
Marcello terpaksa harus meninggalkan sang istri sendirian. Tentu saja alasannya berhubungan tentang perusahaan terguncang akibat serangan dari perusahaan Alan. Selain itu dia juga harus menemukan kejahatan dari teman dekat sang istri di masa lalu.
"Sayang aku ingin ikut." ucap Auri dengan wajah ditekuk. Dia tidak pernah bisa tidur nyenyak bila tidak ada sang suami di sampingnya. Apalagi sekarang Marcello bisa saja meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama. Sungguh penyiksaan bagi sang bumil yang makan saja harus buatan sang suami.
"Sayang,tatapan mataku sekarang. Marcello bisa melihat mata sang istri yang sudah memerah karena menangis. Entah pergi kemana sosok Auri yang kuat. Istrinya sangat manja selama hamil. Marcello tidak mempermasalahkan perubahan itu. Dia malah menikmati perubahan dari sang bumil. Tapi untuk keadaan saat ini juga yang membuat Marcello selalu lemah untuk meninggalkan sang istri.
"Aku tidak bisa menjaga kamu dan anak kita selama di sana. Sangat berbahaya kalau kamu ikut bersamaku. Aku harap kamu mengerti. Kakak Antara akan menemanimu selama aku pergi." ucap Marcello yang langsung membuat tangisan di wajah Auri hilang. Wanita berbadan dua itu tersenyum lebar saat tahu sang kakak akan datang.
"Sepertinya kamu melupakan aku sekarang." ucap Marcello yang hanya direspon tawa kecil oleh Auri. Selama masa hamilnya juga Auri sangat suka berdekatan dengan sang kakak. Padahal dulu Auri sangat menjaga jarak dari Antara. Tentu saja orang yang marah hanya Marcello. Pria itu sangat cemburuan bahkan dengan sang kakak dari istrinya.
"Kamu cemburu ? Aku hanya bersama dengan kak Antara." ucap Auri yang sekrang dalam mode kesalnya. Sedangkan Marcello hanya tertawa untuk mencairkan suasana. Kalau sang istri sudah dalam mode marahnya tentu saja akan menjadi bahaya untuk Marcello.
"Tentu saja tidak Antara adalah kakak kamu sayang." ucap Marcello yang membuat senyum di wajah Auri kembali terbit. Dia senang sang suaminya tidak lagi cemburu. Padahal di dalam hati pria itu sedang mengumpat kakak iparnya.
Haichim.
Antara merasa hidungnya sangat gatal dan telinganya panas. Pasti sahabat sekaligus suami adiknya itu sedang mengumpatinya. Dia menatap langit malam ini. Antara memang sengaja mengambil penerbangan tengah malam menuju Amerika.
Seluruh pekerjaannya harus dibawa ke amerika selama beberapa hari karena permintaan sahabatnya sekaligus adik ipar menyebalkannya itu. Tentu saja dia tidak mempermasalahkan permintaan Marcello untuk menemani sang adik. Biasanya saja Marcello yang menolak kehadirannya karena Auri sedang ingin dekat dengannya terus. Kalau sudah begitu ceritanya pasti sang suami yang terlalu bucin itu akan cemburu dan marah pada Antara.
__ADS_1
Kalau dia ingat sikap seorang marcello di masa lalu jauh dari sekarang. Dia terlihat seperti manusia biasa yang bisa mencintai wanita sebesar itu. Dulu dia hanya melihat kekejaman dari matanya. Dunia memang bisa berubah sesuai denga takdir yang dibuat oleh pencipta.
"Sepertinya anda sedang banyak pikiran tuan." ucap seorang wanita cantik dengan wajah imut di samping Antara. Hari ini dia tidak menggunakan pesawat pribadinya atau kelas bisnis. Alasannya karena dia lupa membeli tiket dan tidak ada waktu yang lebih cepat dari pesawat yang dinaikinya. Jadi dia terpaksa membeli tiket pesawat ekonomi untuk pertama kalinya.
"Tidak nona." ucap Antara yang pada dasarnya memang beruang kutub. Mungkin hanya pada beberapa orang saja seorang Antara bisa seramah itu. Beruntungnya wanita muda yang duduk di samping Antara tidak tersinggung dengan sikap pria itu.
"Saya ada sedikit kue yang bisa membuat anda tenang mungkin." ucap wanita itu memberikan satu buat muffin coklat. Terlihat menarik dan lezat di mata Antara. Tapi tingkat gengsinya lebih tinggi.
Wanita itu tersenyum melihat sikap pria di sampingnya. Sangat jarang ada pria yang tidak terpesona dengan wajah cantiknya dan imutnya itu. Dia menarik tangan Antara yang tentu saja membuat pria itu terkejut. Keduannya saling bertatapan tapi wanita muda itu hanya tersenyum lebar.
"Untuk anda semoga anda suka." ucap wanita itu yang langsung meletakkan satu muffin di tangan pria itu. Setelah itu wanita muda melanjutkan kegiatan makannya. Sedangkan Antara menatap kue yang berada di tangannya. Sedikit terkejut dengan tindakan wanita itu yang terkesan sangat tidak sopan di mata Antara. Tapi dia tidak berniat marah ataupun berkomentar lebih banyak lagi.
"Wanita yang menarik." gumam Antara pelan yang tidka terdengar oleh wanita muda itu.
Perjalanan Antara menarik untuknya. Dia ingin pesawat itu lebih lambat sampai sehingga bisa menikmati kebersamaan dengan wanita asing yang tidak dikenalnya.
Saat wanita itu tidur, secara diam-diam Antara menyimpan photonya untuk mencari tahu tentang wanita yang sudah menarik perhatiannya. Sebuah senyuman masih terlukis saat Antara menutup matanya. Dia ingin segera mengetahui segala hal tentang wanita di sampingnya.
Kedatangan Antara disambut pelukan oleh sang adik. Sedangkan sahabatnya melemparkan tatapan tajam. Orangnya adalah Marcello yang tidak suka kedekatan sang istri dengan kakaknya. Dia lebih suka Auri hanya memeluk badannya tidak ada pria lain.
__ADS_1
"Adikku sepertinya suamimu sedang terbakar cemburu lagi." ucap Antara yang membuat tawa terdengar di telinganya. Ya adiknya itu sekarang lebih ceria dari biasanya. Mudah tertawa sekaligus mudah menangis di waktu bersamaan. Sedangkan MArcello tahu alasan yang membuat istrinya tertawa. Hanya bisa membuang nafas dengan kasar.
"Apakabar adik iparku yang sangat pencemburu." ucap Antara yang suka mengejek Marcello.
"Diam kamu antara, lihat saja saat kamu menemukan wanitamu. Aku yakin kamu baru tahu perasaan sepertiku." ucap Marcello yang langsung menarik badan sang istri mendekatinya. Auri tidak protes untuk kali ini.
"yang kamu gak akan tinggalin aku kan?"tanya Auri yang dijawab dengan senyuman oleh Marcello.
"Kita sudah membicarakan hal ini tadi malam. Aku harap kamu tidak lagi memepermasalahkannya lagi." ucap MArcello yang membuat wajah Auri cemberut.
"Sudah kamu tidak perlu bersedih sekarang ada kakakmu yang menemanimu saat suami gila kerjamu itu pergi."
"kakak juga gila kerja jangan suka menjelekkan suamiku." protes Auri yang membuat senyuman di wajah Marcello. Dia senang saat sang istrinya membelanya seperti saat ini.
"Sayang sudah waktunya, aku harus pergi. Jangan dirimu selama aku tidak ada di sampingmu. Jangan telat makan dan jangan terlalu dekat dengan kakakmu itu." ucap Marcello dengan tatapan tajam dilemparnya pada sang kakak iparnya itu.
"Kamu juga jangan lirik wanita lain di sana. Awas ajah kalau sampai kaya gitu aku pastikan adikmu hilang dari tempatnya." ucap Auri yang membuar pria di sekitar Marcello harus menelan ludahnya sangat sulit. Bagaimanapun ancaman Auri sangat menyeramkan bagi para pria.
"Tentu saja aku tidak akan melirik wanita lain. Hanya kamu wanita yang bisa membuatku tergila-gila seperti ini." ucap Marcello dengan sebuah kecupan di dahi sang istrinya. Sebelum meninggalkan Marcello meninggalkan Auri dan Antara. Sebelum itu dia membisikkan sesuatu pada Antara." hati-hati istriku jadi singa kalau sedang marah." bisik Marcello sebelum meninggalkan sahabatnya.
__ADS_1