
Pagi ini perasaan marcello sangat bahagia saat gadis kecilnya menyetujui syaratnya untuk makan siang bersama. Walaupun dia tidak rela Auri bertemu dengan para penggemarnya. Rasanya marcello ingin mengurung Auri di dalam rumahnya atau mengikutinya terus. Tapi sekarang marcello belum memiliki hak untuk mengatur Auri secara berlebihan.
“Sepertinya hari ini suasana hatimu sedang baik.” Goda Edgar pada marcello walaupun dia sudah tahu alasan sahabatnya bahagia hari ini.
Edgar juga pernah seperti sahabatnya dulu. Rasanya dia rindu merasakan kebahagian seperti marcello. Sayangnya wanita yang bisa membuatnya bahagia telah pergi.
“Berhenti menggodaku Edgar. Kamu harus mencari pengganti Aura.” Ucap marcello. Dia sempat melihat wajah sedih dari sahabatnya walaupun hanya sebentar saja. Tapi dia sadar kalau Edgar sedang merindukan Aura.
“Aku tidak bisa melakukannya. Kamu pikir akan semudah itu melupakan wanita yang kita cintai.”
“ya kamu benar, mungkin aku tidak akan mencari wanita lain jika Auri meninggalkanku.” Ucap marcello yang membayangkan kalau dia pada posisi sahabatnya. Tapi dia yakin kalau sahabatnya akan menemukan pengganti Aura.
Keduanya asik dengan pikiran masing-masing. Hingga sebuah ketukan yang membuat kedua pria itu sadar dari lamunannya. Edgar langsung membuka pintu dan terpampang Auri dengan wajah dingin sambil membawa tiga kotak makan.
Auri masuk begitu saja tanpa menunggu marcello yang mempersilahkannya. Wanita itu duduk di sofa yang ada di kantor marcello. Wajahnya tetap dalam mood yang buruk apalagi kedua sahabatnya malah menggodanya terus.
“kalian tidak berniat makan. Kemarilah aku sudah membuat makan siang buat kalian.” Ucap Auri.
Edgar yang terlebih dahulu berjalan menuju sofa. Pria itu tersenyum saat mendapatkan kotak makan yang membuat marcello menatap sebal. Tapi Edgar sekarang dalam mode senang menggoda sahabatnya. Jadi bukan takut dengan tatapan marcello, dia malah semakin menjadi-jadi.
“Terima kasih nona Auri. Anda tidak hanya cantik dan pintar saja tapi sangat baik hati.” Puji Edgar pada Auri yang dibalas dengan senyum tipis.
Marcello semakin berang melihat tingkah Edgar yang sengaja membuatnya kesal. Marcello duduk di samping Auri. Pria itu menatap wajah wanita di sampingnya yang sedang menyiapkan makan untuk marcello.
“nih makan dan segera habiskan. Aku sedang banyak pekerjaan.” Ucap Auri yang tidak melihat mata marcello.
__ADS_1
Wanita itu membuka bekal makannya sendiri. Saat berniat menyuapkan sendoknya ke dalam mulutnya tapi marcello langsung memakannya terlebih dahulu. Bukan rona merah yang muncul pada wajah Auri. Tapi dia semakin marah karena makannya di ambil.
“Anda sudah punya makanan sendiri. Jangan ambil yang saya. “ protes Auri yang terlihat lucu di mata marcello.
“Tapi aku suka kalau kamu menyuapiku.” Ucap marcello yang mendapatkan tatapan tajam pada marcello.
Apakah marcello tidak lihat kalau mood Auri sedang sangat buruk. Sayangnya dalam mata pria itu ekspresi Auri sangat menggemaska. Sepertinya pria itu sudah sulit untuk membedakan kondisi. Dimana dia bisa menggoda Auri dan dimana dia tidak sebaiknya menyenggol Auri.
Edgar yang menjadi nyamuk memilih untuk keluar dari ruang kerja marcello. Dia tidak ingin merasa iri karena kemesraan kedua orang itu. Walaupun dia tahu pada akhirnya marcello akan mendapatkan amukan Auri dibandingkan adegan romantis.
Marcello memang sedang bucin. Hal itu membuat otaknya sedikit konslet pikir Edgar. Bagaimana bisa pria itu membangunkan singa betina. Edgar membayangkan amarah yang akan dikeluarkan oleh Auri saja sudah takut. Dia ingat seberapa kuat pukulan Auri.
“Marcello otakmu jadi bodoh kalau menjadi budak cinta Auri. Aku tidak membayangkan seorang ketua mafia yang terkenal sangat kejam akan seperti anak anjing yang mengipaskan ekornya pada pemiliknya. Ucap edgar dalam hati.
Kembali kedalam ruang kerja marcello. Auri makan dengan sangat cepat dengan wajah yang kesal. Wanita itu lebih baik tidak merespon marcello karena hanya akan membuatnya bertahan di tempat ini terlalu lama.
Auri yang merasa kalau sedang ditatap oleh pria di sampinganya. Langsung menghentikan makannya dan menatap marcello.
“Kamu tidak suka makanan yang aku buat?” tanya Auri dengan nada sinis.
Apakah marcello tidak bisa menghargai usahannya yang sudah membuatkan makanan itu. Kalau tahu bakal begini dia lebih baik membeli makanan di restaurany saja.
“Aku sudah kenyang hanya dengan melihat kamu makan.” Ucap Edgar.
“makan atau akan memberikan kamu hukuman. Kamu tidak tahu kalau diluar sana banyak orang yang makan saja susah. Dasar orang kaya.” Ucap Auri.
__ADS_1
“aku menanti hukumanmu. Apakah kamu akan menciumku hingga bibirku membengkak?” goda marcello yang membuat Auri kesal.
“Lakukan hal itu dengan wanitamu sana saja. Enyahkan pikiran mesummu itu padaku.” Ucap Auri yang lebih memilih menyelesaikan makannya yang hanya tersisa sedikit lagi.
“Kalau aku bisa melakukannya bukan?” tanya marcello.
“Tentu saja dengan wanitamu.” Auri sebelum menyuapkan sendok berisi makanan pada mulutnya.
Saat itu marcello langsung menarik dagu Auri. Kedua bibir mereka bersentuhan. Auri terkejut dan berusaha melepaskan ciuman dengan mendorong badan marcello. Tapi tenaganya tidak sebesar pria di depannya.
Marcello menggigit bibir Auri yang membuatnya membuka mulutnya. Pria itu memindahkan makanan Auri yang berada di mulutnya ke marcello. Auri semakin terkejut. Matanya melotot saat lidah marcello bergerak. Tangan Auri memukul marcello. Tapi marcello langsung memegang kedua tangan Auri.
Ciuman mereka berlangsung sangat lama hingga Auri mulai merasakan oksigennya berkurang. Marcello baru melepaskannya. Pria itu mengelap air liur yang keluar dari bibir Auri yang terdiam. Auri sedang mengatur nafasnya.
Saat otaknya masih mencoba mencerna. Entah kenapa dia menjadi tiba-tiba sangat lambat. Tapi berbeda marcello yang tersenyum melihat wajah imut Auri. Pria itu dengan berani mengecup bibir merah Auri.
Saat itu Auri yang sadar langsung memukul perut marcello. Walaupun tidak begitu keras, tapi cukup membuat marcello sedikit menjauh. Auri langsung meletakkan kotak makan di meja dan menyambar kunci mobilnya.
“DASAR PRIA MESUM GILA.” Teriak Auri setelah keluar dari ruang kerja marcello.
Sedangkan marcello tertawa mendengar teriakan Auri. Marcello sangat gemas saat melihat rona merah di wajah Auri setelah dia mencuri makanan Auri dari mulutnya.
Senyuman merekah dari wajah marcello. Bersamaan Edgar yang datang ke ruang kerja marcello. Dia tadi mendengar suara teriakan Auri. Dia pikir marcello akan babak belur tapi sahabatnya marah tersenyum lebar.
“Sekarang aku tahu perasaanmu saat berciuman dengan adiknya Auri.” Ucap marcello.
__ADS_1
Edgar sekarang mengerti kenapa Auri tadi berteriak. Ternyata marcello baru saja melakukan hal itu.
“Edgar aku akan pergi jadi kamu kerjakan sisanya.” Ucap marcello yang berdiri dan meninggalkan Edgar. Marcello berniat untuk datang ke toko gadis kecil. Seperti menggoda gadis kecil itu akan menjadi kegiatan yang menarik.