
" Aku tak pernah tau kau bahkan mengalami luka yang amat mendalam, bahkan sangat minim untuk bisa di obati."
..." Pelangi Hanani 🌹"...
Siang hari ini begitu tampak cerah, mentari terpampang nyata menyinari bumi.
Tepat pukul 13 : 30 Pm waktu Malaysia.
Hana dan Ranti sudah bersiap-siap untuk keberangkatan mereka kembali ke Indonesia.
Senyum manis sedetikpun tak pernah luput dari wajah Hana.
Sebelum mereka beranjak pergi ke Bandara, mereka terlebih dahulu berpamitan pada Nazhanul dan juga Wardah.
Sebab mereka berdua tidak ikut mengantarkan Hana dan Ranti ke Bandara KUL.
" Uncle, *a*unty kite orang izin pamit nak balek kat Indonesia sepekan ni." ucap Hana sembari mencium telapak tangan Wardah.
" Kite mohon doa ya *un*cle, aunty." susul Ranti yang juga menyalam tangan Wardah.
" Iya nak, hati-hati Kat jalan ye.
Maafkan Uncle dan Aunty tak bisa antar Korang kat Bandara." Wardah menyapu kedua kepala gadis itu.
Nazhanul tersenyum." Iye nak, maafkan kami berdua ye, fiiamanillah nak." ujar Nazhanul.
" Terima kasih *a*unty, uncle assalamu'alaikum."
" Waalaikumussalam nak."
" Tuan kami berangkat dulu ye, assalamu'alaikum."
Sementara Hana melihat ke sekeliling Istana, sorot matanya sibuk mencari sosok yang ia nantikan sedari tadi.
Namun, semua nihil.
Ia tak kunjung tiba di detik keberangkatan Hana.
" Kamu kenapa, Ga ?
Apakah gak sudi aku berpamitan padamu ?
Apa kamu takkan terluka kalau nantinya kita tidak akan bertemu lagi ? " batin Hana tengah bertanya-tanya keberadaan Arga.
Ranti yang melihat Hana masih diam tak beranjak dari tempat nya langsung menariknya.
" Ayok Han !! Entar kita ketinggalan pesawat."
Perkataan Ranti membuyarkan pandangan Hana.
" Ah, iya Ran." Hana melangkah memasuki mobil.
" Semoga kita ketemu lagi, Ga." ungkapan Hana yang tertahan dalam hati..
Vikri melajukan mobilnya meninggalkan Istana. Sepanjang perjalanan ada percakapan kecil diantara mereka berempat.
Akan tetapi hari ini, Hana tak banyak bicara, hanya seperlunya saja.
" Han, kamu gak call Sanju bilang kalau kamu mau ke Indo ?
" Ah, gak Ran.
Entar aja kalau udah sampai di Bandara Kualanamu baru aku hubungin dia." Jawab Hana.
Ranti manggut-manggut mengerti dengan jawaban Hana. Perjalanan menuju Selangor kali ini cukup ramai, menyebabkan mereka sedikit terjbak macet.
Untung saja mereka lebih awal berangkatnya.
Sebab waktu mereka masih tersisa dua jam kurang lebih.
" Hm, bakal lebih dari setengah jam ini ceritanya kalau macet begini." keluh Vikri.
Hana, Ranti dan bundanya tau apa yang dimaksud dengan Vikri. Melihat kepadatan orang yang berpergian di hari Weekand.
" Gak apa-apa Paman, kita masih ada waktu dua jam lagi kok." Hana mencoba menenangkan.
" Hehe, iya Han.
Tapi, paman paling malas untuk ngantri gak jelas begini."
Hana tersenyum." Yaudah deh Paman, mobilnya jual aja."
Ranti, Vikri serta istrinya, bingung dengan jawaban Hana.
" Loh kok kamu suruh di jual Han ? tanya Ranti.
" Ya, iya mobilnya gak punya sayap buat terbang soalnya."
Jawaban Hana berhasil memecahkan tawa di antara mereka.
Ha-ha-ha...
" Kamu ini ada-ada aja Han."
" Dasar Hana debu berkelas." ledek Ranti.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di Bandara KUL, Serpong, Selangor.
Bandara KUL..
Hana memandang gedung bandara yang menjulang tinggi mencakar langit.
Ya, Bandara yang ia injak satu setengah tahun yang lalu.
Menjadi tempat di Malay yang pertama kali ia datangi. Ia kembali tak menyangka bahwa kini dirinya yang tak bergelimang harta, bisa sampai di Negri Ziran ini.
" Ayo Hana, Ranti kita masuk, sebentar lagi keberangkatan pesawat kalian." ujar bunda Ranti pada mereka.
Hana dan Ranti melangkah masuk ke dalam Bandara. Menantikan panggilan jadwal mereka di terminal keberangkatan.
Hana menyandarkan tubuhnya di sisi tembok terminal, melirik ke sekitarnya.
Berharap sosok Arga tiba-tiba datang menghampirinya.
Bahkan suara-suara yang menggema di sekitar Bandara tak terdengar sedikit di telinga Hana.
Dirinya hanya fokus melemparkan bola matanya ke setiap sudut-sudut bandara.
Sekali-kali ia melirik handphonenya, setidaknya jika ia tak berpamitan pada Arga secara langsung. Ia bisa berpamitan via telepon.
Bukan ia enggan menghubungi Arga, namun ia hanya ingin memberi Arga waktu untuk bisa hangat kembali.
" Ga, kamu kok bisa sih sekejam ini sama aku ? Aku salah apa sebenarnya ? " batin Hana.
Hana masih berdebat dengan pikirannya,
sampai akhirnya pengumuman keberangkatan ke KNO, Indonesia telah berkemundang ke sisi-sisi Ruangan.
" Ranti berangkat ya Bun, Yah." pamit Ranti pada kedua orang tuanya.
" Iya nak, fiiamanillah...
Baik-baik disana, jangan susahkan Uncle dan Auntymu disana."
Sementara Hana masih diam mematung, menunggu sosok Arga akan datang.
" Hana sekarang waktunya berangkat, Nak."
Bunda Ranti menyadarkan Hana.
" Ah, iya Bibi.
Paman, Bibi kita pamit ya, assalamu'alaikum."
Hana meraih tangan Bunda Ranti.
" Iya nak, Waalaikumussalam."
Hana dan Ranti akhirnya beranjak meninggalkan Bandara.
Pesawat yang mereka tumpangi kini melandas ke cakrawala.
Seusai melihat kepergian Anak dan keponakannya, Vikri dan istrinya memutuskan untuk kembali ke Istana.
Selama perjalanan Hana memutuskan untuk melihat pemandangan alam dari ketinggian.
Ia begitu kagum dengan keindahan sentuhan kekuasaan sang Ilahi yang tiada tandingan.
Berulangkali Hana bertasbih mensucikan Allah melalui bisikan bibirnya.
Berbeda dengan Ranti, ia memutuskan untuk memasang earphonenya, merilekskan dirinya dengan alunan musik.
____
Di tempat yang berbeda..
Tepatnya di Airport Kualanamu, sosok pemuda serta dua perempuan yang menemaninya.
Kini sibuk melangkah menuju terminal keberangkatan...
Anugrah menarik nafasnya yang mulai terasa berat..
Haruskah ia beranjak sejauh Canada ?
Haruskah ia pergi membawa semua kenangan yang bahkan tak mampu ia enyahkan dari pikirannya.
Haruskah ia pergi tanpa pamit pada seseorang yang sangat ia rindukan..
Anugrah menarik handle kopernya, menyeretnya memasuki ruangan..
" Aku ingin sekali pamit untuk terakhir kalinya padamu Han. Tapi, aku gak tau bagaimana caranya.." ucapnya lirih.
Anugrah bersandar lemah di dinding terminal keberangkatan menatap kosong lantai.
Sekitar satu jam lagi jadwal keberangkatannya.
__ADS_1
Sanju yang melihat Anugrah lemah seperti itu, sudah memahami sosok Hana pasti tengah membayang dipikiran Anugrah..
" Mau pamit sama Hana, Nug ? tanyanya yang berhasil menyadarkan Anugrah.
Anugrah tersenyum kecut, menanggapinya.
" Hubungin aja." saran Ranti, yang dijawab gelengan oleh Anugrah.
" Kenapa ?
Takut gak diangkat ? Anugrah mengangguk iya.
" Pakai nomor baru aja atau nomor aku." Sarannya pada Anugrah.
Benar saja, Anugrah tidak kepikiran untuk menghubungi Hana dengan nomor barunya.
Satu tujuan saat ini ingin mendengarkan bayang-bayangan suara Hana yang sejak lama mengusik telinganya.
___
Aywafikum minnina....
Ponsel Hana berbunyi.
Ya, Anugrah berhasil menghubunginya.
" Nomor baru ? Siapa ya ? Batin Hana.
Karena penasaran, Hanapun menggeser tombol hijau di layar handphonenya.
" Assalamu'alaikum." salam Hana.
Suara itu.
Salam itu sudah amat lama tak terdengar ke telinga Anugrah.
Meski hanya lewat via telepon, suara Hana dapat menggetarkan hati Anugrah.
Mulut Anugrah terkatup, tak sanggup untuk berkata sepatah katapun.
Seketika netra coklatnya berbinar-binar, tengah terbendung cairan bening disana.
Ia menggenggam erat handphonenya yang masih dalam panggilan. Ingin sekali ia mengucapkan kalimat pamit pada Hana, namun semuanya tertahan di tenggorokan.
Hana yang merasa sepertinya orang yang menghubunginya salah sambung, karena sedari tadi tidak menjawab Hana.
" Ini dengan siapa ya ??
Maaf, mungkin kamu salah nomor kali." ucap Hana, dan segera memutuskan panggilannya.
Tuttt. .tuttt....
Air mata Anugrah terjatuh, sejalan dengan hembusan nafasnya berat.
" Aku pamit Han." ucapnya.
Bukannya ia pengecut, tak berani berpamitan pada Hana. Melainkan ia tak ingin membuat perpisahan di antara mereka terlihat begitu menyedihkan.
Mendengarkan suara Hana saja, itu sudah lebih dari cukup baginya. Anugrah memasukkan kembali handphonenya ke sakunya.
Kembali menyandarkan tubuhnya pada tembok terminal keberangkatan..
Ia menatap setiap orang yang berlalu-lalang di Bandara. Berharap ada keajaiban yang mempertemukannya dengan gadis yang bertahta di hatinya..
" Kenapa gak ngomong sama Hana tadi ? tanya Sanju..
Anugrah menggeleng." Dia gak perlu tau."
jawabnya bertolak belakang dengan hatinya, yang sangat ingin Hana mengetahui kepergiannya.
" Hana berhak tau, Nug." bantah Sanju.
" Aku bukan siapa-siapa buatnya." tolak Anugrah.
Sanju menghela nafasnya, tak bisa sepenuhnya memahami pria di hadapannya ini.
" Setidaknya kamu pernah berlabuh di hati Hana."
Anugrah menatap Sanju yang sedang menatap ke atas Bandara..
" Benarkan ? ulang Sanju.
Anugrah tersenyum masam." Dulu, bukan sekarang."
" Hm, gak usah sok move on deh !!
Kalau nolak cewek terus-terusan." sindir Sanju.
Anugrah semakin mengembangkan senyumnya, merasa sindiran Sanju tepat sasaran.
" San, lima puluh lima menit lagi." ucapnya melirik jam dipergelangan tangannya.
Sanju mengangguk." Bentar lagi ya."
" Ah, iyaiya Nug."
Anugrah segera pergi menuju toilet untuk menuntaskan masalahnya dengan toilet.
Disisi lain, tersisa lima belas menit lagi
Hana dan Ranti akan sampai di tanah kelahiran Hana.
" Ran, lima belas menit lagi kita sampai.
Jangan sampai kamu tidur."
Dengan malas Ranti mengangguk iya.
Dan mendongakkan kepalanya menatap ke setiap sudut ruangan pesawat..
Pikiran Hana, masih diselimuti dengan nomor tak dikenal, yang tadi menghubunginya.
Entah dari mana orang itu mendapatkan nomor Hana.
" Siapa ya orang tadi ? Dapat nomorku darimana ? Atau jangan-jangan...
Ah gak mungkin deh.."
" Han, kamu mikirin apa sih kayaknya serius amat ?
Hana tersadar dengan pertanyaan Ranti.
" Ah gak, itu cuma mikir aja Arga kok gak kelihatan ya waktu kita berangkat tadi ?
Hana mengalihkan pembicaraan.
Ranti tertawa renyah..
Ha-ha-ha.
" Pantesan aja ngelamun.
Ternyata lagi mikirin Arga Kutub selatan.
Kangen ya ? goda Ranti.
Hana mengangkat sebelah mulutnya, merasa menyesal telah mengucapkan Arga dari rongga mulutnya.
" Gak ah !!
Akukan bingung aja gitu lihat dia."
" Bingung ya ?
Atau bimbang gak pamitan sama dia ? Ha-ha-ha.." Ranti memang selalu senang menggoda Hana.
" Ran, ke atap pesawat yok !! ajak Hana.
Ranti mengerut heran." Ngapain ? Mau moto gitu dari atas ?
" Gak, mau jatuhin kamu ni ke bawah !!
Biar tinggal nama doang." jawab Hana dengan tatapan tajamnya.
" Astaghfirullah, gitu amat Han jadi sepupu,
jangan pms gitu dong hehe." Ranti cengengesan.
Sibuk dengan perdebatan mereka sampai akhirnya mereka tak sadar, mereka telah mendarat di KNO, Medan.
Hingga terdengarlah pengumuman lepas landas, untuk kedua kalinya.
Barulah mereka sadar bahwa mereka sudah sampai tujuan.
" Han, kita udah sampai ternyata." Ucap Ranti.
" Iya Ran, gara-gara kamu nih makanya kita gak sadar dari tadi udah sampai." Keluh Hana.
" Lah, kok nyalahin aku." Protes Ranti tak terima di salahkan.
Kedua gadis yang berstatus sepupu itu berhasil mengundang perhatian seorang Wanita payuh bara.
" Nak, jangan berdebat di ruangan ini.
Kalian bisa menganggu ketenangan manusia-manusia yang rentan usia seperti kami." tegurnya pada Mereka.
Hana dan Ranti tertunduk malu, merasa bersalah atas tindakan mereka berdua.
" Kami minta maaf ya nek, atas ketidaksopanan kami." kata Hana menundukkan kepalanya pada wanita paruh baya itu.
Disusul oleh Ranti." Insya Allah, lain kali kami akan bersikap lebih dewasa lagi nek."
Wanita paruh baya itu tersenyum dengan sekali tegur Hana dan Ranti dapat mengakui kesalahan mereka.
" Kalian anak yang baik. Sekarang mari kita keluar." ajaknya.
__ADS_1
Hana dan Ranti mengangguk kemudian keluar dari pesawat yang sudah lepas landas dengan selamat, di KNO, Medan.
Yang hanya memakan kurang lebih satu jam perjalanan.
" Alhamdulillah, kita sampai." Hana bernafas lega.
" Iya Han, *al*hamdulillah."
Hana dan Ranti, melangkah menuju Bandara Kualanamu. Sembari menunggu bagasi barang mereka.
Hana dan Ranti memutuskan menunggu di terminal kepulangan.
Hanapun terpikir untuk memberitau Sanju bahwa dirinya sudah sampai d Indonesia dari via telepon.
" Ran, aku telpon Sanju dulu ya." ucapnya.
Ranti mengangguk iya sembari pergi mengambil barang mereka.
Hana menghubungi nomor Sanju.
I need somebody..
How love me... Handphone Sanju berdering.
Sanju merogoh tasnya untuk mengambil handphonenya yang berdering..
Seusai ia meraihnya terterahlah " Hanani Syaufa." Dilayar penuh ponselnya.
Sanju mengusap tombol hijau.
" Assalamu'alaikum Han." ucapnya.
Hana tersenyum mendengar salam dari Sanju.
" Waalaikumussalam, sahabatku, long time no see." ujarnya hangat.
" Iya Han, aku juga rindu sama kamu."
"Uuhh...Ayo tebak aku lagi dimana ? tanya Hana pada Sanju.
Sanju mengerutkan keningnya berpikir.
" Di Malay dong pastinya." jawabnya.
Hana tersenyum." Aku udah di Indo San." jawabnya sumringah.
Sanju terkejut dan sedikit kesal.
Bisa-bisanya sahabatnya itu tidak memberitaunya bahwa sahabatnya itu sudah di Indonesia.
" Hana kamu kok tega sih, gak ngabarin aku !!
" Suprise dong, Sanju." ucap Hana dengan tawa kecilnya.
Sanju senang mendengar tawa dari sahabatnya itu.
"Aku juga lagi di Bandara Kualanamu ni." sahut Sanju.
Hana semakin senang, saat Sanju mengatakan dirinya tengah berada di Kualanamu.
" Wah, ternyata kamu punya kontak batin yang kuat ya. Sampai-sampai tanpa sengaja kamu mau jemput aku di Bandara.
Makasih Sanju."
Sanju menggeleng cepat, karena bukan itu tujuannya berada disini.
" Bukan Han, aku di sini lagi ngantar Anugrah." jawabnya jujur, tak mau menutupi keberangkatan Anugrah.
Hana langsung keheranan dengan jawaban Sanju.
" Ngantar ? Emang Anugrah mau kemana ? Hana mulai menerka-nerka.
" Anugrah ?
Emang Anugrah mau kemana San ?
Kok pakai di Bandara segala ?
" Anugrah mau keluar Negri tepatnya Canada."
Jawaban Sanju berhasil membuat Hana membeliakkan matanya.
Terkejut sekaligus melemas mendengar kabar kepergian Anugrah ke Canada.
" Canaaa-daaa ?? Hana mulai gugup.
" Kenapa Anugrah pergi sejauh itu ?
Apa dia mau menghindari aku."
" Iya Han, Anugrah ke Canada buat lanjut Study di suruh ayahnya." ungkap Ranti.
Hana masih penasaran dengan kronologis kejadian Keberangkatan Anugrah.
" Kok bisa sejauh itu San ?
Bukannya Mata Uli juga sekolah Internasional."
Sanju mengatur nafasnya, menyerah dengan keadaan, ia tak ingin menutupi semuanya dari Hana.
" Kau tau Han, sejak kecil sampai besar sebenarnya Anugrah tak pernah diberi kebebasan untuk memilih segala sesuatu untuk dirinya. Ayahnya selalu saja memaksakan kehendaknya pada Anugrah. Anugrah ketahuan Han, menyimpan buku-buku Islami oleh ayahnya.
Ayahnya marah besar padanya.
Saat Anugrah mulai menjelaskan semuanya tentang keinginannya pada Ayahnya, bukannya ayahnya menerimanya atau memahaminya. Ayahnya mala justru mengirimnya ke Canada. Anugrah awalnya menolak namun, ayahnya jatuh sakit, jantungnya kumat.
Hal itulah membuat Anugrah menyerah dengan keadaan. Tak ada pilihan lain selain menuruti perintah ayahnya.
Jujur Han setelah kejadian itu aku melihat Anugrah telah kehilangan jati dirinya. Senyumnya yang selalu menghibur luka, siapapun yang melihatnya kini mulai memudar, matanya yang selalu berbinar menyejukkan pandangan saat menatapnya, kini mulai dikepung kantung mata yang besar dan hitam Han, Anugrah selalu berada dalam tertekan, Han. Ia tak punya celah sedikitpun untuk bebas memilih keinginannya."
Ucapan Sanju ditemani dengan tetes demi tetes air matanya.
Jlebb.
Hati Hana tertohok mendengar penjelasan Sanju. Jantung berdetak tak karuan.
Ada rasa nyeri yang menyelimuti hatinya.
Bulir-bulir hangat mengalir dari sudut matanya.
Ia tak menyangka Anugrah merasakan luka sedalam itu. Anugrah harus merasakan keperihan yang tiada tepinya.
Sosok Anugrah yang selalu tersenyum, tampak tak memiliki beban sama sekali.
Ternyata adalah orang yang paling banyak mengubur luka dalam dirinya sendiri..
Apa yang lebih menyakitkan daripada terkekang bahkan terkurung dalam keterpaksaan.
" Aku tak pernah tau Anugrah, ternyata lukamu cukup dalam, dan sangat sulit untuk di obati. Maafkan aku Grah."
Satu hal yang terlintas dalam benak Hana.
Ia ingin bertemu dengan Anugrah saat ini juga.
" Anugrah dimana San ? Kalian dimana ? tanyanya dengan suara puraunnya..
" Kami masih di KNO Han, di terminal keberangkatan.Tiga puluh lima menit lagi Anugrah berangkat Han."
Hana semakin terisak mendengar waktu yang singkat itu, entahlah ia tak tau akankah mereka bertemu sebelum kepergian Anugrah ke Canada.
Tanpa memutuskan panggilannya, Hana beranjak pergi menelusuri setiap sudut bandara.. Ia tak lagi menghiraukan siapapun di tempat itu.
Yang hanya ada dibenaknya ia hanya ingin bertemu dengan Anugrah..
Hana berjalan dengan cepat, mengedarkan pandangannya ke setiap orang yang berada disana. Hana tak lagi memperdulikan bagaimana dirinya saat ini.
" Anugrah." sesekali Hana memanggil namanya.
Karena terlalu fokus mencari keberadaan Anugrah, Hana sampai menabrak seorang wanita di depannya.
Bukhh..
" Maaf Buk, saya gak sengaja." dengan cepat Hana meminta maaf.
" Aduh !! Kalau jalan itu pakai mata dong." ketusnya pada Hana dan pergi meninggalkan Hana.
Hana kini terduduk di lantai bandara, tak menghiraukan kotornya lantainya.
Dengan derai air mata, pandangan Hana terus mencari sosok pemuda yang saat ini sangat ingin ia temui.
Namun, sayang tak satupun orang yang lulu lalang disana merupakan Anugrah.
Hana melirik jam di Handphonenya.
Tersisa tiga puluh menit lagi.
Hana berputus asa dalam pencariannya.
Tak tau harus mencari kemana lagi.
" Anugrah kamu dimana hiks, hiks, hiks..
Kamu jahat !!
Kenapa kamu gak pamit sama aku !!
Maafin aku telah banyak melukai hatimu." Hana menyesali semua perkataan serta perbuatannya pada Anugrah..
" Anugrah jangan pergiii." teriak Hana dengan lirih..
Bersambung...
Sevimli 1 Januari 2021
Salam hangat dari Author 🌹
__ADS_1