Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 107 Bertemu kakek bijaksana


__ADS_3

Jangan lupa like and Votenya ya


Plus komennya juga :)


Makasih udah setia di ceritaku 💙


" Disaat orang lain sibuk mendayung sepedanya berlomba untuk gaya-gayaan. Justru disaat bersamaan pula, ada banyak pria berusia senja bersusah payah mendayung sepedanya untuk mencari makan."


....." Pelangi Hanani 🌹".....


Anugrah berlari ke kamarnya.


Mengambil jaket, kemudian beranjak pergi mencari Jeep untuk meminta kunci motor KLXnya.


" Kamu mau kemana Anugrah ? teriak William yang melihat Anugrah memakai jaketnya.


Anugrah tak menjawab pertanyaan William, ia terus melangkah keluar rumah.


Tak tinggal diam, William pun menyusul Anugrah.


Dengan cepat William menarik kasar lengan Anugrah.


" Berhenti bertindak seperti anak kecil, Anugrah !!


Anugrah menatap sinis William.


Anak kecil katanya ? benaknya.


" Lepaskan tanganku !


Sebelum aku yang akan menyingkirkan tangan ayah ! sergah Anugrah dengan sorot mata mengintai.


William terkejut.


Bagaimana bisa Anugrah seberani ini padanya ?


" Kau melawanku ha ? bentak William.


Anugrah tersenyum masam.


Dan dengan cepat ia menghempaskan tangan William dari tangganya. Kemudian melangkah menghampiri Jeep.


" Anak kurang ajar !! teriak William.


Jeep dan Roy yang mendengar keributannya langsung keluar dari garasi mobil.


Dan melihat Anugrah menghampirinya.


" Ada apa ini den ? tanyanya pada Anugrah.


" Pak mana kunci motor saya ? Tidak menjawab, justru balik bertanya.


Jeep pun mengeluarkan kunci motor Anugrah dari kantongnya. Anugrah langsung merampasnya dengan cepat.


" Astaga den." Jeep terkejut.


Anugrah langsung menaikinya dan melajukannya dengan cepat.


" Den mau kemana ? Roy mencoba mengejar Anugrah.


" Ke tempat yang lebih damai dari penthouse ini." jawab Anugrah.


William yang melihat Anugrah sudah jauh dari rumah pun merasakan sedikit nyeri di dadanya.


Entahlah, mungkin jantungnya sedikit kambuh.


Ia menggenggamnya dengan erat bahkan sampai meramasnya.


" Kenapa kau terus membangkang Anugrah ?


" Ayah kenapa, yah ? tanya Yasmine yang baru saja tiba di sebelah ayahnya.


Ia melihat ayahnya meramas dada, mulai panik.


Ia tau bahwa detak jantung ayahnya pasti melemah berada di situasi ini.


" Ayah !!


Kita masuk dulu, ya.


Biar Anugrah, Yasmine yang urus.


Ayah, gak perlu khawatir ya." Yasmine mencoba untuk menenangkan ayahnya.


Ia tak ingin kejadian tahun lalu terulang kembali.


William pun mengangguk mengikuti instruksi Yasmin putrinya.


" Pak Jeep ! panggil Yasmine.


Kedua anak buah William pun dengan sigap berlari menghadap.


" Iya nona."


" Astaga tuan kenapa nona ? pekik mereka terkejut ketika melihat William meramas erat dadanya.


William pun langsung dibawa ke kamarnya, kemudian dibaringkan ke king spring bednya.


Sementara Yasmine langsung menghubungi dokter yang biasa menangani ayahnya.


" Ayah tenang ya.


Yasmine udah panggil dokter Michale kesini." ujarnya, mencoba menenangkan ayahnya.


William mencoba untuk tenang, namun sayang kata-kata Anugrah kerap kali bergentayangan di kepalanya. Membuat tekanan pada jantung semakin memburuk.


" Yasmine.


Hubungi Anugrah adikmu, ayah akan lebih membaik jika dia berada disini." pintanya pada putrinya.


Yasmine menggeleng." Gak ayah.


Kondisi ayah akan memburuk jika lagi-lagi ayah berdebar dengan anak keras kepala itu." tolak Yasmine, yang tak ingin membuat keadaan ayah akan semakin buruk jika Anugrah berada disini.


" Biarkan dia tenang dulu ya, yah.


Ayah juga biarkan kondisi ayah stabil dulu.


Baru Yasmine suruh dia pulang ke rumah."


William pun mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan putrinya.


.


.


Sementara di jalan raya.


Sosok pemuda melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Menerobos lampu merah, memotong dari celah-celah kendaraan lain.


Bahkan tak jarang ia mendapat makian dari pengendara lain, sebab keegoisannya dalam berkendara.


Ia tak peduli apalagi mendengarkan.


Yang ia inginkan berlari sejauh mungkin dari kota tempat tinggalnya.


Brummmm.....


Anugrah terus menggas full motornya.


Sampai akhirnya.


Ada seorang kakek tua yang hendak menyeberang dengan sepeda yang ia dorong.


Stttt..... hampir saja Anugrah menabraknya.


Beruntung tangannya tepat waktu menarik rem dengan erat.


" Astaghfirullah.." ucap kakek itu terkejut.


Anugrah langsung turun dari motornya, menepikannya ke tepi jalan, dengan degupan kencang di dadanya bahkan tangannya gemetaran. Ia menghampiri kakek tua itu.


" Kek !


Kakek tidak apa-apa ? tanyanya seraya memeriksa keadaan kakek itu.


Kakek tua itu pun tersenyum simpul dan menggeleng.


" Saya tidak apa-apa nak." jawabnya.


Hahhh.. Anugrah bernafas lega.


" Mari kek.


Saya bantu sebrangkan." Anugrah menawarkan bantuan padanya.


Setelah mendapatkan anggukan sebagai jawabannya, Anugrah pun menyebrangkan kakek tua ini dan mendorong sepeda kakek tersebut.


Selesai menyebrang, Anugrah pun mengajak kakek tua itu untuk duduk sejenak di depan toko grosir yang berada tidak jauh dari mereka.


" Ini kek, ambil." Anugrah menyodorkan kantong plastik yang berisikan beberapa roti pada si kakek tua.


" Terima kasih, nak." ucapnya, namun tidak mengambil kantong plastik pemberian Anugrah.


Anugrah kan mengerut bingung.


" Kek !


Ambil lah, saya ikhlas memberikannya." mencoba meyakinkan kakek.


Kakek tua itu menggeleng.


" Tidak nak.


Berikan saja pada mereka yang jauh lebih membutuhkan." ucap kakek tua itu, sorot matanya tertuju pada dua anak kecil yang sedang mengorek sampah di depan mereka.


Anugrah pun melirik pada apa yang dilihat si kakek.


Setelah melihatnya, ia paham apa maksud si kakek.


Anugrah tersenyum.


" Ambillah kek.


Ini jatah kakek, untuk mereka ada jatahnya juga." ucap Anugrah.


" Anggap saja.

__ADS_1


Ini sebagai hadiah untuk pertemuan pertama kita."


Kakek itu pun tersenyum mendengar perkataan Anugrah, sekaligus merasa senang melihat Anugrah yang berbuat baik tanpa harus berpikir panjang.


Ia pun menerima pemberian Anugrah.


Selepas itu, Anugrah kembali ke grosir untuk membeli makanan yang akan diberikan pada kedua anak kecil itu.


Anugrah berjalan, menghampiri keduanya.


" Haii !! sapa Anugrah pada mereka.


Keduanya pun menghentikan aktivitasnya, dan menoleh pada Anugrah.


Saling menatap, bingung dengan kehadiran Anugrah diantara mereka.


" Ada apa ya, bang ? tanya salah satunya.


" Ini ambil." Anugrah menyodorkan dua kantong plastik yang berisikan makanan pada mereka.


Keduanya kembali menatap satu sama lain.


Namun berbeda ekspresi, yang satunya menggelang.


Yang satunya lagi mengangguk seperti memohon untuk menerima pemberian Anugrah.


" Ambillah !


Jangan sungkan." ucap Anugrah lagi.


Sejenak keduanya terdiam.


Kemudian mengambil pemberian Anugrah.


" Terima kasih, bang." ucap keduanya dengan senyuman.


" Sama-sama.


Oh iya, kalau mau makan jangan lupa cuci tangan ya yang bersih." ujar Anugrah.


Keduanya pun tersenyum sembari mengangguk.


" Ah gimana kalau kalian duduk dulu bareng kakak sama kakek itu, sambil ngobrol enak tu.


Mau ? tanya Anugrah, yang dijawab anggukan oleh mereka.


Anugrah pun membawa keduanya ke tempat si kakek tadi berada.


" Ah silahkan duduk." ucap si kakek.


Kedua anak kecil itu pun duduk disebelah si kakek, sementara Anugrah memilih duduk di bawa.


" Ini buat cuci tangan." kata Anugrah, memberikan botol Aqua mini pada mereka.


" Makasih kak."


Keduanya pun mencuci tangan dengan air Aqua mini tersebut, secara bergantian.


Kemudian membuka kantong plastik makanan, memilih roti terlebih dahulu untuk di makan.


Tanpa aba-aba keduanya langsung melahap roti masing-masing dengan cepat. Ya, bahkan tanpa jeda sedetikpun. Seperti orang yang belum makan seharian.


" Enakkan bang." ucap salah satu dari anak kecil itu, yang kemungkinan ia adalah si adikan.


Abangnya pun mengangguk sambil mengunyah rotinya. Anugrah ikut iba melihat mereka berdua.


" Hm, kenapa kalian berdua mencari botol bekas ?


Emang kedua orang tua kalian, kemana ? dengan hati-hati Anugrah bertanya pada mereka.


Pertanyaan itu berhasil membuat keduanya berhenti mengunyah dan terdiam, menundukkan kepala.


" Ibu sudah meninggal.


Dan bapak meninggalkan kami berdua." jawab keduanya, kemudian saling berpelukan.


Dalam pelukan itu, keduanya saling menumpahkan air mata mengingat betapa pedihnya kehidupan mereka.


Deggg... jantung Anugrah berdetak kencang.


Ada sedikit denyutan nyeri yang ia rasakan.


Kedua anak itu membuatnya tersadar bahwa hidupnya jauh lebih beruntung dari keduanya meski, ia hidup dalam tekanan dan keterpaksaan. Meski kedua orang tuanya berbeda keyakinan, dan telah bercerai. Setidaknya, ia masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tuanya dan masih dalam fasilitas oleh ayahnya.


Sementara kedua anak kecil dihadapannya.


Masa kecil yang seharusnya dipergunakan untuk bermain sepuasnya.


Mala, justru keadaan membuat mereka harus terpaksa bekerja, mengais rezeki sejenak dini.


Anugrah mengelus kepala mereka berdua.


" Makan yang banyak, ya.


Biar cepat gede." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Keduanya pun kembali melahap rotinya dan duduk saling berdampingan.


Sejenak Anugrah sedikit menjauh dari mereka.


Pikirannya kini melayang pada sosok pria yang baru saja bertengkar dengannya.


Tanpa aba-aba air mata Anugrah terjun bebas jatuh ke pipinya. Kakek yang melihat Anugrah seperti itu tersenyum, mengerti dengan apa yang Anugrah rasakan lewat sorot mata Anugrah.


" Nak, siapa namamu ? tanya sang kakek.


Anugrah langsung menyerka air matanya, kemudian menoleh pada sang kakek." Ah, Anugrah kek."


" Anugrah, sesuai dengan sifatmu."


Anugrah hanya tersenyum simpul meresponnya.


" Seberat apapun masalah yang kita punya.


Kita jualah yang akan tau caranya menyelesaikannya.


Tak ada masalah yang tak punya solusi di dunia.


Hanya saja, kita punya porsi cara dan waktu masing-masing antara untuk mengakhirinya atau justru menghindarinya." ucap sang kakek yang seolah-olah tau Anugrah sedang berada dalam masalah.


Anugrah menatap lekat sang kakek, mencoba mencari jawaban, dari mana si kakek tau kalau dirinya sedang ada masalah.


" Kakek melihatnya dari sorot matamu, nak." jawab sang kakek seolah tau Anugrah ingin menanyakan hal itu.


" Semua punya porsinya masing-masing nak.


Ada yang beruntung dari segi keluarga ya, keluarganya harmonis, tapi tak beruntung dari segi ekonomi. Dan ada juga kebalikannya beruntung dari segi ekonomi dan hancur dari segi keluarga, ya broken home. Dan level terbaiknya beruntung dari segi keduanya, keluarga harmonis dan juga ekonomi memadai.


Semua telah sesuai dengan takaran berdasarkan dengan ikhtiar dan doa yang kita lakukan."


" Kakek salah satu darinya beruntung dari segi keluarga, namun tidak beruntung dari segi ekonomi." ucap sang kakek.


Kini sorot mata senja itu tertuju pada sepeda ontel lama miliknya." Disaat orang lain sibuk mendayung sepeda barunya berlomba untuk gaya-gayaan.


Justru, disaat bersamaan pula ada banyak pria senja yang bersusah payah mendayung sepedanya untuk mencari makan." lanjut sang kakek dengan senyuman tegarnya.


Anugrah tertegun mendengar perkataan sang kakek.


Usia tuanya sang kakek tak mengambil ahli pemikiran bijaknya.


Tersadar Anugrah, merasa berada pada posisi beruntung dari segi ekonomi akan tetapi, tidak beruntung dari segi keluarga.


Miris memang.


Memiliki banyak harta, namun tidak dengan keluarga harmonis.


Sang kakek menyentuh pelan pundak Anugrah.


Dan menepuk-nepuk kecil pundaknya.


" Nak.


Jangan pernah biarkan dirimu berlari dari masalah.


Karena hal itu hanya akan semakin merumitkanmu.


Percayalah bahwa Allah memberikan hambaNya ujian berdasarkan kapasitas sampai dimana kekuatan pundak hambaNya." nasehat sang kakek pada Anugrah.


Anugrah menelaah perkataan sang kakek.


Mencoba menjadikannya sebagai cambuk untuk ia melewati masalahnya.


Benar saja.


Kalau dia tidak kuat.


Mana mungkin Tuhan memberinya kehidupan berat.


Anugrah pun tersenyum mengangguk.


" Terima kasih, kek.


Atas nasehat yang kakek berikan, hati Anugrah sedikit lega bertemu dengan orang sebijaksana kakek.


Aku kagum pada kakek yang memiliki pemikiran sebijaksana ini." ucap Anugrah.


" Aku juga beruntung dipertemukan dengan pemuda sebaik dirimu, nak." balas sang kakek.


Keduanya saling menatap dengan senyuman.


Senyuman Anugrah kali ini jauh berbeda dari biasanya.


Lebih luas dan ikhlas tepatnya.


" Jam berapa sekarang ? tanya sang kakek.


Anugrah melirik jam tangannya.


" Jam setengah empat, kek." jawab Anugrah.


" Ah, sebentar lagi waktu ashar masuk." ucap sang kakek kemudian beranjak berdiri.


" Mari kita sholat ke masjid terdekat." ajak sang kakek terhadap ketiganya dan berjalan memandu mereka ke masjid.


Kedua anak kecil itu pun mengangguk dan mengikuti langkah sang kakek.


Begitu juga Anugrah ia ikut pergi bersama ketiganya.

__ADS_1


Sesampai di Masjid.


Sang kakek dan kedua anak kecil itu langsung menuju tempat wudhu.


Sementara Anugrah memilih duduk di teras Masjid.


Hal itu menyita perhatian sang kakek.


Setelah menyelesaikan wudhunya, sang kakekpun menghampiri Anugrah.


" Nak Anugrah.


Tidak sholat ? tanyanya lembut.


Anugrah tersenyum seraya menggeleng sebagai jawabannya.


Sang kakek pun tersenyum.


" Apapun masalah kita.


Sholat jangan sampai lalai, apalagi tinggal nak." ujar sang kakek.


Anugrah tersenyum miring, ini bukan kali pertamanya ia disangka seorang muslim oleh seseorang.


Bahkan ini sudah kesekian kalinya.


" Saya Protestan, kek." jawab Anugrah jujur.


Sedikit terkejut mendapati bahwa Anugrah adalah seorang non-muslim, yang ia pikir awalnya seorang muslim.


Namun sang kakek pun tersenyum, mencoba untuk bersikap biasa saja.


" Ah, kalau begitu.


Kami sholat dulu ya, nak.


Kalau kamu mau duluan, duluan aja nak." ujar sang kakek.


Anugrah mengangguk.


" Saya tunggu kakek dan adik-adik aja menyelesaikan sholatnya." jawab Anugrah.


Sang kakek pun tersenyum dan melangkah memasuki masjid. Sebab, satu menit lagi adzan akan berkumandang.


Meski menjadi sorotan para jamaah masjid, Anugrah tetap tersenyum ketika mereka memandangnya penuh intimidasi. Mungkin benak mereka, sudah sampai Masjid. Tapi, kok gak sholat ?


Allahu Akbar...


Allahu Akbar... suara adzan berkumandang.


Anugrah pun mendengarkannya dengan penuh hikmat sama seperti para jamaah sholat lainnya.


Setelah selesai adzan berkumandang.


Kini bergantian dengan Iqamah.


Setelah keduanya berakhir, saatnya sang imam mengambil alih tugasnya.


Anugrah menatap dengan senyuman ke dalam Masjid.


Melihat para umat Islam beribadah dengan kyusu' membuat hatinya sedikit tenang.


" Suatu saat nanti aku juga akan merasakannya." gumamnya.


Selang beberapa menit.


Sholat pun telah selesai.


Sang kakek dan kedua anak kecil itu menghampiri Anugrah..


" Sudah selesai ? tanya Anugrah yang melihat kedatangan mereka.


Kakek dan kedua anak kecil itu mengangguk.


" Alhamdulillah, sudah."


" Yaudah, sekarang kita balik yuk." ajak Anugrah.


Ketiganya pun mengangguk.


Kedua anak kecil itu mengambil karungnya.


Dan si kakek membawa sepedanya.


" Siapa nama kalian ? tanya Anugrah pada kedua anak kecil itu.


" Nama saya Rais bang.


Dan adik saya Fahriwas." jawab Rais.


" Ah, Rais dan kamu abang panggil Riwas ya." keduanya mengangguk.


Anugrah pun memberikan selembar kertas yang berisikan nomor ponselnya pada mereka dan juga beberapa lembar uang lima puluh ribu rupiah.


" Eh bang gak usah, bang." tolak Rais, mengembalikan uang Anugrah.


" Makanan yang abang berikan tadi itu udah lebih dari cukup, bang." sambungnya.


Anugrah tersenyum dan kembali memberikan uang itu pada mereka." Ambillah, abang akan jauh lebih sakit hati kalau kalian menolaknya." kata Anugrah.


Rais pun melihat sang adik yang menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Melihat senyuman itu melekat di wajah sang adik, Raispun menerima uang pemberian Anugrah.


" Terimakasih ya bang, atas kebaikan abang." ucapnya.


" Iya, uangnya disimpan ke dalam kantong ya, biar jangan hilang." saran Anugrah.


Rais langsung melakukan hal yang dikatakan Anugrah, kemudian ia meriah tangan Anugrah untuk menyalimnya. " Senantiasa Allah membalas segala kebaikan yang abang perbuat." katanya tanpa tersadar air matanya menetes di atas tangan Anugrah.


Anugrah pun merasakan sentuhan cairan hangat itu.


" Aamiin.


Itu nomor abang, hubungi aja kalau ada perlu ya."


Rais dan Riwas pun mengangguk.


Setelah Rais, kini giliran Riwas yang menyalim tangan Anugrah.


" Doa Riwas cuma satu untuk abang.


Semoga abang adalah orang yang beruntung, diberikan hidayah oleh Allah untuk memeluk Islam." ucapnya seraya menyalim tangan Anugrah.


Deggg..


Doa sederhana itu, cukup membuat jantung Anugrah berdegup kencang. Bahkan netra coklatnya melotot sempurna. Namun, kali ini mulutnya tak terkatup melainkan tertarik sudut bibirnya membentuk senyuman.


" Aamiin.


Doain ya Rawis, supaya Allah mengizinkan abang bersyahadat secepatnya." jawab Anugrah.


Sang kakek pun tersenyum simpul, kini mengerti bahwa Anugrah memiliki niat untuk menjadi mualaf.


Setelah selesai menyalim.


Rais dan Riwas pun berpamitan pada Anugrah dan kakek untuk pulang ke tempat mereka tinggal biasanya.


" Hati-hati ya nak." ucap sang kakek.


" Iya kek.


Assalamu'alaikum." salam mereka serentak.


" Waalaikumussalam."


Selepas dari kepergian mereka.


Sang kakek pun, penasaran dengan Anugrah yang memiliki niat untuk menjadi seorang muslim.


" Nak, apa benar kamu ingin menjadi seorang muslim ? tanya sang kakek.


Anugrah mengangguk tanpa ragu.


" Jika Allah menghendaki, kek." jawabnya.


" Apa yang membuatmu ingin memeluk Islam ? tanya sang kakek lagi.


Anugrah pun tersenyum, kini menatap lekat langit yang mulai sedikit menggelap, yang tampaknya akan menurunkan hujannya.


" Ibuku seorang wanita muslim.


Sementara ayahku seorang protestan.


Meski, aku ikut dengan ayahku.


Akan tetapi, setiap kali aku bertemu dengan ibuku.


Ia selalu mengajarkan dan mengenalkanku tentang Islam itulah awal dari mula hatiku terjatuh pada Islam." jawab Anugrah.


Kakek pun tersenyum seraya menepuk pundak Anugrah. " Belajarlah lebih dalam lagi mengenai Islam, nak. Tepatnya di tempat di mana peradaban Islam dimulai. Dengan begitu hatimu akan jauh lebih terbuka lagi untuk menentukan segalanya." ucap sang kakek.


Peradaban Islam ? benak Anugrah.


Ia terdiam tak bergeming sama sekali.


" Ya sudah.


Kakek pulang duluan ya, tampaknya awan mendung sudah menguasai langit." pamit sang kakek.


" Ah iya kek.


Hati-hati ya, kek." ucap Anugrah.


Sang kakek pun mengangguk dan menaiki sepedanya kemudian mendayungnya dengan sekuat tenaga.


Setelah melihat sang kakek, pergi dengan aman.


Anugrah pun menyebrangi jalanan dan meraih motornya. Kemudian melajukannya menuju rumah sang mama tercintanya.


Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan.


Sebab, hanya mamanya lah tempat terbaik untuk ia menumpahkan segalanya.


Bersambung.


Sevimli 7 Juli 2021


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


__ADS_2