Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 99 Arga pohon pisang


__ADS_3

" Bagaimana bisa kamu merasa kerdil dihadapan sesama manusia ?


Padahal status kalian sama-sama hamba dihadapanNya ?


....... " Pelangi Hanani 🌹"......


Detik demi detik bertukar menit.


Menit demi menit berganti jam.


Berbulan-bulan waktu yang ditempuh, akhirnya sosok Argasyah berangsur-angsur pulih.


Hari ini menjadi hari mereka melaksanakan ujian akhir sekolah.


Ya, ujian yang menentukan kemana kah mereka akan melanjutkan perjalanan pendidikannya, ke jenjang lebih serius lagi.


Tett.... bel pulang berbunyi.


Menandakan bahwa waktu ujian telah berakhir.


" Baik anak-anak.


Masa ujian dah habis.


In now, silahkan kumpulkan lembar jawaban korang." Ujar Pengawas ujian.


Siswa-siswi kelas dua belas, mengumpulkan lembar jawabannya, secara teratur sesuai giliran.


Seusai lembar jawaban terkumpul, sang pengawaspun pergi meninggalkan kelas.


Berakhirnya ujian, berakhir pulalah masa Aliyah Hana.


Ya, ini hari ujian terakhir mereka.


Setelah melewati masa Aliyah mereka akan menempuh pendidikan tinggi baik itu negri atau swasta.


Tak terasa, sudah tiga tahun Hana tinggal di negri orang. Sekolah di negri orang bahkan juga ikut berjuang di negri orang.


Ada banyak suka duka yang ia jalani selama tiga tahun yang bermakna ini. Bertemu Arga, sosok pemuda dingin dan ketus, yang berhasil ia hangatkan.


Melewati rintangan yang begitu menantang.


Perjuangan yang begitu keras, hampir kehilangan nyawa sudah tiga kali Hana alami. Pertama terjatuh di jurang saat perkemahan, dan harus dirawat di Island Hospital selama satu bulan lebih. Kedua terjebak di Gost Hill, Penang oleh Vachry dan anak buahnya.


Dan yang terakhir berjuang mencari bukti-bukti di Trixie House tempat wilayah kekuasaan Haiko Rakses.


Ya, sosok pemuda dingin yang berani memaksa Hana untuk terjebak dalam dua pilihan, yang mana kedua pilihan itu sama-sama akan menyakiti Hana.


Hampir saja, Hana akan mengorbankan kebahagiaan dirinya dengan menikahi Haiko untuk mendapatkan bukti-buktinya.


Akan tetapi, beruntung kejadian di ruang Sidang dapat membuka mata hati Haiko.


Sehingga dia ikhlas untuk melepas Hana, meski itu sangat sulit baginya.


Kesedihan pun melanda dirinya.


Takkala sosok Argasyah terbaring tak sadarkan diri di ranjang pasien, selama kurang lebih empat bulan.


Dan baru bisa sembuh total sekitar satu bulan yang lalu.


Benar yang dikatakan orang-orang.


Bahwa masa Aliyah/ SMA adalah masa yang paling indah dan istimewa.


Hana tersenyum, mengingat betapa Maha besarnya Allah, yang telah mengizinkannya tumbuh menjadi perempuan yang tangguh.


Ya, kesedihan kini tengah meliputi hatinya.


Tiga tahun yang dilaluinya di negri orang akan menjadi sebuah kenangan yang tersimpan rapi di amigdala.


Ya, usai sudah perjuangan Hana.


Ini saatnya ia kembali ke tanah kelahirannya, Indonesia.


Siapa sih yang gak sedih ?


Ninggalin orang-orang yang kita sayangi.


Itulah yang tengah dirasakan Hana.


Berpisah dengan orang-orang yang berada di Istana, mungkin adalah hal yang paling menyakinkan baginya.


" Woy Han !! Panggil Ranti, membuat Hana tersadar.


" Apa sih !! Teriak-teriak.


Kampung banget."


" Soalnya bikin otak aku ngeleg tau gak, Han." Keluh Ranti pada Hana.


Mengundang senyuman di wajah Hana.


" Dasar !! Hana sudah hapal dengan sepupunya yang satu ini. Selalu saja mengeluhkan hal-hal kecil.


Keduanya saling tersenyum manis dan melangkah bergandengan tangan.


" Mau balik langsung ? Tanya seorang pria yang sejak tadi memperhatikan mereka.


Kompak Hana dan Ranti menoleh.


" Arga."


Ya, pria yang beberapa bulan lalu terbaring sakit di rumah sakit. Akibat luka tusuk pada perutnya, membuatnya menghabiskan banyak darah terbuang sia-sia.


Masih terdiam mematung, mereka tak kunjung memberikan jawabannya.


Aiss..


" Kalian mau sampai kapan berdiam diri disitu ?


Sampai Dajjal datang ?


Ucapan Arga membuat Hana dan Ranti melotot sempurna.


" Dasar pohon pisang !! Teriak Hana dan Ranti serempak.


Arga hanya terkekeh kecil mendengar julukan yang ia dapatkan. Ya, benar saja Arga memang pohon pisang.


Cuma punya jantung tapi gak punya hati wkwk.


" Jangan bawa serius ah." Ujarnya sembari mengangkat fix tangannya.


" Hm mentang-mentang udah sembuh terus aja ngeledek orang." Cibir Ranti.


Yang mengundang gelak tawa Arga.


" Hahaha...


Iyaiya maaf deh."


" Udah-udah.


Ayu buruan balik, udah mau ashar ni." Ujar Hana yang melihat jam di ponselnya.


" Eh iya Han bener.


Yaudah skuy balik." Sahut Ranti.


Akhirnya mereka bertiga pun kembali.


Arga mengendarai motor sportnya, sementara Hana dan Ranti tidak lagi bersama Izaz.


Sebab, Izaz sudah tidak lagi bersekolah.


Melainkan Izaz sudah menyelesaikan masa sekolah nya dan sekarang ia tengah berjuang di Universitas Berjaya Collage, Kuala lumpur.


Sementara Kasih, pasca kejadian di persidangan itu. Pertunangan dirinya dengan Izaz putus, dan dirinya memutuskan untuk meninggalkan Istana, ikut dengan budenya yang berada di Bandung, Indonesia.


Vachry dimana ?


Dihukum mati ?


Ya, awalnya hukuman itu yang akan ia dapati.


Namun, Hana meminta pada Nazhanul untuk memberi hukuman yang bisa membuat Vachry lebih mendekat pada sang Kholiq.


Sebab, Hana yakin bahwa sebenarnya Vachry berhati baik, hanya saja kebencian yang ia miliki membuat mata hatinya tertutup. Nah, itulah yang seharusnya dimusnahkan dari diri Vachry.


Insya Allah, Hana yakin dengan memasukkan Vachry ke persulukan adalah jalan terbaiknya.


Pasca dari tempat itu, pasti dengan sendirinya nanti Vachry akan menawarkan diri untuk dihukum mati.


Memang kejam.


Semua perbuatannya sangat kejam.


Menghilangkan empat nyawa dalam satu waktu. Membuat perpecahan antar umat berwilayah. Membuat seorang anak dibenci oleh ayahnya. Membuat Hana sendiri hampir kehilangan nyawa.


Arga juga hampir kehilangan nyawa oleh Vachry. Membuat persahabatan antara Nazhanul dengan Robert terputus dan bahkan mereka saling membenci. Hm, masih banyak lagi kedzaliman yang Vachry lakukan.


Sudah sepantasnya ia di hukum mati, bukan ?


Benar saja. Namun, Nazhanul juga berpikir.

__ADS_1


Meski Vachry melakukan sedemikian rupa, Vachry juga pernah berjasa padanya dan juga negaranya.


Dengan begitu, Nazhanul ingin Vachry bertaubat terlebih dahulu baru ia akan dijatuhkan hukuman mati.


...🍂🍂🍂...


Selesai makan malam.


Hana memutuskan untuk pergi ke taman.


Menikmati keindahan langit malam hari.


Hana menyandarkan tubuhnya di bangku taman.


Dengan senyuman manisnya, netra itu memandang tak jemuh ke arah langit yang sedang dipenuhi dengan bintang.


Sepoian angin yang menyelusuk ke tubuh Hana. Membuatnya sedikit kedinginan.


Hana menyilangkan kedua tangannya, seraya mengusap-usap lembut kedua lengannya, untuk menyalurkan kehangatan.


Huhhhh.... Hana menghembuskan nafasnya lega.


"Dingin ya?"Ucap seorang tiba-tiba di sebelah Hana.


Hana menurunkan pandangannya, dan menatap sosok pemilik suara.


"Arga." ya, Argalah pemilik suara itu.


Hana tersenyum dan mengangguk menyetujui bahwa memang malam ini sangat dingin.


Arga pun melepaskan jaketnya, dan menyodorkannya pada Hana.


"Nih pakai."


Hana menggelengkan kepalanya.


" Gak, kamu aja yang pakai." tolak Hana sopan.


Arga pun tersenyum."Mau aku yang pakaikan kan, ya?"


Ups mulai deh si pohon pisang.


Hana menatap tajam Arga." Mulai deh genitnya." cibirnya.


"Aku hitung sampai tiga ya, kalau kamu gak mau biar aku yang pakaiin."


Hana masih terdiam, tak bergeming sama sekali. Meraih jaket Arga saja, enggan.


Apalagi memakainya.


"Satu."


"Dua."


Hana masih enggan menerimanya hanya merespon Arga dengan mata memelas.


"Tiiii---"


Arga sengaja menjeda ucapannya, seraya mendekati Hana, memangkas jarak diantara mereka.


Membuat Hana spontan terkejut.


"Ih mau ngapain ?


Jauh sana, hus hus!" usir Hana seperti mengusir anak kucing.


Ya, bukan Arga namanya kalau tidak usil pada Hana.


"come on lah baby !!


Baby ? Perkataan itu random sekali rasanya.


Mata Hana melotot sempurna mendengar perkataan Arga, membuatnya bergedik ilfiel.


" Hiyakkkss..


Baby matamu!" ucap Hana dengan ekspresi jijiknya.


Membuat Arga tertawa terbahak-bahak.


"Oh kamu mau kita buat baby, ya?"


Hm, Arga mulai ngelantur.


Membuat Hana semakin kesal dengannya.


"Ih Arga kamu kerasukan apa sih?


Semenjak kamu sembuh otak kamu kok jadi gesrek gini sih ? Mana jadi genit lagi." Hana memandang masam Arga.


"Sayang nikah yuk!" kata Arga.


Ha ? Nikah.


Benar-benar udah stres ni orang." Batin Hana.


"Nikah aja tu sama air pancur biar otak kamu gak makin ngelantur!" ketus Hana.


Bukannya tawanya mereda.


Mala justru semakin keras.


"Arga !


Kalau kamu masih gak serius.


Aku gak mau bicara sama kamu tiga tahun!" ancam Hana yang sudah berada di puncak kesalnya.


Mendengar perkataan Hana, Arga pun tersenyum lebar dan menghentikan tawanya.


"Jangan gitu dong.


Gak bicara sedetik aja sama kamu, aku bisa gila apalagi tiga tahun, gak sanggup yang."


Yang ?


Isshh.. Hana mendengus kesal.


"Arga bisa gak sih bahasanya formal jangan ngelantur kayak gitu?" teriak Hana pada Arga.


Hahaha...


Arga tertawa.


"Iyaiya.


Panggilan sayangnya, pas setelah akad ajakan?"


Akad ?


Perkataan Arga membuat degupan kencang di dada Hana. Bahkan refleks rona merah merekah di wajahnya. Tubuh Hana seolah mematung di tempatnya.


"Hey!


Kok diam?" Hana masih terdiam.


"Oh jangan-jangan kamu lagi ngebayangin kita nikah ya ? Hayoo jujur!"


Ha ? ngebayangin.


Tidak-tidak.. Hana menggelengkan kepalanya.


"Gak kok.


Kepedean kamu!" Ketus Hana.


Tak ingin semakin jengkel, Hana pun beranjak pergi dari taman. Membuat Arga juga beranjak dari duduknya.


" Eh Han !


Mau kemana ? Main tinggal aja.


" Mau balik.


Malas ngobrol sama orang gila kayak kamu."


"Aku kan gila karena cinta sama kamu." Sahut Arga.


Meski ucapan itu membuat Hana senang.


Namun untuk menjaga imagenya, Hana menampilkan wajah kesalnya.


"Masih belum selesai bercandanya ?"


"Hehe iyaiya.


Udah ah ngambeknya!


Aku mau ngobrol serius sama kamu, duduk lagi!" bujuk Arga.


Hana pun kembali duduk di bangku taman.


Begitu juga dengan Arga, duduk di samping Hana. Etss, dengan jarak yang cukup jauh ya.

__ADS_1


" Hm, lulus Aliyah mau lanjut kemana ?" tanya Arga.


"Balik ke Indonesia, Ga.


Gak lanjut kuliah deh, mau kerja aja bantuin ekonomi bapak sama ibu." jawab Hana jujur.


"Gak kepikiran buat kuliah?" tanya Arga.


Hana tersenyum masam, menatap danau di hadapan mereka.


"Kemiskinanku tak mampu mengantarkanku ke jenjang itu, Ga."


Hana tau diri akan kondisi orang tuanya.


Meski ia pintar, ia takkan memaksakan keinginannya untuk kuliah. Karena kuliah membutuhkan banyak biaya. Mau dapat biaya dari mana coba? Makan aja lepas sehari, sudah syukur.


" Miskin bukan suatu alasan untuk berhenti berjuang, Han.Tekad yang kuat menjadi kunci utamanya. Banyak kok, manusia-manusia hebat yang berasal dari keluarga yang ekonominya minim." bantah Arga.


Pandangan Hana tertuju pada air pancur yang tak jauh dari mereka.


"Hanya orang-orang yang merasakan dan melewatilah yang mampu berkata, Ga."


Arga menatap Hana.


Terlihat begitu jelas, air mata sudah terbendung dinetra coklat punya Hana.


"Kamu merasa kerdil dihadapan manusia, hanya karena sebuah kasta harta?" tanya Arga.


Hana tersenyum dan mengangguk menyetujui perkataan Arga.


"Ya, manusia miskin seperti kami memang akan tampak kerdil dihadapan manusia kaya seperti kalian."


Arga terkekeh kecil, menggeleng pelan kepalanya.


"Han, Han."


"Benarkan?"


"Bagaimana bisa kamu merasa kerdil di hadapan sesama manusia ? Padahal status kita sama-sama hamba di hadapan-Nya ?


Jleb...


Ucapan Arga, seperti tamparan untuk Hana.


Hana memandang Arga yang juga menatapnya.


Seketika mata Hana terpejam, dan ya, air mata yang terbendung sejak tadi pun tertumpah ruah.


" Jangan merasa kecil dihadapan sesama manusia Han, gak boleh ya." Ujar Arga.


Hana mengangguk dengan linangan air mata.


Benar perkataan Arga.


Untuk apa kita merasa kecil dihadapan mereka kaum kasta brahma. Padahal hal yang membedakan kita dihadapanNya adalah tingkat ketaqwaan kita.


Terkadang pola minsed kitalah yang membuat diri kita sendiri insecure.


Soal harta memanglah sudah menjadi hal yang kerap kali menjadi topik utama di kehidupan.


Tapi bukan berarti, menjadi sebuah hal yang utama untuk kehidupan kita.


Karena masih banyak hal yang tak bisa dibeli dengan harga, salah satunya adalah iman.


Sebanyak apapun harta mu iman takkan mampu engkau beli.


Karena iman akan datang dan semakin meningkat ketika kita terus mengisinya dengan selalu menjalankan perintah Allah.


Melihat Hana sudah berhenti menangis dan sedikit tenang. Arga pun tersenyum seraya menyodorkan sebungkus coklat.


" Coklat." Ujarnya.


Hana tertawa kecil.


Arga tidak pernah lupa bahwa coklat adalah makanan favorit Hana.


" Jangan bilang ini sogokan buat kita baikan ?


Arga tersenyum mendengarnya.


" Gaklah, buat mahar ngelamar kamu."


" Ih tuh kan ngelantur lagi.


Males ah." Celetuk Hana.


" Haha iyaiya.


Gak bahas itu lagi, fix ini yang terakhir.


Di ambil dong coklatnya."


Hana pun tersenyum, dan meraih coklat pemberian Arga." Makasih, Ga."


" Iya sama-sama."


Hana pun membuka bungkus coklat itu, dan memotongnya kemudian memberikannya pada Arga.


" Mau ? Arga menggeleng.


" Harus mau titik gak pake penolakan." Tekan Hana dan meletakkan potongan coklat itu di pangkuan Arga.


Dengan terpaksa Arga pun memakannya.


Melihat Hana yang melahap coklat dengan cepat begitu. Membuat Arga tersenyum.


" Suka banget ya sama coklat ?


Hana mengangguk." Banget hehe."


" Yaudah entar aku beli sama pabriknya sekalian."


" Sok banyak duit." cibir Hana.


" Kamu lupa kalau aku ini anak sultan."


Sedep..


Arga di pohon pisang pun mengpede statusnya di hadapan Hana.


Hana menepuk pelan keningnya." Ah iya aku lupa bahwa teman ku ini adalah putra raja yang paling baik hati hehe."


Keduanya saling tertawa satu sama lain.


Pandangan Hana tertuju pada langit malam, sementara Arga tertuju pada Hana.


Yang sedari tadi tak hentinya mengunyah coklat pemberiannya.


" Jadi mau lanjut ke Al Azhar, Mesir ? tanya Arga tiba-tiba teringat dengan negara yang paling ingin Hana kunjungi.


Senyuman tulus Hana kini berganti menjadi senyuman simpul." Entahlah, Ga.


Biarkan Allah yang mengurusnya. Aku hanya tidak ingin berekspektasi terlalu melangit."


" Allah bakal dengerin doa-doa yang kamu rapalkan kok. Jangan nyerah gitu dong, semangat !!


Hana tersenyum dan mengangguk." Semangat hehe."


Arga ikut tersenyum.


Sedetik kemudian, Arga melirik jam yang melingkar di tangannya.


Menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


Wah, tidak terasa mereka sudah mengobrol hampir dua jam.


" Han balik yuk." Ajak Arga.


" Ah udah pukul berapa, Ga ?


" Setengah sebelas." Jawaban Arga membuat Hana terkejut.


" Masya Allah, lama banget kita ngobrolnya ternyata."


" Iya, apalagi kalau ngobrolin masa depan kita pasti bakalan berjam-jam hehe." Sahut Arga.


Sebelum mendapatkan amukan dari Hana.


Arga pun beranjak dari tempat duduknya dan berlari.


" ARGA POHON PISANG !!


ARGA GILA !! teriak Hana kesal.


Membuat prajurit terfokus padanya.


Hana pun merasa malu berteriak semalam ini.


Hana pun berlari menuju rumah Ranti.


Bersambung..


Sevimli 26 Mei 2021

__ADS_1


Salam hangat dari Author 🌹


Maaf ya lama Up nya soalnya Author lagi banyak tugas_-


__ADS_2