Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 52 Kepulangan Anugrah


__ADS_3

" Yakinin aja ke hati kamu, kalau emang perasaan itu sungguh maka ia akan membuat kamu tangguh.


Kalau emang perasaan itu membuat kamu terus berjuang maka yakin deh kamu takkan terbuang."


......" Pelangi Hanani 🌹"......


Terik matahari yang belum tenggelam itu, memperindah suasana di SMA I Mata Uli.


Di tepi danau, ada sosok pemuda yang menatap lekat teratai yang sedang berfase mekar itu.


Sudut bibirnya tertarik membentuk ulasan senyuman. Ia teringat pada sosok gadis yang hampir saja terjatuh ke danau, sebab menginginkan sepucuk teratai itu.


Ia masih ingat betul, bagaimana dirinya menarik tangan gadis itu. Kemudian gadis itu memarahinya dengan kejam.


Bukan tanpa alasan, melainkan gadis itu sangat menjaga mur'ahnya sebagai Muslimah.


Jangankan bersentuhan, bahkan gadis itu tak sudi bila berdekatan dengan lelaki yang tak termasuk Keluarganya.


" Hanani Syaufa, gadis yang membuat hatiku jatuh sampai sedalam ini." Ucap pemuda yang kerap di sapa Anugrah itu.


Darr..


Tiba-tiba Sanju datang mengagetkan Anugrah.


" Sanju, kamu bikin kaget aja." Anugrah melirik Sanju.


" Ha-ha-ha." Sanju Tertawa.


"Sorry deh, habis kamu sih ngelamun aja.


Anugrah tersenyum kecut.


" Ya, gak apa-apalah sesekali juga." ucapnya.


Sanju paham betul bahwa Anugrah, mengingat scane saat Anugrah dan Hana berada di danau teratai ini.


" Hm, Rindu Hana ya ? tanya Sanju.


Anugrah mengangguk iya." Aku kayaknya emang gak bisa lupain Hana deh San."


Perkataan yang terlontar singkat itu, seakan seperti belatih untuk Sanju.


Ya, sudah hampir setahun Sanju berada di sekolah yang sama dengan Anugrah. Bahkan mereka sering menghabiskan waktu bersama.


Namun, Sanju belum mampu menggeser posisi Hana di hati Anugrah.


Ia tak tau harus berkata apalagi seusai mendengar perkataan yang menyakitkan itu.


Sanju menghela nafasnya, berusaha tersenyum menutupi rasa sakitnya.


" Kalau emang gak bisa lupain, gak usah di lupain Anugrah, namanya juga rasa kita gak tau gimana progresnya eh tiba-tiba aja udah tiba."


" Yakinin aja ke hatimu, kalau emang perasaan itu sungguh maka ia akan membuat kamu tangguh.


Kalau emang perasaan itu membuat kamu tetap berjuang maka pasti kamu takkan terbuang." ujar Sanju dengan senyuman serta mata berkaca-kaca.


Anugrah menatap Sanju tersenyum.


" Hey, bagaimana bisa sahabatku sebijak ini."


Sanju tersenyum dengan deretan giginya yang rapi." Iya dong Sanjukan emang bijak."


" Aku bukan sedang berkata bijak untukmu Grah, aku hanya sedang memposisikan hatiku di tempat yang tepat."


" Iya deh iya, ke Kantin yuk." ajak Anugrah beranjak dari danau.


Sanju mengangguk iya, mengikuti langkah Anugrah.


You are my baby..


Tiba-tiba dering handphone Anugrah berbunyi.


" Bentar San." Anugrah merogoh kantungnya meraih handphonenya.


Terteralah " Ayah William."


" San, aku angkat bentar ya, ayah aku ni." ucap Anugrah.


" Ohiya Grah."


Anugrah mundur dua langkah menjauh dari Sanju.


^^^" Iya yah ada apa ? tanya Anugrah via telepon.^^^


" Ayah minta kamu pulang hari ini juga !! perintah William dengan nada yang terdengar emosi.


Anugrah kaget sekaligus bingung, untuk apa dirinya disuruh pulang. Waktu libur semester juga masih ada sekitar sebulan lagi.


Apa terjadi sesuatu pada Ayahnya atau kakaknya, atau juga mamanya, entahlah Anugrah terus bergulat dengan pikirannya.


" Ayahkan tau kalau libur semester aku masih ada sekitar sebulan lagi, apa dia sakit ya ?


Atau kakak sedang ada masalah ?


Atau jangan-jangan mama lagi yang sakit." batin Anugrah.


" Kenapa ayah menyuruh Anugrah pulang ? Anugrahkan belum cuty Sekolah.


Apa ayah sakit ?


Atau kakak ? Atau terjadi sesuatu dengan mama ? Anugrah bertanya dengan nada khawatirnya.


" Jangan banyak tanya, sekarang juga kemasin barang-barang kamu dan segera pulang ke asrama !! *P*esan tiket kapal Pelni di Indomaret." ucap William.


Anugrah tak mengerti dengan sikap ayahnya.


" Tapi gimana sama sekolahku hari."


" Ayah sudah mempermisikan mu ke wali kelas mu." William memotong ucapan Anugrah.


Anugrah menghela nafas.


" Baik yah, Anugrah pulang ke Asrama sekarang." Anugrah pasrah dengan perintah William.


" Bagus, segera berangkat !! Hati-hati dijalan." William mematikan panggilan.


" Arggghh."


Anugrah berteriak mengacak-acak rambutnya terlihat sedang ada masalah.


Sanju melirik Anugrahpun mendekatinya.


" Ada apa Grah ? tanyanya, mulai khawatir.


Anugrah menoleh.


" Hm, aku disuruh pulang ke Nias San." jawabnya.


" Oh gitu, terus kenapa kamu kek kesal gitu ?


Yaudah pulang aja kali siapa tau Keluarga kamu kangen kamu." Sanju mencoba menenangkannya.


Anugrah menunduk." Gak deh kayaknya, dari nada bicara ayahku kelihatan dia lagi marah banget."


Sanju mengerutkan keningnya, merasa heran.


"Hm, udah ah santai aja.


Kalau emang menurut kamu gitu.


Yaudah kamu mendingan pulang secepatnya, biar kamu tau lebih jelas lagi, apa yang terjadi sama ayah kamu."


" Apa yang dikatakan Sanju ada benarnya juga." pikir Anugrah.


" Thanks ya San, aku balik dulu ke Asrama ngambil barang-barang." Anugrah meninggalkan Sanju.


" Eh emang kamu udah permisi sama Buk Chessi wali kelas kita ? tanya Ranti mengejar Anugrah.


" Udah, ayah aku udah permisiin." jawab Anugrah.


" Oh gitu, yaudah deh."


Anugrah berlari menuju kelas, Sanjupun ikut menyusulnya.


Anugrah mengemasi buku-buku, dan peralatan belajar yang masih berada di atas mejanya. Memasukkannya satu persatu ke dalam tas.


" San, aku cabut ya bye." ujar Anugrah.


" Kapan balik ke sekolah ? tanya Sanju.

__ADS_1


" Belum tau San, paling juga tiga hari doang


di sana, jangan kangen aku ya." Ucap Anugrah dengan pedenya.


Sanju memelas matanya, merasa kesal dengan Anugrah. Meski apa yang dikatakan Anugrah benar.


" Dasar!!


Pede banget kamu." cetus Sanju.


Anugrah tertawa melihat Sanju, sembari melambaikan tangannya.


" Da dah Sanju." melambaikan tangan ala model catwalk.


Sanju ikut tersenyum melihat tingkah bodoh Anugrah." Dasar !!


Hati-hati dijalan, kalau udah sampai jangan lupa kabarin." teriak Sanju.


" Oke." mengangkat jarinya membentuk lambang oke.


Anugrah melangkah menemui Buk Chessi untuk menyalim tangannya sebelum ia pulang ke Asrama.


" Selamat siang menjelang sore buk, Anugrah izin pulang ya Buk untuk beberapa hari ke depan." ujar Anugrah.


Ibu Chessi tersenyum.


" Silahkan nak, ayah kamu sudah memberitahu ibu. Hati-hati dijalan ya."


" Terima kasih Buk, beberapa hari ke depan jangan kangen ya sama Anugrah buk." ucap Anugrah dengan sedikit terkekeh.


Ibu Chessi ikut tertawa melihat murid kesayangannya ini.


" Iya ni, ibu bakal kangen kamu ni kayaknya."


" Yaudah deh, nanti Anugrah VC ibu.


Biar kangennya terobati." ujar Anugrah.


" Hm, dasar kamu ini. Sudah berangkat sekarang ayah kamu sudah menunggu kamu di pelabuhan." Kata Bu Chessi yang memang sudah berbicara lebih awal dengan ayah Anugrah.


" Baik Bu, Anugrah pamit ya buk." Anugrah menyalim tangan guru favoritnya itu.


" Iya hati-hati nak."


Seusai menyalim tangannya Bu Chessi, Anugrah melangkah menuju parkiran.


Meraih motor KLXnya, melajukannya menuju Asrama putra.


Jarak asrama putra dengan sekolahnya hanya berjarak sekitar 4 km, tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana.


Anugrah menongkatkan motornya.


Membuka pintu, meraih kopernya kemudian mengemasi beberapa baju yang akan ia bawak untuk pulang. Beserta beberapa barang yang perlu untuk dia bawa.


Setelah ia mengemasi barang-barangnya, ia melajukan kembali motornya bukan kembali arah sekolahnya. Melainkan menuju Pelabuhan Sibolga.


Sebelum sampai di Pelabuhan, Anugrah singgah di tempat penjualan oleh-oleh untuk membeli beberapa kue yang akan ia bawak ke Rumahnya.


Setelah selesai membeli Anugrah kembali melanjutkan perjalanannya.


Masih dengan hati penasaran, Anugrah terus menerka-nerka dalam benaknya.


Atas maksud apa Ayahnya menyuruhnya pulang.


Ia berhenti di sebuah Indomaret memesan tiket kapal untuknya.


" Bang pesan tiket kapal Pelni rute Sibolga-Nias bang sama tiket kapal barang rutenya Sibolga-Nias juga ya bang." kata Anugrah.


" Sebentar ya saya periksa dulu." Kasir Indomaret itu memeriksa rute yang di maksud Anugrah.


Setelah beberapa detik, kasirpun membuka suara.


" Mau jadwal yang mana ? tanyanya menunjukkan Anugrah jadwal rute Sibolga-Nias.


" Ini aja bang, yang lebih cepat." jawab Anugrah menunjuk jadwal 19.00 Wib.


" Oke,Boleh minta KTPnya dek untuk pengisian data." pintanya.


" Oh sebentar bang." Anugrah meraih dompetnya untuk memberikan KTPnya.


" Ini bang." Anugrah menyerahkan KTPnya.


" Iya bang."


Anugrah memilih menunggu diluar tepat di bangku nongkrong yang telah disediakan didepan Indomaret tersebut.


Anugrah melirik jam yang melilit di tangannya, sudah menunjukkan pukul 05.20 Wib ada sekitar satu jam setengah lebih lagi, rute keberangkatannya.


Anugrah meraih buku yang pernah di bingkisan Hana untuknya. Buku bernuansakan Islami itu menjadi buku Favorit untuknya.


Bahkan ia sudah beberapa kali telah khatam membacanya. Namun berkali-kali juga ia kembali membacanya.


Hal yang paling menarik hati Anugrah dari buku itu ialah sedikit terlintas pembahasan percintaan Zainab putri Rasulullah dengan Abdul Ash.


Seorang pemuda Nonmuslim, ia membaca dengan penuh hati-hati. Bagaimana perjuangan Cinta mereka, bagaimana Abdul Ash berjuang menjemput hidayah Allah, serta Zainab yang selalu ada di sampingnya.


Anugrah merasa kisah mereka sedikit mirip dengan kisahnya, ya benar saja dimana Anugrah telah jatuh hati pada seorang Muslimah yang begitu taat.


Dan muslimah taat itu juga telah jatuh hati padanya meski ia enggan menghindari kenyataan itu.


Namun, bukan berarti Anugrah terpikat dengan Islam karena Muslimah itu.


Melainkan Anugrah memang telah jatuh hati lebih awal dengan Islam sejak kecil, ditambah lagi ia memiliki seorang ibu yang beragama Islam, yang sedikit demi sedikit mengajarkan mengenai Islam.


Hatinya mulai terjatuh lebih dalam lagi pada Islam, ketika bertemu dengan Wanita Muslimah yang memperlihatkan bahwa Islam sangat memuliakan Wanita.


Ya, Muslimah itu adalah Hanani Syaufa.


Ia berharap agar suatu saat nanti Hanani Syaufa adalah Zainab untuknya.


" Hanani Syaufa is Zainabku." Ucapnya dengan tawa kecilnya.


" Astaga Anugrah, jangan berekspektasi terlalu besar." Anugrah menggelengkan kepalanya.


" Dek tiketnya." ucap Kasir itu memanggil Anugrah sedikit berteriak.


Anugrah menoleh." Ah iya bang."


" Ini tiketnya , dan totalannya ya, sama ini KTP kamu." Kasir itu memberikan KTP, tiket serta total pembayaran Anugrah.


" Ini bang." Anugrah memberikan Mandiri Card-nya.


Kemudian Anugrah meraih Tiket, Ktp serta slip pembayaran.


" Ini kartunya, terima kasih sudah beradministarasi di Indomaret." ungkapnya pada Anugrah.


" Iya bang, sama-sama." Anugrah meraih mandir card-nya kemudian berlalu meninggalkan Indomaret itu.


Anugrah memutuskan untuk menunggu rute keberangkatannya di Pelabuhan.


Ia melajukan motornya dengan kecepatan standard agar ia nantinya tak terlalu lama menunggu di Pelabuhan.


Ia menikmati angin sore yang bersepoi kencang itu. Melihat matahari yang hendak tenggelam.


Sore ini jalanan cukup macet, dikarenakan hari ini adalah hari Sabtu.


Ya, hari Weekand.


Ada banyak orang yang menikmati Weekand sore ini dengan mengendarai motornya, mengelilingi kota sejuk Sibolga.


Tak sedikit dari mereka adalah muda-mudi yang berpacaran.


Belum sah juga sudah berboncengan.


Miris memang melihatnya. Senantiasa Allah membukakan hati mereka agar segera mengakhiri hubungan yang merupakan salah satu jalan menuju zina itu.


" Astaga, duit masih minta ke orang tua aja udah sok-sokan ngajak anak orang jalan." Anugrah memperhatikan orang pacaran di depannya.


Kemudian Anugrah menggas motornya melewati mereka.


Jujur saja, walaupun Anugrah berstatus non muslim namun hanya sepuluh persen lah terlintas di benaknya untuk pacaran.


Sebab ia tau bahwa pacaran itu hanya menguras uangnya, membuang waktunya wkwk.


Ia pernah berpacaran untuk pertama kalinya, saat ia berada di kelas delapan Sekolah Menengah Pertama, ya dengan gadis bernama Grace Kelly. Itupun ia terikut dengan teman-temannya yang saat itu semua sudah berpacaran.


Tidak berlangsung sama hanya sekitar satu bulan mereka putus, setelah menjalani hubungan bodoh itu, Anugrah memang benar-benar merasa bodoh.


Sebab waktunya terbuang sia-sia, uangnya juga habis untuk kencan.

__ADS_1


Bahkan nilainya sedikit terancam selama ia berpacaran dengan Grace si gadis mentel itu.


Tak mau bertahan lama di posisi bodoh itu Anugrah memutuskan Grace juga saat itu.


Dan dari hal itulah Anugrah memutuskan untuk tidak berpacaran lagi dengan siapapun.


Jikapun ia ingin pacaran, ia hanya akan mau berpacaran dengan Hana.


Namun itu adalah hal yang mustahil untuknya. Sebab seorang Hanani Syaufa bukan kategori perempuan yang mau di ajak pacaran.


Sekitar setengah jam berlalu, Anugrah sampai di Pelabuhan Sibolga.


Perlayarannya kali ini ialah dari Pelabuhan


Sibolga - Pelabuhan Gunung Sitoli, Nias.


Anugrah menongkat KLXnya, memposisikan duduknya di tepi pelabuhan.


Ia menikmati senja yang memukau itu.


Hembusan angin sore ini ikut memperindah suasana.


Burung-burung berterbangan dengan serentak.


" Indah." Ucap Anugrah menatap alam Sibolga.


Anugrah memenjamkan matanya, menghirup pelan udara sore itu.


Terlintas sosok Hanani dalam benaknya.


" Bahkan dalam pejaman mataku kau selalu hadir, Han." Anugrah tertawa membuka matanya.


Sudah setengah jam berlalu,tersisa setengah jam lagi keberangkatan Anugrah.


" Allahu Akbar Allahu Akbar."


Adzan Maghrib pun berkumandang menemani Anugrah menatap senja yang mulai tenggelam itu.


Ada dua pemuda yang sedang bertikai tepat di depan Anugrah. Anugrah datang menghampiri mereka.


" Kamu emang bodoh banget. Bisa-bisanya pergi cuma buat ngejar cewek murahan itu." ucap salah satu pemuda itu.


" Diam kau ! Itu bukan urusanmu." Jawab temannya.


" Kalian bisa diam gak, hargai adzan Maghrib berkumandang." cetus Anugrah dengan tegas.


" Penampilan religi gini, tapi diam untuk lima menit menghargai adzan saja gak bisa."


Kedua pemuda itu terdiam, sebab yang diucapkan Anugrah benar adanya, menunduk sembari melangkah pergi meninggalkan Anugrah.


Dari kejauhan ada sosok Ustadz yang merupakan penumpang Kapal Pelni juga, ia memperhatikan Anugrah, tersenyum salut padanya.


Ia menghampiri Anugrah berniat untuk mengajaknya Sholat magribh berjamaah.


" Nak, mari sholat Maghrib berjamaah." ajaknya.


Anugrah tersenyum." Maaf pak saya gak bisa." Tolaknya.


Ustadz itu tertawa kecil." Kamu kan cowok gak mungkin mamnu ' kan ?


Anugrah menggelengkan kepalanya.


" Bukan itu maksud saya pak, saya protestan."


Mendengar kata " Protestan."


Membuat Ustadz itu terkejut. Ia mengira bahwa Anugrah adalah pemuda muslim dapat dilihat dari caranya tadi menghargai Adzan.


Namun, kenyataannya Anugrah bukanlah muslim.


Sudut bibir ustadz ini tertarik membentuk senyuman.


" Masya Allah sungguh baik akhlakmu nak, apa hal yang membuatmu menghargai Adzan ? tanyanya pada Anugrah.


" Adzan itu merupakan seruan untuk menyembah Allah, ya Allah.


Tuhan yang maha pemberi segalanya untuk ummat manusia. Bagaimana mungkin kita berbicara di saat Adzan yang merupakan seruan Tuhan yang memberikan suara kepada kita ?


" Presiden yang manusia biasa saja saat ia berbicara kita menutup mulut, menghormatinya. Lantas bagaimana dengan Tuhan semesta alam ?


" Sekuat apa kita, sampai tidak bisa menghargainya seruan Tuhan ? jawab Anugrah sembari tersenyum.


Ustadz tersebut tersenyum haru mendengar jawaban Anugrah.


" Jawaban yang begitu menakjubkan, senantiasa Allah memberimu hidayah dan mempermudah jalanmu memeluk Islam nak." ucapnya mengusap pelan kepala Anugrah.


Anugrah tersenyum." Aamiin, senantiasa terkabul pak."


" Yaudah Bapak sholat dulu ya." pamitnya pada Anugrah.


" Silahkan Pak."


Ustadz tersebut meninggalkan Anugrah.


Anugrah senang bisa bertemu dengan sosok dai Islam itu.


Selanjutnya Anugrah beranjak menuju Maskapai Kapal barang.


Anugrah meminta maskapai kapal untuk mengangkut motornya ke kapal barang.


" Pak, motor saya tolong di ikut sertakan di kapal barang ya rute Sibolga-Nias." kata Anugrah menyerahkan KLXnya.


" Ini motornya ? tanya petugas.


Anugrah mengangguk iya.


" Slip tiketnya ?


" Ini pak." Anugrah menyerahkan padanya.


Setelah mengecek tiketnya, ia mengizinkan motor Anugrah memasuki kapal barang.


" Terima kasih Pak." ucap Anugrah sopan.


Ia tersenyum pada Anugrah, melanjutkan pengecekan lainnya.


Anugrah melangkah menuju kapal peni yang sesuai dengan tiket pesanannya.


Anugrah melihat security yang bertugas sedang melakukan pengecekan.


Iapun menghampirinya." Ini Kapal Pelni rute Sibolga-Nias jadwal 19.00 Wib Pak ? Tanyanya.


" Iya nak, jadwal keberangkatan kamu ya ? tanya petugas itu.


Anugrah mengangguk." Iya pak."


" Ohiya, kalau gitu silahkan serahkan tiketnya ke bagian Administrasi." tunjuknya ke sebelah kanan tepat posisi tempat penyerahan tiket.


" Terima kasih Pak." Anugrah melangkah menuju ke tempat tersebut.


Sesuai ia sampai disana, iapun menyerahkan tiketnya. Dan menerima kartu sebagai penumpang kapal Pelni.


Tersisa lima sepuluh menit lagi, para penumpangpun telah di izinkan untuk memasuki kapal mengambil kursinya masing-masing.


Anugrah menghirup udara magribh itu, dan menatap lekat langit yang masih meninggalkan sisa senja itu.


Entah kenapa hati Anugrah berkata bahwa ia akan segera meninggalkan tempat ini.


" Entahlah aku bingung, rasanya berat meninggalkan kalian." ucapnya pada alam Sibolga itu.


" Padahal beberapa hari ke depan kita bakalan ketemu lagi Ha-ha-ha." Anugrah terkekeh dengan dirinya sendiri.


" Hm, see you."


Anugrah meninggalkan Pelabuhan Sibolga itu memasuki kapal Pelni.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 Wib, kapal Pelnipun sudah berlayar meninggalkan Pelabuhan Sibolga.


Laut Sibolga kali ini cukup bersahabat, ya tidak terlalu banyak ombak yang mengkhawatirkan.


Jika kondisi ini berjalan cukup lama, maka perjalanan menuju Pelabuhan Gunung Sitoli, Nias hanya akan memakan waktu sekitar Sepuluh jam setengah kurang lebih.


Ya, senantiasa malam ini laut Sibolga bersahabat sampai Pelabuhan Gunung Sitoli dengan Kapal Pelni yang di tumpangi Anugrah.


Bersambung..


Sevimli 6 Desember 2020


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


__ADS_2