
Akhirnya Alan lebih memilih untuk menahan amarahnya yang sempat terpancing oleh pria di dhadapannya. Dia tidak ingin memiliki pandangan burung di mata Auri wanita yang dicintai. Masih banyak cara untuk dirinya merebut Auri dari pria itu. Dia pastikan kalau Auri akan kembali menjadi miliknya.
“Auri aku akan pulang, sepertinya pria ini sudah tidak bisa berpikir dengan kepala dingin. Dia pertama memukulku lebih dulu. Padahal aku tidak melakukan padanya. Aku harap kita bisa berjumpa lagi.” Ucap Alan pada Auri yang sedang berada di pelukan marcello. Pria itu menatap tajam sahabat istrinya yang tidak sadar diri itu. Harusnya dia malu karena mendekati wanita yang sudah bersuami.
“Jangan harap bisa bertemu dengan istriku lagi. Pergi sana keberadaanmu itu tidka pernah di harapkan di sini.” Ucapa marcello dengan wajah yang dingin. Sedangkan Auri tidak bisa melakukan apapun. Saat ini suaminya dalam model marah.
Dia tidak akan menyalahkan marcello. Karena dia tahu suaminya tidak melakukan hal buruk jika Alan tidak membuatnya marah saat tadi. Pasti ada yang membuat marcello kesal tadi.
“Pergilah Alan, maaf tapi kita tidak bisa bertemu lagi. Bagaimanapun aku seorang istri yang harus menjaga perasaan suamiku.” Ucap Auri yang membuat Marcello seperti diterbangkan ke langit. Dia tidak menyangka istrinya akan mengatakan seperti ini pada sahabat dekatnya itu.
Marcello sangat tahu seberapa dekat keduannya. Walaupun hal terjadi beberapa tahun yang lalu semasih Aura ada di antara mereka. Sekarang keberdaan Alan mungkin sudah digantikan oleh marcello. Tentu saja hal itu membuat Auri tidka membutuhkan keberadaan Alan kembali.
Sedangkan Alan harus menahan amarahnya, apalagi tatapan mengejek yang dilemparkan marcello padanya. Dia mengepal tangan dengan sangat kuat. Tanpa sadar kukunya sedikit menggores tangannya.
“Auri, kita ada sepasang sahabat. Hubungan kita sudah lama terjalin sebelum suamimu bersama dengamu. Jadi aku harap kamu tidak melupakan kenangan kita. Aku pamit sekarang.” Ucap Alan yang memilih meninggalkan toko bunga itu secepatnya. Sekarang dia tidak bisa mengendalikan amarahnya setelah mendengar kata penolakan secara tegas dari Auri.
__ADS_1
Setelah kepergian Alan, Marcello menatap wanita yang berada di rangkulannya. Dia masih kesal dengan sikap Auri yang baru tegas di akhirnya. Harusnya dia menolak keberadaan Alan dari awal.
Tapi tidak hanya itu yang membuat marcello benar-benar kesal. Walaupun dia tahu tentang Alan sejak lama dari informanya yang tak lain Edgar. Namun Dia tetap ingin mendengar cerita langsung dari istrinya. Dia tidak tahu sebesar apa perasaan yang dimiliki oleh Auri terhadap pria itu. Apalagi Alan malah dengan terang-terangan mengangkat bendera perang padannya untuk memperebutkan hati Auri. Meskipun sudah jelas bukan perasaan Auri saat ini miliknya.
“Apa?”tanya Auri yang merasa ditatap oleh sang suami. Dia tahu marcello sedang merajuknya karena belum menceritakan tetang Alan. Meskipun suaminya bisa mengetahui dari orang lain.
Marcello sangat suka kalau Auri yang menceritakannya. Auri juga tidak maslaah hal itu. Masalahnya adalah dia saja baru ingat tentang Alan. Dia pikir pria itu tidak akan lagi menunjukkan batang hidungnya. Setelah di meninggalkan Auri dan Aura tanpa sepatah kata perpisaan atau pesan. Keberadaan Alan menghilang seperti dia tidak pernah ada di kehidupan sang kembar itu. Jadi wajah Auri perlahan melupakan tentang pria itu. Apalagi dengan secara terang-terangan Auri ingin melupakan keberadaan Alan dari hati dan pikirannya.
“Kamu ingat kesalahanmu hari ini?”tanya Marcello pada sang istrinya yang membuang nafas kasar setelah mendengar perkataannya itu. Dia menarik tangan marcello keluar dari toko sahabatnya. Auri ingin membicarakan hal ini di rumah saja.
“Kamu bisa membawakan pekerjaan ke mansionku Edgar.” Ucap marcello yang membuat Edgar hanya bisa pasrah. Beruntungnya tidak ada pertemuan lagi hari ini. Jadi tidak masalah kalau pekerjaan atasanya itu berpindah tempat di rumah milik Marcello.
Marcello duduk di kursi supir. Sedangkan Auri di samping suaminya. Mobil itu melaju dengan kecepatan normal. Marcello sedang menunggui istrinya memulai pembicaraan tentang sosok laki-laki bernama alan di mata Auri. Dia ingin tahu cara pandang istrinya pada pria itu.
“Dia sahabat kecilku, tapi aku hanya ingin kamu tahu lebih awal. Kalau aku tidak menceritakan tentang alan karena tidak ingin jujur padamu. Sebenarnya aku sempat lupa kalau memiliki sahabat laki-laki.” Ucap Auri yang membuat marcello tersenyum apalagi saat melihat tatapan istrinya. Auri saat ini sedang tidak berbohong. Jadi dia bisa bernafas lega kalau Alan sekarang tidak begitu penting di hidupn Auri.
__ADS_1
“Aku pikir kamu berniat untuk selingkuh.”
“Ayolah kamu sedang mengajak ribut kah? Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu padamu. Jika aku bosan padamu tidak seperti itu juga. Berselingkuh adalah tindakan yang tidak dibenarkan dalam pernikahan. Aku harap kamu juga tidak melakukannya.” Ucap Auri dengan wajah terlihat kesal. Sedangkan orang menyebabkan wajah wanita cantik menjadi bertekuk malah tertawa.
“Mana mungkin aku melakukan selingkuh. Ketika wanita yang aku miliki saja sudah sangat sempurna untuk melengkapi hidupku. Aku bukan orang yang serakah pada suatu hal. Meskipun aku juga tidak akan melepaskan hal yang sudah aku klaim seperti dirimu.” Ucap marcello yang membuat suasana hati Auri kembali membaik. Selalu saja dia bisa mengeluarkan kata-kata yang membuat Auri terbang ke langit. Sungguh pria dengan bibir sales ini.
“Kamu sangat pintar membuat hati aku bahagia. Jangan kamu lakukan hal ini pada wanita lain selain aku.” Ucap Auri yang membuat marcello tertawa kecil saja.
“Buat apa aku berkata manis pada wanita lain. Padahal aku sudah memiliki wanita yang sangat manis ini.” Untuk kesekian kalinya perkataan marcello berhasil membuat pipi Auri memerah. Padahal dia sudah biasa mendengarkan ucapan manis dari bibir sexy sang suaminya ini. Tapi seakan perkatannya selalu memiliki kekuatan untuk membuat seorang Auri tersipu malu.
“Berhenti menggodaku.” Ucap Auri yang membuat Marcello benar-benar gemas. Rasanya ingin memakan sang istri sayangnya dia masih kedatangan tamu sialan itu.
“Jadi kamu bisa jelaskan pria itu sayang.”
“Alan adalah teman masa kecil aku dari SD hingga menginjak SMA. Dia tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan surat. Tentu saja saat itu terjadi aku menangis. Karena Aku sempat memiliki perasaan pada alan yang sudah membantuku untuk menghilangkan trauma sedikit demi sedikit. Tapi perasaan itu sudah beberapa tahun kemudian. Jadi sekarang aku sudah tidak ada perasaan suka pada Alan. Mungkin hanya perasaan sayang pada sahabat saja. Itupun aku sadar kalau aku dengannya tidak boleh lagi seperti dahulu. Ada hati lain yang harus aku jaga dan hati itu adalah kamu marcello.” Ucap Auri dengan senyuman dia akhir perkatananya. Tentu saja senyuman itu menular pada sang suami. Dia tidak perlu takut kalau Auri akan berpaling. Orang yang harus dia waspadai adalah Alan. Dia tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan pria itu terhadap istrinya.
__ADS_1