
" Percayalah seiring bergulirnya waktu kamu akan belajar dengan keadaan untuk menerima kenyataan."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Setelah selesai makan, mereka pun kembali ke Rumah.
" Sebaiknya kita naik angkot aja deh, soalnya kan kaki Arga lagi sakit." Saran Hana.
" Iya bener.
Yaudah ayok kita ke depan nungguin angkot." Sahut Ranti.
Arga yang merasa kakinya tidak terlalu sakitpun membuka suara." Hm, gua Argasyah lah.
Luka kecil kek beginian. Gak berasa sama gua."
Ucapnya dengan aksen sok gaulnya.
Hana dan Ranti mengangkat sebelah mulutnya.
" Dasar sombong !! Upat mereka serentak.
Sementara Rahmet dan Arga hanya tertawa mendengarnya.
" Dahlah,cepat kita pergi kesana.
Cepat pula kita dapat angkot." Ujar Hana yang tak ingin memperpanjang perdebatan.
Mereka semua pun akhirnya melangkah ke depan, lebih tepatnya di penungguan angkot.
Pikiran Arga masih saja di sibukkan dengan gadis yang mirip Jihan yang ia temui di Caffe tadi.
" Bang kok ngelamun ?
Atau kaki abang masih sakit ?
Tanya Rahmet yang melihat Arga.
Membuat Arga tersadar." Ah, gak kok, abang gak ngelamun. Kaki abang juga cuma pegel dikit doang."
Rahmet pun hanya tersenyum mengangguk.
" Kalau sakit bilang aja bang.
Biar Rahmet bantu papah." Tawar Rahmet.
Arga tersenyum." Hehe, iya entar kalau abang perlu bantuan Rahmet. Abang bakalan ngomong."
Arga masih saya kepikiran dengan gadis itu.
" Kenapa aku yakin kalau gadis tadi adalah Jihan ya ?
Hatiku juga nyuruh buat terus nyari gadis itu.
Sebenarnya ini perasaan apa sih ? Batin Arga gelisah.
Menggengam jari-jarinya dengan erat.
Ia beranjak dari duduknya." Aku gak bisa kayak gini. Aku harus cari dia, sampai benar-benar aku ngelihat dia itu Jihan atau bukan." Ujar Arga pelan namun, masih bisa di dengar Hana, Ranti dan Rahmet.
Mereka semua menoleh.
Melihat Arga melangkah dari tempatnya.
" Ga, elo mau kemana ? Tanya Ranti.
" Iya Ga, kaki kamukan masih sakit." Sambung Hana yang khawatir dengan Arga.
Arga memutar badannya menghadap mereka.
" Gua mau cari Jihan." Jawabnya mengundang kebingungan mereka.
Ranti mendekati Arga." Elo gak lagi sakitkan, Ga ? Atau lagi stres ? Tanya Ranti.
Arga menggeleng." Gak." Jawabnya singkat.
Hana memandang wajah Arga yang terlihat tengah memikirkan sesuatu.
" Hm, kamu lagi rindu Jihan ya ? Tanya Hana.
Rahmet yang tidak tau siapa Jihan, hanya terdiam dan mendengarkan saja.
" Elo udah gila kali ya, Ga !! Jihan itu udah tenang di sisi Allah. Jangan aneh deh Lo." Sargah Ranti yang tak habis pikir dengan Arga.
Arga tersenyum angkuh." Gua gak gila !! Gua emang benar-benar lihat Jihan tadi di Caffe."
Hana yang melihat sorot Anugrah yang tampak tidak berbohong ikut terhenyu." Segitu belum ikhlasnya kamu melepas Jihan, Ga."
Ranti menghela nafasnya." Haahh...Kan makin naik derajat kegilaan elo haha." Ledeknya dengan tawanya.
Arga hanya terdiam dan tersenyum dikatai gila oleh Ranti. Yang ada dalam benaknya hanya ingin memastikan gadis itu Jihan atau tidak.
" Terserah Lo !! Percaya atau gak.
Gua mau cari Jihan." Ucapnya melangkah pergi meninggalkan mereka.
Ranti menggeleng kepalanya.
Mulai merasa emosi dengan Arga, yang memang belum sepenuhnya bisa melepaskan kepergian Jihan.
" Yaudah pergi Lo sana !! Cari aja sampe ketemu. Ke ujung dunia sekalian Lo cari !! Dasar keras kepala." Ketus Ranti.
Sementara Hana mala menyusul Arga, karena khawatir, membiarkan Arga sendirian di kondisi kakinya yang sedikit sakit.
" Han.
Hana gak usah susul dia." Ranti menarik lengan Hana berusaha menghentikan Hana.
" Kasihan Arga Ran, kakinya masih sakit.
Gak seharusnya dia gak boleh sendirian, ditambah lagi dia gak tau daerah di sini Ran."
Ucap Hana sembari melepaskan tangan Ranti dari lengannya.
Rahmet yang melihat Hana menyusul Arga, juga memutuskan untuk ikut mengejarnya.
" Kak, Rahmet ikut sama kak Hana ya.
Rahmet gak kenal kak Jihan itu siapa.
Tapi menurut Rahmet apa yang dikatakan kak Hana itu benar. Gak seharusnya kita ninggalin bang Arga sendirian." Kata Rahmet berlari mengejar Hana dan Arga.
Ranti pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah." Haaa, terserahlah." Dengan mengalah akhirnya Ranti juga ikut bersama mereka.
Di depan sana, Hana dan Rahmet terus mengejar Arga.
" Arga !! Kamu mau kemana Ga ? Teriak Hana.
Arga yang di teriakin menoleh kearahnya.
" Gak usah ikutin aku Han !! Kalian balik aja Luan."
Hana menggeleng." Kaki kamu masih sakit.
Dan kamu gak tau daerah di sini."
" Iya bang, kalau abang emang nyari seseorang. Biar kita bantu cari bang." Sambung Rahmet.
Mereka selayaknya, para atlit yang sedang lomba lari di atas lapangan.
Saling beradu kecepatan satu sama lain.
Arga tetap tak berhenti, ia terus berlari meski dengan lututnya yang terluka. Ia masih bisa.
" Ga, tolong ya dengerin aku kali ini.
Kamu berhenti ya, kaki kamu lagi sakit, coba kamu beristighfar sejenak, jernihkan pikiran kamu. Coba filter lagi yang kamu lakuin ini benar atau salah, Ga..
Mengikhlaskan rasanya memang sulit.
Namun, tak ada yang salahkan mencobanya ?
Semuanya titipan dari Allah, Ga.
__ADS_1
Termasuk nyawa ada saatnya masa sewanya di dunia habis,Ga. Dan sekuat apapun kita, sekeras apapun kita menolak perpisahan yang Allah takdirkan. Percuma !! Gak akan ngerubah apapun." Ucap Hana dengan senyumnya.
" Belajar dari bab melepaskan dan mengikhlaskan, Ga." Lanjut Hana.
Perkataan Hana berhasil membuat langkah Arga terhenti. Dan membuat tubuh Arga berbalik ke arahnya.
"Apa aku belum sepenuhnya bisa mengikhlaskan Jihan ? Timbul tanya dalam benak Arga.
Dengan luluh, akhirnya Arga menghampiri Hana dan Rahmet.
" Hm, aku sepertinya belum bisa sepenuhnya melepaskan dan mengikhlaskan kepergian Jihan." Jujurnya pada mereka bertiga.
Membuat Hana tersenyum simpul.
Begitu juga Ranti hanya tersenyum sungging.
" Insya Allah, seiring dengan bergulirnya waktu kamu akan belajar dengan keadaan untuk menerima kenyataan." Kata Hana dengan hangat padanya.
Detik selanjutnya, Hana melangkah pergi terlebih dahulu dari mereka.
Rahmet yang melihat kakaknya tampak tidak baik-baik saja, memilih untuk menyusulnya.
" Kak Hana, tunggu." Teriak Rahmet.
Tinggal mereka berdua.
Ya, Ranti dan Arga.
Ranti gak habis pikir dengan pria di hadapannya ini. Yang masih belum bisa melupakan Jihan, namun katanya sudah jatuh hati pada Hana.
Ranti menatap tajam Arga.
" Mau elo apa sih ha ? Sentak Ranti.
Arga terdiam.
Tak tau harus menjawab apa.
" Elo sebenarnya suka sama Hana gak sih ?
Atau cuma pura-pura, biar Lo bisa jadiin Hana cuma jadi bahan pelampiasan elo karena udah gak ada Jihan disamping Lo ha !! Bentak Ranti yang emosinya mulai meledup.
Arga tersentak dengan bentakan Ranti.
Jujur saja tak ada sedikitpun niat Arga menjadikan Hana, sebagai pelampiasan atas dirinya kehilangan Jihan.
Ia juga tak tau, entah kenapa setiap kali ada hal yang terkait dengan Jihan.
Perasaannya kembali tertarik padanya.
Arga menggeleng, ingin bersuara.
Tapi, entah kenapa lidahnya saat ini keluh untuk berucap.
" Kenapa Lo diam ha ?
Benarkan yang gua omongin ?
Bentak Ranti lagi.
Arga masih terdiam di tempat.
Meramas ujung bajunya dengan cengkraman tangannya.
" Elo udah lupa kejadian di Penang hill ?
Gara-gara Lo sibuk ngorek masalah tiga tahun lalu yang terkait sama Jihan.
Nyawa Hana diujung tanduk tau gak !!
Elo mau kejadian itu terulang lagi baik itu ke Hana atau ke orang lain ha ?
" Secinta itu elo sama Jihan ? Sampai tingkat kesadaran Lo itu anjlok gini ha ?
Semua yang tertahan di hati Ranti akhirnya keluar juga.
" Gua udah percaya bahwa lo orang yang tepat untuk Hana, tapi ini semua makna dari kepercayaan gua ke Lo ha ?
" Mulai dari detik ini, gua gak bakal izinin dan gak akan biarin Hana buat jatuh hati sama Lo !!
Biarin aja perasaan Hana tetap utuh ke Anugrah.
Meski Anugrah bukan pria muslim, setidaknya cinta dia ke Hana gak pernah labil kayak Lo !!
Ketus Ranti dan berlalu meninggalkan Arga.
Arga yang di teriakin dan di upat habis-habisan hanya bisa terdiam membisu.
Arga pun bingung, entah angin apa yang datang mendekat padanya.
Sehingga dia seperti ini.
" Sebenarnya gua kenapa sih ?
Kalau gua belum bisa ngelupain Jihan seutuhnya ?
Kalau gua gak cinta sama Hana, kenapa hati gua sakit kalau lihat Hana murung ?
Kenapa dada gua sesak kalau Hana selalu bahas Anugrah, dekat sama Anugrah ?
Gua emang pecundang !! Gua gak bisa ngeikhlasin Jihan, dan gua juga gak mau kehilangan Hana.
Sebenarnya mau Lo apa Arga brengsek !! Upatnya pada dirinya sendiri.
Arga mendudukkan dirinya di trotoar jalan.
Menatap kepergian Hana, Rayhan, dan Ranti.
Cengkraman tangannya begitu erat, seakan-akan ingin membogem seseorang.
Bukhh... Arga memukul lantai trotoar dengan tangannya.
" Ya Allah, perasaan apa ini ? Teriaknya.
" Jihan ! Kenapa aku yakin kalau gadis itu kamu ? Kenapa Han ? Apa kamu gak ngizinin aku menggeser posisi kamu di hatiku ?
Han ku mohon jika kamu memang belum pergi dari dunia ini berikan aku tanda-tanda keberadaanmu, agar aku bisa mencarimu." Ucap Arga memohon harap.
" Maaf Han, aku juga gak tau mengenai perasaanku ke kamu. Entah ini memang benar cinta atau cuma rasa yang datang cuma karena aku kesepian telah kehilangan Jihan." Ucapnya dengan lirih.
Cukup lama Arga berdiam diri dilantai trotoar.
Tak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang, dan menatapnya dengan keheranan.
Ya, seperti pemuda yang putus cinta.
Itulah kondisi Arga saat ini.
Entah kenapa memori lama tentang Jihan yang sudah hampir saja bisa ia lupakan dan sekaligus ikhlaskan.
Detik ini kembali menghigapinya, hanya karena melihat sosok gadis mirip Jihan melintas di hadapannya.
Arga menangkup wajahnya dengan kedua sikunya yang telah bertopangan di atas pahanya.
Sesekali ia mengacak rambutnya yang rapi.
" Dek, dek permisi lantainya mau di bersihin." Ujar petugas kebersihan tiba-tiba pada Arga.
Argapun menoleh dan beranjak dari duduknya.
" Ah, iya maaf ya pak." Ucapnya seraya pergi dari trotoar itu.
Arga berjalan dengan langkah kecilnya.
Tak tau harus kemana.
Tak berniat pulang ke rumah Hana.
Sebab, ia tak tahan melihat wajah sosok gadis yang baru saja ia sakiti.
Arga pun memutuskan untuk terus berjalan, sampai mana kakinya akan bertahan.
Berjalan ditepian trotoar jalan.
__ADS_1
Memasukkan kedua tangannya di saku celana trainingnya.
Dengan mata berkaca-kaca, dan nafasnya sesekali ia hembuskan.
Rambut acak-acakan, tak rapi seperti sediakala.
.
.
Sudah hampir dua jam Arga berjalan dengan kakinya yang luka.
Ia sampai di sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari daerah Hana.
Karena kakinya semakin lelah.
Arga memutuskan beristirahat di sebuah Masjid. Sekaligus akan melaksanakan sholat dzuhur disini.
Karena sesaat lagi waktu dzuhur masuk.
" Sepuluh menit lagi adzan.
Sebaiknya aku ke Masjid itu aja." Katanya yang melirik jam yang melingkar di tangannya.
Arga melangkah menuju masjid itu.
Dan bergegas mengambil wudhu untuk sedikit menenangkan dirinya.
Setelah itu Arga melakukan sholat sunnah tahiyatul masjid.
Tenang.
Itulah yang Arga rasakan saat ini.
Ia terus menderuhkan asma Allah.
Seketika kesejukan dan ketenangan menghampiri Arga.
Benar memang.
Hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
Seusai berdzikir Arga berdoa dalam hatinya.
Agar senantiasa segera bisa keluar dari kondisi yang membuatnya terpenjara dalam perasaanya sendiri.
Hanya Allah yang Maha membolak-balikkan hati manusia.
Sesuai Arga selesai dengan ibadahnya. Keputusan Arga masih sama, tak berniat pulang ke rumah Hana.
Ia terus melangkah semakin bertolak belakang dengan arah pulang.
Ia rasanya sangat tak pantas untuk pulang ke rumah gadis yang tanpa dia sadari, sudah ia sakiti.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima.
Sosok Arga tak kunjung sampai di rumah Hana.
Membuat semuanya khawatir, terutama Hana.
" Hm, Arga kemana ya ?
" Udah gak usah mikirin dia Han.
Buang-buang waktu aja." Ketus Ranti.
" Ran, kamu kok ngomong gitu.
Arga gak tau daerah sini, kalau dia tersesat ? Mana kakinya sakit lagi." Sergah Hana pada Ranti.
" Yaudah, biar Rahmet yang nyari bang Arga kak." Ujar Rahmet.
" Gak usah.
Biar kakak yang nyari, pakai kereta." Tolak Hana.
Melangkah meraih keretanya.
Tiba-tiba ada tangan yang menghalangi Hana.
" Han, gak usah pergi nyariin dia." Tegas Ranti.
" Ran, kamu kenapa sih ?
Bentar deh, tadi sepeninggalan aku dan Rahmet, kamu ngomong apa ke Arga ?
" Aku ngomong sesuatu hal yang pantas di dapetin pecundang kayak dia." Jawab Ranti tanpa takut.
Hana menghempaskan tangan Ranti.
" Kamu kok jadi gini sih Ran ? Hana meraih kedua lengan Ranti.
" Karena gua gak mau Lo tersikitin Han.
Gua gak mau Lo jatuh hati sama dia yang bahkan belum bisa move on dari Jihan.
Gua gak mau Lo dekat sama cowok yang punya perasaan labil dan gak konsisten kayak dia Han. Gua gak mau lihat air mata Lo jatuh Han..
Lo nangisi Anugrah yang gak nyakitin Lo aja, udah buat gua benci sama Anugrah.
Apalagi dia yang udah nyakitin Lo." Jujur Ranti dari relung hatinya.
Hana terhenyu mendengar perkataan teduh sepupunya itu.
Sesayang itukah Ranti padanya.
Hana melepaskan cengkramannya.
Dan memeluk tubuh Ranti.
" Maafin aku Ran..
Maafin aku..Hikss...Hikss..Hikss..
Kamu jangan khawatir ya, aku gak bakal mudah jatuh hati Ran.
Kamu percayakan, hati aku hanya akan terjatuh pada orang yang tepat.
Meski sebelumnya sudah terjatuh pada orang yang salah." Ucap Hana dengan tangis pecahnya pada Ranti.
Ranti membalas pelukannya.
Mengangguk dalam tangisannya.
Rahmet yang melihat mereka berdua ikut meneteskan air matanya.
" Hm, kalian berdua adalah kakakku yang tangguh dan kuat." Kagumnya pada mereka.
Hana dan Ranti tersenyum dibalik tangisnya.
" Kamu juga adik kami yang hebat." Ucap mereka serentak.
" Kita cari Arga sama-sama ya Ran.
Kasihan dia Ran, ini udah mau magribh." Ajak Hana.
Meski dengan berat hati akhirnya, Ranti menuruti ajakan Hana.
Dan akhirnya mereka bertiga mencari keberadaan Arga.
Hana dan Ranti menggunakan kereta.
Sementara Rahmet mengendarai sepedanya.
Bersambung...
Sevimli 2 Februari 2020
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa like and Votenya ya :)
Maafin Author telat Up 🙏🏻
__ADS_1