
Mobil marcello melaju dengan kecepatan tinggi. Auri yang duduk di samping kemudi. Dia ketakutan dengan cara marcello mengendarain mobil. Padahal beberapa jam yang lalu wanita itu juga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mungkin karena dia hanya duduk dan bukan yang memegang setirnya jadi perasaannya lebih menyeramkan.
“pelankan kecepatannya.” Ucap Auri dengan suara pelan.
Marcello menatap wanita di sampingnya. Dia sama sekali tidak berniat untuk menurunkan kecepatan. Bukankah Auri sangat suka mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Bukankah kamu menyukainya?” tanya Marcello.
“KAMU GILA CEPAT PELANKAN AKU BELUM MAU MA*TI. KALAU MAU MA*TI JANGAN AJAK AKU.” Teriak Auri dengan kedua matanya di tutup dan kedua tangannya memegang sabuk pengaman. Marcello menatap aneh dan gemas dengan tingkah Auri. Dia seperti seekor kucing kecil yang sedang ketakutan.
Marcello malah menaikkan kecepatan. Auri semakin ketakutan saat tahu pria di sampingnya tidak mendengarkan ucapannya. Sungguh menjadi penumpang saat mobil kecepatan tinggi membuat adrenalinnya terpacu.
“MARCELLO KAMU GILA CEPAT PELANKAN AKU TAKUT.” Teriak Auri saat melihat ke arah depan bagaimana marcello menyelip truk ketika dari arah depan ada truk lain.
“hahhahahha kamu sangat mengemaskan sayang.” Ucap marcello.
“gak lucu marcello.” Ucap Auri.
Pada akhirnya marcello menurunkan kecepatan mobilnya. Tidak ada satu orangpun yang berniat mengeluarkan suara. Auri masih kesal dengan tingkah jail pria di sampingnya. Tadi merasakan seperti nyawanya akan diambil saat itu juga.
Auri tidak sadar kalau dia selalu mengendarai kendaraannya seperti orang yang siap mati saja. Marcello saja yang tadi tepat berada di belakang motor Auri merasakan khawatir dengan kegilaan wanita itu.
“Kenapa kamu tadi pergi begitu saja?” tanya marcello.
“kamu pasti tahu alasannya buat apa bertanya?”
Auri jadi ingat kejadian di kantor Marcello. Sungguh dia sangat kesal karena pria itu sudah mengambil ciuman pertamanya. Bukannya meminta maaf pria itu malah semakin gencar.
“Aku tidak merasa melakukan kesalahan. “ ucap marcello yang membuat Auri langsung membalikkan badannya ke hadapan pria itu. Matanya menatap tajam pada marcello.
“kamu tidak sadar kesalahanmu huh.”
__ADS_1
Marcello menganggukkan kepalanya. Dia merasa tidak melakukan kesalahan padapun pada Auri. Tentu saja karena kalau diingat lagi ucapan Auri pasti marcello yang akan menang.
“Bukankah kamu bilang, Lakukan hal itu dengan wanitamu dan wanitaku adalah kamu Auristela Maizah Alaksana.” Ucap Marcello yang membuat Auri terdiam.
Dia merasa sulit mencerna ucapan pria di samping. Belum Auri bisa memahami ucapan Marcello. Pria itu kembali melakukan aksinya yaitu memberikan kecupan pada bibir Auri.
Auri semakin saja terdiam mencerna apa yang terjadi padanya. Hingga tawa Marcello menyadarkannya. Sebuah pukulan melayang pada tangan kiri pria itu. Tapi marcello tidak merasakan sakit sedikitpun.
“hahahhaha kamu menggemaskan.”
“marcello mesum sialan kamu. Jangan asal nyosor bibir orang.” Protes Auri dengan wajah cemberutnya. Marcello semakin gemas saja. Dia semakin ingin mengecup kembali bibir merah muda milik gadis kecil di sampingnya.
“Sebaiknya kamu tidak seperti itu. Aku tidak yakin bisa menahan diriku.” Ucap marcello yang kembali mendapatkan sebuah cubit di perut marcello.
“aaaaw. Sakit Auri sayang.” Ucap marcello dengan wajah seperti orang kesakitan. Padahal cubitan Auri sama sekali tidak menyakitkan.
“Sekali lagi kamu menyosor begitu aku pastikan kamu akan mendapatkan hukuman dariku.” Ucap Auri dan tatapan tajam pada marcello.
‘ Apakah aku terkena penyakit berbahaya. Selalu saja aku merasakan perasaan ini bila berdekatan dengan pria di sampingnya ini.” Gumam Auri dalam hati.
Senyum marcello tidak pernah luntur selama perjalan menuju ke rumahnya. Sesekali dia melirik Auri yang memegang dada kirinya. Dia tahu kalau Auri mungkin merasakan hal yang saat ini dirasakan marcello.
‘Ternyata kamu juga merasakan hal yang sama. Aku sudah tidak sabar kamu mengakui perasaanmu sayang.” Gumam marcello dalam hati.
Tempat lain tepatnya mahlika yang masih menatap tajam pria di sampingnya. Setelah sahabatnya dibawa pergi oleh Marcello. Mahlika yang berniat kabur ternyata kalah cepat dengan Oskar yang sudah mengambil kunci motornya.
Walaupun dia tidak diperlakukan seperti Auri. Tapi pria itu menarik badannya ke dalam mobilnya. Dia sudah mencoba kabur dari Oskar tapi pria itu mengunci kunci mobilnya setelah memastikan mahlika duduk di samping kursi kemudi.
“Jangan melihatku seperti itu nanti kamu jatuh cinta padaku.” Ucap Oskar yang fokus dengan jalan di depannya. Walaupun sesekali dia melirik Mahlika tanpa wanita itu sadari.
Kalau Auri adalah wanita paling tidak peka sedunia berbeda dengan Mahlika. Wanita itu tidak hanya peka tapi bodoh tiada tara kalau kata Lyra. Mahlika adalah wanita yang pobia dengan pria walaupun dia tidak akan berteriak histeris. Tapi dia memilih untuk menjauh dan tidak berdekatan.
__ADS_1
Berdekatan dengan pria adalah hal yang paling dihindari oleh mahlika sejak beberapa tahun. Hal itu yang membuatnya selalu tidak memiliki kenalan seorang pria.
Anehnya mahlika malah tergila-gila dengan para oppa korea dan laki-laki 2D dari komik-komik romantis. Lyra saja sudah lelah untuk membuatnya sahabatnya kembali bisa hidup normal. Rasanya Auri dan Mahlika memiliki kisah hidup yang tidak beda jauh.
“GAK MUNGKIN.” Teriak Mahlika pada Oskar.
Oskar terkejut mendengar teriakan wanita di sampingnya. Apakah tidak bisa wanita disampingnya tidak berteriak sehari saja. Apa dia tidak sadar suaranya menggelegar dan membuat telingannya sedikit sakit.
“Gak ada yang gak mungkin bukan?” ucap Oskar.
“Cuman dalam mimpi kamu ajah.” Ucap Mahlika yang mengalihkan tatapannya ke jendela sampingnya.
Memang tidak mungkin untuk mahlika bisa jatuh cinta pada seorang pria. Hatinya sudah lama beku dan tidak ada yang bisa melelehkannya. Masa lalu membuatnya tidak lagi berdekatan dengan kaum adam. Hal itu yang membuatnya memilih bekerja sebagai penjualan informasi dan pekerjaan meretas. Setidaknya dia tidak harus berdekatan dengan pria seperti Oskar.
“Tidak apa dari mimpi bisa menjadi kenyataan.” Ucap Oskar.
“Cih berhenti menggodaku. Sebenarnya ada kepentingan apa kamu menemuiku? Ganti rugi?” tanya mahlika pada Oskar yang dijawab anggukan kepala.
“Bukankah kita impas, kamu juga sudah membuat mobilku lecet jadi tidak usah ada ganti rugi.” Ucap Mahlika.
“Tidak bisa begitu, kerusakan mobilku lebih besar. Selain itu kamu hampir saja membuat nyawaku terenggut.” Ucap Oskar dengan senyum tipis.
Mahlika tidak bisa lagi menahan emosinya. Siapa yang hampir membuatnya mengalami kecelakaan. Pria di sampingnya yang tiba-tiba muncul begitu saja. Beruntungnya saat itu mahlika bisa menginjak rem dengan waktu yang tepat. Sehingga mobilnya tidak menabrak mobil Oskar. Hanya goresan dan pentok pada mobil mahlika dan Oskar.
“APA? Kamu lupa kalau mobil kamu yang tiba-tiba muncul. Harusnya kamu yang meminta pertanggung jawabmu.” Ucap Mahlika dengan amarah yang meluap-luap sedangkan Oskar malah tersenyum lebar.
“Aku mau memberikan pertanggung jawabku kesalahanku dengan menikahi kamu bagaimana?” ucap Oskar yang membuat Mahlika melotot pada pria di sampingnya.
“APAKAH KAMU GILA?” Teriak mahlika.
“Ya aku sudah tergila-gila padamu jadi kamu harus mempertanggung jawabkannya karena kamu membuatku jatuh cinta padamu.” Ucap Oskar dengan diakhiri sebuah kecupan di pipi mahlika. Wanita itu diam menatap tajam pada Oskar.
__ADS_1