Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 122 Sebuah Fakta tentang Hisya


__ADS_3

Jangan lupa like and Votenya.


Dan jangan lupa mampir ke Selaksa Rasa, karya baruku yang gak kalah kece 🤗


....." Pelangi Hanani 🌹".....


Sepulang dari kampus, Hana berpisah dari Raisa dan Nima.


Ia memilih tidak langsung pulang, melainkan ia pergi ke Sungai Nil.


Apalagi kalau bukan berharap bertemu Hisya lagi disana. Ya, sudah dua hampir sebulan Hana tidak bertemu Hisya. Padahal Hana hampir setiap hari ke Sungai Nil.


" Apa aku harus pergi ke Trixtal Bar itu, ya ?


Hana mondar-mandir


Memutari matanya, mencari ke sekeliling Sungai Nil, sosok Hisya.


" Tapi, perjalanan ke Alexandria lumayan makan waktu, plus aku juga gak tau pasti dimana letak Trixtal Bar itu." Hana tengah sibuk memikirkan cara untuk bertemu Hisya kembali.


Merasa capek berdiri, Hana pun memilih duduk di tepian Sungai Nil. Memainkan ponselnya untuk mencari-cari letak Trixtal Bar itu, di google maps.


Setelah lima menit pencarian, Hana pun mendapatkan jawabannya. Ya, Trixtal Bar tercantum di google maps.


" Serem juga tempatnya.


Deket hutan ginian." ucap Hana, melihat letak Trixtal Bar.


Hana tengah memikirkan bagaimana caranya agar bisa sampai disana, secara diam-diam tanpa diketahui oleh orang lain.


Tiba-tiba Hana merasakan sesuatu di mulutnya.


" Emmmm."


Ya, ada seseorang yang membekap mulut Hana dengan sapu tangan, dan menariknya ikut bersamanya.


" Emmm..."


Hana berusaha untuk meronta, memberikan pukulan. Namun sayang, kepalanya terasa pusing bahkan beberapa saat kemudian ia pingsan tak sadarkan diri.


Benar, sapu tangan yang membekap Hana diberi obat bius, agar Hana tidak sadarkan diri.


" Cepat bawak dia masuk ! terdengar perintah dari pria tegap, berotot kekar.


Hana pun dimasukkan ke dalam mobil Limosin dan dibawa ke arah yang berlainan dengan Asrama Hana.


" Gadis ini ternyata sangat cantik.


Dia bisa jadi ladang berlian untuk kita." ucap salah satu dari mereka.


Mereka pun tertawa bersama, menikmati paras wajah Hana. Sementara Hana, gadis itu terbaring tak sadarkan diri.


Setelah menempuh dua jam perjalanan.


Mereka pun mendarat di sebuah bangunan megah, dan dikawal ketat oleh beberapa pengawal.


Tubuh Hana dibawa masuk, untuk diperlihatkan pada pemilik bangunan megah itu.


" Tuan Emrin.


Ini gadis yang selalu mencoba untuk membantu Hisya melarikan diri." ucap anggotanya pada pria yang berkumis tipis itu.


Emrin berbalik, menghampiri mereka.


Dan melihat sosok gadis yang anak buahnya maksud.


Senyum smirk muncul di wajahnya.


Matanya bahkan tak berkedip menatap gadis yang tak sadarkan diri itu.


" Mulai hari ini dan seterusnya, akan kupastikan kau menjadi milikku."


Emrin mengelus lembut wajah Hana.


Kalau saja, Hana sadarkan diri maka pasti, ia takkan biarkan tubuhnya tersentuh oleh pria yang bukan mahramnya.


" Bawa dia ke ruang bawah tanah ! perintahnya pada anak buahnya.


" Baik tuan."


Mereka pun melaksanakan perintah Emrin, untuk membawa Hana ke ruang bawah tanah.


Tempat yang begitu gelap, hanya ada cahaya dari celah pentilasi saja yang ada di sana.


Bahkan ruangan itu sangat mendap suara.


Ya, ingin berteriak sekuat tenaga juga, tidak akan terdengar oleh siapapun.


Mereka meletakkan Hana di lantai ruang bawah tanah bersama dengan beberapa gadis lainnya.


Termasuklah salah satunya Hisya.


" Hana." pekiknya terkejut melihat Hana.


Segera ia menghampiri Hana.


" Kenapa kalian menangkap gadis ini ? tanya Hisya pada mereka.


Kedua pria yang membawa Hana itu tertawa mendengar pertanyaan Hisya.


" Dia berada disini.


Karena dia selalu mencoba untuk membantumu kabur dari sini." jawab mereka jujur.


Mendengar hal itu, Hisya jadi merasa bersalah pada Hana. Ia menatap wajah Hana yang tubuhnya sudah terlungkai lemas di lantai.


" Kalian hukum saja aku.


Jangan libatkan dia dengan urusan di tempat ini brengsek ! teriak Hisya pada mereka.


Kedua pria yang diteriaki itu tersenyum masam pada Hisya. Hisya merasakan cengkraman kuat pada pergelangan tangannya.


" Ahhh..."


Salah satu dari mereka, mencengkram tangan Hisya." Jangan sok kuat kau, pel*cur !


" Lepas ! Hisya meronta.


" Oh kau sudah mulai berani berteriak ya ?

__ADS_1


Kau mau berapa ronde sayang ?


ucap pria salah satu lainnya.


Ia sudah melepas beberapa kancing jaketnya, Hisya terus berusaha untuk mencoba melepas diri dari kedua pria ini.


Jangan tanyakan, gadis lainnya.


Mereka hanya berdiam diri, ketika melihat kedua pria itu berniat melecehkan Hisya.


" Kalian boleh lakukan itu.


Asal kalian lepaskan gadis itu ? Hisya mencoba untuk berkompromi dengan mereka.


Namun, bukannya mendapat jawaban.


Justru Hisya mendapat dorongan keras.


Ya, salah satu dari pria itu mendorong Hisya ke dinding, sampai ia tersudut.


Jantung Hisya sudah berdetak kencang, bahkan rasa takut mulai menyelimutinya, badannya mendadak lemas sekarang.


Bahkan air matanya, tengah menetes membasahi pipinya. Nafasnya mulai tak beraturan.


" Ya Tuhan..


Jika Engkau masih menganggapku adalah hambaMu. Maka, tolonglah aku." batin Hisya.


Hisya masih mengingat Tuhan, masih mempercayaiNya, meski hanya setitik.


Trrrtt...


Tiba-tiba ponsel pria itu berbunyi.


" Is ganggu aja." keluhnya.


Pria itu segera mengangkat panggilan, dan menjauh dari Hisya.


Hahh...


Hisya bernafas lega, saat dirinya terlepas dari pria itu. Dengan cepat ia pun menghampiri Hana. Dan menepuk-nepuk pelan wajah Hana, ia mencoba untuk menyadarkan Hana.


" Ayo kita cabut !


Bos manggil." ucapnya pada temannya.


" Kali ini kau lolos !


Hisya hanya menatapnya acuh, tak peduli lagi dengannya. Keduanya pun pergi meninggalkan ruang bawah tanah menuju ke tempat yang Emrin perintahkan.


" Hana bangun !


Hisya menggoyangkan tubuh Hana, agar perempuan itu segera sadarkan diri.


" Hana cepat kamu bangun !


Biar kamu bisa pergi dari sini !


Masih tak ada respon dari Hana.


Mungkin obat biusnya masih bekerja pada tubuhnya. Lelah membangunkan Hana, Hisya pun menyerah dan pasrah menunggu Hana sadar sendiri.


Hana masih saja belum sadar, Hisya hanya menatapnya penuh harap agar terbangun.


Tidak ada, angin atau hujan.


Tiba-tiba saja, jari jemari bergerak.


Mengundang perhatian Hisya.


" Hana ! ia kembali menyentuh tubuh Hana.


Perlahan mata Hana yang terbuka.


Samar-samar Hana menatap kegelapan di tempatnya berada.


" Aku dimana ? pertanyaan keluar dari mulutnya.


" Hana kau sudah sadar." ucap Hisya.


Hana pun memandang Hisya dalam cahaya remang." Mbak Hisya."


" Kau berada di Trixtal Bar, Hana." Hisya memberitau Hana.


" Trixtal Bar ? ulang Hana, yang diangguki oleh Hisya.


Hana mencoba mengingat kembali kejadian, sebelum ia sampai disini. Ia ingat bahwa ada beberapa orang yang menarik kasar dirinya dan membawanya menggunakan mobil Lamborghini.


" Aku ingat mereka yang membawaku, kemari."


" Iya, mereka adalah anak buah Emrin." perjelas Hisya.


" Siapa Emrin ? Hana penasaran.


" Pemilik Trixtal Bar." jawab Hisya.


Hana baru mengetahui pemilik dari Trixtal Bar ini, namun ada hal yang membuat Hana penasaran sejak awal pertemuan dengan Hisya.


Yaitu, atas alasan apa Hisya bisa sampai kesini dan juga tergolong bagian dari wanita penghibur di Trixtal Bar.


Hana menatap Hisya, yang sedang sibuk menatap ke atas. Entah apa yang ditatap Gadis itu, padahal tak ada sesuatu pun disana.


Hana mengumpulkan sepenuhnya kesadarannya, kemudian mendekati Hisya.


" Mbak ! Hana menepuk pelan pundak Hisya.


Membuat Hisya menoleh padanya.


" Kau sudah terjebak disini." ucap Hisya.


Hana mengangguk." Iya, mbak." jawabnya.


Hisya pun tersenyum masam mendengar jawaban Hana. Bisa-bisanya gadis ini santai saja ketika memasuki wilayah neraka ini.


Begitulah kira-kira benak Hisya.


" Mbak !


Saya boleh tanya sesuatu yang sensitif ? tanya Hana hati-hati.

__ADS_1


Hisya menatap Hana tajam, keningnya berkerut. Tengah menerka apa yang akan ditanyakan oleh Hana.


" Kau menanyakan hal apa ?


" Kronologis mbak bisa sampai dan menjadi bagian dari Trixtal Bar ?


Hana menatap penuh harap Hisya bersudi hati menceritakannya. Namun sayang, Hisya mala justru melemparkan tatapan tajamnya.


Hana tak lagi berkata sepatah pun, ia justru menunduk tak lagi menatap Hisya.


Beberapa menit keheningan menemani mereka, keduanya diam bersama pikirannya masing-masing.


Selang beberapa menit, tiba-tiba saja.


Tatapan tajam itu berubah menjadi sendu.


" Aku sampai disini, bermula dari enam tahun lalu, tepatnya aku masih duduk di bangku tsanawiyah." ucap Hisya.


Hana mengangkat kepalanya, menatap Hisya intens. Hana tak percaya bahwa Hisya akan membuka suara.


" Enam tahun lalu, ada yang menjatuhkan fitnah pada papaku, membuat papaku kehilangan jabatan dan juga sahabatnya. Itu belum seberapa, setelah beberapa bulan kemudian keluarga kami mengalami kecelakaan mobil, tidak-tidak lebih tepatnya. Ada yang menabrak mobil kami."


Mata Hisya mulai berkaca-kaca.


Tremor mulai menghinggapi tangannya, saat kenangan pahit itu, kembali menyeruak kepermukaan alam pikirnya.


" Papa, bunda dan adikku meninggal saat tragedi itu terjadi, dan hanya aku saja yang selamat. Namun, karena pamanku takut pelaku pemitnah itu kembali melukaiku. Pamanku pun melakukan manipulasi data, ia menyuruh pihak rumah sakit untuk ikut menyatakan bahwa diriku meninggal dunia. Dan pamanku membawaku ke Indonesia."


Hisya tersenyum saat mengingat perjuangan pamannya saat itu untuknya. Namun semuanya sirna saat sosok Tiza terbayang di ingatannya.


Tiza, istri pamannya.


" Dua tahun setelah kejadian itu aku hidup dengan damai, merasa memiliki keluarga kembali. Namun sayang, hal itu sirna saat pamanku juga pulang ke pangkuanNya."


" Innalilahi wa innailaihi Raji'un." ucap Hana.


" Perusahaannya bangkrut.


Membuat keluarganya jatuh miskin.


Sebagai ganti budi selama dua tahun itu, bibiku memintaku untuk bekerja di Mesir.


Ya, sebagai pembantu katanya, dikeadaan yang begitu rumit dan juga sulit, tanpa pikir panjang berani ambil risiko akupun bersedia bekerja di Mesir sebagai pembantu.


Kau tau?


Sesampai di Mesir, bukannya jadi pembantu mala justru sebagai pelampiasan n*fsu.


Aku tidak tau, entah bibiku tidak mengetahui itu atau dia hanya pura-pura tidak tau."


Hisya tersenyum masam, dan sorot matanya menunjukkan bahwa ia membenci sosok yang ia ceritakan.


Netra Hisya bercucuran air mata.


Bahkan isak tangisnya mulai terdengar.


Hana ikut merasakan sakit di dadanya, saat melihat Hisya menangis di hadapannya.


Sebesar ini ternyata lukanya.


Sesesak ini ternyata dadanya.


Sekeras ini ternyata dunia menghantam tubuhnya.


Bahkan ini jauh lebih sakit dari putus cinta.


Bahkan ini jauh lebih perih dari pada putus asmara.


Nafas Hisya mulai senggugukan mengeluarkan semua isak tangisnya, tak dapat lagi menahannya.


Hana memeluk tubuh Hisya.


Erat bahkan sangat erat, ia mengelus lembut pucuk kepala Hisya untuk menyalurkan kekuatan dan kehangatan pada gadis yang tengah terombang-ambing kejamnya dunia.


"Sebejat itukah aku?


Sampai Tuhan memberikanku takdir sekejam ini? Sebrengsek itukah aku? Sampai dunia sesenang ini mempermainkanku?"


Hisya semakin terisak di pelukan Hana.


nafasnya berbentur tak beraturan. Bahunya naik turun seirama dengan isak tangisnya.


" Tuhan mengambil segalanya dariku dalam waktu yang begitu singkat. Ayahku, bundaku, adikku, kekurangaku tak tersisa satupun, Hana! Adapun Bibi yang sudah kuanggap seperti ibu sendiri, dengan mudahnya menjualku sebagai pelac*r sampai ke Moskwa demi uang!"


"Tak terhitung berapa kali para pria BRENGSEK itu menjajal tubuhku. Menyentuh tubuhku!"


Dimana Tuhan?


Kenapa Dia tidak menolongku saat para pria dajjal itu menodaiku? Dimana Dia?"


" Mbak! Tuhan menolong mbak!" imbuh Hana.


Hisya langsung melepaskan pelukannya dengan kasar dan menatap tajam Hana, seolah benci dengan perkataan Hana.


" Lewat jalur mana Dia menolongku ha?


Atas dasar apa aku harus tidak membenci-Nya? Setelah semua rasa sakit yang Dia tumpahkan padaku? Setelah semua kepahitan yang Dia warnakan dalam hidupku aku harus berterimakasih pada-Nya?"


Hisya berteriak histeris dan mencengkram erat bahu Hana. Membuat Hana tersentak kaget dengan hal itu.


" Mbak !


Mungkin bukan sekarang mbak menyadari pertolongan Tuhan, tapi suatu saat mbak aakn menyadarinya bahwa Tuhan selalu bersama mbak." ucap Hana mencoba menenangkan Hisya.


Namun sayang, bukannya menerima dengan baik perkataan Hana. Justru Hisya mendorong keras tubuh Hana.


" Lebih baik kau diam !


Jika kau tidak pernah merasakan sakit yang kualami ! cetusnya dan berlalu meninggalkan Hana.


Hana menatap punggung gadis yang baru saja menangis sejadi-jadinya di hadapannya itu.


" Ya Allah..


Jangan sampai kebencian dihatinya, membuatnya akan jauh dariMu."


Hana menatap gadis lainnya yang juga berada disana. Mereka hanya diam tanpa merespon sedikitpun apa yang terjadi dihadapan mereka.


Bersambung...

__ADS_1


Sevimli 7 September 2021


__ADS_2