gak ada cerita takut seperti." Saking takutnya Hana masih bisa-bisanya mengatakan hal ini.
" Ya Allah Engkaulah sebaik-baiknya pelindung.
Semua kesakitan, keperihan bahkan kesulitan ini bisa hamba lewati tidak lain tidak bukan atas kehendak Mu.
Lindungi hamba yang lemah ini ya Allah." Pinta Hana dengan begitu teduh pada Rabbnya.
" Semua yang ada di bumi ini tunduk kepada Mu
ya Allah, maka tundukkan ular-ular ini sebagaimana Engkau menundukkan api yang berkobar terasa dingin saat menyentuh tubuh Nabi Daud ya Allah." Hanya Allah yang benar-benar mampu menolong siapapun.
Hana masih terdiam mematung, ia takut untuk bergerak. Karena itu bisa saja mengundang keterkejutan pada ular-ular itu.
Semenit kemudian, atas izin Allah ular-ular itu pergi meninggalkan Hana.
Syukur beribu syukur terucap dari lisan Hana.
" Alhamdulillah ya Allah...
Sungguh besar kekuasaanMu." Hana merasa sedikit lega sekarang.
Saat inilah waktu ia harus memanjat tebing tinggi ini, untuk sampai ke Trixie House.
Hana memandang tebing yang cukup menjulang tinggi ini.
Bagaimana cara ia akan sampai di Trixie House itu ?
Bagaimana caranya mendaki tebing tinggi ini ?
Bahkan tebing tinggi ini di penuhi dengan bebatuan runcing.
" Ya Allah !! Apalagi ini." Keluh Hana melihat tebing tinggi ini.
Keluh kesah pun terucap dari mulut Hana.
Ia tak mengerti bagaimana cara mendaki tebing ini ?
Hana melihat ke sekeliling tebing tinggi itu, ia melangkah ke sebelah kanan tebing itu dan ya, ternyata ada sebuah tali yang tergantung disana.
Tali itu ternyata menjadi sarana untuk menaiki tebing tinggi ini.
__ADS_1
" Tali." Ucap Hana meraih tali tersebut.
Pikirannya pun mulai berkerja dengan baik.
Ia memutuskan untuk melepas Safety shoes nya.
Ia akan mengenakannya kembali saat ia kembali melewati tumpukan kaca dan semak belukar.
Hana mulai memanjat tebing tinggi ini menggunakan seuntaian tali yang cukup kuat ini.
Dengan ucapan basmalah pastinya.
Perlahan-lahan demi perlahan Hana mulai menapakkan kakinya di tebing ini.
Sedikit sulit untuk Hana menanjakinya sebab, Hana menggunakan gamis.
Namun, Hana tetap berusaha untuk bisa sampai di titik puncak tebing ini.
Dari layar monitor sosok Haiko tengah mengamati Hana. Senyum sumringah terukir diwajahnya.
Ya, menuju Trixie House.
Haiko memang memasang CCTV disana.
Berfungsi untuk memantau sesiapa saja yang berniat mengambil data-data bukti dari sana.
Haiko mengakui bahwa Hana memang benar-benar gadis yang kuat bisa melewati tumpukan kaca dan semak belukar yang mematikan itu.
Bahkan Hana masih bisa bertahan dengan luka-luka di tubuhnya.
" Kau memang gadis yang kuat..
Aku takjub kepadamu.." Ucap Haiko.
Haiko baru menyadari bahwa dirinya belum mengetahui siapa nama Hana.
Ia pun menepuk jidatnya.
Pukk..
" Bodoh kau Haiko !! Kau belum menanyakan nama gadis itu." Haiko menggurutui kebodohannya.
" Ah sudahlah, akan kutanyakan nanti.
Kalau dia sudah kembali kesini." Haikopun meninggalkan ruangan CCTV.
.
.
Salah satu bebatuan runcing itu mengenai tangan Hana saat ia mendakinya.
Kraak.
.
" Aghhh..." Teriak Hana saat batu runcing itu melukai lengannya.
Tangan kanan Hana yang menggenggam batu sebagai penopang tubuhnya untuk naik, akhirnya genggaman itu terlepas jua.
" Rahmannnnn....." Teriak Hana ketika dirinya kembali terjatuh ke tanah.
Bukhh.... Badan Hana terbentur ke tanah.
Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya sudah tak berdaya lagi. Tenaga Hana sudah terkuras habis.
Luka yang bertambah di lengannya juga tak berhenti mengeluarkan darah.
" Ya Allah Engkau satu-satunya pelindung hamba." Hanya kata itu yang terucap dari mulutnya.
Mata Hana perlahan-lahan mulai tertutup.
Bahkan pandangannya juga mulai samar-samar.
Hamparan langit yang begitu terik, membuat mata Hana semakin sulit untuk melihat.
Kata menyerah pun mulai menghampirinya.
" Aaa--kuuu sudah tii--idak berdaya untuk berjuang." Ucapnya sedikit terbata.
Bayangan-bayangan senyum kedua orang tuanya terlintas menyapanya.
" Hana pasti menang." Ucapan Tameer terniang di benaknya.
" Jangan pernah takut berdiri di terminal kebenaran nak." Nasihat ibunya juga ikut terniang di kepalanya.
Senyuman-senyuman orang-orang terkasih Hana juga terus berotasi dikepalanya.
Anugrah sang pejuang Islam, Ranti sepupu bar-barnya.
" Doain aku ya Han secepatnya mengucap dua kalimat syahadat." Ucapan pemuda protestan itu terlintas di ingatan Hana.
" Terima kasih telah mengajarkan kepadaku untuk menjadi wanita muslimah yang tangguh." Kali ini ucapan Ranti yang terniang di kepalanya.
Hana tersenyum, mengingat kejadian-kejadian yang pernah ada dalam hidupnya.
Ia juga tak pernah menyangka bahwa ternyata begini arus takdir membawa hidupnya.
Rumit...
Bahkan sangat berbelit-belit.
Bukan hanya sekali dua kali Hana terluka oleh nestapa.
Bukannya hanya terluka secara fisik namun juga secara batin, Hana juga terluka.
Gadis yang kerap disapa Hana ini, mulai merenungkan kembali setiap perjalanan hidup yang ia lewati.
Rasa syukur mulai menyelimuti.
Begitu banyak goresan-goresan takdir yang tertuang didalam hidupnya, meski berat dan menyakitkan.
Tapi jauh dari itu semua, dengan semua itu.
Hana kini tumbuh menjadi gadis yang kuat seperti baja.
Sudut bibirnya terangkat menyempurnakan senyumannya, ketika sosok Argasyah terlintas dalam benaknya.
" Aku harap suatu saat nanti aku akan menjadi sosok Abu Darda untukmu, jikalaupun tidak aku akan berusaha untuk sebisa mungkin setegar dan sekuat Salman Alfarisi." Ucapan Arga ini terlintas dalam benaknya.
Hana tersenyum simpul." Kamu adalah pejuang kebenaran Ga. Senantiasa waktu akan membuktikan bahwa kelak jika Allah mengizinkan aku ingin kamu menjadi Abu Dardaku." Ucap Hana membatin.
Buliran-buliran hangat mulai membasahi pipinya.
Bahkan meskipun sedikit terpejam, air mata Hana begitu mengalir sangat deras.
Jujur saja, belakangan ini Hana memang sudah mulai berhasil menghilangkan perasaannya terhadap Anugrah.
Dan mulai sepenuhnya menaruh rasa pada Arga.
Hati Hana semakin terjatuh pada kepribadian Arga yang sangat bijaksana, Arga rela berjuang mati-matian hanya untuk menegakkan kebenaran.
Bagi Hana, Arga juga sosok pria spesies langka.
Ya, mood Arga yang suka berotasi dalam waktu sekejap itulah yang membuatnya berbeda dengan yang lain.
Terkadang galak, dingin, super cuek eh semenit kemudian humoris dan juga perhatian.
Dan point pentingnya lagi Arga juga merupakan pria Sholeh yang memiliki sejuta pesona Iman.
Dada Hana mulai terasa sesak.
Jari jemarinya mulai bergerak satu persatu.
" Jangan sampai terluka, aku tak ingin melihat luka sedikitpun di tubuhmu." Kata Arga sebelum Hana berangkat.
Senyuman terkahir yang Arga perlihatkan, terbayang dalam pikiran Hana.
Membuat mata Hana seketika terbuka lebar.
" Arga." Ucapnya.
Hana mencoba berusaha bangkit dari keterpurukannya. Mengumpulkan kembali kekuatan dan dayanya.
" Aku harus kuat !!
Aku gak boleh lemah !!
__ADS_1
Aku harus mengambil data bukti itu, aku harus membuktikan Arga tidak bersalah !!
Aku harus mengungkapkan semua kejahatan paman Vachry !!
Dengan susah payah, akhirnya Hana bangkit dan mulai berusaha berdiri.
" Allahuakbar !! Takbirnya.
Hana pun berdiri." Perjuanganku belum seberapa dengan perjuangan saudaraku di negri Syam.
Bahkan penderitaan mereka jauh lebih menyakitkan dari ini." Hana mengingat betapa kejamnya dunia pada penduduk negeri Syam.
Hana pun melangkah meski tertatih, ia kembali meraih tali tersebut.
" Bismillahi tawakkaltu Alallah." Ucap Hana dan mulai menapaki tebing tinggi tersebut.
Karena tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan Allah SWT.
Setapak demi setapak Hana mulai menapakinya.
Kali ini ia lebih berhati-hati, agar kejadian awal tidak kembali terulang.
Keringat yang tak henti tercucur...
Air mata yang kian keluar..
Tak kan menghentikan langkahnya menapaki tebing tinggi ini.
" Sedikit lagi Han." Ujarnya menyemangati dirinya.
Hana mendongakkan kepalanya keatas, benar saja puncak tebing tinggi ini mulai terlihat di depan matanya.
Senyum Hana mulai mengembang, ia semakin bersemangat untuk menyelesaikan pertarungan ini.
Seraya kaki menaik, sekuat itu pulalah tangan Hana menarik tali tersebut.
Tinggal satu tapak lagi, Hana akan berhasil sampai
di Trixie House.
" Satu langkah lagi Han." Dengan sekuat tenaga Hana merah puncak tebing tinggi ini.
Hiyakkkk... Teriak Hana yang berhasil sampai di Trixie House.
" Allahuakbar, aku berhasil Arga." Tangis Hana pecah di tengah hutan belantara.
Hikss...Hikss...
Hana menunduk di lantai tebing tinggi ini.
Berulang-ulang kali ia memuji asma Allah.
" HasbunAllah Wa ni' mal wakil."
" Subhanallah...
Subhanallah...
Hana tak pernah mengira bahwa dirinya telah sampai di tempat tujuan.
" Trixie House." Tertempel di Pintu sebuah bangunan yang terbuat dari papan pernis ini.
Hana melangkah menujunya.
Kaki Hana kini berjalan tidak seperti biasanya.
Sedikit memincang, diakibatkan bebatuan runcing yang mengenai kakinya saat mendaki tadi.
" Selamat datang di Trixie House..
Hanya orang hebat yang mampu berhasil menginjak kakinya disini." Tulisan ini berada tempat pada dinding rumah bagian depannya.
" Allah yang hebat, telah mengizinkanku untuk menjadi hamba-Nya yang kuat." Kata Hana dengan senyumannya.
Kunci Trixie House itu sudah tersedia di atas meja balok yang berada di teras Trixie House ini.
Hana menoleh ke arah kunci itu dan meraihnya.
" Mungkin ini kuncinya."
Seusai mengambilnya, Hana pun mencoba menggunakannya untuk membuka pintunya.
Ceklek.. Pintu Trixie House ini pun terbuka.
Tampaklah ruangan dengan yang tidak terlalu luas, dengan meja belajar yang berada di sisi kanannya.
Di sisi sebelah kiri terdapat pulalah perpustakaan mini kepunyaan keluarga Rakses.
Ada dua bangku yang tersedia di dalamnya.
Mungkin bangku ini diperkenankan untuk di pakai oleh pengunjung tempat ini.
Ruangan ini dapat dikatakan cukup gelap.
Hanya ada cahaya remang yang menjadi penerang disini.
Di dinding-dinding langit ruangan ini terdapat pula beberapa poto Haiko bersama ayahnya.
Wajah Haiko begitu mirip dengan Rakses.
Bak pinang di belah dua, sama-sama tampan dan menawan.
" Wajah Haiko ternyata sangat mirip dengan tuan Rakses." Hana tersenyum melihat poto anak dan ayah itu.
Selanjutnya pandangan Hana tertuju pada gambar-gambar Rakses dengan teman-temannya.
Salah satunya poto Rakses dengan Vachry.
Akan tetapi ada yang sedikit berbeda dengan potonya tampak lebih timbul dimensinya dari yang lain.
Namun, Hana tak terlalu memikirkannya.
Ia hanya memikirkan di mana Rakses meletakkan data-data bukti itu.
Hana mencari di rak buku perpustakaan mini itu.
Satu persatu Hana periksai, dengan teliti pastinya.
Namun sayang, tidak ketemu juga.
Entahlah, Hana bingung.
Bahkan Hana sudah sampai di Trixie House, ia belum kunjung menemukan data-data tersebut.
" Tuan Rakses benar-benar sangat menyembunyikannya dengan sangat baik ternyata." Puji Hana.
Hana beralih pada meja belajar tersebut, memeriksa lacinya. Ya, lagi dan lagi ternyata hasilnya nihil.
" Astaghfirullah, sungguh menguji kesabaran dan ketelitian." Hana belum menyerah mencarinya.
Tetiba saja satu hal yang terlintas dalam benaknya.
Poto Rakses dengan Vachry yang memiliki kejanggalan tadi.
Hana pun mengambil kursi dan menaikinya.
Untuk meraih poto tersebut.
Saat Hana mengambil poto tersebut, tampak sebuah tombol yang sedari tadi tertutupi oleh poto ini.
" Tombol apa ini ? Tanda tanya mulai tercokol di kepalanya.
Dengan penuh penasaran, akhirnya Hana menekan tombol tersebut.
Dan ya, tiba-tiba saja, lantai tempat Hana berdiri ambruk langsung kebawah..
Brukkhhh.....
" Aaaaaaaaaahhhhh... " Teriak Hana.
Bersambung...
Sevimli 15 April 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa untuk meletakkan like dan Votenya :)
__ADS_1