
Auri menatap tajam pria yang sedang duduk di sampingnya dengan tangannya menyodorkan sesendok bubur ke depan bibir Auri. Dia sangat suka makan bubur apalagi pria yang mengurungnya tidak malunya menyuapkannya. Saat ini Auri sedang mengalami demam akibat luka di kakinya.
“Aku tidak mau makan. Kenapa kamu merawatku bukan menghukumku?” tanya Auri sinis pada marcello.
Marcello menghela nafas kasar. Dia juga tidak tahu dengan dirinya sendiri. Semua yang dilakukannya hari ini hanya mengikuti hatinya. Dia ingin membuat gadis bar-bar ini sehat kembali. Rasanya rindu melihat kelincahan Auri dalam beladiri atau kabur darinya.
“makan saja kamu jangan banyak ngomong.” Ucap marcello sambil menekan kedua pipi Auri yang membuat wajahnya sekarang ikan buntal.
Setelah bibir Auri terbuka marcello tanpa segan menyuap satu sendok bubur pada Auri. Tentu saja aur tidak berdiam diri. Beberapa pukulan sudah di dadaratkan pada tubuh. Berhubung tubuhnya lemar pukulan Auri seperti mengelus marcello.
“hey kamu kok maksa sih. Kalau orang gak mau ya jangan di paksa.” Ucap Auri sambil makan.
“Telan dulu baru ngomong.” Ucap marcello.
Auri yang kembali menolak suapan marcello. Membuat dia melakukan teknik sebelumnya. Hal itu berulang hingga satu mangkok bubur habis. Edgar yang melihat kelakuan Auri dan marcello tidak sadar tertawa kecil.
Mungkin karena marcello terlalu fokus dengan kegiatan barunya. Jadi dia tidak menyadari kalau tangan kananya sedang menertawakannya. Tapi berbeda dengan Auri yang tahu. Gadis itu langsung menunjuk Edgar dan tatapan tajam mengarah pada pria yang menertawai penderiataanya.
“kamu kenapa tawa huh? Senang aku tersiksa ya. Kalian memang benar-benar tahu cara menghukum orang lain.” Ucap Auri yang sangat menggemaskan di mata marcello.
Gadis itu seperti anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya. Sekarang tidak hanya Edgar yang tertawa marcello juga tertawa saat melihat Auri.Auri semakin kesal tanpa sadar di cemberut dan kedua pipi gadis itu membuat marcello tidak sadar mencubitnya.
__ADS_1
“hey jangan asal sentuh orang dasar pria gampangan.” Ucap Auri dengan menepis Auri tapi tangan tidak kuat untuk melepaskan cubitan marcello.
Marcello mungkin tidak tahu kalau Auri sangat membenci bubur. Tapi Edgar sangat tahu itu. Karena Aura selalu menceritakan tentang kesukaan hingga makanan yang paling dibenci. Dia ingat sekali gerutuan kekasihnya saat baru saja naik kedalam mobil pagi saat dia berniat mengantarkan Aura ke kampusnya
“Cepat sembuh gadis kecil.” Ucap marcello sambil membawa mangkuk bekas Auri.
“Siapa yang kamu panggil gadis kecil? Aku wanita berusia 24 tahun.” Ucap Auri dengan tatapan kesal pada marcello.
Marcello merasa menemukan ide untuk membuat mainannya semakin kesal. Auri memang mainan terbaik pikir marcello. Dia tidak pernah bosah dengan segala tingkah Auri. Dari sikapnya dingin hingga tingkah manja yang tidak di sadari oleh Auri beberapa hari ini. Auri sudah tinggal selama 3 hari di kediaman marcello.
Selama di kediaman ini marcello tidak pernah absen untuk datang dan membuat Auri marah. Kaena kaki yang belum bisa digerakkan. Jadi ruang gerak Auri sangat terbatas. Bahkan marcello sering membantu gadis kecil itu untuk kekamar mandi. Tentu selama mereka berjalan Auri tidak berhenti marah-marah pada marcello tapi pria itu malah merasa gemas dengan tingkah gadis kecilnya itu.
Marcello berjalan mendekati Auri. Sekarang keduanya saling tatap-tatapan. Auri yang tidak pernah sedekat ini dengan pria jadi merasa sedikit gugup. Dia langsung membuang wajahnya kesamping. Saat itu marcello membisikan sesuatu yang membuat seluruh wajah Auri merah bukan karena maruh tapi kesal.
Tentu saja sekarang dia sedang menggoda Auri. Apalagi saat melihat seluruh pipi Auri memerah padam. Bukan seperti wanita yang sering temui biasa tersipu malu bila digoda seperti itu. Auri malah mendorong tubuh marcello.
“GILA KAMU DASAR PRIA MESUM DAN CA*BUL ENYAH KAMU DENGAN PIKIRAN KOTORMU ITU.” Teriak Auri yang membuat marcello tertawa keras dan bahagia melihat respon gadis kecil.
Dia sudah menduga akan mendapatkan respon seperti itu. Rasanya dia jadi ketagihan membuat kesal Auri. Sedangkan Edgar dan para bawahannya yang berdiri di luar kamar terkejut mendengar suara tawa marcello. Bukan tawa yang membuat orang lain takut dan merinding. Tapi tawa bahagia yang tidak pernah mereka dengar sejak bekerja dengan seorang marcello. Tentu saja Edgar hanya pernah mendengar tawa sahabatnya itu sesekali saja. Itupun terjadi pada saat mereka masih kecil.
Setelah marcello mengijak sekolah menengah pertama tidak pernah lagi Edgar mendengar tawa sahabatnya. Entah apa yang membuat sosok marcello berubah. Tapi sekarang dia sedikit senang melihat kebahagian marcello. Walaupun pria itu belum sadar perasaanya pada Auri.
__ADS_1
Setidaknya secara perlahan marcello bisa kembali merasakan kebahagian. Sekarang marcllo terlihat seperti manusia. Walaupun atasanya hanya seperti itu jika berdekatan dengan Auri. Setelah itu marcello kembali seperti seorang malaikat maut yang kapan saja bisa membunuh orang yang berani mengganggunya.
“hahahhahahha.” Tawa marcello
“kenapa kamu tertawa tidak ada yang lucu.” Ucap Auri dengan sewot.
“kamu yang lucu.”
“huh aku tidak sedang melawak jadi tidak ada yang lucu. Sekarang kamu pergi dari kamar ini.hush.” usir Auri yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari marcello. Tawanya hilang bersamaan munculnya amarah yang menyelimuti pria itu.
“Apa lagi ini? Tiba-tiba maraha tiba-tiba tertawa, tiba-tiba baik. Gila benar ini.” Gumam Auri dalam hari saat melihat perubahan marcello.
“Kamu tidak berhak untuk mengusir saya. Karena kamu hanya tawanan yang akan mendapatkan hukuman setelah kamu sembuh.” Ucap marcello sebelum meninggalkan Auri.
“KALAU MEMANG MAU HUKUM SEKARANG SAJA BUAT APA NUNGGU NANTI SEMBUH. DASAR PRIA GILA.” Teriak Auri yang masih terdengar oleh marcello.
Hanya Edgar yang melihat atasanya tersenyum saat teriakan dari Auri. Sepertinya marcello sedang berakting lagi untuk membuat Auri kesal. Kenapa sekarang atasannya senang banget berakting. Sepertinya marcello sangat cocok menjadi seorang aktris perubahan ekspresi sangat cepat kagum Edgar.
“kamu pikir aku tidak tahu yang sedang kamu pikirkan Edgar.” Ucap marcello yang berdiri di depannya Edgar.
“maaf tuan.” Ucap Edgar yang sadar telah melakukan kesalahan pada atasannya.
__ADS_1
“Berhenti memikirkan Auri. Sekarang kamu pergi ke markas dan katakan pada Oskar kalau hari ini kita akan menyerang si tiger itu. Rasanya sudah lama tidak bersenang-senang.” Ucap marcello sebelum meninggalkan Edgar yang sulit mencerna ucapan atasannya itu.
Edgar memang tidak sengaja memikirkan Auri tapi hal itu karena berhubungan dengan marcello. Tapi kata-kata atasannya seperti seorang Edgar tertarik pada Auri. Sepertinya otak marcello sudah mulai konslet.Sepertinya kelompok Tiger akan menjadi pelampiasan marcello malam ini.