Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 57


__ADS_3

Setelah Auri dipindahkan ke dalam kamar rawat. Marcello tidak berniat untuk meninggalkan Auri. Dia duduk di samping gadisnya. Bahkan saat mahlika marah-marah karena ingin duduk di posisinya. Pria itu tidak memperdulikan sama sekali.


Akhirnya mahlika memilih duduk di salah satu sofa di ruang inap Auri. Ruang Auri memang bukan kamar biasa. Edgar sengaja meminta kamar paling mewah yang biasa digunakan oleh keluarga marcello. Tentu saja tidak sulit untuk mereka mendapatkan kamar yang berharga sangat fantastis.


Beberapa saat kemudia tangan Auri yang berada di genggaman marcello bergerak. Pria itu menatap gadisnya yang sedang terbaring. Setelah menunggu hingga 5 jam akhirnya mata indah gadisnya terbuka. Sekarnag marcello bisa sedikit bernafas lega melihat Auri.


Bahkan dia tidak sadar mengeluarkan air mata. Tentu saja dia sangat khawatir jika Auri tidak sadar lagi. Marcello berjanji setelah ini dirinya akan menjaga gadisnya. Dia tidak peduli jika harus bertindak egois untuk menjaga keamanan Auri.


“Hey kenapa kamu menangis?” tanya Auri dengan suara seraknya.


Mahlika yang mendengar suara sahabatnya langsung bejalan mendekat ke tempat Auri. Terlihat penampilan mahlika yang tidak baik-baik saja. Dia masih menggunakan baju tidur dengan mata yang bengkak karena menangis terus. Bahkan sekarang mahlika kembali menangis. Dia langsung memeluk badan sahabatnya.


Auri menerima pelukan sahabatnya. Senyuman terbit dari wajah Auri. Dia merasa bersalah sudah membuat mahlika khawatir padanya. Selain itu Auri masih terkejut saat melihat marcello si ketua mafia itu menangis karenanya untuk kedua kali. Bukankah aneh seorang yang terkenal sangat kejam dan berhati dingin itu menangis.


“Kamu menangis mahlika? Rasanya aneh.” Goda Auri pada sahabatnya.


“kamu sudah berjanji untuk selalu menjaga diri kamu setelah masu ke dunia hitam. Tapi kenapa kamu sampai terluka seperti ini.” Ucap Mahlika yang diukiti sebuah tangisan.


“hahaha tenanglah aku masih hidup bukan jadi jangan berpikir hal itu lagi. Bukankah semua itu resiko yang harus aku tanggung.” Ucap Auri yang mencoba menenangkan sang sahabat.


Tapi bukannya tenang mahlika semakin menangis kencang yang membuat Lyra tidak tega melihatnya. Auri dan Lyra tahu kalau mahlika sangat membutuhkan sahabatnya ini. Karena hanya Auri yang selalu ada di sekita mahlika saat wanita itu berada di kondisi saat buruk.


“Berhentilah menangis terus. Selain itu bahuku pegal kalau posisinya seperti ini terus.” Ucap Auri yang membuat sahabatnya langsung melepaskannya.


“maaf.” Ucap mahlika lirih.

__ADS_1


“Sudahlah ini bukan kesalahanmu. Sebenarnya semua ini atas keinginanku sendiri. Aku sudah sadar kalau mereka mengarahku. Karena itu aku meminta Marcello tidak menyelamatkanku.” Ucap Auri saat mengingat hal gila yang dipilihnya saat itu.


Tentu saja dia sudah memperkirakan segala kemungkinan yang terjadi padanya. Bahkan kemungkin terburuk jika dia harus mati di sana. Tapi semua kerja kerasnya akhirnya terbayar.


“Kamu gila.” Teriak Marcello dan mahlika.


“hahahah kalian sangat kompak.” Ucap Auri.


“jangan mengalihkan pembicaraan Auri.” Ucap marcello dengan tatapan kesalnya.


Sekarang Auri merasa bersalah karena sudah membuat pria itu khawatir. Dia ingat saat pria itu pergi dan tubuhnya sudah kehabisan energi. Auri menjadi sedikit menyesal karena tidak menerima perasaan marcello.


Saat hidupnya yang berada di ujung tebing. Auri baru sadar kalau dirinya sangat ingin bertemu pria itu sebelum kematian menjemputnya. Sungguh saat itu Auri bahagia bisa melihat marcello sebelum menutup mata.


“Bisakah kalian meninggalkanku dengan marcello. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya.” Ucap Auri pada kedua sahabatnya dan Edgar.


Marcello menatap gadis yang beberapa jam lalu hampir saja meninggalkannya. Sekarang dia mengerti perasaan sahabatnya saat melihat adik gadisnya telah tiada. Mungkin kalau dia melihat badan Auri tidak bernyawa saat itu marcello akan mengamuk dan membunuh siapapun.


“Maaf marcello.” Ucap Auri yang menyadarkan lamunan marcello.


Pria itu menatap bingung pada gadis kecilnya. Seharusnya yang meminta maaf adalah dirinya karena tidak bisa menyelamatkan Auri. Bahkan marcello masih menyalahkan dirinya karena telah membuat Auri seperti saat ini.


“kamu tidak perlu meminta maaf. Aku yang harusnya memi…”ucapan marcello terhenti saat jari terunjuk Auri berada di depan bibirnya.


“Jangan menyalahkanmu. Apa yang terjadi padaku adalah pilihan yang dibuat olehku. Aku sudah mengatakannya bukan.”

__ADS_1


“Seharusnya aku tidak mendengarkan ucapanmu saat itu.” Ucap Marcello sambil menundukkan kepalanya. Dia sangat menyesal tidak mengikuti kata hatinya saat itu.


“Kamu harus tahu marcello saat aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Aku baru sadar tentang perasaanku.” Ucap Auri dengan wajahnya yang mulai memerah.


Marcello yang tadi tertunduk sekarang menatap gadis kecilnya. Dia terpesona dengan wajah merah Auri. Terlihat sangat menggemaskan pikirnya.


“Saat itu aku menyesal karena tidak menerima perasaanmu. Aku berpikir ingin melihatmu untuk terakhir kalinya. Aku berdoa walaupun hanya diberikan beberapa detik saja untuk melihatmu sebelum kematian memanggilku. Ternyata aku masih memiliki kesempatan untuk melihatmu sekarang. Jadi apakah pernyataan cintamu saat di apartementku masih berlaku?” tanya Auri yang sekarang malah menunduk karena merasa dia sangat malu.


Dia sudah tidak berpikir lagi pendapat Marcello padanya saat ini. Dia hanya tidak ingin menyesal karena tidak bisa menyatakan rasa sukanya pada Marcello. Saat kematian akan menjemputnya, rasa takut baru saja menghinggapinya.


Auri yang baru pertama kali merasakan kenyaman bersama orang lain selain Aura. Perasaan yang berbeda dengan rasa sayang untuk sahabatnya. Rasanya dia membutuhkan orang itu untuk bisa berbagi beban hidup yang selama ini dirinya tanggung sendiri.


Akhirnya Auri menemukan rumahnya yang sebenarnya. Tempat dia bisa beristirahat dan mencurahkan semua perasaanya. Tempat dia bisa merasakan kebahagia yang sudah menghilang beberapa tahun ini.


Marcello tidak menyangka dengan ucapan Auri. Rasanya dia sangat bahagia. Perasaannya terbalas dan wanitanya ingin bersamanya. Tanpa pikir panjang marcello menarik dagu gadisnya dan kedua bibir mereka bertemu.


Tidak ada ciuman yang penuh hasrat tapi hanya ciuman yang saling menyalurkan perasaan mereka selama ini. Kedua orang yang selama ini tidak percaya dengan sebuah rumah untuk tempat beristirahat dan bahagia. Sekarang kedua orang itu menemukannya.


Marcello melepaskan ciuman mereka. Kedua dahi mereka bertemu. Auri menutup mata untuk meresapi perasaan yang dirasakannya. Rasanya nyaman dan damai yang tidak pernah dirinya rasakan sebelumnya.


“Auri aku mencintaimu jangan pergi dariku lagi.” Ucap marcello.


“aku juga mencintaimu marcello.” Ucap Auri.


Keduanya kembali berciuman hingga sebuah pintu yang dibuka keras. Kedua orang itu langsung melepaskan ciumannya. Auri tersipu malu saat melihat mahlika menatap kaget padanya. Sedangkan marcello menatap tajam pada Edgar dan Oskar yang tersenyum mengejek padanya.

__ADS_1


Marcello sepertinya harus menghukum kedua sahabatnya karena telah mengganggu kesenangannya. Awas saja marcello akan mengganggu mereka saat mereka bersama wanitanya.


__ADS_2