Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 31: Amarah Auri


__ADS_3

Auri hanya terdiam setelah Edgar mengatakan kalau dirinya adalah pacar Aur yang tak lain adalah adiknya. Dia tidak tahu merespon tentang fakta yang selama satu tahun ini dirinya cari. Alasan Auri mencari Edgar adalah untuk bertanya apa yang terjadi pada sang adik pada malam itu.


Dia masih ingat kalau malam dirinya kembali ke indonesia. Aura memiliki janji dengan pacarnya. Aura sudah mengatakan dan menceritakan pria yang sudah mencuri hatinya. Dia hanya tahu dari cerita adiknya tapi tidak pernah melihat wajahnya.


Auri berdiri dari posisi duduknya. Sekarang dia berada tepat di depan Edgar. Ada marah pada pria di depannya yang sebernarnya sudah dirinya pendam sejak kematian Aura.


Diam Auri berpikir untuk menenangkan dirinya. Tapi Auri tidak bisa. Dia sangat marah karena pria di depannya masih hidup baik-baik walaupun Aura sudah pergi. Apakah Edgar tidak mencintai adiknya.


“Bugh.” Pukulan keras mengarah pada rahang wajah Edgar.


Marcello tidak berniat membantu sahabatnya. Karena masalah ini harus diurus oleh Edgar sendiri. Dia mungkin akan lebih marah jika berada di posisi Auri. Walaupun dia tahu selama satu tahun ini sanga sahabat tidak dalam baik-baik saja.


Edgar hidup dengan topengnya yang menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Marcello sangat tahu seberapa kehilangan pria itu atas kepergian Aura. Pria itu hanya seperti boneka tanpa perasaan sebelumnya. Hanya mematuhi perintah marcello seperti robot.


Tapi perlahan-lahan  Edgar mulai bisa menerima kepergian Aura. Meskipun sesekali Edgar akan menangis saat mengingat pacarnya. Sekarang Edgar harus menerima kemarahan dari kakak kekasihnya.


“Kenapa kamu tidak melindungi Aura? “ pukulan menyerang rahang sebelah kirinya. Tubuh Edgar di tarik Auri dari posisi duduknya.


“Apakah kamu tidak mencintai adikku?” pukulan melayang pada perut Edgar.

__ADS_1


Dia tidak menyangka gadis di depannya memiliki tenga sebesar ini. Padahal Edgar tahu kalau Auri sedang dalam kondisi tidak fit. Tapi mengingat adiknya seluruh tenaganya seperti berkumpul.


Edgar sudah terbaring dengan wajah dan perut memar karena serangan Auri. Pada akhirnya marcella turun tangan untuk menghentikan aksi gadis kecilnya. Dia tidak ingin sahabatnya mati karena amukan gadis kecil saat ini. Bagaimanapun kematian Aura bukan kesalahan Edgar. Pria itu sudah cukup menjaga Aura. Hanya saja takdir berkata lain untuk Aura.


“Sudah cukup kamu bisa membunuhnya.” Ucap marcello sambil menarik tubuh Auri yang memberontak minta dilepaskan. Hingga akhirnya tubuh Auri terduduk dengan air mata mengalir dari kedua matanya.


“Kamu kemana saja hingga Aura sampai seperti itu. Bukankah kamu memiliki janji dengan adikku. Tapi kenapa dia mati di malam yang harusnya kalian sedang bersama.” Ucap Auri lirih.


Marcello dapat merasakan perasaan gadis kecilnya saat ini. Dia bawa tubuh Auri kedalam pelukannya. Auri terus memukul dada marcello dengan pelan.


“kenapa kamu tidak melindungi adikku? Aura bukan wanita yang memiliki musuh. Dia hanya wanita baik dan lugu yang selalu berbuat baik pada siapapun. Kenapa bukan aku saja yang diambil. Kenapa harus Aura.” Ucap Auri hingga tubuhnya perlahan terlelap karena kelelahan.


“Edgar sebaiknya kamu obati luka-lukamu. Jangan menyalahkan diri sendiri. Ingat kamu sudah memberikan usaha untuk melindungi Aura. Auri hanya sedang tertekan mengingat kematian adiknya.” Ucap Marcello sebelum meninggalkan sahabatnya.


“Sepertinya banyak hal yang membuat kamu terpaksa menjadi kuat seperti saat ini.” Ucap marcello sambil mengelus wajahnya.


“Setelah ini kamu bisa membagi bebanmu padaku Auri.” Ucap marcello sebelum dia berpindah ke salah satu sofa di kamarnya.


Dia sadar kalau Auri pasti akan sangat marah kalau mengetahui dirinya berbaring di sampingnya. Selain itu dia tidak yakin hati kecilnya kuat menahan untuk tidak menyentuh gadis kecil ini. Untuk malam ini dia lera tidur di sofa kamarnya hanya untuk Auri.

__ADS_1


Edgar masuk kedalam kamarnya yang ada di kediaman marcello. Dia memang tinggal bersama atasannya beberapa tahun ini. Alasannya hanya untuk mempermudah pekerjaanya bersama marcello.


Edgar tidak langsung merawat lukanya. Dia menatap sebuah potret yang terpasang di depan tempat tidurnya. Potret wanita yang hingga saat ini memiliki ruang dihatinya. Tidak ada yang bisa menggantikan wanita itu pada hatinya. Dia juga tidak berniat mencari pengganti Aura.


Wanita dalam potret yang terpasang di kamar Edgar adalah Aura. Gadis yang memberikan bantuan saat musuhnya menyerangnya. Saat itu Edgar jatuh cinta pada Aura. Bahkan dia sengaja datang setiap hari ke toko bunga hanya untuk melihat Aura.


Dia ingat saat dirinya membuat para penggemar Aura menjauh dari wanita itu. Tindakan yang sangat konyol kalau dipikir lagi. Tapi semua kenangan yang berhubungan Aura sangat indah untuknya. Dari setiap hari dia menjadi pelanggan gadisnya dan Aura memperhatikannya.


Ekspetasi Edgar saat itu tidak sama dengan relalita. Aura tidak memperhatikan Edgar sama sekali. Gadis itu hanya menganggapnya pelanggan biasa saja. Hingga dia memulai untuk menyapa dan berbincang dengan gadis yang ternyata sangat cerita dan aktif.


Hidup Edgar yang terbiasa monoton tiba-tiba berwarna setelah mengenal Aura. Tapi dunianya kembali gelap setelah kepergian Aura. Bohong kalau Edgar tidak menyalahkan dirinya sendiri. Apa yang diucapakan oleh Auri sangat menusuk hatinya.


Dia sangat menyesal malam itu tidak mengantar pacarnya hingga depan pintu apartement. Sungguh dia ingin merubah masa lalu. Tidak terlalu cuek pada Aura dan lebih mengutamakan keberadaan gadis itu. Dia tidak menyangka senyuman malam itu menjadi kesempatan terakhirnya melihat Aura.


“Aura kenapa kamu tidak marah padaku karena tidak pernah mengutamakan kamu. Aku selalu sibuk dengan pekerjaan setelah kamu menerima perasaanku. Aku bodoh karena telah menyiakan kamu. Apa yang dikatakan kakak kamu benar kalau aku tidak cukup melindungimu.” Ucap Edgar diringi tangis lirih mengingat kenangan bersama Aura. Dia menatap wajah kekasih di depannya.


“Aku tidak berpikir kepergianmu akan sesakit ini. Harusnya saat itu aku menjaga dengan baik Aura. Aku menyesal sungguh sangat menyesal.” Ucap Edgar pada potret di depannya.


Edgar tidak berniat membersihkan lukanya. Dia langsung membaringkan badannya sambil memeluk potret Aura yang diambil saat kencan pertama mereka.

__ADS_1


Di tempat lain, seorang wanita menatap sedih saat melihat Edgar terpuruk seperti itu. Dia sangat iri dengan sahabatnya sendiri yang bisa dicintai seperti itu. Tapi dia sadar kalau sejak awal pria itu tidak pernah memandangnya. Sejak awal hanya dia yang mencintai pria itu dalam diam.


“Aura kenapa kepergianmu membuat semua orang terluka seperti ini. Bukankah kamu akan sedih jika melihat orang tersayangmu terluka seperti Aura.” Ucap wanita yang melihat pria yang terduduk di ruang kerja marcello.


__ADS_2