
Mahlika menatap jengah dengan kedua pria di depannya yang sedang menatap tajam pada layar. Mereka sesekali memukul meja yang untungnya terbuat dari kayu. Sehingga tidak hancur karena beberapa kali mereka puku. Walaupun dia juga merasa kesal dengan perlakuan Royce. Tapi dia tahu kalau sahabatnya melakukannya untuk mensukseskan rencanya.
“Sialan pria itu memeluk kekasihku.” Ucap Marcello yang sudah tidak kuat ingin mematahkan kedua tangan Royce. Dia tidak rela jika kekasihnya dipeluk oleh pria lain. Hal itu sama terjadi pada Antara. Kakak Auri itu marah karena dia saja jarang bisa memeluk badan adiknya. Cukup saja sahabatnya yang selalu bersentuhan dengan adiknya. Tidak akan dibiarkan ada orang lain lagi.
“Kalian bisa tidak memukul meja. Walaupun terbuat dari kayu tapi kalian membuatku terkejut.” Ucap Mahlika yang mendapatkan tatapan tajam dari kedua pria itu. Sedangkan wanita itu memutar matanya melihat kelakuan sensi dari keduanya. Sungguh kekanak-kanakan kedua pria itu.
“Auri juga tidak suka bersentuhan dengan Royce, jadi jangan terlalu berlebihan. Sebentar lagi juga dia melaksanakan rencananya selanjutnya.” Ucap Mahlika yang mendapatkan tatapan dari kedua pria yang tidak mengerti pada perkataan wanita di belakang mereka.
“Ah kalian ternyata lebih bodoh dariku.” Ucap mahlika yang membuat Oskar tidak lagi bisa menahan tawa. Dia sangat berani dengan keberanian kekasihnya pada kedua pria yang terkenal tidak suka direndahkan. Tapi beberapa perkataan Mahlika terdengar seperti merendahkan pemikiran kedua pria itu.
“kalian pikir Auri akan membiarkan si pria itu tetap sadar yang akan membuatnya lisih dengan setiap perlakuannya. Auri hanya akan melakukannya satu hari saja. Dia sudah tidak berniat berlama-lama bersama Royce.” Jelas Mahlika yang direspon dengan ber-O ria.
“Dasar kalian tidak cocok menjadi seorang CEO kalau begini saja tidak tahu.” Umpat Mahlika yang berakhir tatapan tajam dari kedua pria itu. Tapi tidak ada rasa takut lagi yang tersisa dari mahlika. Seluruh uangnya sudah diambil jadi tidak ada yang perlu ditakutkan lagi.
Auri melepaskan pelukannya. Dia sangat tidak nyaman dengan pelukan dengan pria lain selain marcello. Hanya kekasihnya saja yang bisa membuatnya nyaman dalam setiap perlakuannya pada Auri.
__ADS_1
“Kita harus bekerja Royce, Aku akan buatkan kopi untukmu.” Tawar Auri yang membuat pria itu tersenyum senang diperlakukan seperti itu oleh wanita pujaanya. Sedangkan dia tidak tahu rencana sebenarnya Auri.
“kamu pikir aku akan membiarkanmu tetap sadar untuk menyukseskan rencanaku.” Gumam Auri dalam hati.
Dia berjalan keluar dari ruagan Royce menuju pantry. Auri sadar kalau Royce memantaunya dari cctv. Pria itu tidak sepenuhnya percaya pada wanita itu. Karena dia tahu wanita yang dicintainya berhubungan dengan marcello. Tidak ada kepastian kalau wanita itu tidak berkhianat.
Karena itu Auri sengaja menaburkan obat tidur di tempat yang sulit tertangkap oleh cctv. Bagusnya posisi itu tepat pada dekat tempat kopi. Setelah memastikan obat itu teraduk dengan baik. Dia berjalan kembali menuju ruangan royce.
“Silahkan kamu coba Royce, aku tidak tahu selera kamu. Semoga kamu menyukainya.” Ucap Auri dengan senyum manis. Untuk kesekian kalinya Royce terpesona dengan senyuman wanita di depannya.
“Kamu bisa menggunakan meja yang ada di sebelah sana.” Tunjuk Royce pada meja yang tidak jauh darinya. Dia sengaja menempatkan wanita itu satu ruanganya. Alasannya karena dia ingin lebih banyak waktu memandangi wanita itu.
“Baiklah, aku akan mengerjakan tugas dengan baik Royce.” Ucap Auri sebelum berjalan menuju meja kerjanya. Obat tidurnya memang tidak beraksi sangat cepat. Dia sengaja menggunakan obat yang bereaksi secara perlahan agar terlihat tidak mencurigakan.
Selama Auri sibuk dengan membaca laporan keuangan dan bisnis yang berada di bawa perusahaan Royce. Sebenarnya dia menemukan beberapa kali keanehan dari daftar keuangan. Terlihat nilai dari laporan banyak keliru sepertinya terjadi korupsi yang tidak disadari oleh Royce atau pria itu memang sengaja melakukannya.
__ADS_1
Sesekali dia menatap Royce yang mulai menguap. Berarti obatnya sudah mulai bereaksi pada pria itu. Tidak membutuhkan waktu lama hanya 30 menit saja. Pria itu sudah terjatuh dalam dunia mimpi. Dia segera mencari laporan dari bisnis ilegal yang dilakukan pria itu.
Dia membuka semua lemari dan tumpukan tapi tidak menemukan laporan itu. Hingga dia tertarik dengan sebuah buku yang berada di lemari. Buku itu terlihat berbeda dari yang lain. Saat dia tarik buku itu, lemarinya bergeser dan menunjukkan sebuah ruangan yang seperti berangkas. Dia segara masuk dan ternyata dia menemukan laporan yang diinginkannya.
“Ternyata kamu memang memiliki niat lain sayang.” Ucap Royce yang ternyata sejak awal sudah mencurigai Auri. Dia sekarang sedang berdiri tidak jauh dari posisi Auri saat keluar dari ruang berangkas pria itu.
Pria itu menodongkan pistol pada kepala Auri. Tapi hal itu tidak membuat Auri takut. Sedangkan Royce yang melihat itu tersenyum lebar. Dia sudah menduga wanita di sampingnya itu tidak akan takut dengan ancamannya. Sebenarnya sejak pertemuan di café dia sudah sadar kalau Auri adalah wanita yang diserangnya saat menyerang markas marcello. Karena itu dia hanya menikmati permainan wanita itu saja.
“Kamu sepertinya memang berniat menghancurkanku. Tapi sebelum itu aku yang akan menghancurkan kakakmu dan kekasihmu itu. Kalian pikir aku tidak mengetahui rencanamu itu.” Ucap Royce dengan senyum sinis. Auri memang tidak begitu terkejut mengetahui fakta kalau Royce tahu tentang rencana mereka.
“Kamu tidak bisa mengancamku dengan hanya sebuah pistol saja, Royce. Kamu lupa kalau waktu itu aku yang menang melawanmu yang sudah mendapatkan dua tikaman dariku. Harusnya saat itu kamu sudah meninggal.” Ucap Auri pada pria itu dengan wajah yang tidak lagi tersenyum. Dia sudah tidak sudi menunjukkan keramahan pada pria ini.
“hahaha tentu saja, aku tidak menyangka wanita secantikmu sangat handal dalam bertahan diri. Aku jadi semakin tertarik padamu. Aku sudah menyipi badan adikmu sebelumnya. Aku jadi penasaran apakah kalian berdua berbeda rasa atau sama saja.” Ucap Royce yang membuat Auri menggeram setelah mendengarnya.
“ROYCE.” Teriak Auri yang membuat pria itu tertawa keras.
__ADS_1
“Aku tidak akan melakukan hal itu pada adik kembarmu kalau kakakmu tidak membuat masalah denganku, dan kamu menjadi kekasihku waktu itu. Aku pasti tidak akan melukai perasaan wanitaku dengan membunuh adiknya. Tapi adikmu juga salah karena memilih berpacaran dengan orang yang aku benci.” Ucap Royce dengan senyum mengejek pada Auri. Sedangkan wanita itu menatap geram pada pria yang sedang menodongkan pistolnya pada kepalanya.