Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 81


__ADS_3

Edgar menyandarkan badannya ke sofa. Dia mengusap wajah dengan kasar. Sungguh pria itu terlihat sangat frustasi.  Tidak ada gairah lagi setelah mendapatkan penolakan yang sebenarnya biasa saja bagi Marcello dan Oskar. Karena mereka beberapa kali sudah mendapatkan penolakan dari Auri maupun mahlika. Bahkan Oskar tidak hanya mendapatkan penolakan saja.


“Sudahlah jangan terlalu menyalahkan diri kamu. Walaupun kamu sebenarnya salah.” Ucap marcello yang membuat Oskar terkejut mendengar ucapan bossnya itu. Dia tidak sadar kalau sedang menyindir secara harus pada sahabat yang sedang frustasi.


“Kamu sedang menyindir aku marcello.” Ucap Edgar dengan wajah kesal pada sahabat sekaligus atasannya ini. Apakah dia tidak bisa menghibur sahabatnya yang sedang patah hati.


“Ah kamu tersindir ya, tapi apa yang aku ucapkan tidak salah. Lagian kamu terlalu fokus dengan niat balas dendam hingga tidak sadar ada wanita lain yang sedang menatimu.” Ucap Marcello dengan santai. Dia sekarang fokus menatap layar laptop Oskar yang menampilkan kegiatan kekasihnya.


Beruntungnya dia sudah menyelesaikan dokumen yang dibutuhkan untuk rapat hari ini. Jadi tidak ada yang menghalanginya memantau sang kekasihnya. Marcello memang senga pergi lebih pagi dari biasanya.


“Tenanglah Edgar, gadismu itu tidak benar melepaskan perasaan padamu. Dia hanya ingin memberikan sedikit waktu untuk menyembuhkan rasa sakitnya. Berjuang saja kamu mendapatkan perasaan Lyra.” Ucap Oskar yang tiba-tiba menjadi orang bijak dan pengertia.


Bahkan hal itu membuat marcello dan Edgar terkejut. Rasanya sahabatnya ini menjadi dewasa setelah berpacaran dengan mahlika. Apa sebesar itu dampak dari wanita kekanak-kanakan itu. Bahkan setiap perkataanya tidak pernah tersaling dengan baik.


“Aku tidak salah dengar  bukan, Oskar, kamu terlihat sangat dewasa. Apakah mahlika mengambil jiwa menyebalkanmu itu.” Ucap Edgar yang membuat Oskar kesal mendengarnya. Apakah dia terlihat sangat menyebalkan biasanya.


“Kamu harus tahu sekarang kamu terlihat sedikit berwiba dan pengertian.” Ucap marcello yang sama terkejut dengan oskar. Bawahannya yang biasanya suka membuat orang lai kesal dengan godaanya. Sekarang malah memberikan masukan padan Edgar.


“Hey apa maksud kalian sih? Aku hanya mencoba menjadi seorang pengertian. Karena aku harus melakukannya untuk bisa berada di samping wanitaku.” Jelas Oskar yang membuat kedua pria itu menganggukkan kepala. Benar juga Oskar harus sabar dengan tingkah menyebalkan mahlika.


Edgar saja yang baru pertama kali mendengar ucapan pedas mahlika sudah membuatnya sebal. Apalagi marcello mungkin dia sudah sangat benci dengan wanita itu. Tapi Oskar malah ingi menjadi pria pengertian untuk bisa bertahan di samping mahlika. Sebuah hal yang mengejutkan untuk Edgar.


“Ya kamu pertahankan itu. Karena kamu harus terbiasa sabar dengan tingkah menyebalkan kekasihmu itu.” Ucap marcello yang mendapatkan tatapan tajam dari Oskar. Dia tidak sepemikiran dengan atasannya itu.

__ADS_1


“Mahlika itu manis bukan menyebalkan.” Ucap Oskar yang membuat kedua pria di dalam ruangan kerja marcello terkejut. Apakah mereka tidak salah dengan. Ada orang yang menyebut tingkah menyebalkan mahlika masih. Oskar sudah tidak waras sepertinya.


“Oskar sepertinya kamu harus periksakan otakmu ke rumah sakit. Bagaimana bisa kamu menyebut mahlika wanita yang seperti monyet gila itu manis.” Ucap marcello yang disetujui oleh Edgar dengan anggukkan kepala.


“haich. Sepertinya ada yang sedang menjelekkanku.” Gumam mahlika yang merasa gatal hidungnya secara tiba-tiba. Padahal dia sedang meretas perusahaan keluarganya.


“Kalian matanya buta saja hingga tidak melihat kalau mahlika sangat manis.” Ucap Oskar yang membuat marcello dan Edgar terkejut mendengarnya.


“sudahlah aku malas membicarakan orang itu.” Ucap marcello.


Dia lebih memilih melihat kegiatan kekasihnya dibandingkan membicarakan wanita yang sudah beberapa kali membuatnya marah. Mungkin Oskar sudah buta karena cintanya pada mahlika. Seram juga melihatnya.


“Cih kalian jugakan sama sepertiku. Kamu saja tergila-gila dengan nona Auri yang sangat menyeramkan itu. Sedangkan kamu menyukai wanita yang umurnya sangat jauh Edgar.” Ucap Oskar yang membuat kedua pria ingin sekali melempatnya kebawah dari ruang kerja marcello.


“enak saja anda menghina kekasihku.” Balas Oskar yang tidak bisa menerima penghinaan dari atasanya.


“Sudahlah aku malas membicarakannya lagi.” Ucap Marcello yang membuat Oskar diam.


Tiba-tiba wajah marcello berubah menjadi merah dan tatapan taja, Edgar menatap takut dengan perubahan sahabatnya itu. Sedangkan Oskar ikut marah melihat pria yang berada di layar laptopnya. Orang yang membuat kedua pria itu kesal adalah Royce. Seperti perkiraan Auri, pria itu akan mendatanginya.


Edgar bejalan mendekati kedua sahabatnya. Dia ikut marah melihat orang yang ingin dia bunuh. Apalagi pria itu sedang menggoda Lyra saat menunggu Auri yang pergi ke dalam rumah gadisnya.


“Sialan.” Umpat ketiga pria itu.

__ADS_1


              ********************


Auri sedang merangkai bunga untuk pelanggan yang mulai berdatangan. Seperti biasa banyak sekali pria yang mengantri untuk satu buket buatanya. Hingga suara yang sangat familiar menyadarkannya. Dia menatap pria yang sedang berdiri di depannya.


“Royce” panggil Auri pada pria yang tersenyum di depannya. Secepat itu Royce mendatanginya. Dia tidak menyangka target dengan cepat memakan umpannya.


“Hai Auri, apakabar? Aku baru tahu kamu handal dalam merangkai bunga. Bolehkah kamu buatkan aku satu untuk wanita cantik yang berani.” Ucap Royce yang tidak pernah mengalihkan tatapannya pada wanita di depannya.


“Aku baik. Tunggu akan aku buatkan.” Ucap Auri yang berjalan meninggalkan Royce untuk memanggil beberapa bunga yang akan digunakan dalam rangkaian. Pria itu melihat sekeliling toko bunga yang terlihat tidak begitu besar tapi nyaman. Saat itu dia melihat wanita yang sanga dirinya kenali.


Wanita yang dianggap telah tiada selama ini ternyata masih hidup hingga saat ini. Saat dia berniat untuk mendekati wanita itu. Auri sudah selesai membuat satu rangkaian bunganya. Dia memberikan rangkaian bunga pada Royce yang diterima oleh pria itu.


“Bisakah kita berbicara sebentar. Kita bisa minum kopi di kedai samping.” Ucap Royce pada Auri yang sudah duga sebelumnya.


“baiklah, tunggu aku pergi ke dalam dulu.” Ucap Auri sebelum meninggalkan Royce. Pria itu berjalan menuju kasir yang adal Lyra. Pria itu menatap wanita yang berada di depannya dengan aneh.


“Rara?” panggil Royce pada wanita yang berdiri di depannya.


“Roy.” Lyra terkejut melihat pria di depannya. Dia tidak bisa bertemu dengan teman masa kecilnya. Anak laki-laki yang menjadi teman bermain meskipun umur mereka yang sangat jauh.


“Aku tidak menyangka kamu masih hidup hingga saat ini” ucap Royce yang masih tidak menyangka kalau pria di depannya adalah teman masa kecilnya.


“Banyak yang terjadi di hidupku Roy, Aku harus menyembunyikan keberadaanku selama ini agar aku bisa hidup.” Ucap Lyra yang membuat Royce ikut sedih mendengar nasib Lyra.

__ADS_1


“Royce, ayo. Lyra aku izin sebentar.” Ucap Auri yang membuat Lyra terkejut. Ternyata target sahabatnya adalah teman masa kecilnya. Dia hanya menganggukan kepala. Kedua orang itu meninggalkan tokonya.


__ADS_2