
Oskar tidak tahu apa yang terjadi pada mahlika. Dia terdiam saat melihat wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta sedang menangis di pelukan sahabatnya. Tangisan yang terdengar sangat memilukan. Rasanya dia ingin membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya dan menenangkan mahlika.
“Sepertinya kamu terlalu gegabah Oskar.” Ucap marcello yang berdiri di samping oskar.
Marcello terdiam melihat adegan di depannya. Kedua wanita yang saling menguatkan. Entah apa yang mereka alami hingga keduanya serpihan kaca yang dipaksakan untuk menjadi sebuah kaca utuh.
“Wanita itu tidak suka berdekatan dengan seorang pria. Dia memiliki penyakit gangguan kepribadian. Wanita yang kamu kejar memiliki kegilaan sepertiku dan Edgar.” Ucap marcello yang membuat oskar termenung.
Oskar sangat tahu seberapa gila marcello dan Edgar. Kedua orang itu memang seorang psikopat yang sangat suka dalam melihat korbannya menjerit kesakitan. Oskar tidak menyangka wanita yang dikejarnya memiliki hal yang sama seperti bossnya.
“Apakah kamu akan mundur Oskar?” tanya marcello yang sangat penasaran respon bawahnya setelah tahu fakta tentang mahlika.
“Aku menyukainya tentang dia seorang psikopat hal itu bukan menjadi masalah. Tapi aku tidak tahu cara mendekatinya kalau dia tidak suka berdekatan dengan pria.” Jelas Oskar yang terlihat sangat frustasi.
Marcello terkekeh ternyata bukan hanya yang frustasi untuk mengejar wanitanya. Walaupun Auri bukan wanita yang sulit untuk membuka hati. Setidaknya Dia masih berdekatan dengan Auri. Tapi berbeda dengan oskar yang sulit untuk mendekati mahlika.
Oskar harus mencari cara menyebuhkan fobia mahlika terhadap pria. Baru dia dapat mendekati mahlika dengan leluasa. Sepertinya perjalan Oskar masih cukup panjang untuk bisa meluruhkan wanita pujaannya.
“Sepertinya perjalanan kamu masih panjang.” Ucap marcello dengan nada yang mengejek.
Oskar kesal dengan bossnya. Dia tidak banyak protes pada marcello. Bagaimanapun pria menyebalkan di sampingnya adalah atasanya sekaligus malaikat penyelamatnya di masa lalu.
“Oskar kamu sudah mendapatkan yang aku inginkan.” Teriak Auri.
“ya nona apakah ingin saya jelaskan sekarang?” tanya Oskar yang berjalan mendekati Auri.
Oskar berniat membantu Auri untuk membawa mahlika. Tapi langsung ditolak oleh wanita itu. Oskar hanya diam dan menatap wanita yang sedang terlelap di samping Auri.
__ADS_1
“Sebaiknya kamu tidak menyentuhnya. Walaupun dia tidur, mahlika sangat perasa jadi bisa mengetahu kalau bukan aku yang membawanya. Kalian berdua ikut aku.” Ucap Auri sambil membawa badan mahlika menuju sebuah lift.
Marcello dan Oskar mengikuti di belakang Auri. Mereka sudah mengetahui kalau pemilik gedung ini adalah Auri. Selain itu orang yang menempati tempat ini juga cuman Auri dan mahlika.
Terkadang marcello tidak habis pikir dengan kedua wanita yang memilih membeli satu gedung apartement. Bukankah keberadaan mereka terlalu mencolok. Walaupun gedung apartement ini tidak terlalu besar dari apartement biasanya. Tapi tetap saja keberadaan mereka akan lebih mudah diketahui.
Lift terbuka. Auri masuk ke dalam rumahnya dan membawa tubuh Mahlika ke dalam kamarnya. Marcello dan Oskar melihat rumah milik Auri. Sangat rapih dan normal pikir mereka. Walaupun bentuk apartement Auri sedikit aneh, apartement ini hanya terhubung dengan sebuah lift saja. Selain itu liftnya juga memiliki akses khusus. Sehingga tidka sembarang orang bisa masuk.
“Aku tidak menyangka apartement ini sangat unik.” Ucap Oskar. “
“kalian bisa duduk, aku akan buatkan kopi. Kalian suka kopi hitam bukan?” tanya Auri yang dijawab dengan anggukan kepala.
Sebenarnya marcello penasaran dengan 3 pintu yang berderet tak jauh dari dapur. Pasti salah satu dari pintu itu adalah kamar gadis kecilnya. Sunggu marcello ingin melihat kamar auri.
“Enyahkan pikiran mesummu itu.” Ucap Auri yang menyodorkan kopi hitam panas.
Selalu saja ada hal yang menarik ketika marcello berdekatan Auri. Pria itu seperti berubah menjadi pria muda yang sangat suka berekspresikan seluruh perasaanya. Tidak terbayangkan kalau musuh marcello melihatnya. Mereka pasti akan terkejut bukan main.
“TIDAK.” Tolak Auri yang membuat wajah marcello cemberut.
Lihat bukan atasanya menunjukkan ekspresi menggelikan. Oskar tidak bisa bertahan dengan sikap manja marcello saat ini. Bahkan bossnya sudah pindah ke samping Auri. Walaupun sudah mendapatkan tatapan tajam dari Auri. Marcello seperti tidak memperdulika.
Marcello duduk di samping Auri dan menarik badan wanita itu mendekat. Auri memberontak dari pelukan marcello. Beberapa menit berlalu bukannya marcello melepaskan, pria itu malah semakin merapatkannya. Akhirnya Auri lebih memilih mengalah. Sungguh hari dia sangat lelah.
Membuat banyak rangkaian bunga, pergi ke kanto marcello, dikejar-kejar oleh kelompok misterius bahkan sahabatnya mengamuk. Rasanya Auri ingin merebahkan badannya ketempat tidur. Selalu saja ada banyak hal yang terjadi jika berdekatan dengan marcello.
“Oskar sebaiknya kamu jelaskan hasil dari pencarianmu.” Ucap Auri yang memecahkan lamunan Oskar. Pria itu lebih memilih memikirkan kondisi mahlika dibandingkan melihat adegan mesra bossnya.
__ADS_1
“Seperti yang diduga anda nona, Toko roti itu memang menjual belikan obat-obatan. Tidak hanya pada selena tapi kepada beberapa anggota tiger lain. Ternyata toko itu tempat untuk para anggota tiger membeli obat-obatan itu.” Jelas Oskar yang masih tidak menyangka hal gila kelompok tiger. Mereka tidak takut jika transaksi mereka diketahui oleh para pihak berwajib.
“Selena adalah tangan kanan dari penanggung jawab kelompok tiger. Seperti halnya marcello. Ketua mereka menyembunyikan identitas aslinya. Sepertinya ketua tiger seorang pengusaha yang membenci marcello.” Jelas oskar.
Sekarang Auri sedikit paham. Ternyata kelompok tiger melakukan hal gila dengan menjual barang-barang itu di toko roti. Tapi hal itu bisa membuat para pembeli lebih mudah mendapatkannya. Tidak akan ada yang mencurigainya.
“Selain itu semua anggota tiger selalu mengambil obat-obat itu sebelum pergi ke markas.”
“Bukankah hal itu aneh?” tanya Auri.
“Ya aku juga berpikir seperti itu.” Ucap oskar.
Dia tidak paham dengan aturan yang digunakan kelompok tiger. Hampir semua anggota tiger menggunakan obat-obatan yang dijual di toko roti. Setiap orang memiliki jadwalnya masing-masing untuk mengambil obat itu di toko roti.
“Apakah kamu sudah bertanya pada orang yang kemarin menyerang kita marcello?” tanya Auri.
“Mereka tidak ingin mengatakannya.” Ucap marcello.
Marcello belum memberi tahu kalau sudah melakukan sesutu pada ke lima tahannya. Mungkin Auri akan marah kalau tahu marcello sudah membuat mereka tidak bisa berbicara kembali.
“Kita bisa membawa obat itu dan menanyakan pada mereka.” Ucap Auri tapi marcello terdiam tidak menjawab ucapan Auri.
“jangan bilang kamu melakukan sesuatu yang membuat mereka tidak bisa menjawab kembali marcello.” Ucap Auri dengan wajah kesal pada pria di sampingnya.
“ya.”
“Kenapa melakukan hal itu. Mereka masih berguna.”
__ADS_1
Auri memang seharusnya tidak membiarkan pria psikopat di sampingnya menahan para anggota tiger. Benar apa yang diucapkan oleh mahlika kalau marcello tidak memberikan belas kasih pada ornag yang mengganggunya.