
Pria itu duduk di kursi taman yang berada di pojok jauh dari keramaiannya. Dia sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan rasa sakit yang dirasakannya. Ternyata rasanya masih sakit padahal dia sudah mencoba menghapus namanya. Tapi nama wanita itu sudah tertanam sangat rapih di hatinya.
Dia sudah siap dengan keadaan ini. Tapi melihat langsung ternyata tidak semudah itu. Tetap saja dia tidak bisa mengatakann kalau dirinya baik-baik saja. Tak ada air mata yang jatuh. Bukan karena tidak bersedih tapi karena tidak semestinya dia menangisi itu. Semua ini hanya kebodohannya yang masih menahan perasaan ini terlalu lama.
Bahkan saat dia sadar kalau namanya tidak akan pernah tertulis di hati wanita itu. Tapi dia terus berusaha. Berharap akan datang keajaiban padanya. Sehingga wanita itu sadar kalau dirinya sudah mencintainya sejak lama. Sayangnya hal itu hanya harapannya saja.
“meningis saja tuan, kalau sakit jangan ditahan.” Ucap seorang wanita muda yang entah sejak kapan sudah berada duduk di samping Antara. Pria itu sudah tidak memikirkan lagi siapa wanita itu. Dia menarik tubuh wanita kecil itu kedalam pelukannya. Lebih tepatnya dia yang sedang dipeluka. Antara sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Sekarang tangisannya pecah terdengar sangat pilu di pendengaran wanita itu.
“Kenapa bukan aku? Ketika aku selalu ada untuknya. Tapi harus pria lain yang menjadi perlabuhan terakhirnya.” Ucap antara dengan suara pelan dan air mata yang terus mengalir. Sedangkan wanita itu menepuk punggung pria yang tidak dia kenal namanya. Tapi dia tahu pria itu sudah menyelamatkannya sekali. Karena pria itu dia masih bisa bertahan hingga saat ini.
“Aku sudah mencintainya sejak lama. Tapi dia tidak pernah melihatku.”Ucap Antara sambil mengingat kenangannya bersama wanita yang sudah mencuri hatinya tiu. Dia selalu menjadikan wanita itu prioritas utama bahkan mengalahkan adiknya. Dia sudah berkorban banyak hal bahkan hingga kehilangan adik tercintanya untuk wanita itu. Tapi semua usahananya semua angin lalu yang hanya melukainya.
“Bukankah kamu juga bahagia saat wanita itu bahagia. Jadi lepaskan karena sejak awal kamu hanya tempat yang menjadi persinggahan.” Ucap Wanita itu yang membuat Antara melepaskan pelukannya. Dia kesal karena wanita itu malah memintanya untuk menyerah. Bukankah dia harusnya memberikan semangat. Antara menatap tajam pada wanita muda di depannya. Bukannya takut wanita itu malah tersenyum lebar seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
“aku tidak salah, kalaupun kamu memperjuangkannya. Kamu hanya mendapatkan luka yang lebih besar. Selain itu kamu juga sudah sadar kalau wanita itu tidak akan pernah menatapmu lagi bukan?”tanya wanita muda itu yang seperti panah tepat hatinya. Apa yang dikatakan wanita itu memang benar. Dia tidak mungkin menjadi seseorang penting dihati Mahlika. Meskipun dia merebut wanita itu dengan menghancurkan Oskar. Karena sejak saat itu hati wanita itu sudah jatuh pada Oskar.
Dia tidak pernah melihat Mahlika tersenyum selebar itu selain bersama adiknya. Sekarang dia sadar kalau tidak ada lagi kesempatan untuk mengejar wanitanya. Tidak ada lagi kesempatan untuk mengambil hati wanita itu.
“Kamu sangat menyebalkan.” Ucap Antara kesal pada wanita itu yang dibalas dengan tawa pelan.
“Aku tidak suka berbohong hanya untuk menghibur hati seseorang. Mungkin itu berhasil sekarang tapi kata-kata itu hanya seperti bom waktu yang akan meledak di masa depan. Bukankah kita lebih baik menerima fakta menyakitkan sekarang. Sehingga kita tidak perlu berusaha keras untuk hal yang hasilnya sebuah omong kosong.” Ucap wanita itu yang membuat Oskar terdiam.
“Bisa dibilang aku ahli, oh ya aku ke sini karena ingin mengucapkan terima kasih. Selain itu aku mengucapkan perpisahan. Karena sore ini aku akan kembali ke negaraku. Semoga kamu bisa menemukan wanita baik untuk menyembuhkan lukamu.” Ucap wanita itu sebelum meninggalkan Antara yang masih terdiam. Dia melihat kepergian wanita itu. Entah perasaan apa yang dirasakan saat ini. Dia ingin menarik tubuh lemah wanita itu. Tapi otaknya berkata lain untuk tidak menarik tangan wanita itu.
“Kamu sudah tertarik dengan wanita itu.”ucap marcello dari belakang punggu Antara. Pria itu terkejut saat melihat ada adiknya dan sahabatnya. Keduanya tersenyuman dengan wajah mengejeknya. Kenapa mereka terlihat sangat menyebalkan. Bahkan adiknya sekarang sama seperti marcello.
“kakak aku senang kalau bersama wanita itu.” Celetuk Auri yang membuat Antara terkejut. Sedangkan Marcello tertawa keras. Dia senang melihat wajah sahabatnya yang seperti ini. Tertekan hanya karena ucapan kekasihnya saja. Memang Auri selalu bisa membuat seseorang tertekan dengan perkataanya.
__ADS_1
“Apa maksudmu ?”tanya Antara pada adiknya.
“Kakak pikir sejak kapan aku dan marcello berada di sini. Bahkan aku tidak menyangka kakak secengeng itu. Bahkan bisa-bisanya memeluk badan wanita lain padahal sedang menangis mahlika. Bukankah tindakan kakak sangat kejam.” Ucap Auri dengan wajah kesal pada kakaknya. Sedangkan Antara geragapan karena tidak menduga dia terciduk oleh kedua orang itu. Apalagi tadi dia menangis di dalam peluka wanita itu dengan mudah. Rasanya dia sangat nyaman untuk menyurahkan perasaannya. Tapi dia sekarang menyesal telah melakukan itu apalagi di depan Auri dan Marcello.
“tidak usah malu. Tadi kamu sangat menikmati memeluk tubuh wanita itu. Kamu seperti pria yang suka memanfaatkan kebaikan wanita. Jahat sekali.” Ucap marcello untuk kesekian kali dia mendapatkan serangan dari kedua orang itu.
“kita sudah tahu kalau Oskar berniat melamar Mahlika. Karena itu aku melarang kakak datang kerumah sakit hari ini. Tapi kakak malah ngotot datang. Jadi milihat adegan menyayat hati kakak.”Ucap Auri pada kakaknya yang ingin sekali bersembunyi. Dia sangat malu dengan kedua orang itu.
“kakak harus menemukan wanita lain, jangan sama mahlika. Kalau kakak benar-benar menikah dengan sahabatku. Orang pertama yang berdiri di garis terdepan untuk mendukung pernikahan kakak adalah aku. Karena aku tidak ingin memiliki keponakan bodoh seperti sahabatku.” Ucap Auri yang membuat marcello dan Antara terkejut mendengarnya. Bukankah wanita itu terlalu kejam dalam menghina sahabatnya sendiri. Terlihat jelas kalau ada dendam yang belum tersalurkan pada sahabatnya.
Sedangkan Mahlika merasa telinganya sangat panas. Sepertinya ada orang yang sedang membicarakannya. Tapi entah siapa orang itu. Padahal dia sedang menikmati diner siang hari bersama tunangannya yang jauh dari kata romantis.
“Siapa yang membicarakanku? Aku harap orang itu oppa ganteng.” Gumam Mahlika dalam hati yang sekarang kembali fokus dengan makanan di depannya. Sedangkan Oskar asik menatap wajah kekasihnya yang sudah menjadi tunangannya sekarang.
__ADS_1