
Antara menatap adiknya yang berubah menjadi aneh. Sejak pagi kelakuannya hanya tersenyum sambil menatap jari yang terdapat cincin melingkarnya. Walaupun dia tahu kalau adiknya sudah di lamar oleh sahabatnya tadi malam. Tapi rasanya melihat kelakuan adiknya seperti rasanya aneh juga.
“mau sampai kapan kamu menatap jarimu seperti melihat wajah marcello di jarimu saja.” Sindir Antara pada adiknya yang langsung mendapatkan tatapan tajam. Kakaknya itu tidak lihat kalau adiknya sedang bahagia. Harusnya dia ikut behagia bukan membuatnya kesal.
“Kakak bisa tidak sehari saja tidak merecoki Auri. Biarkan auri merasakan senang hari ini.” Ucap Auri yang membuat Antara mencibir adiknya.
“Sejak kapan kamu merubah cara bicaramu dengan Auri. Kamu terlihat seperti anak kecil.” Cibir Antara yang membuat Auri tidak bisa menahan kesal. Pada akhirnya sebuah bantal melayang ke wajah kakaknya itu.
Bruk.
“Hey adik durhaka, kamu tega melakukan ini pada kakakmu sendiri.” Ucap Antara pada adiknya yang sudah berlari duluan. Dia tidak ingin tertangkap oleh kakaknya. Sebelum itu dia memelerkan lidahnya pada Antara.
“Bleh, makanya cari cewe. Jangan sendiri saja. Masa kalah dengan marcello yang sebentar lagi akan menjadi suamiku.” Ucap Auri yang langsung kabur ke luar rumah.
Di luar rumah sudah ada Marcello yang sedang menunggu kekasihnya di depan mobilnya. Badannya sengaja disandarkan ke mobilnya. Dia ikut tersenyum saat melihat kekasihnya keluar dengan suara gelak tawa. Bersamaan teriakan dari sahabatnya.
“Sepertinya kamu kembali menjaili kakakmu itu.” Ucap Marcello saat kekasihnya sudah berdiri di depannya. Auri hanya terkekeh saja. Sedangkan Antara sedang berdiri di depan pintu rumah dengan wajah di tekuk.
“kamu tidak seharusnya melakukan itu terlalu sering. Bagaimana kalau kakakmu jadi tidak merestui pernikahan kita.” Ucap marcello pada kekasihnya.
__ADS_1
“Itu tidak mungkin karena mami dan papi sudah setuju. Kakak sudah tidak diperlukan lagi.” Ucap Auri dengan suara sengaja sedikit dikeraskan. Tentu saja itu terdengar jelas oleh Antara.
“Kamu adik durhaka dasar.” Ucap Antara dari depan pintu. Sedangkan pasangan itu malah menertawai kekesalan dari pria di depan mereka. Tidak ada yang berniat unutk meminta maaf.
“makanya cepat cari wanita.” Ucap marcello yang membuat Antara melotot. Entah sudah kesekian kali perkataan itu mengalung telinganya. Apakah mereka pikir Antara ingin sendiri selama ini. Nasibnya saja yang belum berpihak.
“kamu pikir cari wanita seperti cari baju.” Ucap Antara yang membuat Auri dan marcello tidak bisa menahan tawa.
“Kakak sudah menemukan wanitanya cuman sok jual mahal saja.” Ucap Auri sebelum menarik tangan kekasihnya untuk masuk ke dalam mobil. Mereka hari ini berniat untuk mencoba baju pengantin yang sudah di pesan oleh kedua orang tua mereka.
Sedangkan Antara terdiam mendengar ucapan adiknya. Bagaimana bisa Auri tahu kalau beberapa hari lalu dia bertemu kembali dengan gadis yang menawari menikah. Lucu untuk kedua kalinya wanita itu kembali menawari untuk menikah. Entah apa alasan yang melandasi oleh wanita itu mengejar Antara.
Tapi dia memang sedikit tertarik dengan tawaran dari wanita itu. Namun ada rasa takut jika pernikahan mereka akan berakhir perpisahan. Bagaimanapun keduanya belum memiliki cinta satu sama lain.
“Aku juga ingin menemukan wanita lain selain mahlika. Sayangnya hati ini masih betah dengan wanita itu. Sangat sulit menghilang namanya dari hati ini. Mungkin semua ini karena perngorbanan yang telah dilakukan untuk mendapatkan wanita itu. Meskipun pada akhirnya bukan aku yang menjadi rumahnya.” Ucap Antara dalam hati dengan pandangan sendu.
Kembali lagi bersama Auri dan Marcello. Keduanya saling menceritakan keseharian mereka. Tidak ada rasa bosan padahal ceritanya itu sudah berulang kesekian kalinya. Marcello yang suka mendengar setiap coletahan kekasihnya. Sedangkan Auri yang sangat semangat menceritakan kesehariannya.
Padahal marcello tentu sudah tahu keseharian setelah lamarannya pada kekasihnya itu. Dia tetap menjadi pria possesif yang suka mengamati kegiatan wanitanya dari jauh. Auri tidak begitu mempermasalahkan tindakan kekasihnya. Karena dia tahu hal itu demi kebaikannya.
__ADS_1
“jadi kita tidak akan lama di indonesia setelah pesta pernikahan?”tanya Auri yang dijawab dengan anggukan kepala. Marcello memang harus segera kembali ke negara paman sam itu. Alasananya adalah bisnisnya tidak bisa ditinggalkan terlalu lama. Karena itu pernikahan mereka sengaja di majukan.
Auri tidak menolak usulan dari kekasihnya. Dia tahu seberapa besar perusahaan yang dikelolah oleh marcello. Pria itu tidak mungkin membiarkan perusahaan yang telah dibangun dari kecil hanya untuk menemani Auri di negara asalnya. Dia memang sangat memahami kondisi kekasihnya.
“Mungkin kita hanya akan tinggal 2 hari setelah pesta pernikahan, apakah kamu tidak masalah?”tanya marcello pada kekasihnya. Matanya menatap wajah Auri sesaat. Dia kembali fokus ke jalan di depannya.
“Aku tidak masalah. Sudah aku katakan kalau aku akan ikut kamu kemanapun. Jadi jangan berpikir aku akan marah karena pilihanmu itu. Dimanapun aku berada rumahku itu adalah kamu. Jadi aku harus berada di sekitar rumahku itu.” Ucap Auri yang membuat marcello terharu dengan ucapan kekasihnya itu. Sungguh dia tidak menyangka sosok Auri yang dingin dan cuek. Berubah 180 derajat menjadi wanita yang sangat peduli dan pengertian. Tidak lupa sikap manisnya yang semakin muncul. Hal itu membuat Marcello selalu tidak rela kalau ada orang lain yang melihat kekasihnya itu.
“Terima kasih sayang.” Ucap marcello dengan wajah tersenyum lebar.
“kamu tidak perlu berterima kasih atas pilihan yang aku pilih. Lagi pula kamu bekerja untuk membiayai keluarga kita nanti. Jadi aku tidak akan mempermasalahkan dengan kesibukanmu.” Ucap Auri yang untuk kesekian kalinya marcello merasa beruntung telah menjadikan wanita di sampingnya calon dari istri dan ibu dari anak-anaknya. Ternyata dia tidak salah sudah mencintai sosok Auri dari kecil.
“Seluruh hartaku itu milik kamu.” Ucap marcello yang membuat sebuah ide jail melintas di otak Auri.
“kalau begitu aku bisa menggunakan uangmu untuk membeli seluruh barang yang aku inginkan. Kamu tidak tahu kalau aku menghabiskan uangmu dalam sekejap.” Ucap Auri yang membuat marcello tersenyum lebar.
“tentu saja aku dengan senang hati membiarkan kamu menghabiskan uangku. Kalau kamu bisa itu juga.” Ucap Marcello dengan wajah sombongnya. Auri mencibir dengan tingkah angkuh kekasihnya itu.
“dasar sombong, aku bisa menghabiskan uangmu. Kamu harus siap-siap jatuh miskin.” Ucap Auri.
__ADS_1
“kalau uangku abis tinggal cari lagi. Aku bekerja untuk bisa membahagiakanmu jadi aku senang saat kamu merasakan bahagia setelah menggunakan hasil kerja kerasku.” Ucap marcello pada kekasihnya.
Auri menatap wajah kekasihnya. Selalu saja marcello bisa membuat hati Auri meleleh dengan kata-katanya. Dia memang wanita yang paling beruntung karena diberikan kesempatan untuk memiliki pria itu.