
Setelah menghabiskan waktu hampir setengah hari di toko bunga milik sahabat kekasihnya. Marcello dan kedua sahabatnya kembali ke kantor dengan wajah yang senang. Tapi bertahan lama bagi Edgar yang sadar sudah membuat pekerjaanya menumpuk karena terlalu banyak waktu mereka yang terbuang. Sedangkan marcello tidak mempedulikan hal itu.
“Kita ada rapat jam 3 aku sudah mengundurnya.” Ucap Edgar pada atasannya itu yang sedang mengerjakan beberapa laporan untuk ditanda tangani. Marcello tidak memberikan respon apapun dan hal itu tidak aneh bagi Edgar.
“Kalian berdua tahu apa yang harus dilakukan setelah ini. Aku tidak suka kekasihku berdekatan dengan pria lain. Jadi kalian harus segera menemukan kelemahan yang bisa menjatuhkannya di perusahaan. Selain itu Oskar kamu awasi markasnya. Kita akan lakukan penyerangan tidak kurang dalam satu minggu.” Jelas Marcello yang membuat kedua pria itu hanya bisa menerima perintah saja tanpa bisa menolak. Bagaimanapun pria yang sedang duduk di kursi kerja itu adalah atasan mereka. Perintah marcello adalah hal mutlak yang harus mereka kerjakan bahkan jika tugasnya adalah membunuh seseorang.
“Baiklah, aku akan laksanakan. Sebelum itu marcello kamu tidak perlu terlalu khawatir. Kekasihmu itu adalah rubah betina yang sangat licik. Jadi Royce tidak akan mudah membuat kekasihmu itu berpaling.” Ucap Oskar sebelum meninggalkan tuannya. Dia harus menyiapkan pasukannya untuk menyerang pria yang sudah menyakiti kekasihnya di masa lalu. Tentu saja dia dengan senang hati menghancukan markas Royce.
“Aku tahu itu tapi aku tetap tidak suka dia bersama pria lain. Dia bahkan menolak menjadi sekretarisku.” Ucap marcello yang membuat kedua pria tidak lagi terkejut. Kekasih sahabatnya ini memang tidak suka terlalu berdekatan dengan marcello. Tapi Edgar malah senang dengan hal itu. Dia tidak bisa membayangkan kalau Auri menjadi sekretaris pria di hadapannya.
Bisa-bisa banyak pekerjaan yang menumpuk karena tingkah gila sahabatnya. Bisa-bisa pria itu hanya akan menatapi kekasihnya tanpa berniat menyentuh pekerjaanya. Marcello memang sangat menyebalkan jika berduaan dengan Auri. Pria itu tidak boleh terlalu bersama dengan kekasihnya.
Bukan Auri yang membuat pria itu tidak mengerjakan tugasnya . Tapi Marcellolah yang dengan suka rela meninggalkan pekerjaanya. Hal itu akan membuat pekerjaan Edgar semakin banyak.
“Aku lebih suka nona Auri tidak menjadi sekretaris anda.” Ucap Edgar yang dihadiahkan tatapan dari atasannya itu.
__ADS_1
“apa maksudmu Edgar?”tanya Marcello dengan nada yang sangat dingin dan jangan lupa aura yang dikeluarkan pria itu sangat menyeramkan bagi Oskar maupun Edgar. Pria itu sedang menahan amarahnya.
“Kalau nona Auri ada di sini, Anda bisa menghabiskan waktu anda dengan menatap nona Auri.” Ucap Edgar yang membuat senyuman muncul di wajah marcello. Mulai tingkah gila atasannya akibat Auri. Seperti nona Auri sudah memberikan virus cinta yang berbahaya hingga Edgar merasa kewarasan atasanya perlahan terkikis.
“Bukankah hal itu menarik. Aku bisa melihat kekasihku sepanjang hari.” Ucap Marcello dengan wajah senang.
“Itu adalah neraka untukku tuan. Jangan lakukan itu aku bisa mati karena semua pikiran anda.” Ucap Edgar yang membuat marcello kesal dengan tangan kananya. Edgar selalu saja tidak mendukungnya untuk membawa atau mempekerjakan Auri.
“Dasar kamu Edgar.” Umpat marcello dengan melempar sebuah pulpen. Beruntungnya dia bisa menghindarinya. Tapi Oskar yang harus mendapatkan timpukan dari atasannya itu.
Suasan ruang kerja Marcello kembali hening saat kedua sahabatnya telah pergi. Dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaanya agar dapat segera bertemu dengan kekasihnya. Dia sudah rindu dengan Auri padahal baru beberapa saat lalu berpisah. Sungguh kekasihnya itu selalu saja membuatnya rindu.
Sedangkan di toko bunga Lyra, pesanan silir berdatangan. Bahkan Auri merasa tangannya seperti akan copot. Sedangkan mahlika yang tadinya berniat bersembunyi jadi ikut membantu dengan masker yang menutupi wajahnya. Dia hanya membantu mengambilkan bunga yang diinginkan oleh Auri.
Lyra juga yang biasa hanya berada di meja kasir. Sekarang ikut sibuk dengan membuat rangkaian bunga. Ternyata hari ini tokonya sangat ramai. Tidak hanya pelanngan Auri saja. Pembeli yang memang mengetahui kualitas buket bunga tokonya juga silir berdatangan.
__ADS_1
Akhirnya mereka bisa beristirahat setelah pelanggan terakhir mereka keluar. Segera mahlika mengganti tulis open menjadi close. Ketiga wanita itu sangat kelelahan karena tumpukan pesanan yang tiba-tiba sangat banyak. Beruntungnya tidak ada pesanan yang harus diantarkan.
“Aku merasa tanganku akan lepas jika dibiarkan seperti ini terus.” Ucap Auri yang merasa tangannya sangat pegal. Lyra juga menganggukan kepala. Dia merasakan yang dirasakan sahabatnya. Ternyata semelelahkan ini pekerjaan Auri selama ini. Dia memang jarang membuat rangkaian yang sebanyak hari ini. Karena semua pesanan biasanya ingin dibuatkan oleh Auri.
“Lyra kamu harus mencari pekerja lain. Aku tidak kuat kalau setiap hari seperti ini.” Ucap mahlika yang dianggukan Auri. Sebenarnya Lyra juga sudah berniat untuk membuka lowongan pekerjaan untuk menggantikan posisi Auri. Dia tidak yakin selamanya sahabatnya akan bekerja di sini. Apalagi sahabatnya memiliki kekasih yang sangat overprotekti dan possesif. Sekarang saja sahabatnya bisa kembali bekerja dengannya karena rencana yang dibuat oleh Auri.
“Aku sudah berencana membuka lowongan pekerjaan untuk menggantikan Auri suatu hari. Tapi aku sedikit tidak yakin dapat menemukan rekan kerja sebaik kalian.” Ucap Lyra yang membuat mahlika mencibir mendengarnya. Sedangkan Auri tidak memberikan respon apapun. Dia sangat lelah saat ini jadi malas untuk ikut berbincang.
“Kamu mengatakan itu karena takut harus mengeluarkan banyak biaya untuk membayar gajinya. Sedangkan kamu membayar gaji kamu sesukamu saja.” Ucap mahlika yang membuat Lyra nyengir kuda. Mahlika menatap sebal sahabatnya yang sangat perhitung tapi lebih tepatnya sangat pelit itu. Gajinya saja sangat kecil, kalau bukan karena wanita adalah sahabatnya. Pasti dia akan protes pada Lyra.
“Sebenarnya, gaji kecil hanya kamu saja Mahlika. Sedangkan Auri gajinya sangat besar kalau kamu harus tahu.” Ucap Lyra yang membuat mahlika menatap Auri yang dianggukan oleh wanita itu. Mahlika terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa sahabatnya seperti itu. Dia juga berkerja keras bukan.
“Kenapa kamu pilih kasih.” Protes mahlika yang membuat Lyra jengah mendengarnya.
“kamu pikir apa yang telah kamu lakukan selama ini selain membuat masalah terkadang. Kamu hanya mengangkat beberap bunga untuk membantu Auri saja. Tentu saja aku tidak akan membayar sama dengan Auri.” Ucap Lyra yang membuat mahlika kesal. Dia menatap Auri berharap mendapatkan bantuan tapi sahabatnya itu menunjukkan tidak tertarik membantunya.
__ADS_1
“Kamu memang tidak bisa berguna selain meretas cctv.” Ucap Auri yang seperti ejekan dari sahabatnya. Beruntung dia sayang kedua sahabatnya yang selalu membullynya ini. Dia jadi rindu kekasihnya yang selalu mengutamakannya.