
Auri menatap wajah Auri dengan rasa bersalah. Dia tidak ingin Auri marah karena tahu dengan perasaanya yang dipendamnya selama 2 tahun pada pacar sahabat sendiri. Lucu sekali kalau dipikir-pikr, Lyra dan Aura jatuh cinta pada pria yang sama.
“Tidak sulit aku untuk mengetahui kalau kamu memiliki perasaan pada pria itu. Kamu sama Aura memiliki kesamaan. Tentu saja kalian memiliki kemungkinan untuk tertarik pada pria yang sama.”
“Auri maaf karena aku menyukai pacar Aura.” Ucap Lyra yang mulai menitihkan air mata. Dia selalu merasa bersalah dengan perasaanya yang jatuh cinta pada pacar Aura. Semestinya dia tidak memilikinya.
Auri membuang nafas dengan kasar. Dia tidak marah dengan Lyra karena memiliki perasaan pada pacar adiknya. Tapi dia tidak suka saja Lyra menyimpan lukanya sendiri. Adiknya pasti juga tidak suka dengan sikap Lyra. Bukankah sebagai sahabat Lyra harus terbuka pada Aura dibandingkan memendamnya untuk sendiri.
“Kamu tidak memiliki kewajiban untuk meminta maaf padaku Lyra. Selain itu apa yang kamu rasakan bukan sebuah kesalahan. Perasaan kita tidak bisa diatur. “ ucap Auri yang paham dengan perasaan Lyra.
Selama beberapa tahun Auri sudah biasa menyimpan rasa sakitnya untuk sendiri. Tragedi penculikan tentu menyimpan luka psikis untuk dirinya sendiri. Tapi Auri selalu menyembunyikan lukannya. Hal itu membuatnya lelah terkadang.
Berpura-pura menjadi kuat bukanlah hal yang mudah. Tapi menunjukkan kesakitan kita juga bukan hal yang benar. Dia tidak ingin membuat keluarganya khawatir saat menatapnya. Bagaimanapun tragedi itu terjadi bukan keinginan keluarganya. Ayah dan kakaknya juga mengalami hal yang buruk setelahnya. Ayah dan kakanya selalu merasa bersalah padanya. Dia tidak suka kedua pria yang paling berarti di hidupnya harus terkekang dengan perasaan itu.
Makannya biarkan Auri yang tersiksa sendiri. Jadi dia tahu perasaan Lyra selama 2 tahun ini. Melihat pria yang dicintai bahagia bersama sahabatnya akan membuat perasaan menyakitkan sekaligus bahagia. Tapi Auri salut dengan sahabatnya karena dia memilih untuk melepaskan pria itu untuk adiknya. Auri hanya berharap Lyra masih bisa menemukan kebahagian lain.
Auri pindah duduk di samping Auri. Dia rangkul tubuh sahabatnya yang sedang begetar. Dielusnya punggung sahabatnya. Biarkan Lyra bisa melepas perasaan sakitnya selama yang ditahannya.
“Kamu harusnya meminta maaf pada Aura. Bukan karena kamu menyukai pacar Aura. Tapi karena kamu tidak terbuka pada perasaanmu pada sahabatmu sendiri. Pasti Aura sedih karena selama ini sahabatnya harus menyimpan luka diatas kebahagiannya.” Ucap Auri yang membuat Lyra terkejut mendengar perkataan kakak sahabatnya.
Auri memang jarang berbicara tapi selalu saja kata-katanya yang keluar bisa sedikit menenangkan perasaan orang lain. Lihat seberapa bijaknya Auri mengahadapinya yang berani memiliki perasaan pada pacar Aura. Tapi Auri tidak memarahinya bahkan wanita itu ikut sedih dengan perasaan Lyra.
__ADS_1
“Jangan menahan lagi. Aura sudah tenang di sisinya. Sekarang kamu boleh mengejar pria itu jika perasaanmu masih ada. Jangan pikirkan pendapatku. Aku dan Aura pasti senang melihat kamu bisa bahagia. “ ucap auri yang membuat Lyra kembali menangis dengan sangat kencang.
Beberapa saat kemudia, teriakan seseorang yang membuat Lyra ingin sekali menyumpal mulut sahabatnya itu. Apa dia tidak tahu kalau perasaan Lyra. Dasar mahlika wanita yang tidak peka pikir Lyra. Sedangkan Auri hanya menghela nafas dengan sahabatnya itu. Jangan terlalu berharap lebih pada sahabatnya yang itu.
“Kalian sedang melakukan drama apalagi. Tukang bunga kenapa kamu menangis? Tokomu bangkrut makannya kamu memohon Auri untuk kembali bekerja padamu.” Teriak mahlika dari depan lift .
Benarkan mahlika memang buka orang yang bisa memahami suasana. Bahkan ketika Lyra sedang menangis di samping Auri. Wanita itu masih bisa menyindinya. Walaupun tokonya beberpaa minggu ini sepi karena kepergian Auri. Tapi tokonya tidak akan bangkrut hanya karena itu. Pelanggan Auri memang banyak dan membawa keuntungan. Bukan menjadi sumber utama dari penghasil toko bunganya.
Lyra mencari benda yang bisa dilempar pada wajah sahabat yang menyebalkan itu. Saat menemukan bantal sofa. Dia langsung melempar bantal itu dengan kekuatan penuh. Bahkan membuat mahlika hampir saja terjatuh karena bantal yang mendarat tempat di kepalanya.
“Hey kenapa kamu melempar bantal ke mukaku.” Protes mahlika.
Lyra tidak berniat meladeni mahlika. Perasaanya baru saja tenang karena ucapan Auri. Dia tidak ingin mengubah suasana hatinya yang sedang baik. Bukan karena dia bisa mendekati Edgar kembali. Tapi rasa bersalah yang selalu singgah bisa hilang.
Mahlika berjalan menuju sofa dengan menghentakkan kakinya karena kesal akibat lemparan bantal Lyra. Dia duduk dan langsung melempar bantal tepat wajah Lyra. Setelah itu mahlika tersenyum bangga karena lemparannya tepat sasaran.
Mahlika berniat membalas perlakuan sahabatnya. Tapi suara Auri membuat keduanya mengurungkan niat itu melakukan perang bantal. Sepertinya yang dibicarakan oleh Auri adalah hal penting terlihat dari wajahnya yang sangat serius.
“kita mendapatkan misi.” Ucap Auri yang membuat senyuman merekah di wajah mahlika. Dia sudah menantikan uang yang mengalir lagi di atmnya. Rasanya beberapa minggu harus berhenti dari pekerjaanya membuat mahlika miskin. Padahal uang di tabungnya masih banyak hanya saja wanita itu terlalu pelit dan licik.
“Wow misi apa ?”
__ADS_1
“misi ini tidak akan menghasilkan uang.” Ucap Auri yang membuat senyum mahlika langsung pudar.
Bagaimana bisa Auri melakukan pekerjaan secara sukarela. Apa mereka pikir kita adalah relawan yang tidak membutuhkan bayar. Dengan senang hati menyodorkan nyawa pada para mafia di dunia sana dengan pecumah.
“Aku akan membayarmu mahlika. Tapi utangmu sepertinya lebih banyak padaku.” Ucap Auri dengan senyum licik. Mahlika cemberut mendengar sahabatnya.
Selalu saja Auri bisa membuatnya menjadi miskin. Padahal hal itu terjadi karena mahlika terlalu sering menumpang hidup pada Auri. Bahkan setiap makan saja dia akan datang dan ikut makan. Bukan hanya itu saja, mahlika selalu menghabiskan makanan Auri yang ada di kulkas. Dia memang lintah yang menempel di kehidupan Auri.
“Kenapa kamu sangat licik Auri? Aku bisa miskin kalau kamu tidak pernah menggajiku.” Protes mahlika.
“Benarkah kamu miskin? Apa aku perlu membobol rekeningmu untuk melihat sebanyak apa uangmu yang tersimpan.” Sindir Auri yang membuat mahlika tidak bisa mengeles lagi.
“Baiklah, apa pekerjaanya?” tanya mahlika pada sahabat yang seperti rentinir gila.
“Misi kita seperti yang seling lakukan. Kamu pasti tahu bukan?”
“Apa? Meretas? Mencuri? Membunuh?” tanya mahlika pada Auri yang mendapatkan gelengan kepala.
“menjadi salah satu anggota mafia tiger.” Ucap Auri dengan senyum tapi berbeda dengan kedua wanita lain yang terkejut mendengarnya.
Auri tidak kapok sudah ditangkap oleh marcello. Beruntungnya pria itu melepaskan Auri. Tapi keberuntungan itu tidak akan datang untuk kedua kali di hidup Auri.
__ADS_1
“KAMU GILA?” Teriak Lyra dan mahlika pada Auri. Gadis itu tidak sama sekali merespon. Dengan santai dia malah mengorek teringanya saat mendengar teriakan kedua sahabatnya.