
Jangan lupa like and Votenya.
Mampir ke Selaksa Rasa yuk :)
Ceritanya juga gak kalah kece 🤗
" Tuhan kerap kali memberikan luka.
Untuk Ia gantikan dengan tawa setelahnya."
..... " Pelangi Hanani 🌹".....
Kamar nomor 12 menjadi kamar yang paling Hisya benci malam ini.
Seorang lelaki hidung belang, dengan amat frontal menarik tubuhnya ke kasur.
" Layani aku dengan tubuhnya yang menggoda itu sayang." ucapnya dengan penuh n*fsu.
Ingin sekali rasanya Hisya melayangkan tamparan pada wajah tidak malunya itu.
Namun, Hisya dengan bijak menahan dirinya.
Dan hanya mengembangkan senyumnya.
Pria itu mulai menyentuh leher jenjang Hisya yang putih. Dan mencoba untuk meninggalkan tanda di sana.
" Argghhh..." pekik Hiysa.
Tiba-tiba saja, merasakan sakit di perutnya.
Membuat pria hidung belang ini terpaksa menghentikan aksinya.
Ck... dia berdecak kesal.
" Kau kenapa ? tanyanya.
" Perut tiba-tiba saja sakit, tuan." jawab Hisya.
Pria itu hanya merespon datar jawaban Hisya.
Hisya pun permisi pergi ke Toilet padanya, karena sudah merasa tidak dapat lagi menahan sakit di bagian perutnya.
" Aku permisi bentar, ke toilet." pamit Hisya.
Dengan berat hati pria itu pun mengangguk, mau tidak mau dia harus mempersilahkan Hisya, dari pada Hisya buang kotoran di tempat tidurnya.
Dengan cepat Hisya pun berlari keluar.
Bukan menuju toilet, melainkan menuju dapur untuk mengambil sesuatu.
" Eh neng Hisya.
Ngapain disini neng ? tanya Bu Lasmi yang berada di sana.
" Eh ini bi, Hisya haus.
Mau ngambil minum, bi." jawab Hisya.
" Oh yaudah, ambil aja neng.
Bibi mau antar ini dulu ke sana." Lasmi mengangkat telunjuknya ke arah kamar bekas putra Emrin.
Kening Hisya berkerut, bingung.
" Bukannya itu kamar udah lama kosong ?
Siapa disana ? batinnya.
" Eh bi.
Bukannya kamar itu kosong ?
" Iya emang kosong neng.
Cuma tadi ada perempuan cantik, lagi terluka makanya untuk sementara dia istirahat disitu dulu, neng." jawab Lasmi apa adanya.
" Perempuan cantik ?
Tinggi, putih pakai jilbab ya, bi ? tebak Hisya.
Lasmi mengangguk membenarkan perkataan Hisya.
" Itu pasti Hana." gumam Hisya pelan.
" Yaudah neng.
Bibi kesana dulu, ya." pamit Lasmi.
" Ahiya, bi."
Lasmi pun pergi meninggalkan Hisya seorang diri di dapur.
" Hana memang gadis yang pintar." ucap Hisya menyadari bahwa ini trik Hana untuk menghindari Emrin.
Sudut bibir Hisya pun terangkat membentuk senyuman. Ia bersyukur Hana memiliki otak yang bisa digunakan disituasi darurat.
Hisya pun mengambil gelas kosong, dan menuangkan jus jeruk di sana. Kemudian ia pergi kembali ke kamar.
Ceklek....
Pria hidung belang itu sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menunggu Hisya sejak tadi.
" Kenapa kau begitu lama sayang ? tanyanya.
" Perutku sangat sakit sekali tuan.
Ini minuman untukmu tuan." Hisya menyodorkan gelas yang berisi jus jeruk pada pria itu.
" Wah kau ternyata sangat manis ya, semanis bibir sexymu itu."
Hisya hanya menatapnya penuh amarah, namun senyumnya tetap ia kembangkan.
Agar terlihat seperti biasa saja di depan pria brengsek ini.
Pria itu pun meneguk jus jeruk itu, sampai habis tanpa sisa.
" Sudah habis.
Ternyata rasanya sangat nikmat, terima kasih sayang."
" Sama-sama, tuan."
Pria hidung belang itupun mendekati Hisya, kemudian tanpa aba-aba, ia pun menggendong Hiysa dan membawanya ke atas tempat tidur.
Jantung Hisya mulai deg-degan.
Rasa takut mulai menyinggahinya, tangannya meramas keras sprei pembalut tempat tidur itu.
" Tuhan..
Jika kau memang menolongku, tolong aku untuk kali ini." Hisya bermohon dalam hatinya.
Ketika hendak mencium leher jenjang Hisya.
Tiba-tiba saja, pria ini merasakan pusing di kepalanya. Bahkan pandangannya mulai membiram.
" Argghhh..
Kenapa kepalaku tiba-tiba pusing ?
Hisya segera menjauh darinya.
Hahhhh... terdengar hembusan nafas lega dari Hisya.
Seperkian detik selanjutnya, pria itu pun terjatuh lemah, tidak sadarkan diri di tempat tidur.
" Akhirnya..
Aku berhasil." ucap Hisya, berulangkali lega.
Ini untuk kali pertamanya, ia berhasil lolos dari pria hidung belang. Senyum di bibirnya terukir begitu tulus di sana, meski ditemani dengan gemetaran.
Ya benar.
Jus jeruk yang Hisya bawa untuk pria hidung belang itu, sudah tercampur oleh obat tidur, yang ia tuangkan sewaktu di dapur.
Hisya tidak sama sekali sakit perut, ia sengaja berpura-pura sakit perut. Agar bisa menjalankan rencana yang Hana intruksikan kepadanya.
" Aku masih belum percaya akan keadilanMu."
__ADS_1
Hisya duduk di bangku meja rias.
Memandang lirih dirinya.
Ia benci akan dirinya yang kotor, ia mengusap kasar bibirnya. Saat kejadian kelam berputar di pikirannya.
" Aku benci tubuhku !
Aku jijik dengan tubuh ini !
Hisya terus-menerus mengumpati dirinya.
Ia menjambak kasar rambutnya.
" Aku wanita paling kotor di dunia ini !
Aku benci, benci !
Benci padaMu yang telah menakdirkanku seperti ini !
Hisya terduduk di lantai.
Ia memeluk lututnya yang ia tekuk.
Tangisnya pecah seketika.
Hikss.. Hiksss...
" Aku masih benci pada Mu ! lirihnya diantara isak tangisnya.
" Diantara banyaknya manusia di dunia ini.
Kenapa harus aku yang menerima takdir ini ?
Kenapa harus aku ?
Air matanya tak hentinya menetes menemani setiap kata yang terlontar dari mulutnya.
Bait tiap kalimat yang ia ucapkan, menjadi tanda bahwa terlukanya ia akan takdir yang dijalaninya.
Hisya diam, meringkuk memeluk lututnya.
Tatapannya kini kosong, namun air matanya tetap saja menghujan.
.
.
.
Sosok Lasmi baru saja keluar dari kamar yang Hana tempati. Dengan cepat Hana pun menutup rapat pintunya.
" Aku harus melakukan apa sekarang ?
Tanganku terluka, hal ini akan memperlambat gerakanku saat melawan mereka."
Hana terus menerus memikirkan bagaimana caranya. Agar ia bisa membawa pergi Hisya kabur bersamanya.
Otak Hana terus berotasi, mencari ide cemerlang akan rencana.
" Lapor ke pihak berwajib kali ya ? pikir Hana.
" Tapi, tidak mungkin kan.
Mereka tidak tau Tirxtal Bar, sebesar ini.
Hm, tapi kenapa ya mereka tidak menutup tempat maksiat ini ?
Hana merasa heran dengan pihak pemerintah Mesir. Kenapa tempat maksiat sebesar Trixtal Bar tidak di tutup. Agar tidak adanya lagi korban bejat para pria brengsek yang penuh dengan n*fsu.
" Apa istrinya tidak tau kalau kelakuan suaminya seperti ini ? Anaknya juga.
Gak mungkin kan ?
Hana lupa menanyakan hal itu pada Lasmi.
Hana berniat akan menanyakan hal itu, pada Lasmi nanti, ketika Lasmi kembali ke kamarnya.
Hana memilih untuk merebahkan tubuhnya.
Karena malam sudah terlalu larut dalam buaian. Mendorong matanya untuk terpejam, mengistirahatkan tubuh.
.
.
Membuat mata Hana yang terpejam, terbuka leluasa.
" Udah adzan ya ?
Hana pun segera turun dari tempat tidurnya.
Dan melangkah pergi menuju dapur.
Sesampai di dapur, subuh seperti ini sosok Lasmi sudah sibuk berkutak-katik di dapur.
" Bu Lasmi ! panggil Hana, Lasmi menoleh.
" Eh nak.
Mau kemana subuh-subuh gini ? tanyanya mendekati Hana.
" Saya mau salat, bu." jawab Hana.
Lasmi terperanjat kaget mendengar jawaban Hana. Baru kali ini Lasmi menemui wanita yang berada di Trixtal Bar, mau melaksanakan salat.
Melihat ekspresi wajah kaget Lasmi, Hana pun menyadarinya.
" Saya sebenarnya bukan gadis yang dibeli tuan Emrin, bu. Saya ini gadis yang mereka culik, dan yang akan mereka jadikan sebagai bagian dari Trixtal Bar." jawab Hana dengan simpulnya.
Ada raut kesedihan di wajah Hana.
Hal itu menyita perhatian Lasmi.
Ia menggenggam tangan Hana, dan mengusapnya lembut dengan jari jemarinya.
" Nak.
Ibu tau rasanya pasti sangat sakit, kan ?
Bahkan kau pasti sangat terluka.
Ibu berdoa semoga Tuhan selalu melindungimu, nak." ucapnya, seraya beralih memeluk Hana.
" Bu.
Kenapa tempat ini tidak dihancurkan oleh pihak yang berwenang, bu ?
Tempat ini tidak layak untuk berdiri, bu ?
Lihatlah betapa banyaknya wanita yang menjadi korban n*fsu para pria brengsek itu, bu ? Kenapa ?
Lasmi melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Hana yang mulai dibasahi oleh air mata.
" Nak.
Tidak semudah itu, nak ?
Kau tau para pria hidung belang itu kebanyakan berasal dari kalangan pejabat. Oleh karenanya, mereka adalah salah satu benteng tempat ini tidak dimusnahkan, nak."
Hana baru mengetahui akan hal itu.
Terkadang memang benar.
Sebagian besar pria hidung belang itu, berasal dari kalangan kelas atas. Bahkan juga pejabat dan segolongannya.
" Bu.
Apakah ada jalan keluar rahasia dari tempat ini ? tanya Hana.
Lasmi pun menganggukkan kepalanya.
" Ada nak."
" Dimana, bu ?
Lasmi pun memberitau Hana, ada sebuah pintu rahasia yang akan memudahkan seseorang untuk keluar dari Trixtal Bar. Beberapa menit Lasmi menjelaskannya sampai selesai.
" Makasih ya, bu.
__ADS_1
Kalau gitu Hana ke toilet dulu.
Mau bersih-bersih buat salat." ujarnya.
" Iya, nak."
Hana pun bergegas ke toilet.
Untuk membersihkan diri dan berwudhu untuk bisa segera melaksanakan salat subuh.
Sementara Hisya sudah berganti baju.
Dan duduk di tepian tempat tidur, menunggu pria hidung belang ini sadarkan diri.
Perlahan-lahan mata pria itu pun terbuka.
Pandangannya langsung tertuju pada gadis cantik yang duduk di sebelahnya, tersenyum lebar menyambutnya.
" Sayang.
Ini sudah pagi ? tanyanya pada Hisya.
Hisya pun mengangguk." Iya, tuan."
" Wah sepertinya malam panjang kita tadi malam begitu menghanyutkan ku, sampai-sampai aku terlelap begitu dalam."
Ia pun membelai lembut rambut Hisya.
Membuat Hisya benci akan hal itu.
Kemudian belaian itu beralih pada pipi.
Dengan cepat pria hidung belang itu pun mencium pipi Hisya.
" Makasih ya, sayang.
Sudah melayaniku dengan baik." ucapnya.
Dengan terpaksa Hisya mengembangkan senyumnya.
Pria itu pun bergegas memakai kembali pakaiannya dengan lengkap kembali.
Dan pergi meninggalkan Hisya sendirian di kamar.
Hisya segera ke kamar mandi.
Membasuh kasar ***** pipinya, yang baru saja dicium oleh pria brengsek itu.
" Aku benci ini !
Benci ! teriak Hisya seorang diri di dalam kamar mandi.
Ia menyandarkan punggungnya ke dinding.
Perlahan tubuhnya ia dudukkan di lantai kamar mandi. Kejadian-kejadian kelam dalam hidupnya, kini kembali menyeruak kepermukaan alam pikirnya.
" Tuhan !
Aku membenciMu !
Cukup lama Hisya berdiam diri di kamar mandi.
Sampai akhirnya, suara ketukan pintu menyadarkannya.
Tok..
Tok..
Hisya pun menyeka air matanya.
Dan bangkit dari duduknya.
" Sebentar." ucapnya sedikit berteriak.
Ceklek..
Pintu terbuka.
" Bi Lasmi." Lasmi yang datang, dengan sprei di tangannya.
" Iya neng.
Bibi mau bersih-bersih." katanya pada Hisya.
" Ahiya, bi.
Hisya juga mau ke dapur."
Hisya pun melangkah pergi, membiarkan Lasmi membersihkan kamar itu.
Lasmi menatap punggung Hisya yang mulai menjauh darinya. Ia tau bahwa gadis itu habis menangis, terlihat dari sisa-sisa air mata di wajahnya. Sekaligus matanya yang sembab.
" Kau gadis yang begitu malang, nak.
Semoga Tuhan segera mengakhiri penderitaanmu."
Lasmi sangat mengenal dengan baik Hisya.
Mulai dari pertama kalinya Hisya dibawa ke Trixtal Bar. Wajahnya yang begitu polos tidak tau apa-apa. Dipaksa kasar untuk melayani para pria hidung belang.
Setiap pagi, tepatnya rabu dan sabtu pagi.
Lasmi melihat Hisya pergi ke toilet penuh dengan air mata di pipinya. Lasmi tau bahwa gadis itu sangat menderita dengan semua ini.
Namun, bagaimana lagi.
Ia tidak bisa membantu lebih dari memberikan kehangatan untuk Hisya.
Karena dirinya disini juga hanyalah seorang pembantu, yang membutuhkan uang untuk menghidupi anak-anaknya.
" Maafkan ibu, neng." lirihnya.
Lasmi pun masuk ke kamar.
Dan segera membersihkan kamarnya.
Sementara Hisya ia pergi ke dapur, mengambil segelas air dan meneguknya.
" Mbak ! panggil Hana yang tiba di dapur.
Hisya menolah padanya." Thanks, Han." ucapnya.
" Untuk apa, mbak ? tanya Hana.
" Untuk rencanamu.
Aku berhasil menjalankannya tadi malam."
" Alhamdulillah, Hana ikut senang mbak."
Hisya pun tersenyum pada Hana.
Baru kali ini, Hana melihat senyum tulus itu di wajah Hisya. Tidak seperti biasanya, ya senyum hampa tanpa rasa.
Hana pun memeluk Hisya.
Tidak mendapatkan penolakan.
Justru Hisya membalasnya.
" Tuhan kerap kali memberikan luka.
Untuk Ia gantikan dengan tawa setelahnya."
Cukup lama mereka berpelukan, sampai akhirnya tepukan tangan seseorang, terpaksa melepaskan pelukan mereka.
Pukk...
Pukk..
Mereka menoleh pada sosok yang bertepuk tangan. Mereka terperanjat terkejut saat sosok tinggi tegap itu berada di hadapan mereka.
" Tuan Emrin." ucap mereka serentak.
Bersambung..
Sevimli 18 September 2021
Salam hangat dari Author 🌹
__ADS_1