
Motor yang dikendarai marcello melaju dengan kencang membelah kota. Auri memeluk pinggang marcello karena tarikan pria itu. Keduanya saling menikmati suasana malam itu.
Rasanya marcello ingin memutar balik dan tidak ingin membawa Auri ke markasnya. Berduan dengan wanita yang sedang memeluknya selalu membuatnya ketagihan. Tidak cukup hanya sejam atau dua jam menghabiskan waktunya bersama Auri. Marcello ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersama wanita yang sedang memeluknya.
Marcello tersadar dari lamunannya saat mendengar suara tembakan dari belakang. Dia langsung melihat dari kaca spionnya. Ternyata ada mobil yang mengejarnya.
“Marcello kamu fokus dengan jalan. Biarkan aku yang menyelesaikannya.” Ucap Auri yang sekarang telah melepaskan pelukan marcello.
Sekarang marcello hanya bisa mengikuti ucapan Auri. Karena dia juga tidak bisa melakukan apapun karena sedang menyetir motor. Sedangkan Auri langsung mengaktifkan lensanya untuk membantunya membidik orang yang berada di mobil.
Dor-dor.
Dua tembakan dilepaskan oleh Auri. Satu tembakan mengalah ke orang yang tadi menembaknya dan marcello. Satu lagi diarahkan pada ban mobil yang membuat kendaraan itu tidak stabil dan menabrak tebing.
“Sebaiknya kamu tingkatkan kecepatan. Aku merasa akan banyak yang seperti mereka.” Ucap Auri yang langsung dianggukkan kepala oleh marcello.
Motor Auri melaju pada kecepatan maksimum. Auri sekarang memeluk badan marcello atas keinginannya sendiri karena dia takut akan terjatuh. Bagaimanapun marcello sedang mengendarai motornya dengan kecapatan tinggi.
Tidak membutuhkan waktu yang lama. Motor Auri terparkir di sebuah hutan berantara. Tidak ada menunjukkan sebuah bangun di tengah hutan itu. Auri menatap marcello. Pria itu tidak berniat menjelaskan apapun pada Auri. Dia hanya menarik Auri ke sebuah berbatuan yang ada di dekat pohon besar.
Tiba-tiba batuan itu menggeser dan terlihat jalan rahasia. Marcello dan Auri masuk ke dalam jalan rahasia. Saat mereka sudah masuk batu itu menutup sendiri. Auri terpesona dengan desain dari jalan rahasia.
Terdapat berbagai senjata yang keluar saat marcello mendeteksi matanya pada sebuah celah di sebelah kananya. Marcello langsung mengganti bajunya. Auri mengalihkan tatapannya bagaimanapun dia merasa sedikit risih melihat pria yang bertelanjang dada.
__ADS_1
Marcello tersenyum saat melihat respon dari gadisnya. Sangat menggemaskan, sebenarnya marcello ingin menggoda Auri tapi waktunya tidak tepat. Dia tidak tahu hingga kapan bawahannya bisa menahan kelompok tiger. Selain itu Edgar dan Oskar juga baru pergi menuju markasnya.
“kamu bisa mengambil senjata yang kamu suka.” Ucap Marcello yang mengambil 2 pistol kesayangannya. Satu pistol diselipka pada bagian belakang celannya yang sekarang tertutup oleh bajunya. Sedangkan satunya lagi di pinggang kananya. Dia juga mengambil pisau yang diselipkan pada pinggang kananya.
Auri mengambil 1 shotgun dengan tipe jarak menengah. Dia memang tidak berniat turun langsung. Bukankah lebih baik dirinya membantu dari jauh. Dia juga mengambil beberapa basoka yang akan digunakan saat keadan mendesak.
Marcello tersenyum saat melihat senjata yang diambil Auri. Setidaknya Auri tidak terlalu bahaya jika menyerang jarak jauh. Lebih banyak kesempatanya untuk kabur saat keadaan genting.
“Ternyata kamu sangat tahu senjata yang cocok denganmu.” Ucap marcello sambil melanjutkan perjalan mereka.
“Kamu menghinaku?” tanya Auri dengan wajah yang sekarang ditekuk. Secara langsung marcello meragukan keahliannya dalam bertarung jarak dekat.
“Aku tidak memiliki niat menyinggungmu. Aku senang kamu memilih senjata jarak menengah. Setidaknya jika kondisi tidak menguntungkan kamu bisa kabur.” Ucap marcello.
“Tapi aku berharap kamu mengutamakan keselamatanmu.” Ucap marcello yang tiba-tiba berhenti.
Auri menabrak dada bidang milik marcello karena pria itu berhenti secara tiba-tiba. Marcello menarik badan Auri kedalam pelukannya. Dia merasakan akan terjadi hal buruk hari ini. Entah itu terjadi padannya atau kelompoknya. Tapi dia berharap firasatnya tidak terjadi pada Auri.
“Berjanjilah jika keadaan kelompokku semakin terpojokkan. Kamu harus segera menyelamatkan diri melewati lorong ini. Tidak sulit buat kamu mengingat jalannyakan.” Ucap marcello dengan wajah cemas.
Auri sangat memahami ekspresi dari pria di depannya. Pria itu sedang khawatir padanya. Tapi Auri paling tidak suka dikhawatirkan oleh siapapun. Sungguh Auri tidak perlakuan marcello.
Setelah kejadian penculikannya. Auri sudah tidak pernah menggantungkan hidupnya pada siapapun. Dia juga berjanji tidak akan membiarkan orang terdekatnya terluka. Apakah Auri sudah menganggap marcello menjadi orang yang harus dirinya lindungi. Tapi kenapa dia harus melakukannya.
__ADS_1
“Aku tidak bisa berjanji marcello. Jangan memaksaku.” Ucap Auri sambil menepis kedua tangan marcello.
Tiba-tiba mereka mendengar suara langkah orang lain dari arah lain. Saat ini mereka sedang berada di pertiga jalan. Auri tidak menyangka jalan rahasia ini terhubung dengan beberapa tempat.
Marcello dan Auri dalam posisi waspada. Mereka tidak bisa memastikan kalau suara langkah itu musuh atan kawan. Hingga suara yang sangat mereka kenal.
“Wah nona Auri ikut. Saya pikir anda tidak akan ikut. Mahlika apa kabar?” tanya oskar.
Ternyata suara langkah itu berasal dari Oskar dan Edgar yang datang bersamaan. Marcello dan Auri bernafas lega ternyata bukan musuh. Walaupun kemungkinannya kecil untuk musuh tahu jalan rahasia ini. Karena hanya marcello, Edgar dan Oskar yang tahu jalan rahasia menuju markas barat.
“kalian sudah berkumpul bagaimana kalau kita memberikan mereka hukuman karena sudah mengganggu kelompok black knife.” Ucap marcello dengan senyum tipis yang langsung dianggukkan oleh Edgar dan Oskar yang tidak kalah seram dari bossnya.
Ternyata jarak dari pertigaan jalan itu menuju pintu keluar tidak jauh. Mereka keluar dari sebuah dinding di lantai dasar markas. Lantai dasar tidak ada akses untuk ke lantai atas kecuali dari ruangan marcello.
Ternyata bawahannya marcello bisa menahawan para kelompok tiger di depan markas. Belum ada satu orangpun yang bisa masuk. Walaupun bawahan marcello terlihat kewalahan. Auri langsung meninggalkan ketiga pria itu untuk mencari tempat yang enak untuk membidik para musuh marcello.
Tentu saja Auri tidak akan membunuh para musuh Marcello. Karena dia berniat menggali informasi dari kelompok tiger. Auri mendapatkan tempat yang enak di sebuah balkon di markas kelompok marcello.
Sedangkan marcello dan kedua temannya segera berjalan menuju perkarangan rumah. Banyak korban yang telah berjatuhan dari kelompok marcello maupun dari musuh.
“Ingat jangan membunuh mereka. Kita harus menggali informasi dari mereka.” Ucap marcello sebelum pria itu berjalan menuju depan.
Auri sudah banyak menjatuhkan pasukan musuh. Dia sedikit aneh dengan pertarungan di depannya. Bukankah terlalu mudah untuk mengalahkan mereka. Tidak mungkin pasukan kelompok tiger semudah ini di kalahkan.
__ADS_1
Saat Auri melihat-lihat ada yang mencurigakan. Ternyata banyak pasukan musuh yang berada di posisi sedikit lebih jauh untuk menyerang dengan shotgun. Sekarang Auri sadar rencana mereka adalah membunuh ketiga pion utama dari kelompok black knife.