Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 92 Pilihan gila !


__ADS_3

" Aku manusia beruntung, yang bisa merasakan bagaimana hidup diombang-ambingkan, bagaimana hidup terjungkal, terpental sampai rasa sakitnya tak terjamah oleh kata. Lekas dari semua itu terbitlah mental baja dalam diriku."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Haiko yang melihat dari CCTV bahwa Hana terjatuh tidak sadarkan diri, bergegas menjemputnya.


Ia berlari tak memperdulikan jalannya.


Yang ada dalam benaknya hanyalah Hana saat ini.


" Gadis itu pasti kelelahan." Ujarnya dengan senyumnya.


Haiko menelusuri jalanan hutan itu, melihat dengan detail keberadaan sosok gadis yang ia cari.


Berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya, iapun melihat Hana sudah tergeletak di tanah.


" Ah disini ternyata."


Haiko melihat berkas-berkas bukti pembunuhan itu berada digenggaman Hana.


" Dia berhasil.


Kamu memang wanita hebat, aku kagum padamu."


Tanpa persetujuan Hana, Haikopun mengangkat tubuh Hana dan membawanya.


Hm, kalau saja Hana sadarkan diri.


Maka, dia pasti mengamuk habis-habisan ketika mengetahui bahwa laki-laki yang bukan mahramnya mengangkat tubuhnya.


" Astaga !!


Kalau dilihat-lihat gadis ini memang benar-benar cantik." Gumam Haiko yang memperhatikan wajah Hana.


Deg.. Jantung Haiko berdetak kencang.


" Astaga Haiko !!


Sadar-sadar jangan sampai gadis ini membuatmu berketuk lutut." Haikopun memalingkan pandangannya dari wajah Hana.


Sesampai di rumahnya.


Ia pun membawa Hana ke kamar tamu.


" Bi Asih !! Haiko memanggil art yang berkerja di rumahnya.


Bi Asih pun datang memenuhi panggilan Haiko.


Ya, tentu saja ia terkejut ketika melihat sosok majikan yang tak pernah sama sekali dekat dengan wanita manapun. Kini majikannya itu membawa wanita masuk ke kamar tamu bahkan.


" Astaghfirullah, aden ini siapa den ? Tanyanya.


Haiko meletakkan Hana di atas spring bed.


" Dia bukan siapa-siapa Haiko bi, dia hanya wanita kuat yang sedang berjuang mencari bukti-bukti di Trixie House." Jawab Haiko dengan senyuman.


" Trixie House den ? Bi Asih melototkan matanya.


" Iya bi.


Dia manusia pertama yang bisa selamat sampai disana dan keluar dari sana.


Hebatkan bi ? Ujar Haiko, mengagumi Hana.


Bi Asih mengangguk." Masya Allah, aden serius gadis cantik ini dari Trixie House ? Bi Asih seakan-akan tak percaya mendengarkan perjuangan Hana.


" Iya bi.


Lihatlah dia terluka hebat bi.


Di setiap tubuhnya ada banyak goresan-goresan semak belukar dan dikakinya juga terluka tumpukan kaca."


Bi Asih menyentuh pucuk kepala Hana.


" Benar-benar gadis hebat den.


Cocok kalau bersanding dengan aden." Goda bi Asih pada Haiko.


Ya, bi Asih memang sangat menginginkan Haiko mendapatkan seorang istri yang baik dan sesuai dengan dirinya.


Haiko pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedikit gugup mendengar perkataan bi Asih.


" Haiko hubungi dokter dulu ya bi.


Biar periksa keadaannya." Mengalihkan perbincangan.


Haikopun menghubungkan dokter yang khusus menangani keluarganya.


" Bi sembari nunggu dokter datang.


Haiko minta tolong ya bi, bersihin luka-lukanya." Pinta Haiko pada bi Asih.


Bi Asih mengangguk." Tenang den, bi Asih bakalan bersih kok. Bi Asih ikut sedih melihat gadis cantik pemberani ini terluka den." Simpati bi Asih.


.


.


.


Tak lama kemudian, dokter pun datang.


Memeriksa kondisi Hana.


Luka-luka di tubuh Hana tidak boleh dianggap remeh.


Sebab, jumlah lukanya yang cukup banyak membuatnya harus mengalirkan darah sia-sia.


Dokterpun memberikan resep obat sekaligus salep untuk mengobati luka Hana.


" Ini obat dan salepnya sudah saya resepkan.


Tolong di beli di Apotek ya nak Haiko.


Untuk obatnya berikan satu hari sekali.Dan salepnya dioleskan pada bagian lukanya dua kali dalam sehari." Perjelas dokter.


" Ah iya dok.


Makasih ya dokter."


" Ah, iya nak Haiko.


Maaf sebelumnya, kalau saya lancang.


Boleh tanya ini siapanya nak Haiko ? Dari pada penasaran terus, akhirnya dokter ini menanyakan hal ini.


Haiko menatap tajam kearah dokter, membuat dokter ini memahami bahwa tak seharusnya ia menanyakan itu. " Ah iyaiya maaf nak Hai."


" Dia teman saya." Potong Haiko.


Dokter pun mengangguk.


" Ya sudah, kalau gitu saya permisi dulu nak Haiko.


Assalamu'alaikum." Tutupnya.


" Waalaikumussalam." Jawab Haiko datar.


Pandangan Haiko beralih pada sosok gadis yang terbaring lemah, bahkan tak sadarkan diri di Spring bed ruang tamunya.


Sejauh ini Haiko tak pernah melihat wajah perempuan sedekat ini. Bahkan memikirkan perempuan saja tak pernah terlintas di benaknya.


Ia tersenyum manis, melihat wajah teduh Hana.


Debaran hebatpun mulai menyelimuti Haiko, ia duduk di bawah lantai tepat di sebelah Hana.


Ia mengambil ponselnya, dan memotret wajah Hana.


Meski dalam kondisi tak sadarkan diri dan tanpa ekspresi, wajah Hana tetap kelihatan cantik.


" Cantik." Gumamnya.


Drtt... Ponsel Hana tiba-tiba bergetar.


Mengundang perhatian Haiko, ia pun melihat tas selempang Hana yang sedikit bercahaya.


Ia memahami bahwa ponsel Hana pasti berada di tas itu.


Haiko pun meraih tasnya, dan mengambil ponsel Hana.


Terterah nama Izaz yang sedang menghubunginya.


" Bang Izaz."


" Apa ini abangnya ? Haiko mulai menebak-nebak.


Haiko memutuskan untuk tidak mengangkatnya.


Dan meletakkan kembali ponsel Hana.


.


.


" Kok gak diangkat sih Han."

__ADS_1


Izaz terus menghubungi nomor Hana.


Namun, lagi-lagi tak ada penerimaan.


Sittt... Izaz berdengus kesal.


" Kamu kenapa Han ? Angkat dong !!


...🍂🍂🍂...


Menjelang magrib, Hana masih terbaring lemah.


Bahkan belum kunjung sadarkan diri.


Membuat Haiko semakin khawatir.


Pria tampan menawan itu, sedari tadi mundar-mandir menantikan Hana sadarkan diri.


" Kenapa kau belum sadar juga ?


Apa kau ingin membuatku mati karena mengkhawatirkan dirimu." Upat Haiko.


Perlahan-lahan mata Hana terbuka.


Pandangannya terjatuh pada langit-langit kamar tamu Haiko.


" Aku ada dimana ? Tanda tanya dalam benaknya.


Haiko yang melihat mata Hana terbuka, mendekati Hana.


" Kau sudah sadarkan diri ? Haiko tersenyum pada Hana.


Hana menoleh ke Haiko, dan terkejut.


Berani-beraninya pria ini mendekatinya, pikir Hana.


" Haiko !!


Jangan dekat-dekat, jauh sana." Pekik Hana pada Haiko.


Haiko tersenyum, meski baru sadarkan diri.


Hana tetap saja menjaga dirinya.


" Iyaiya." Ketusnya, agar ia terlihat berwibawa di hadapan Hana.


Hana hendak bangkit dari tempat tidur.


" Arghhh.." Namun sayang, ia masih belum bisa bangkit sepenuhnya.


" Kamu kenapa ? Refleks Haiko mau memegang Hana.


" Jangan deket-deket aku bilang !! Protes Hana pada Haiko yang hendak mendekatinya.


Haiko pun membuang asal pandangannya.


Dan menyebikkan bibirnya." Mau di bantu juga sok jual mahal !! Cibirnya.


Hana mendengar apa yang Haiko katakan, akan tetapi Hana tak ingin menyelanya, bisa-bisa nanti urusannya semakin panjang.


" Ah iya berkas-berkasnya mana ya, Ko ? Tanya Hana.


" Udah aku bakar." Jawab Haiko.


Mata Hana melotot sempurna." Bakar ?


Haiko mengangguk, tanpa sungkan.


Bukhh... Hana melayangkan bantal yang berada di samping dan berhasil mengenai kepala Haiko.


" Gila kamu ya !! Teriak Haiko, hendak membalas Hana.


Namun, Haiko sadarkan tidak mungkin melakukan hal itu, pada Hana yang kondisinya masih terluka.


" Kamu yang gila !!


Aku udah berjuang keras untuk itu, tapi kamu seenak jidat ngebakarnya." Cercah Hana.


" Kamu gak taukan ?


Seberapa berartinya benda itu ha ? Kamu gak taukan seberapa penting benda itu ?


Benda itu bakalan nyelematin banyak orang, Ko." Ucap Hana lirih dan menggenggam erat sprai Haiko.


Hikss... Hikss. Tangis Hana mulai terbit.


" Kenapa kamu bakar, Ko ?


Kenapa ?


" Terserahku lah.


Itu bukan urusanku !! Ketusnya.


Hana semakin geram dengan pria dihadapannya ini.


Tangannya pun mengepal dan langsung saja Hana melayangkannya pada Haiko.


Bukhhh.. Membuat Haiko tersentak.


" Manusia gak punya hati !! Teriak Hana.


Haiko menyentuh sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan Hana." KAU !! Teriaknya.


Tak ada sedikitpun rasa takut di hati Hana.


Ia mala justru menatap Haiko tajam.


" Menikah denganku !!


Maka berkas-berkas bukti itu akan kau dapatkan !! Cetus Haiko secara tiba-tiba.


Ha ? Menikah.


Hana terkejut mendengar permintaan gila Haiko.


" Menikah ? Hana menggeleng tidak mau.


Gak ! AKU GAK MAU MENIKAH SAMA KAMU !! Tekannya pada Haiko.


Haiko pun tersenyum devil." Baiklah tidak akan ada bukti yang akan kau dapatkan ! Dan aku juga tidak akan ikut pergi ke persidangan sebagai saksi nantinya." Haiko mengulum senyumnya.


" Kau memang sudah sinting !! Cibir Hana.


" Bagaimana bisa kau ingin menikah denganku ? Bahkan pertemuan kita belum genap satu hari. Kau belum mengenalku dan begitu juga sebaliknya. Aku juga belum mengenalmu." Ungkap Hana pada Haiko.


Haiko tak memperdulikan Hana, ia hanya merespon Hana dengan wajah datarnya, bahkan ia beranjak pergi meninggalkan Hana.


" Haiko gila !! Dasar psychopat !! Teriak Hana dan meleparkan bantal tepat ke pintu kamar.


Hana menggenggam erat dadanya, terasa gemuruh sesak disana.


Ia tak tau kenapa Haiko bisa mengatakan permintaan bodoh itu.


" Sekarang apa yang harus kulakukan ? Hana terus berpikir.


Ia menyangka setelah mendapatkan bukti itu semuanya akan baik-baik saja.


Akan tetapi, sekarang justru situasinya mala semakin sulit.


" Kalau aja tadi aku gak pakai pingsan..


Aku udah bisa kabur dari tempat ini." Upat Hana menyalahkan dirinya sendiri.


" Ya Allah, cobaan apalagi ini ? Hana mulai frustasi dengan keadaan ini.


.


.


Malam harinya,tak selangkahpun Hana keluar dari kamar. Kecuali, untuk sholat barulah ia keluar untuk mencari mukena.


Ia lebih memilih berdiam diri di kamar dan memandang jendela kamar, berharap bisa keluar dari sana.


" Apa yang kau pikirkan ? Suara Haiko membuat pandangan Hana beralih padanya.


" Bukan urusanmu !! Sergah Hana yang sangat kesal pada Haiko.


Haiko meletakkan makanan yang ia bawak di nakas.


" Makanlah !! Aku tak ingin kau mati disini.


Itu hanya akan mengotori martabat rumahku."


Ha ? Mengotori martabat rumahnya.


Menjijikkan sekali.


Hana tak menggubris perkataan Haiko, ia hanya mengangkat sebelah bibirnya, memperlihatkan ekspresi kekesalannya.


" Waktumu hanya sampai besok untuk memutuskan pilihan. Menikah denganku dan mendapatkan berkas buktinya atau tidak menikah denganku tidak mendapatkan berkas buktinya dan kau akan dicampakkan sebagai santapan singaku." Haiko kelihatan serius mengatakan ini.


Hana menelan salivanya, tertegun dengan pilihan yang diberikan Haiko.


" Ko !! Usiaku belum genap delapan belas tahun.

__ADS_1


Aku belum berniat untuk menikah dengan siapapun." Kata Hana berharap Haiko menarik kembali pilihan yang ia berikan pada Hana.


Haiko menatap mata Hana yang mulai berbinar-binar.


Ia tau bahwa gadis itu sedang menahan air matanya untuk tidak terjatuh.


" Cepatlah makan !! Kemudian tidurlah.


Tubuhmu butuh istirahat." Titah Haiko padanya, kemudian ia keluar dari kamar tamu.


Air mata Hana tertumpah ruah hanya dalam satu kedipan. Ia tak tau harus bagaimana lagi membujuk Haiko agar merubah keputusan gilanya itu.


" Dasar Haiko stres !! Upat Hana.


" Pria psychopat !!


Hana terus menerus berpikir, bagaimana caranya untuk melarikan diri dari pria sinting bernama Haiko itu. Bahkan dia jauh lebih gila dari ayahnya sang pembunuh.


.


.


.


Di Terengganu.


Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 Am.


Ranti dan Rayhan masih belum sepenuhnya selesai dengan tugas mereka.


Mereka sudah berusaha keras untuk menyakinkan warga, bahwa Nazhanul bukanlah dalang dibalik semua kesalah pahaman ini.


Dan mereka juga membujuk warga untuk bisa membela Arga di persidangan kedua Arga.


" Kalian percayakan pada Arga ? Tanya Rayhan pada mereka.


Semuanya mengangguk." Tentu saja kami percaya pada nak Arga, dia yang selalu menolong kami, membantu kami dan menjadi pelindung untuk kami."


" Bagaimana mungkin manusia sebaik nak Arga bisa melakukan hal sekeji itu. Kami tidak yakin akan hal itu.


Kami akan ikut menjadi saksi di persidangan nanti." Imbuh salah satu dari mereka.


" Benar itu."


" Iya kita akan pergi." Sorak mereka semua.


Ranti dan Rayhan tersenyum, dengan deretan kebahagiaan yang berpadu haru.


Melihat antusias warga yang begitu kuat keyakinannya bahwa Arga tidak bersalah.


Lantas, kenapa Nazhanul yang ada hubungan darah dengan Arga.


Dengan mudahnya, memvonis Arga seperti itu ?


Entahlah..


Seusai semuanya kelar.


Rayhan mengajak Ranti untuk balik ke Rumah.


Sebab, tidak mungkin rasanya merek melanjutkan perjalanan selarut ini.


Bisa-bisa timbul fitnah nantinya.


" Kita balik yuk Ran !! Ajak Rayhan.


" Ke rumah adek yang namanya Afnan, kapan ? Tanya Ranti.


" Besok kita lanjutkan ya Ran, udah malam.


Gak baik buat kesehatan, dan juga takutnya timbul fitnah nantinya diantara kita berdua." Ujar Rayhan.


Meski bobrok, otak Rayhan masih mampu membedakan antara mana yang haq dan juga bathil.


Ranti mengangguk mengikuti kemauan Rayhan.


Karena memang itulah yang terbaik.


Mereka berduapun pulang kembali, di antarakan oleh supir yang sejak tadi menemani mereka.


Supir ini bukanlah, supir Istana.


Melainkan supir yang dibayar oleh Rayhan, yang memang bertugas untuk mengantarkan mereka selama perjalanan.


.


.


.


Sudah semakin larut malam.


Gadis berjilbab coklat dove itu belum juga memicingkan matanya.


Kepala masih digeluti dengan dua pilihan yang di sodorkan Haiko.


Dua pilihan yang tak memihak sedikitpun padanya.


Kalau dia menerima pilihan pertama itu artinya dia akan mengorbankan dirinya.


Sedangkan pilihan kedua, dia akan mengorbankan beberapa nyawa dan juga kebenaran.


Hana memeluk erat lututnya.


Ia letakkan dagunya diatas kedua lututnya.


Merasa bahwa jalan hidupnya begitu aneh.


Kalau saja diceritakan jalan hidupnya, mungkin orang lain juga akan merasakan bahwa kehidupannya terlihat seperti tidak nyata.


Namun ternyata, inilah kisah yang dia miliki.


Seorang gadis sederhana berjuang di negri orang.


Dan mengorbankan hidupnya, hanya untuk menyelamatkan banyak orang.


Ceklek... Haiko membuka pintu kamar Hana.


Hana enggan menoleh, ia tau bahwa pria gila itu sedang memasuki kamar yang ia tempati.


" Tidurlah !! Jangan tinggikan egomu.


Badanmu tak selamanya dapat memenuhi keras kepalamu itu." Cibir Haiko pada Hana.


Isss... Hana berdengus kesal.


" Saya minta tolong sama kamu jangan sesuka hati memasuki kamar ini !!


" Ini kamar..


" Iya, saya tau ini kamar kamu !! Potong Hana.


" Tapi saya mohon sekali, selagi saya menempati kamar ini.


Bersikaplah dengan sopan terhadap saya !!


Hargai saya sebagai seorang wanita.


Kamu pasti tau bagaimana batasan-batasan antara wanita dan lelaki yang bukan mahrom.


Jadi saya gak perlu lagi mempresentasikan nya dihadapan kamu." Tegas Hana pada Haiko, yang ingin Haiko menghargai privasinya.


Haikopun terdiam memandangi wajah Hana yang tidak menoleh padanya.


Dan dengan lapang dada, Haikopun mengangguk.


" Oke." Ucapnya meninggalkan Hana.


.


.


.


" Aku salah satu manusia beruntung.


Yang bisa merasakan bagaimana hidup diombang-ambingkan, bagaimana hidup terjungkal, terpental sampai rasa sakitnya tak terjamah oleh kata.


Lekas dari itu semua terbitlah mental baja dalam diriku." Ucap Hana dengan senyumannya.


" HasbunAllah Wa ni'mal wakil."


Bergerut dengan pikiran yang kacau balau, serta badan yang terluka membuat Hana perlahan-lahan tertidur jua.


Ia berharap besok hari semua masalahnya sudah pulih dan tak lagi membebani pikirannya.


Bersambung...


Sevimli 24 April 2021


Salam hangat dari Author 🌹


Jangan lupa untuk like and Votenya


Semangat puasanya :)

__ADS_1


__ADS_2