Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 41


__ADS_3

Auri harus menunda rencananya terlebih dahulu hingga oskar, tangan kanan marcello mendapatkan informasi tentang toko roti yang didatangi oleh Selena. Dia tidak bisa bergerak tanpa rencana yang matang. Apalagi Auri akan menyamar menjadi anggota mafia tiger yang terkenal sangat kejam pada anggotanya sendiri.


Akhirnya Auri menyibukkan dirinya dengan kembali bekerja di toko sahabatnya. Walaupun dia harus berdebat dengan marcello. Pria itu sangat tidak setuju dengan pekerjaannya. Entah alasan yang menyebabkan marcello tidak mengizinkannya.


Pada akhirnya marcello memberikan izinnya dengan syarat Auri harus mengantarkannya makan siang di kantor pria itu. Tentu saja Auri tidak ingin melakukannya tapi dibadingkan harus berada di sekitar pria itu.


Alasan Auri harus menuruti perintah seorang marcello bukan karena dirinya takut dengan pria itu. Tapi marcello menggunakan kedua sahabatnya untuk membuat Auri tunduk. Auri hanya tidak ingin menarik kedua sahabatnya kedalama lingkaran hitam marcello.


“Lihatlah para penggemarmu sudah mengantri di depan tokoku.” Ucap Lyra.


Tepat di depan toko Lyra terdapat antrian yang sangat panjang. Kebanyakan dari orang-orang itu adalah pria yang mencoba menarik hati Auri. Sayangnya mereka tidak tahu kalau ada pria yang akan membuat nyawa mereka terancam saat ini. Lyra sangat peka kalau perlakuan marcello pada sahabatnya seperti seorang pria yang sedang cemburu.


Walaupun Auri diizinkan untuk bekerja kembali di tokonya. Tapi lihatlah penampilan sahabatnya hari ini. Sebuah kaca mata hitam dan masker hitam menutupi wajah cantiknya. Sayangnya semua itu tidak membuat pesona Auri menghilang sedikitpun. Para pria itu masih semangat merayu hati wanita dingin ini.


“Nona kemana saja selama ini? Saya selalu rindu rangkaian bunga anda.” Ucap seorang pria muda yang sedang menunggu rangkaian bunga Auri.


Tidak ada senyuman yang muncul di wajah Auri. Ternyata Auri tetap tidak suka dengan perlakuan para pelanggannya. Padahal dia berpikir akan merindukan hal ini.


“Benarkah terima kasih karena anda sudah menyukai rangkaian bunga saya. Silahkan anda peluk rangakain bunga ini.” Ucap Auri sambil menyodorkan rangkaian bungannya.


Setiap pelangga pria yang datang ke Auri selalu saja bertanya tentang hal yang sama. Rasanya Auri ingin menyumpal semua mulut pelanggannya. Tapi semua itu hanya muncul di otak kecil dan ekspresi marahnya yang terlihat jelas.


Tanpa sadar waktu makan siang datang. Auri melangkah ke lantai dua di belakang toko. Tempat itu adalah rumah Lyra. Auri ingat membuat janji pada marcello untuk membuatkan makan siang pria menyebalkan itu.

__ADS_1


Dia berkutat dengan peralatan masak. Tak hanya membuat makan marcello. Dia juga membuat untuk kedua sahabatnya dan Edgar. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan masakannya. Auri menata beberapa makanan di meja makan dan kotak bekal untuk dibawa ke kantor marcello.


Saat bersamaan mahlika datang dengan wajah lesuhnya. Dia duduk di meja makan dan kepalanya disandarkan pada kursi. Rasanya hari ini pekerjaanya sangat banyak. Apalagi mahlika harus mengangkat beberapa bunga dari gudang menuju toko karena banyak pelanggan yang datang.


“Aku seperti akan mati jika seperti ini terus.” Ucap mahlika bersamaan Lyra yang baru saja datang. Dia mengurus pelanggan terakhir sebelum menutup toko bungan untuk sementara waktu. Karena waktu makan siang sudah tiba.


“Kamu hanya memindahkan beberapa pot bunga saja sudah mengeluh. Lihatlah Auri yang sudah membuat banyak rangkaian bunga tapi masih kuat membuat makanan untuk kita.” Ucap Lyra yang membantu Auri untuk menyiapkan peralatan makan.


“Cih kamu berkata seperti itu. Apa kamu tidak sadar hanya menghabiskan waktu di depan kasir saja. Dari kita bertiga hanya kamu saja yang pekerjaanya sangat santai. Tapi kamu yang mendapatkan untung besar.” Protes mahlika.


“Makanya kamu menghitung uang dengan benar Mahlika. Aku bingung dengan kamu yang katanya lulusan terbaik seperti Auri tapi menghitung uang saja selalu salah.” Ucap Lyra yang membuat mahlika diam.


Mahlika memang paling malas menghitung uang. Makanya dia selalu takut kalau Auri menagih hutangnya. Karena mahlika tidak pernah mencatat sebanyak apa hutangnya. Ditambah lagi Auri adalah sahabat yang suka memanfaatkan kelemahan mahlika.


“kamu pikir aku peduli.” Ucap mahlika yang mengambil makanan ke atas piringnya.


Mahlika menatap Auri yang tidak kunjung duduk dan malah sibuk memasukkan makanan ke kotak bekal. Lyra juga ikut menatap Auri yang malah membuka seragam tokonya dan mengambil jaket kulit dan helmnya.


“kamu mau kemana ?” tanya mahlika.


“Kamu lupa mahlika, tuan marcello sedang menungguku untuk makan siang.”


“wow seorang Auri mau makan berdua dengan seorang pria.” Ucap mahlika yang mendapatkan tatapan tajam dari Auri.

__ADS_1


“kamu tahu aku melakukan ini karena siapa?” tanya Auri dengan wajah datarnya.


Saat itu mahlika tidak berani lagi untuk bertanya pada Auri. Karena Auri dalam mode marah dan tidak suka diganggu. Lyra menatap penampilan sahabatnya dan membawa tiga kota makan.


“Bagaimana kamu membawanya kalau menggunakan motormu itu.” Ucap Lyra yang ingat kalau tadi pagi Auri datang dengan motor besarnya. Tentu saja tidak ada tempat untuk menyimpan ketiga kotak makan itu. Tidak mungkin kan Auri memegangnya sambil mengendarai motornya. Lyra menyodorkan kunci mobilnya pada sahabatnya.


“Pakai mobilku saja. Kamu tidak mungkin membawa ketiga kotak itu sambil mengendarai mobil. Aku baru ingat tadi ada pesanan untuk CEO fellardo.” Ucap Lyra yang tadi sempat mengangkat panggilan dari pelangan sebelum naik ke rumahnya.


“Cih dasar pria itu sangat menyusahkan saja.” Ummpat Auri yang kembali membuka jaket dan helmnya. Dia mengambil kunci mobil Lyra dengan wajah yang sangat kesal.


“jangan terlalu membenci Auri. Kata orang benci sama cinta beda tipis. Awas nanti kamu jatuh cinta pada marcello.” Ucap Lyra dengan senyum mengejek yang membuat mood Auri semakin buruk saja.


“Tidak mungkin Lyra. Buat bisa meluruhkan Auri harus bisa membuat sahabat kita ini merasa kekalahan dalam semua keahliannya.” Ucap mahlika.


“Bukankah dia sudah dikalahkan oleh marcello. Bahkan Auri tidak bisa kabur dari kediaman pria itu.” Ucap Lyra.


Auri tidak ingin mendengar ucapan kedua sahabatnya. Dia berjalan meninggalkan keduanya yang asik tertawa melihat wajah Auri saat ini. Auri membuat rangkaian bunga untuk marcello. Rangkaian yang dibuat tanpa ada makna terselip pada kumpulan bunga.


“Aku ingin segera menyelesaikan ini semua dan berjauhan dengan pria menyebalkan itu.” Gumam Auri saat keluar dari toko Lyra.


Dia berjalan menuju mobil warna merah. Mobil itu melaju dengan kecepatan yang tidak begitu tinggi. Auri tidak ingin cepat sampai ke kantor marcello.


Tapi berbeda dengan Auri yang malas bertemu dengan Marcello. Marcello malah sangat bersemangat. Edgar merasa keberadaan Auri membuat atasannya menjadi giat bekerja. Lihatlah laporan dengan cepat diselesaikan oleh marcello karena tidak ingin waktunya bersama Auri terganggu.

__ADS_1


__ADS_2